REGISTER
Keranjang Anda Kosong
Total:
0

Filosofi Sepakbola Indonesia Adalah Pertala


Rikma Peksi pada 2019-09-02 jam 12:00 PM


Gantigol - Onivora


Belanda punya Total Voetball, Brasil bermain dengan Jogo Bonito, Italia memiliki Catenaccio, Spanyol bertiki-taka, lalu apakah filosofi sepakbola Indonesia? 

Adalah pantas jika sepakbola negeri ini kering prestasi dan tak pernah tampil di Piala Dunia sejak event itu dibuat bebarengan tahunnya dengan berdirinya PSSI: 1930. Akan sangat pantas juga jika orang bilang Indonesia kalah tak apa asal tampil dan main saja di kompetisi sepakbola yang diikuti.

Jangankan urusan kalah-menang, Indonesia ini tak pernah menunjukkan sepakbola sebagai hiburan di lapangan. Konon, permainan mereka tak memiliki pondasi, tak punya filosofi.

Namun untuk urusan filosofi, sebenarnya Indonesia punya lho. Dapat terlihat jelas beberapa tahun belakangan ini. Sebentar… Apakah filosofi Indonesia itu “Pepepa” (pendek-pendek-panjang) milik Indra Sjafri? Ah bukan, itu mah bisa-bisanya komentator kita saja. Bisa-bisaan yang cenderung maksa malah.

Memang Indra Sjafri sudah mengantarkan gelar AFF U-19 bagi sepakbola bangsa ini dengan template permainannya: bola diarahkan ke sayap - cut back – barisan lini kedua sebagai pengeksekusi. Tapi itu belum bisa disebut filosofi. Sebab, tak diterapkan menyeluruh oleh beberapa level Timnas.

Ada juga yang sudah diterbitkan para pemikir sepakbola kita pada sekitar 2016 lalu, yakni Filanesia, kependekan dari filosofi sepakbola Indonesia katanya. Filosofi yang lebih dibuat sebagai kurikulum pembinaan sepakbola dan diharapkan sampai ke Timnas nantinya. Entah berapa tahun lagi akan terlihat nyata si Filanesia itu. Bukan tak mungkin, akan menghilang karena tergerus oleh hegemoni filosofi asli sepakbola Indonesia yang mengakar ini.

Filosofi asli sepakbola Indonesia ini kerap tak terlihat dan diperlihatkan. Maklum unsur sepakbola yang diambil yang tak terlihat dan distatistikkan. Jika total voetbal Belanda berunsurkan pressing ke manapun arah bola bergulir, sementara Jogo Bonito lebih ke gocekan dan tarian Samba, sedangkan Catenaccio unsur bertahan dan Tiki-Taka punya Spanyol umpan-umpan pendek, maka unsur sepakbola yang diambil sepakbola Indonesia adalah: positioning.

Inilah hebatnya Indonesia, unsur yang tak terlihat itu malah menjadi filosofi sepakbolanya. Sebagaimana kita tahu, pengambilan posisi ini memang tidak bisa diangkakan dan tak bisa dihitung.

Seorang pemain baru bisa dibilang positioning-nya bagus jika ia rajin mencetak gol. Itu pun yang dihitung jumlah golnya, akurasi tembakannya, serta menggunakan anggota badan yang mana, kaki kiri, kaki kanan, kepala, dada dan sejenisnya. Positioning-nya tidak.

Maka jangan heran kalau gol-gol sepakbola bangsa ini lebih berkelas dan tiba-tiba, coming from behind, sejurus menang atau tiba-tiba kalah. Jangan cepat terpana jika hasilnya tiba-tiba membalikkan fakta di atas kertas.

Dan, filosofi Indonesia yang baru kutemukan itu kusebut dengan “Pertala”.

Kata itu kuambil dari bahasa sansekerta yang artinya, bumi atau tanah. Perlambang bahwa sepakbola membutuhkan tanah dan lapangan, olahraga bumi, bukan dirgantara. Dan semoga pemain kita tetap membumi apapun prestasi yang diraih nanti.

Pertala sendiri juga akronim dari kebiasaan para pelaku dalam ruang lingkup sepak bola Indonesia, yaitu: Pergerakan Tanpa Lapangan.

Filosofi itu adalah gambaran umum sepakbola kita. Sudah bukan rahasia lagi, sepakbola negeri ini kerap diperalat untuk politik terutama pemilihan umum.  Fitur tetap sepakbola kita, sepakbola gajah, muaranya tentu karena adanya pergerakan di luar lapangan. Saling tekel antara dua kubu (anti PSSI melawan pro PSSI) setidaknya dalam lima tahun terakhir terjadi di luar lapangan. Bahkan keputusan ‘adu penalti’ pun harus diselesaikan di level Mahkamah Agung.

Meja hijau, bukan lagi lapangan hijau.

Jika digambarkan, ala anak-anak statistik, maka Pertala itu akan menjadi demikian.

Pergerakan sepakbola Indonesia akan lebih banyak di luar lapangan. Garis yang sudah diatur dan ditata sedemikian rupa dianggap sebagai hiasan lapangan saja, diacuhkan.

Selamat memainkan filosofi itu Bung dan Nona sekalian. Aku sih cuma sebatas menemukan.

Toh, aku sendiri tak begitu percaya apakah filosofi permainan itu punya pengaruh ke prestasi. Lihat saja beberapa negara yang sering kali tampil di Piala Dunia juga banyak yang tak punya filosofi sepakbola. Chili, Uruguay, Prancis, Portugal, Jepang, Korea, dan lain-lain, memang punya?


TAG: Taktik






BACA LAINNYA




LAPAK


BERITA POPULER


1

Dari DM Instagram, Terungkap Kualitas Vlado Sebagai Pelatih

2

Formasi WM dan Perkembangannya

3

Sejarah Formasi: 4-2-3-1, Gelandang Bertahan dan Pemain Nomor 10

4

Memahami Proses dan Menjaga Ekspektasi Bersama Seto

5

Filosofi Sepakbola Indonesia Adalah Pertala

LEGENDA HARI INI


Card image cap
23 October

Pada tanggal 23 Oktober 1973, pemain Derby County menuntut kepada manajemen agar Brian Clough diperkerjakan kembali sebagai pelatih. Sebuah surat yang ditandatangani oleh setiap anggota tim utama diserahkan kepada ketua klub setelah Clough dan asistennya mengundurkan diri.


IKUTI KAMI