REGISTER
Keranjang Anda Kosong
Total:
0

Gara-Gara Peter Schmeichel, Kiper Tak Boleh Tangkap Backpass


M. Bimo pada 2020-03-21 jam 12:00 PM


GantiGol


Sepak bola adalah olah raga dengan permainan yang sederhana. Mungkin selain aturan offside yang rumit dipahami, khususnya orang yang tidak suka-suka amat dengan sepak bola. Namun aturan lainnya cukup jelas. Anak SD yang baru belajar, dalam sehari juga pasti sudah mengerti bagaimana aturan dasar sepak bola.

Namun seringkali kamu mungkin mendengar ada istilah-istilah asing yang sampai sekarang belum benar-benar ngerti maksudnya apa. Anekdot ini biasanya disebutkan oleh komentator televisi ketika menemui kesalahan yang benar-benar jarang terjadi dilakukan oleh pesepak bola profesional.

Ambil contoh aturan operan ke belakang (back-pass) yang dilakukan pemain, biasanya dilakukan oleh bek, kepada kiper. Jika pemain mengoper kepada kiper menggunakan kaki, kiper haram hukumnya menangkap dengan tangan. Bagaimanapun caranya, ia harus menyapu bola operan rekan setimnya itu dengan pakai kaki atau anggota tubuh lainnya.

Beda ceritanya kalau rekan setim mengoper kiper dengan menggunakan kepala atau dadanya. Kiper halal untuk menangkap bola operan tersebut. Lalu apa jadinya kalau kiper menangkap back-pass? Tentu saja pelanggaran dan berbuah tendangan bebas bagi tim lawan. Maka sekarang jangan heran jika menemukan ada tendangan bebas yang dilakukan di dalam kotak penalti. Bisa jadi itu ulah kiper yang menangkap back-pass.

Itulah yang dinamakan aturan back-pass. Aturan yang baru dibuat FIFA pada 1992 lalu. Ya, aturan ini dibuat baru 28 tahun lalu, masih terbilang baru dibanding aturan-aturan sepak bola yang sudah jauh lebih dulu dibuat.

Peter Schmeichel, seorang kiper timnas Denmark dan legenda Manchester United, bisa jadi salah satu orang yang dikambing hitamkan atas lahirnya peraturan back-pass itu. Tepatnya pada pertandingan final Euro 1992, Denmark membuang-buang waktu sisa pertandingan ketika unggul 2-0 atas Jerman. Peter Schmeichel dan pemain belakang Denmark lain hanya memainkan bola back-pass berkali-kali. Schmeichel oper ke bek, bek kembalikan bola ke Schmeichel lalu ia tangkap. Begitu terus sampai pertandingan selesai.

Sebelum Juli 1992, tindakan seperti itu memang boleh dilakukan. Tapi dari cuplikan video di atas saja, bisa terasa betapa membosankannya sepak bola ketika back-pass masih halal dilakukan. Unggul sedikit, buang-buang waktu dengan main back-pass sampai pertandingan selesai. Menang. Apa serunya?

Tapi tentunya ayah Kasper Schmeichel ini nggak mau dijadiin biang kerok. Sebelum kejadian final Euro 1992 itu, banyak pelaku back-pass yang membuat permainan sepak bola sangat negatif dan membosankan. 

Sebelumnya, sepak bola selalu berjalan adil dan seru untuk disaksikan. Barulah pada akhir 1980-an dan awal 1990-an, tim atau segelintir pemain mulai mengeksploitasi aturan dan mengubah taktik mereka menjadi sangat negatif.

Di Piala Dunia 1990, dalam satu pertandingan melawan Mesir kiper Irlandia, Packie Bonner, pernah memegang bola selama hampir enam menit tanpa melepaskannya. Pertandingan berakhir tanpa gol dan banyak yang menganggap itu sebagai pertandingan paling membosankan dalam sejarah Piala Dunia.

Ironisnya karena saking membosankannya sepak bola karena belum ada aturan back-pass ini, Piala Dunia 1990 dan Euro 1992 punya rata-rata gol paling rendah sepanjang sejarah. Yakni hanya 2.2 gol saja dalam satu pertandingan.

Padahal dalam dua kompetisi bergengsi tersebut, banyak kejadian-kejadian memorial yang terjadi. Sebut saja Denmark yang harusnya tak lolos Euro 1992 malah jadi juara setelah mereka menempati slot kosong yang ditinggalkan Yugoslavia yang waktu itu dipaksa untuk mundur.

Ada juga momen tangisan pemain timnas Inggris, Paul Gascoigne yang sangat kecewa karena tak bisa memperkuat The Three Lions di semi final Piala Dunia 1990. Ia mendapat kartu kuning dan menyebabkan akumulasi kartu di pertandingan selanjutnya.

Belum lagi momen di mana Diego Maradona mengacak-acak pertahanan Brasil. Dia juga menjadi pahlawan Argentina setelah asisnya berbuah satu-satunya gol pada laga tersebut. Jangan lupakan juga selebrasi jogetan ikonik penyerang Kamerun, Roger Milla yang bikin Piala Dunia 1990 semakin berwarna.

Barulah sejak kejadian di pertandingan Irlandia vs Mesir pada Piala Dunia 1990 yang tuai kritik, banyak yang mendesak FIFA untuk mengeluarkan aturan baru tentang back-pass dan aturan timer untuk kiper yang terlalu lama memegang bola.

Belum juga badan sepak bola dunia itu selesai menggodok aturan yang akan mengubah wajah sepak bola hingga hari ini, kejadian Peter Schmeichel di final Euro 1992 kembali membuat geger. Sepak bola semakin tak menarik karena back-pass.

Untuk tim yang unggul dalam sebuah pertandingan taktik back-pass ini tentu sangat menguntungkan. Liverpool disebut bisa jadi raja sepak bola Inggris, sebelum Premier League, dan kompetisi Eropa era 1970 dan 1980-an karena taktik back-pass. Taktik ini dinilai efektif karena bisa membuang waktu seperempat lebih jalannya pertandingan.

Akhirnya aturan ini disusun langsung oleh FIFA dan diterapkan untuk seluruh negara yang punya liga di bawah naungannya. Bukan hanya Piala Dunia dan Euro saja. Pada Juli 1992 peraturan back-pass disahkan dan harus mulai diterapkan di seluruh dunia.

Pada 15 Agustus 1992, sepak bola berubah drastis di Inggris. Suporter sudah mulai merasakan perubahan yang cukup berarti ketika menyaksikan pertandingan pra musim beberapa klub. Yang paling diingat adalah ketika kiper Manchester City, Andy Dibble mengalami patah kaki setelah dia ragu-ragu menerima bola back-pass dari pemain belakang.

Raksasa Liga Inggris tahun 1980-an, Nottingham Forest harus terdegradasi pada Premier League edisi pertama. Setelah sulit beradaptasi dengan peraturan baru. Liverpool yang merupakan tim paling sukses pada 1980-an ikut terpuruk karena tak bisa menerapkan taktik back-pass lagi.

Tapi tentu saja tak ada yang paling menderita selain penjaga gawang. Mantan kiper Inggris, Alan Hodkinson, membuat dumelan. Ia mengungkapkan kalau sepanjang karier menjadi kiper selalu latihan dengan menggunakan tangan. Namun kini seorang kiper harus menggunakan kakinya.

"Aturan baru itu mengolok-olok profesi saya," ujar Alan seperti dikutip dari thesefootbaltimes.co.

Terlepas dari semua keluhan awal para kiper yang gak mau repot itu, aturan back-pass ini benar-benar meningkatkan kualitas sepak bola. Semua perubahan memang butuh penyesuaian di awal. Terbukti ketika berjalan satu tahun usai aturan back-pass disahkan, musim selanjutnya permainan mengalir lebih baik. Tentu saja aturan ini membuat sepak bola menjadi olahraga yang lebih menghibur ketika ditonton. Gak heran kenapa sepak bola menjadi sebuah industri yang menguntungkan.

Kalau saja tidak ada aturan back-pass hingga sekarang, mungkin sepak bola hanya jadi olahraga dengan para pemain dan pelatih pecundang dengan taktik back-pass itu. Tapi alih-alih menyalahkan Peter Schmeichel, lebih baik berterima kasih saja. Dikarenakan aksinya di final Euro 1992, membuka mata FIFA dan penggemar sepak bola juga menyelamatkan sepak bola menjadi olahraga yang membosankan. 

 


TAG: Laga Kiper Backpass Schmeicel Euro Denmark Manchester United






BACA LAINNYA


LAPAK


ARTIKEL POPULER


LEGENDA BULAN INI


IKUTI KAMI