REGISTER
Keranjang Anda Kosong
Total:
0

Fasisme Dibalik Kemegahan Stadion Olimpico Roma


Hamdani M pada 2020-12-28 jam 12:00 PM


Gantigol/Ilham Dito


Italia dikenal sebagai negara yang gila terhadap sepakbola. Sebagai negara yang gandrung akan sepakbola, Italia juga memiliki stadion yang fenomenal dalam dunia sepakbola. Satu dari sedikit stadion itu adalah Olimpico, Roma. Stadion ini digunakan sebagai markas dua raksasa ibukota, AS Roma dan SS Lazio. Di balik nama besar Stadion Olimpico, ada luka besar di baliknya. Luka masa lalu yang menjadi noda hitam dalam perjalanan panjang Italia. Bukan hanya dalam sepakbola, namun juga Italia sebagai negara.

Stadion Olimpico dibangun enam tahun sejak Benito Mussolini menjabat sebagai pemimpin tertinggi Italia. Stadion ini merupakan pusat dari komplek olahraga Foro Italia (dulu disebut sebagai Foro Mussolini). Stadion ini mulai dibangun secara bertahap antara 1928 dan 1932. Pada awalnya, stadion ini dinamakan dengan Stadio Dei Cipressi. Dirancang oleh Enrico Del Debbio. Kemudian dilanjutkan oleh Luigi Moretti. Inspirasi utama untuk arsitek stadion ini adalah forum Romawi di zaman kekaisaran kuno. Sederhana, terasa dingin, dan menyimpan misteri.

Pembangunan stadion sempat terhenti akibat perang dunia kedua. Kemudian baru dilanjutkan lagi pada Desember 1950. Stadion Olimpico resmi dibuka pada tanggal 17 Mei 1953. Stadion ini berganti nama menjadi Stadion Dei Centomila. Pada pembukaan tersebut, pertandingan Italia melawan Hongaria menjadi simbol pembukaan stadion. Pada awal pembangunannya, kapasitas stadion mencapai 100.000 penonton. Sebagian masih menggunakan tribun berdiri. 

Berdirinya stadion Olimpico tak bisa lepas dari kebutuhan fasilitas olahraga Italia. Sebelumnya, di sekitaran Roma telah terdapat Stadion Nazionale, stadion partai fasis nasional. Namun karena pada perkembangannya stadion tersebut dianggap terlalu kuno dan dianggap tidak mencerminkan gagasan nasionalisme rezim Mussolini. Maka muncullah wacana untuk membangun yang lebih baik. Mussolini ingin pembangunan stadion di seberang sungai tiber. Stadion yang menggambarkan kekuatan Italia.

    

Stadion Olimpico pernah mengalami beberapa kali perombakan. Terutama saat Italia menjadi tuan rumah Olimpiade 1960 dan Piala Dunia 1990. Pada perombakan untuk olimpiade 1960 tribun stadion diubah menjadi tribun berkursi. Hal ini memangkas kapasitas stadion menjadi hanya 53.000 penonton.

Sementara pada Piala Dunia 1990, stadion kembali mengalami perubahan. Bangku penonton dibuat lebih dekat ke lapangan. Tribun stadion juga mulai dipasangi atap. Renovasi pada tahun tersebut mampu merubah kapasitas stadion menjadi 74.000 kursi.

Awal dekade 2000, dua klub yang biasa menggunakan stadion Olimpico, AS Roma dan SS Lazio menyatakan ketidaknyamanan mereka menggunakan stadion milik pemerintah ini. Stadion ini dianggap terlalu besar dan tua. Kurang merepresentasikan gaya stadion di zaman modern. Protes ini kemudian baru ditanggapi pada tahun 2007.

Pada tahun 2007, renovasi stadion kembali dilakukan. Termasuk yang dilakukan adalah pergantian semua kursi stadion. Hal ini dilakukan guna memenuhi syarat stadion agar bisa digunakan untuk final Liga Champion di masa depan. Kapasitas sedikit menurun menjadi 70.634 penonton. 

Stadion ini telah menjadi saksi dari banyaknya kejadian-kejadian penting dalam sepakbola. Salah satunya adalah ketika Olimpico menjadi saksi dari puncak kejayaan filosofi tiki-taka Barcelona dengan Pep Guardiola sebagai maestronya. Dalam final Liga Champion tahun 2009 itu, Barcelona mengandaskan Manchester United 2-0.

Jauh sebelum pertandingan final tersebut, Olimpico juga pernah menjadi tempat final Liga Champion 1997 antara Liverpool dan Borussia Monchengladbach, serta Liverpool melawan AS Roma di tahun 1984. Pada tahun 1996 Juventus melawan Ajax juga melangsungkan partai final di stadion legenda ini.

Untuk kompetisi antar negara, ada olimpiade 1960. Pada olimpiade edisi itu, Stadion Olimpico menjadi pusat berlangsungnya kejuaraan. Setelah Olimpiade 1960, pada Euro 1968, stadion Olimpico menjadi tempat yang bersejarah untuk kejuaraan Eropa empat tahunan itu. Final dan perebutan tempat ketiga dilakukan di tempat ini.

Euro 1980 juga melibatkan stadion Olimpico. Stadion ini menjadi saksi bisu pertandingan penyisihan grup dan final kejuaraan tersebut yang mempertemukan Jerman Barat melawan Belgia. Stadion Olimpico kembali menjadi saksi nasib baik Jerman Barat sepuluh tahun kemudian. Stadion Olimpico menjadi saksi Jerman Barat merengkuh gelar juara pada Piala Dunia edisi 1990.

Hantu fasisme dibalik Kemegahan Stadion Olimpico 

Stadion yang dibangun pada masa Mussolini berkuasa ini tak bisa lepas dari aroma politik yang mengitarinya. Seperti halnya Hitler di Jerman yang memanfaatkan olahraga sebagai kekuatan politiknya. Sepakbola, dan stadion dijadikan oleh Mussolini sebagai simbol untuk menancapkan propaganda ideologi politiknya. Mussolini memanfaatkan olahraga dengan balutan cinta dan bangga akan tanah air sebagai alat untuk menanamkan ideologi fasisme. Bentuk nyata propaganda itu adalah stadion Olimpico. 

“Saya bersumpah memimpin negara kita ke jalan yang pernah dilalui kejayaan leluhur kita. Seperti Romawi kuno yang berada di hadapan kita. Sepakbola adalah metafora yang sempurna untuk idealisme masyarakat fasisme.” Demikian pernyataan Mussolini suatu ketika. Dan metafora fasis itu ia wujudkan dalam desain Stadion Olimpico.

Fasisme sendiri menyimpan luka dan trauma yang mendalam bagi warga Italia. Tidak terkecuali dalam urusan olahraga. Para punggawa Timnas Italia pada Piala Dunia 1938 pernah merasakan trauma itu. Mereka mengaku diancam akan dibunuh jika mereka tidak memenangi Piala Dunia edisi tersebut.

Terlebih Piala Dunia edisi tersebut berlangsung di negara sendiri. Kalau mereka gagal, ancaman kematian siap membayangi skuat Italia. Karena itulah meletakkan sepakbola sejajar dengan perang adalah hal yang biasa dalam pikiran orang-orang Italia saat itu.

Ideologi fasisme merupakan hantu sejarah bagi masyarakat Italia dewasa ini. Fasisme menjadi kenangan buruk masa lalu mereka. Bukan lain karena fasisme telah menanamkan luka yang dalam. Ada banyak paksaan, dan penyiksaan tak berperikemanusiaan dibalik ideologi yang sempat menjadi gaya pemerintahan Italia di bawah Benito Mussolini. Karena itulah fasisme akan selalu menjadi hantu yang ditakuti. 

Hantu fasisme di balik megahnya stadion Olimpico misalnya bisa kita lihat dari bagaimana warga Italia menyebut stadion ini. Olimpico pada awalnya sering disebut sebagai Foro Mussolini. Sebutan ini bermakna tempat berkumpul, forum. Yang merujuk pada bangunan kuno di Era Romawi kuno.

Romantisme pada era Romawi kuno ini dipandang penting oleh Mussolini dengan harapan paham fasis yang ia bawa bisa lebih diterima oleh masyarakat luas dengan menyamakannya dengan semangat kemegahan Romawi kuno.

Selain dalam dalam hal penyebutan, bentuk bangunan di sekitar stadion juga tak lepas dari aroma fasis. Bagi para korban fasisme, patung atlet Italia setinggi lima belas kaki yang terbuat dari marmer adalah simbol menuju luka itu. Patung yang melambangkan kesempurnaan orang Italia ini menyisakan luka yang dalam. Mereka yang secara fisik tidak sempurna adalah yang menjadi korban kekejaman Mussolini, penganut pemikiran sempit fasisme.

Selain patung, monumen Obelix yang masih berdiri kokoh di sudut stadion Olimpico dianggap sebagai “Mussolini Dux” (pemimpin Mussolini). Sebuah simbol yang menggambarkan kekuasaan dari seorang Mussolini. Patung ini dibangun tahun 1932. Monumen ini dibangun sebagai simbol kebangkitan fasisme.

Di bawah monumen tersebut terdapat teks pidato yang ditulis Aurelio Giuseppe Amatucci. Di dalamnya mengandung pesan kepahlawanan Mussolini, kebangkitan fasisme serta beberapa pesan fasis untuk generasi mendatang.

Tapi kemudian pemerintahan fasis runtuh. Benito Mussolini dieksekusi di gang sempit Via Maggio. Meski begitu, Stadion Olimpico tetap menjadi warisan ajaran fasis yang masih bertahan. Memberitahu pada dunia bahwa pernah ada ideologi kejam yang menguasai Italia. Yang berusaha mereka hapuskan, namun diam-diam masih dibanggakan.


TAG: Stadion Olimpico As Roma S.s Lazio Serie A






BACA LAINNYA


LAPAK


ARTIKEL POPULER


LEGENDA BULAN INI


IKUTI KAMI