REGISTER
Keranjang Anda Kosong
Total:
0

Fatih Terim yang Abadi dalam Sepak Bola Italia


Aditya Hasymi pada 2020-10-14 jam 12:00 PM


Gantigol/Ilham Dito


Kadang tak perlu harus mempersembahkan pencapaian yang luar biasa untuk mendapat apresiasi yang tiada henti. Dari cara-cara sederhana, yang menyentuh sanubari, maka otomatis penghormatan itu akan datang dengan sendirinya.

Fatih Terim, dari karir kepelatihannya yang terhitung sebentar di Italia, mendapat tempat tersendiri bagi pandemen calcio. Ia dikenang membawa nama Turki begitu harum di negeri tricolore ini lewat pendekatan kepelatihanya yang amat manusiawi.

Dua tahun awal di era millennium, medio 2000 hingga 2002, dikenal sebagai tahun keemasan dari sepak bola Turki. Galatasaray yang dalam periode itu menjadi kampiun Super Lig mampu berbicara banyak di kompetisi Eropa dengan menjuara Piala UEFA. Performa tim nasional Ay-Yildizlilar terbilang moncer, dengan menapak hingga babak perempatfinal Euro 2000 dan dua tahun setelahnya menyabet podium ketiga di Piala Dunia.

Eksodus pemain dari kompetisi domestik tak terhindarkan setelahnya. Striker haus gol Hakan Sukur menegaskan kehadiranya di kompetisi elit Eropa bersama Nerazzurri. Disusul kemudian oleh Umit Davala ikut berkarir di kota Milan membela panji Rossoneri.

Garis tangan juga membawa sosok pelatih kawakan Turki, Fatih Terim, untuk berlabuh di Serie A. Di kota Florence, wilayah di Italia yang dibelah oleh sungai Arno, adalah persinggahan pertama pelatih kelahiran 4 September ini. Petualangan dimulai bersama ACF Fiorentina.

Kondisi klub berjuluk La Viola kala itu mengakhiri musim 1999/2000 dengan catatan yang lumayan baik. Berlaga di Liga Champions, klub yang berdiri pada 1926 itu tampil melebihi ekspektasi dengan lolos dari putaran grup. Kiprah di kompetisi domestik juga menunjukkan bagaimana Fiorentina pantas digolongkan sebagai ‘The Magnificent Seven’ dari Serie A dengan finis di pos tujuh.

Giovanni Trapattoni yang berada di balik menterengnya laju Fiorentina di musim 99/00 kemudian menarik perhatian dari FIGC. Federasi sepak bola Italia lalu menunjuk Mr Trapp untuk menjadi allenatore dari Gli Azzurri selepas menjadi runner-up di Euro 2000. Posisi sepeninggal Trapattoni itulah yang langsung diisi oleh Fatih Terim.

Presiden klub Fiorentina kala itu, Vittorio Cecchi Gori, adalah sosok yang berjasa meminang Fatih Terim selepas mengantarkan Galatasaray menjadi juara UEFA Cup dan UEFA Super Cup. Tampaknya, pria yang juga sempat menjabat sebagai senator di parlemen Italia ini, ingin bernostalgia dengan kisah manis persona asal Turki yang sukses berkarir bersama La Viola. Can Bartu adalah sosok yang dimaksud, dengan menjadi pemain Turki yang turut mengantar armada ungu ke final Piala Winner 1961/1962.

Kedatangan Fatih Terim sebagai pelatih membuat Fiorentina mendapat tempat tersendiri di mata suporter sepak bola Turki. UltrAslan, bagian dari suporter Galatasaray juga ikut mendukung kejayaan klub dengan seragam mayoritas ungu ini. Pun begitu sebaliknya, Fiorentini juga mendukung penuh taktik Terim.

Satu gestur yang membuat Fatih Terim mendapat tempat tersendiri di hati Fiorentini adalah kemauan untuk melebur dengan bahasa Italia. Ya, pelatih yang mengantongi sertifikat kepelatihan dari UEFA Pro ini memilih untuk belajar bahasa Italia sedari sebulan sebelum memimpin sesi latihan perdana. Dari sahabat karibnya, Donatella Piatti, jurnalis berkebangsaan Italia yang lama tinggal di Istanbul,  ia memahami sepatah dua patah kosakata agar kendala komunikasi tak menjadi ganjalan nantinya.

“Sekira ada waktu sebulan sebelum saya memimpin sesi latihan dari Fiorentina. Ketika waktu itu datang, saya pastikan komunikasi dengan pemain akan berlangsung dengan bahasa Italia”, janji Fatih Terim ketika wawancara pertamanya dengan media setempat. Janji tersebut dibuktikan oleh pelatih yang gemar memakai formasi 4-1-4-1 ini dengan langsung berkomunikasi dengan logat Italiano pada sesi latihan La Viola medio Juli 2000.

Keputusan untuk berkomunikasi langsung dengan bahasa Italia tanpa perantara berbuah signifikan bagi Fatih Terim. Sempat limbung di sembilan pekan awal, La Viola dibawanya meroket hingga ke posisi ketiga, dengan torehan 13 poin dari lima laga. Kemenangan penting atas duo Milan, masing-masing 2-0 dan 4-0, membuat nama Terim mencuat di Serie-A.

Pemandangan berupa kibaran bendera Turki dan banner dengan ukiran wajahnya di Artemio Franchi, kandang dari Fiorentina, menandakan Fatih Terim sudah berhasil melakukan sesuatu. Sayang, kondisi dari manajemen klub justru berkata sebaliknya. Cecchi Gori selaku pemilik Gigliati mengalami kebangkrutan di unit bisnisnya yang berdampak langsung pada neraca keuangan klub. Krisis menjadi hal yang tak dapat dihindari oleh kesebelasan berlogo bunga lili ini.

Menjual pemain kunci yang berbanderol mahal mau tak mau harus dilakukan demi keselamatan klub. Gabriel Batistuta, bomber haus gol andalan La Viola asal Argentina, terpaksa dilego ke AS Roma. Pemain incaran dari Terim pun tak kunjung merapat akibat dana klub yang seret. Boudewijn Zenden yang menjadi incaran pun akhirnya lepas. Performa klub di lapangan hijau terkena imbasnya.

Kondisi keuangan klub yang tak stabil membuat pemain tak nyaman berlaga. Di atas lapangan, La Viola dibantai 4-1 oleh seterunya Lazio, yang berdampak posisi klasemen yang turun hingga papan tengah. Terim berulang kali berdiskusi dengan manajemen agar kondisi klub segera diperbaiki. Namun, jalan tengah tak kunjung ditemukan. Puncaknya, Terim dan Cecchi Gori terlibat adu mulut usai Fiorentina ditahan imbang 2-2 oleh Brescia.

Fatih Terim memilih mengundurkan diri dari kursi kepelatihan Fiorentina pada 25 Februari 2001. “Saya tak melihat ada cahaya di ujung terowongan”, ujar pelatih kelahiran Adana ini menjelaskan bagaimana harapan akan kondisi yang lebih baik sulit muncul bagi Fiorentina. Di akhir musim, klub kebanggan kota Florence ini divonis bangkrut.

Pengembaraan Fatih Terim di sepak bola Italia berlanjut ke sisi merah-hitam kota Milan. Rossoneri, yang sedang dalam proyek merevolusi tim setelah finis di urutan enam, menunjuk Terim sebagai arsitek tim.

Bersama Fatih Terim, Milan menunjukkan keseriusan dalam merombak squad. Kali ini, Terim memiliki kelonggaran dalam memilih pemain yang diinginkan. Rui Costa, mantan anak asuhnya di La Viola menjadi rekrutan pertamanya. Setelahnya, beberapa nama yang kemudian menjadi legenda di AC Milan seperti Andrea Pirlo dan Filippo Inzaghi menyusul gerbong. Tak tertinggal satu pemain kesayangan Terim turut diboyong dalam diri Umit Davala.

Pelatih kelahiran 1953 ini langsung tancap gas pada beberapa laga awal bersama AC Milan. Kemenangan beruntun atas para rival, salah satunya kala bersua mantan klub Fiorentina, membuat performa tim yang bermarkas di San Siro ini tampak menjanjikan. Suporter Milan juga telah terbawa dengan permainan agresif di bawah asuhan Fatih Terim.

Sayang seribu sayang, taktik dari Terim tampak tak berjalan baik kala bersua tim semenjana. Banyak poin yang hilang justru disaat Milan seharusnya mampu menang mudah. Formasi 3-5-2 yang kadang dimodifikasi menjadi 3-4-1-2 mentah di hadapan Perugia, Venezia, dan Bologna.

Manajemen Milan pada akhirnya habis telah habis menanti perbaikan. Puncaknya kala tumbang 1-0 dari Torino, Fatih Terim dicopot dari posisinya oleh duo Silvio Berlusconi dan Adriano Galliani. Santer terdengar isu bahwa Berlusconi lebih sreg jika Milan dikomandoi oleh mantan pemain. Tak berselang lama, Carlo Ancelotti masuk sebagai pengganti Terim.

Waktu satu tahun lebih dua bulan merupakan waktu yang terbilang singkat bagi Fatih Terim menjalani petualangan di Serie-A. Namun, bagi para tifosi Fiorentina dan AC Milan waktu singkat tadi amatlah berkesan. Kemauan dari Terim, untuk melebur bersama budaya khas Italiano, dinilai menjadi pembeda tersendiri dibanding banyak pelatih asing yang pernah malang melintang di Lega Calcio.

Galatasaray, klub yang kembali dilatih oleh Terim selepas mengembara di Italia, pernah bersua dengan Fiorentina pada gelaran uji tanding setahun yang lalu. Dalam wawancara selepas pertandingan, pelatih yang juga pernah membela Gala ini menyatakan hatinya masih tertambat di sepak bola Italia.

“Keduanya adalah tim saya. Tidak hanya Galatasaray namun juga Fiorentina. Saya tak pernah melupakan Fiorentina, baik kotanya dan para fans yang militant. Mereka akan selalu saya ingat sebagai bagian penting dalam hidup saya”, ujar Fatih Terim dalam wawancara yang dilansir La Viola TV.

Dalam partai uji tanding yang berkesudahan 4-1 bagi Fiorentina itu, ingatan tifosi akan Fatih Terim masih tetap sama seperti dua puluh tahun yang lalu. Nama pelatih berkebangsaan Turki ini masih terus dikumandangkan dari sudut-sudut tribun Artemio Franchi dengan tepuk tangan yang meriah.

Nama Fatih Terim tetap abadi dalam ingatan sepak bola Italia.


TAG: Fatih Terim Serie A Ac Milan Acf Fiorentina






BACA LAINNYA




LAPAK


BERITA POPULER


1

Dari DM Instagram, Terungkap Kualitas Vlado Sebagai Pelatih

2

Formasi WM dan Perkembangannya

3

Sejarah Formasi: 4-2-3-1, Gelandang Bertahan dan Pemain Nomor 10

4

Memahami Proses dan Menjaga Ekspektasi Bersama Seto

5

Filosofi Sepakbola Indonesia Adalah Pertala

LEGENDA HARI INI


Card image cap
23 October

Pada tanggal 23 Oktober 1973, pemain Derby County menuntut kepada manajemen agar Brian Clough diperkerjakan kembali sebagai pelatih. Sebuah surat yang ditandatangani oleh setiap anggota tim utama diserahkan kepada ketua klub setelah Clough dan asistennya mengundurkan diri.


IKUTI KAMI