REGISTER
Keranjang Anda Kosong
Total:
0

Eric Cantona: Iblis Kebanggaan Old Trafford


Hamdani M pada 2020-11-18 jam 12:00 PM


Gantigol/Ilham Dito


Dalam ajaran muslim, pembangkangan akan selalu dikenang sebagai kesalahan pertama makhluk hidup. Berabad-abad lamanya kisah pembangkangan diceritakan sebagai dosa pertama yang jadi penyebab banyak kesalahan-kesalahan berikutnya. Kisah tersebut adalah tentang makhluk mulia yang telah menjalani kehidupan dalam ketaatan ribuan tahun lamanya. Hingga suatu saat Tuhan, dan segala keotoriteran-Nya bermaksud menciptakan makhluk dengan jenis baru yang kemudian hari dikenal dengan nama Adam. 

Iblis yang ahli ibadah tapi bengal, menolak penciptaan itu. Awalnya hanya sekedar desas-desus diantara mereka. Kemudian berkembang hingga menjadi gelombang protes terhadapa Tuhan. 

“Mengapa Tuhan menciptakan Adam?”

“Aku mengerti apa yang tidak kalian tahu”, Jawab Tuhan dengan segala keotoriteran-Nya. 

Iblis tidak terima dengan kebijakan itu. Dia melawan, membangkang pada perintah Tuhan yang memerintahkannya untuk sujud menghormat pada saudaranya yang baru itu. Akibat perbuatannya itu, iblis dikutuk sepanjang zaman.

Eric Cantona yang penuh kontroversi

Jutaan tahun setelah kejadian di langit itu, di sudut Perancis, seorang anak muda bernama Eric Daniel Pierre Cantona atau yang kita kenal dengan Eric Cantona, melakukan hal yang yang tak jauh berbeda.

Entah karena pengaruh bisikan iblis atau justru karena dia adalah iblis itu sendiri, dia yang saat itu tercatat sebagai pemain Marseille, terang-terangan menghina pelatihnya sendiri, Henri Michel. Dia menyebut Michel dengan sebutan “A bag of shit” di hadapan wartawan. Ulahnya ini berakibat pada pencoretan namanya dari skuad Les Bleus.

Sama seperti iblis yang ahli ibadah namun berakhir dengan kutukan. Begitulan nasib Cantona di Prancis. Meski sebenarnya dia memiliki bakat sepakbola cemerlang, namun ia terkutuk  di Tanah sendiri. Di tanah sendiri, ia lebih banyak berurusan dengan pelanggaran-pelanggaran yang ia buat daripada gelar. 

Pria kelahiran Marseille, 24 Mei 1966 ini mengawali karir sepakbola setelah mendapat undangan dari pelatih legendaris, Guy Roux untuk ikut uji kemampuan bersama AJ Auxerre. Cerita tentang Eric Cantona nampak tidak bisa lepas dari karakter pemain bengal. Catatan kebengalanya yang pertama dilakukan pada 1987. Ia harus menerima hukuman dari pelatih Auxerre karena memukul mata Bruno Martini hingga memar. Lepas dari hukuman tersebut, ia kembali berulah. Tekel brutalnya pada pemain FC Nantes, Michel Der Zakarian berbuah hukuman tiga bulan larangan tampil.  

Saat ia dibiarkan hijrah ke Marseille, klub idolanya semasa kecil, ia tak sedikitpun mengurangi jiwa bengalnya. Saat pertandingan menghadapi Torpedo Moscow, ia diganti. Cantona yang tak terima dengan pergantian itu meluapkan kemarahanya dengan melempar pelatih Marseille kala itu, Gerard Gili menggunakan jersey yang ia kenakan. Tak lupa, juga melempar wasit dengan baju gantinya. Padahal ini hanya sebatas laga persahabatan untuk amal.

Bernard Tapie yang kesal dengan kelakuan Cantona waktu itu menjualnya ke Montpellier. Di sini kebengalan Cantona masih tak terhenti. Jean Claude, rekanya di Montpellier, harus merasakan lemparan sepatu dari Cantona saat tim mereka kalah menghadapi Lille. 

Setelah rangkaian insiden konyol yang ia ciptakan, ia kembali melanjutkanya saat membela Nimes. Ketika wasit yang memimpin pertandingan mengambil keputusan yang tak memuaskanya, ia lempar dengan bola. insiden ini membuat ia dipanggil federasi sepakbola Perancis. Di hadapan persidangan, Cantona tak berhenti berulah. Ia menyebut komisi disiplin dengan panggilan idiot. Dua bulan hukuman yang ia terima atas kejadian ini membuat ia putus asa dengan sepakbola. Ia memutuskan untuk pensiun dini.

Inggris, rumah baru Cantona

Jodoh memang tak kemana. Demikian pepatah tua mengingatkan. Hal ini pula yang terjadi dengan Cantona. Setelah terkutuk dalam menjalani karir sepakbolanya di tanah kelahiran sendiri, ia, dengan mengikuti saran dari Michel Paltini, pergi ke Inggris dengan memperkuat Leeds United. Rencana pensiunya ditunda.  “Dia menasehati saya untuk pergi ke Inggris” demikian kenang Cantona mengingat nasehat pelatih timnas Prancis saat itu. Di sana catatan prestasi Cantona membaik. Ia berhasil mengantarkan Leeds menjuarai divisi satu Liga Inggris.

Baru beberapa saat membela Leeds, sebuah kejutan besar menghubungkan namanya dengan Manchester United. Alex Ferguson waktu itu menginginkan bakat sepakbolanya ditampilkan di Old Trafford. Meski pada awalnya bukan dia yang diinginkan oleh Ferguson. Alan Shearer adalah pilihan awal Ferguson untuk mendampingi Mark Hughes di lini depan United. Karena gagal mendapatkan tandatangan Shearer, Ferguson pun mendatangkan Dion Dublin, penyerang Cambridge United. Tapi sayang, hanya berselang setelah kedatanganya ke Old Trafford, ia mengalami cidera serius saat menghadapi Coventry.

Karena alasan inilah Ferguson melayangkan tawaran untuk Cantona waktu itu. Tawaran Ferguson tidak ia sia-siakan. Ia datang ke United dengan penuh keyakinan. Tapi sebaliknya bagi para pendukung United. Mereka justru bertanya-tanya, apakah seorang Eric Cantona cukup mempuni bermain di United?

Ini bukan tentang kemampuannya dalam mengolah si kulit bundar. Ini tentang tindakan indisipliner yang selama ini lekat dengan namanya. Apalagi United di bawah Ferguson dikenal sebagai klub dengan tingkat kedisplinan yang tinggi. Tapi apapun keraguan itu, toh yang menginginkan Eric Cantona adalah Ferguson, si maha disiplin itu sendiri. 

Ferguson yang sadar akan kegelisahan supporter United memasang badan membela anak buahnya itu di awal kedatanganya. “Jika Eric Cantona adalah pemain tempramental, tunggu sampai ia melihat betapa tempramenya saya”, ujar Ferguson kala itu.

Di musim pertamanya membela Setan Merah, Cantona mencatatkan 9 gol dan membantu United meraih tujuh kemenangan berturut-turut jelang akhir musim. Cantona berhasil mengantarkan gelar juara ke Old Trafford setelah 26 tahun tidak singgah di sana. Kritik yang ditujukan kepadaya di awal ia datang hilang berganti tepuk tangan. 

Catatan Eric Cantona semakin impressif di musim ke duanya. Selain berhasil membantu United mempertahankan gelar juara, ia juga sukses menjadi pemain terbaik Liga Inggris musim itu dengan torehan 18 gol. Selain itu, pada musim ini pula untuk pertama kalinya United berhasil mengawinkan gelar juara liga dengan Piala FA.

Catatan impressifnya bersama Setan Merah ini tak merubah DNA iblis yang ada pada darahnya. Bengal dan pembangkang. Meski Cantona bermain di bawah Ferguson yang dikenal memiliki etos kerja yang luar biasa dan otoriter, namun Eric tetap tampil sebagaimana adanya dia. Bengal dan tidak peduli dengan norma-norma yang telah didoktrinkan turun temurun.

Tentang kebengalan Cantona, tidak ada kisah tentangnya yang bakal lebih menghebohkan dan dikenang dunia melebihi kisahnya dalam melakukan tendangan kungfu kepada pendukung Crystal Palace, Matthew Simmons di tengah berlangsungnya pertandingan antara United melawan Crystal Palace di stadion Selhurst Park. Tendangan ini hampir saja mengantarkan Cantona ke  penjara sebelum akhirnya hukumanya diringankan menjadi kerja sosial selama 120 jam.

Setelah menghadapi persidangan, Cantona pergi dengan santainya. Satu kalimat yang ia ucapkan waktu itu akan selalu dikenang seluruh penjuru dunia. “Ketika burung camar mendekat ke kapal sebuah pukat, itu karena mereka pikir ada sarden yang akan dilemparkan ke laut”. Demikian pembelaanya atas hukuman berat yang ditimpakan federasi sepakbola Inggris kepadanya. 

Ia bisa saja keluar dari United andai tidak ditahan oleh Ferguson waktu itu. Meski United harus menunggu selama 8 bulan hukuman Cantona, toh mereka tetap mendapat servis terbaik darinya setelah ia selesai dengan hukuman tersebut. Setelah menjalani larangan bermain selama 8 bulan, ia tetap mampu menampilkan sihirnya yang luar biasa saat kesempatan bermain itu datang kembali. Saat ia mengawali debut keduanya menghadapi Liverpool, sebuah gol ia ciptakan untuk kembali menyampaikan semacam salam ancaman. Di akhir musim United kembali berhasil meraih gelar liga setelah di musim sebelumnya, dengan tanpa Eric Cantona, gelar itu lari dari mereka. Yang semakin menakjubkan, di musim itu Cantona juga mencatatkan gol ke gawang Liverpool di partai final Piala FA. Ini menjadi yang ke dua kali bagi United meraid dua gelar dalam satu musim.  

Setelah memutuskan untuk pensiun pada 1997, maka ia layak untuk dikenang sebagai iblis. Bukan sebagai raja, gelar yang biasa diberikan pendukung United kepadanya. Raja hanyalah gelar yang diberikan oleh pendukung Manchester United yang masih lekat dengan gaya monarkhi. Ia lebih layak untuk dianggap sebagai iblis. Keras kepala, nakal, pembangkang. Hanya saja, jika iblis dalam kisah Adam adalah dia yang membangkang, ajarannya diam-diam dinikmati, tapi di saat yang sama ia dicaci. Sementara Cantona adalah pembangkang, penampilannya dinikmati dan di saat yang sama dipuji banyak orang.

Ia adalah iblis kebanggaan Old Trafford. 


TAG: Cantona Manchester United






BACA LAINNYA


LAPAK


ARTIKEL POPULER


LEGENDA BULAN INI


IKUTI KAMI