REGISTER
Keranjang Anda Kosong
Total:
0

Deretan Lagu The Smiths dalam Derap Sepak Bola Manchester


Aditya Hasymi pada 2020-08-15 jam 12:00 PM


Gantigol/Ilham Dito


Ketukan ritmik dalam musik khas Britania, yang kadang cepat dan satu waktu perlahan, seolah menyiratkan pola permainan Inggris di atas lapangan hijau. Keduanya menjadi elemen terbaik untuk memotret bagaimana kultur masyarakat negara tiga singa ini terbangun.

Adalah The Smiths, satu band indie kawakan asal Manchester, merupakan simbol bahwa musik dan sepak bola dapat berjalan beriringan. Pada medio 80an, urusan mengolah nada dan si kulit bulat berdentum kencang di kota yang bertetangga dengan Liverpool ini. Invasi musik Britania dan kerasnya derby sekota bermula.

Salah satu klub yang berada di sudut kota Manchester, Salford Lads Club, menjadi saksi sejarah bagaimana musik -dan kemudian sepak bola- menjadi bagian yang membangun kota industri ini. Pada tempat minum yang awalnya hanya menerima pengunjung kaum adam ini, Johnny Marr dan Morrissey bersua untuk kali pertama. Pertemuan kali pertama antara gitaris dan vokalis ini yang kemudian menghadirkan band dengan aliran rock alternatif yang menggebrak dunia: The Smiths.

The Smiths yang beranggotakan Morrissey pada vokalis, Johnny Marr sebagai gitaris, pembetot bass Andy Rourke, dan penggebuk drum Mike Joyce disebut-sebut sebagai dalang dari gelombang kedua British Invasion medio 1980. Melalui debut album yang bertajuk self-title pada 1984, Morrissey dan kawan-kawan langsung melejit di tangga-tangga lagu UK maupun Eropa. Publik melabelinya sebagai ‘The Second Summer Love’ atas genre British indie rock yang mereka usung.

Menarik untuk melihat latar belakang dari band dengan empat album sepanjang karirnya ini dari sisi lain, yakni sepak bola. Keempat personil The Smiths memiliki pengalaman yang personal terhadap olahraga yang berkutat dengan si kulit bundar ini.

Sebagai seorang gitaris, Marr ternyata turut menggeluti sepak bola. Pria yang banyak menulis lirik lagu The Smiths ini sempat ikut trial di klub yang ia dukung, Manchester City, dan masuk dalam radar pantauan pemandu bakat Nottingham Forest. Morrissey, yang dikenal sebagai front man dari ‘The Most Influential Artist Ever’ versi majalah NME ini, ternyata pendukung setia Manchester United bersama sang bassist Andy Rourke. Aroma derby sekota cukup kental di band ini karena selain Marr, Mike Joyce sang drummer, menaruh fanatismenya di sisi Manchester biru.

Atas dasar pengalaman hidup yang begitu dekat dengan lapangan hijau, maka menjadi kewajaran apabila lirik dari lagu-lagu The Smiths secara tersirat merepresentasikan denyut sepak bola di Manchester.

Periode Prihatin Manchester Merah

Barisan lirik teruntai dalam lagu-lagu The Smiths yang seakan tanpa direncanakan, mampu memotret perkembangan sepak bola di kota yang dilewati kanal ini. Pada album yang diproduksi oleh band yang beranggotakan empat orang ini, terdapat nukilan lirik yang dapat diasosiasikan pada derap olahraga mengolah si kulit bundar ini.

Awal tahun 1960 dikenang oleh suporter Man United sebagai tahun prihatin, dimana klub kesayangan mereka berupaya bangkit dari tragedi kecelakaan pesawat Munich. Satu tahun setelah kecelakaan yang menewaskan hampir seluruh skuad Setan Merah, seorang Matt Busby mengarsiteki pembangunan ulang pondasi klub. Sebuah tahun yang penuh ketidakpastian bagi The Red Devils, bak pesawat yang mengalami turbulensi, dimana pola permainan masih naik turun.

Periode 1965-1968 adalah masa dimana Manchester merah mulai melupakan tragedi München. Trisula lini depan George Best-Bobby Charlton-Denis Law sukses membawa penawar luka bagi Red Army dengan dua kali gelar juara Liga Inggris, satu kali piala FA, dan juara Eropa setelah mengandaskan Benfica di final. Setelah itu, awan mendung seakan memayungi Old Trafford karena degradasi menghampiri di tahun 1970.

Kondisi berseberangan menghampiri tetangga yang berisik di sisi biru. Berkat duo manajer legendaris mereka, Malcolm Allison dan Joe Mercer, Manchester City sempat mengecap manisnya menjadi klub tersukses di kota metropolisnya Inggris ini. Seluruh gelar domestik sukses disapu bersih oleh Citizen disaat Red Devils sedang tertatih membangun kembali puing-puing sisa kejayaan.

Manchester di periode tersebut mengalami kemunduran pula dari segi industrial. Akibat kanal yang akan ditutup, banyak pekerja yang dirumahkan. Sebanyak lebih dari 150.000 pekerjaan yang hilang menjadikan era pengangguran terbesar kala itu. Sisi naik turun dalam kehidupan kota baik di luar maupun di dalam lapangan hijau terangkum dalam tembang ‘William It Was Really Nothing’ (1984). Petikan liriknya mensiratkan kondisi periode itu: “The rain falls hard on a humdrum town. This town has dragged you down”

Asa Bangkit Kota Manchester

Revolusi industri seakan merenggut denyut kota Manchester, yang tadinya berdentum kencang, menjadi sepi tak bersuara. Banyaknya lapangan kerja tutup akibat canal shutdown menurunkan daya beli masyarakat sampai titik terendah. Hal ini berimbas pada skena musik lokal. Kesempatan band setempat untuk manggung dan berkembang sempat pupus karena tak ada pihak yang berani menaruh uangnya.

Dari sisi lapangan hijau, tim kota Manchester tergolong kering prestasi di periode tersebut. Medio 1970an, dua tim yang masing-masing bermarkas di Old Trafford dan Maine Road itu, sama-sama gagal berprestasi di ajang domestik. Tak ada satupun, baik Juara Liga dan Piala FA, yang mampir sebagai oase di tengah keringnya ekonomi kota industri ini.

Baru pada 1976, titik terang di ujung lorong itu nampak. The Smiths menggambarkan dalam lirik tembang hitsnya: “There is a light and it never goes out”. Sebuah lirik dari lagu paling populer milik Morrissey dan kawan-kawan, ‘There Is The Light That Never Goes Out” (1987), seolah menggambarkan Manchester yang mulai menggenggam harapan dari keterpurukan. Lagu tersebut dipicu dari bangkitnya industri musik kota di barat laut Inggris ini melalui hadirnya label Factory Records. Seolah terpacu, sisi bal-balan Manchunian ikut bangkit dengan gelar juara Piala FA yang disabet oleh United di tahun yang sama setelah mengalahkan Liverpool.

Padu padan antara musik dan sepak bola seolah menjadi asa yang tak bisa dipungkiri bagi publik Manchester. Johnny Marr dalam wawancaranya bersama The Guardian menegaskan hal tersebut. “Kreativitas menjadi modal utama di kota Manchester, dimana musik dan sepak bola menjadi sarana untuk menyuarakan ketidakpuasan dan kesedihan, sembari berharap keadaan menjadi lebih baik di kemudian hari”, ujar gitaris kelahiran 31 Oktober itu. 

Gerak Menuju Perubahan di Kota Manchester

Kota Manchester yang kita kenal seperti saat ini, yang maju dari segi industri, kesemuanya berkat kemauan untuk berubah. Tak ada yang menyerah kepada keadaan lalu merasa kalah. Mental kerja keras untuk mengubah arah hidup turut membawa kota ini menuju era yang lebih baik. Ya, seperti dalam lirik lagu gubahan kuartet indie Manchunian ini, “good time for a good change” dalam hitsnya ‘Please Please Please Let Me Get What I Want’ (1986).

Setelah sempat dilanda krisis akibat kanal yang sempat mandek karena ditutup, kini kota tempat dimana Beetham Tower berdiri ini ikut maju seiring zaman yang berkembang. Sebuah bentuk baru dari kanal yang ditutup kini telah berkembang menjadi objek wisata di Salford Quays. Moda transportasi pun bergerak ke arah futuristik dengan hadirnya trem di tengah kota. Untuk para musisi memanggungkan repertoarnya kini telah ada Bridgewater Concert Hall yang megah.

Pun dari sisi sepak bola, kota Manchester berjalan lurus menuju perubahan ke arah yang lebih baik dengan sosok yang tepat. Pada era 1986, kita melihat The Red Devils dipimpin oleh sosok yang akan mengantarkan pada gerbang kejayaan, Sir Alex Ferguson. Aspek permainan di lapangan hijau pun lebih kaya kreasi bagi United dengan hadirnya sang kapten, Bobby Robson.

Musik dan sepak bola di kota Manchester ibarat sepupu terasing yang disatukan oleh empat sekawan bernama The Smiths.


TAG: The Smiths Manchester United Premier League






BACA LAINNYA


LAPAK


ARTIKEL POPULER


LEGENDA BULAN INI


IKUTI KAMI