REGISTER
Keranjang Anda Kosong
Total:
0

Dari lapangan ke Lapangan


M Bimo pada 2021-09-04 jam 12:00 PM


Pitchd


Bagi suporter sepakbola ada perasaan tersendiri jika datang ke sebuah stadion. Terlebih ketika datang dengan niat mendukung klub kebanggaan, perasaan berdebar tersebut sungguh sangat dirindukan. Kebanyakan orang datang ke stadion memang sebagai fans tim yang sedang berlaga.

Namun tribun stadion terlalu sempit jika memandang yang berdiri di sana semuanya hanya suporter. Banyak orang dengan kepentingan masing-masing untuk hadir ke stadion. Ada yang datang untuk mendukung, ada yang sekadar mencari hiburan, dan juga ada yang datang karena hobi hadir di stadion dan berpindah-pindah tempat.

Khusus yang disebutkan terakhir, ada fenomena tersendiri untuk menggambarkan orang yang hobinya demikian. Fenomena tersebut dinamakan groundhopping dan ini bisa dibilang sudah menjadi kultur pecinta sepakbola di Eropa.

Jika didefinisikan, groundhopping adalah sebuah hobi di mana orang atau kelompok datang ke pertandingan sepakbola, dengan tujuan mengunjungi dan merasakan atmosfer di stadion satu ke stadion lainnya. Groundhopping dikatakan sudah dilakukan di Inggris sejak 1970an. Hobi ini mulai menjalar ke Jerman satu dekade kemudian.

Groundhopping berbeda dengan suporter yang memegang tiket musiman. Suporter macam ini harus stuck mengikuti satu klub saat mereka main di kandang atau away. Tapi kalau groundhopper, pekan ini dia bisa saja ada di stadion kandang tim divisi 2 Liga Rusia. Pekan depan mereka bakal ke stadion atau lapangan kecil hanya untuk menonton klub kelompok usia U-21 bermain.

Tujuan mereka bukan ingin melihat tim bertabur bintang main di kandang atau away. Melainkan melihat dan merasakan atmosfer stadion-stadion yang tersebar di seluruh dunia, tak peduli tim apa yang main atau mereka bertanding di kota apa dan stadion mana.

 

Klub, Kompetisi, dan Divisi Bukan Tolak Ukur

Bagi sebagian orang, melakukan hobi ini sudah menjadi passion dan obsesi. Seorang groundhopper bernama Mosi dari Bern, Swiss telah mengunjungi 42 negara dan telah menyaksikan total 650 pertandingan sepakbola di berbagai stadion besar maupun kecil.

"Aku memulai hobi ini dari mengunjungi beberapa pertandingan di divisi dua Liga Swiss, karena aku mau melihat stadion mereka. Setelah semua stadion kontestan divisi dua sudah saya kunjungi, saya mulai tertarik untuk pergi ke stadion tim divisi tiga dan lainnya," kata Mosi seperti dilansir The Culture Division.

Jika melihat kesaksian dari Mosi, kualitas tim, kompetisi, atau kondisi stadion itu sendiri bukan menjadi tolok ukur utama. Mosi menyebut itu tidak pernah ia pikirkan sama sekali ketika memutuskan akan pergi ke sebuah stadion.

Pelaku groundhopping lebih melihat dari daya tarik budaya kota atau negara yang akan dikunjungi. Para groundhopper lebih tertarik memikirkan budaya baru apa yang akan mereka pelajari, merasakan sensasi dari atmosfer stadion yang belum pernah dikunjungi sebelumnya, mampir ke museum kalau ada, atau bahkan kata dan dialek lokal apa yang bisa dipelajari daripada memikirkan kualitas tim atau kompetisinya. Tak peduli nanti pertandingan bakal berjalan membosankan tanpa gol atau bagaimana.


sumber foto: instagram groundhoppermosi

Mosi menyebutkan kalau ia selalu berencana mengunjungi stadion yang belum pernah ia datangi. Ia mengusahakan untuk memilih pertandingan dari tim yang memiliki banyak suporter atau pertandingan derby. Dengan begitu, atmosfer stadion akan semakin terasa.

Hadir di sebuah pertandingan dan menikmati pemandangan stadionnya adalah satu aktivitas utama. Seperti pelancong yang sedang jalan-jalan, groundhopping juga memiliki prioritas utama lainnya yakni memburu suvenir bertemakan sepakbola di liga lokal.

Apa yang groundhopper buru untuk dijadikan suvenir? Bisa mulai dari sobekan tiket pertandingan, yang sayangnya sudah mulai banyak digantikan dengan QR code, bisa juga syal dan jersey, atau majalah produksi klub atau suporter yang hanya beredar saat hari pertandingan saja. Meskipun majalah itu berisi bahasa dari negara yang nggak dimengerti, paling tidak ini bisa jadi bukti konkret kalau seorang groundhopper pernah mengunjunginya.

Mencari tahu cara mendapatkan tiket di setiap pertandingan pun memiliki tantangan tersendiri. Menarik, karena setiap negara, setiap kota, kompetisi, dan divisi memiliki cara penjualan tiket yang berbeda-beda. Bahkan jika informasinya sedikit, mereka terpaksa harus memakai jasa calo agar bisa mendapatkan tiket masuk.

 

Hobi yang Mahal

Kamu boleh saja meremehkan apa yang dilakukan oleh para groundhopper. Apa sih serunya datang ke stadion yang tak semegah Camp Nou atau San Siro? Apa sih asyiknya melihat pertandingan divisi tiga dari liga sepakbola nggak terkenal? Ngapain sih mengoleksi jersey dari tim yang namanya tak pernah terdengar orang banyak? Mau dipamerin juga orang-orang tak bakal tahu.

Ya, boleh saja. Tapi kamu tidak bakal mengerti rasanya jika belum merasakannya langsung. Seperti yang sudah disebutkan, groundhopping adalah hobi yang sudah menjadi passion dan ambisi bagi para pelakunya. Ada kepuasan tersendiri ketika mengumpulkan stiker dari suporter-suporter tim yang ada di berbagai negara.

Dan jangan salah paham, mereka juga tentu menargetkan untuk datang ke stadion megah macam Santiago Bernabeu atau Old Trafford, kok. Pecinta sepakbola mana yang tidak tertarik dengan daya magis dari stadion-stadion kondang tersebut?

Tapi yang pasti, groundhopping bukan hobi yang murah. Sebanyak 75 persen perjalanan yang Mosi lakukan yaitu menggunakan pesawat terbang. 12 persen memakai mobil pribadi atau taksi, 10 persen naik kereta, dan tak sampai 2 persen sisanya dihabiskan dengan naik bus.

Seperti diketahui, perjalanan menggunakan pesawat terbang butuh modal yang cukup besar. Biayanya bakal lebih rendah jika mengunjungi pertandingan tim lokal tempat berasal. Tapi jika sudah berniat groundhopping ke luar negeri, isi dompet benar-benar harus tebal. Akomodasi mereka seperti penginapan, makan, serta biaya lainnya juga butuh tak sedikit.

Tapi untungnya tak ada aturan bertele-tele jika kamu ingin mulai melakukan groundhopping. Kamu tidak perlu bikin agenda mengunjungi stadion di luar negeri tiap berapa bulan sekali untuk diakui sebagai groundhopper. Mau mengunjungi dari stadion ke stadion antar kota pun bisa, kok. Tapi bagi Mosi, dia menjadwalkan setiap tiga bulan sekali groundhopping ke luar negeri.

Bahkan banyak pelaku groundhopping yang pergi dari satu lapangan ke lapangan lain hanya untuk menonton tarkam. Pertandingan tim kelompok usia juga kadang hanya dilakukan di lapangan bukan di stadion.

Tapi ada aturan tak tertulis yang cukup populer di kalangan groundhopper. Kamu minimal harus berada 45 menit di dalam stadion untuk menandakan kunjungan kamu ke stadion dihitung. Jadi jika sebelum paruh waktu pertandingan kamu sudah meninggalkan stadion, kunjungan itu tidak dianggap groundhopping.

Tertarik untuk groundhopping ke stadion-stadion di Indonesia? Dijamin bakal banyak cerita seru yang menanti.


TAG: Stadion Klub Groundhopping






BACA LAINNYA


LAPAK


ARTIKEL POPULER


LEGENDA BULAN INI


IKUTI KAMI