REGISTER
Keranjang Anda Kosong
Total:
0

Dari DM Instagram, Terungkap Kualitas Vlado Sebagai Pelatih


Angger Worodjati pada 2020-01-10 jam 12:00 PM


instagram.com/psimjogja_official


Banyak orang mengira, Vladimir Vujovic adalah pelatih yang gagal melatih PSIM. Namun, banyak juga alasan untuk membantah anggapan itu.

Pelatih seperti Vlado -sapaannya- justru cocok membesut klub Indonesia. Dia paham sekali dengan sepakbola Indonesia. Iya paham, sangat paham betapa bosoknya sepakbola Indonesia.

Anggapan saya ini muncul setelah melalui obrolan panjang lewat Direct Message (DM) Instagram. Hasil obrolan ini yang kemudian mampu mebuka pandangan saya tentang masalah teknis pada sepakbola Indonesia.

Semua berawal dari keisengan saya, dengan mengirim ulasan pertandingan PSIM vs Cilegon United 2019 lalu. Setelah mempersiapkan beberapa analisis singkat, saya pun memulai dialog dengan bahasa Inggris. Keresahan yang saya bawa salah satunya tentang buruknya PSIM dalam menembus sepertiga akhir pertahanan Cilegon.

Respon positif ia tunjukkan setelah membaca ulasan pertandingan yang sudah saya kirim. Namun, bukan manusia namanya jika dia tidak mempertahankan diri. Vlado merasa Cilegon bertahan terlalu dalam di babak pertama sehingga menyulitkan PSIM untuk mencetak gol. 

Sembari mencantumkan potongan gambar pertahanan rendah dan rapat milik Chelsea, dia berbalik tanya, "Kamu punya cara mencetak gol dengan tim seperti ini?” begitu tulisnya.

Saya pun menjawab pertanyaan dari Vlado dengan cepat. “Tarik lawanmu yang berada di depan kotak penalti agar keluar dari zona itu, dengan menciptakan overload di satu sisi agar mampu melemahkan sisi lain. Kemudian manfaatkan pemain cepat yang kamu miliki di sisi terlemah” tulisku. 

Awalnya saya merasa pertanyaan Vlado itu seharusnya tidak muncul dari seorang pelatih sepakbola. Begitupun dengan solusi yang saya berikan, terdengar begitu mudah dan simpel.

Namun, faktanya tidak seperti itu.

Ada proses panjang yang harus dilakukan oleh tim sepakbola agar mampu keluar dari permasalahan teknis di lapangan. Kualitas pemain tentu juga punya andil besar dari setiap kegagalan prestasi sebuah tim. Hal ini yang coba dijelaskan oleh Vlado lewat pesan yang dia kirim untuk saya. 

Menurutnya, pemain senior di Indonesia saat ini tidak mendapat bekal pemahaman sepakbola yang cukup di masa mudanya. Mereka tidak terbiasa dengan tekanan dan perubahan cepat yang terjadi pada permainan.

Sejanak saya teringat dengan Filanesia, sebuah kurikulum sepakbola yang disusun oleh PSSI pada 2017 silam. Kurikulum yang lahir berkat keresahan yang persis dengan permasalahan melatih Vlado. Filanesia muncul akibat buruknya kualitas pemain di Indonesia dalam memahami konteks permainan sepakbola. 

“Apa kamu pikir level pemain Indonesia akan tahu soal itu? Lebih spesifik, pemain Liga 2?” Tulisnya membalas solusi yang saya sodorkan. Saya tidak langsung membalasnya.

Room chat Instagram masih menunjukan ‘typing’. saya menebak dia akan menulis panjang. Saya mulai mempersiapkan diri dengan membuka google translate di laptop. Mengantisipasi jika ada kata-kata yang sulit saya artikan.

Tebakan saya benar, dia menulis tentang permasalahan dasar yang dimiliki pemain-pemain Indonesia khususnya PSIM sebanyak tiga paragaraf. Seperti masalah kontrol bola, passing, dan body shape.

Permasalah demi permasalahan itu sudah ia cermati, kemudian dijadikan kerangka awal untuk menentukan pendekatan melatih. Dengan kata lain, sebetulnya mantan center back Bhayangkara FC ini tidak ingin bermain prakmatis, tetapi kualitas pemain yang ia temukan di Indonesia hanya memungkinkan untuk melakukan itu.

Vlado sedikit menggambarkan masalah itu. Ia mengatakan bahwa secara individu Hendri Satriadi merupakan pemain yang cepat dan punya skill bagus. Tetapi kebanyakan pendukung PSIM tidak mengerti bahwa kemampuannya dalam membuat keputusan sangat buruk, sehingga pada momen tertentu dia terlihat lambat.

Sekilas ia memang tampak cepat dengan gocekan dan larinya, tetapi jika dilihat dengan seksama banyak momen serangan (tim) yang menjadi lambat akibat dia salah dalam membuat keputusan.

Pemain-pemain kita tidak terbiasa dengan situasi pertandingan akibat dari metode latihan terisolir, yang memisah latihan teknik, taktik, fisik, dan mental. Filanesia mencoba menggugurkan pendekatan terisolir dengan menggabungkan empat unsur tersebut menjadi satu kesatuan yang tidak bisa terpisah. Dalam sebuah pertandingan sepakbola seorang pemain sudah pasti menggunakan empat unsur tersebut ketika melakukan aksi dan menurut filanesia metode latihannya pun juga tidak bisa dipisah.

Seorang pelatih yang bagus harus benar-benar mampu menghadirkan suasana pertandingan ke dalam sebuah sesi latihan. 

- -

Menurut buku Kurikulum Sepakbola Indonesia, konsekuensi negatif dari pendekatan latihan terisolasi adalah rangkaian proses pemain dalam berkomunikasi, mengambil keputusan dan eksekusi menjadi terpisah. Eksekusi teknik yang seharusnya merupakan eksekusi keputusan hasil komunikasi, kemudian dikerdilkan menjadi sekadar eksekusi gerakan. Pada praktiknya latihan terisolasi yang hanya melibatkan dua pemain yang saling mengoper bola, tentu mengesampingkan latihan hambatan dan pemahaman terhadap ruang. Hal ini yang kemudian menyebabkan pemain tidak terbiasa dengan situasi pertandingan yang sesungguhnya.

Pengantar gelar PERSIB di ISL 2014 semasa menjadi pemain ini juga melihat pemain-pemain Indonesia tidak tenang ketika memainkan bola dari bawah. Ia bahkan menjelaskan bahwa di sesi latihan, permainan bola bawah PSIM sering menghasilkan gol, tetapi hal itu tidak terjadi di pertandingan.

Menurutnya dia tidak pernah memberikan intruksi untuk melakukan umpan panjang dan ia merasa semua hal yang direncanakan terlihat berjalan dengan baik di sesi latihan. Hal ini yang kemudian semakin meyakinkan saya bahwa latihan terisolir harus mulai ditunggalkan. 

Jika merujuk pada Filanesia hasil dari pelatihan holistik efeknya memang tidak langsung terlihat di tim senior, yang sudah sejak lama dilatih dengan metode terpisah. Dibutuhkan proses yang panjang, berjenjang dan berkesinambungan itulah kenapa kurikulum ini lebih ditujukan kepada pembinaan usia muda. 

Persis dengan kalimat terakhir Vlado yang ia kirim kepada saya. “Suatu saat PSIM akan bisa bermain di level terbaik dengan menampilkan modern football, tapi itu tidak akan terjadi bersama saya”. Tulisnya mengakhiri obrolan.

Ya, Vlado adalah pelatih hebat ia paham dengan keadaan sepakbola Indonesia. Satu yang pasti, dia dibayar bukan untuk menjadi pelatih usia muda. Dia digaji untuk mencapai target berat dari manajemen klub. Menang, menang, menang, dan lolos Liga 1. Namun sayang, dia harus mundur dengan catatan dua kali menang dan dua kali kalah.


TAG: Psim Jogja Liga 2 Liga Indonesia Laskar Mataram Filanesia Tokoh






BACA LAINNYA




LAPAK


BERITA POPULER


1

Dari DM Instagram, Terungkap Kualitas Vlado Sebagai Pelatih

2

Memahami Proses dan Menjaga Ekspektasi Bersama Seto

3

Filosofi Sepakbola Indonesia Adalah Pertala

4

Omelan Bang Ben dan Intensitas Permainan Timnas yang Buruk

5

Formasi WM dan Perkembangannya

LEGENDA HARI INI


Card image cap
05 March

Pada tanggal 5 Maret 1870, London menjadi tuan rumah pertandingan internasional pertama di dunia, dengan mempertemukan Timnas Inggris menghadapi sekelompok pemain Skotlandia yang berbasis di London. Pertadningan Itu berakhir imbang 1-1.


IKUTI KAMI