REGISTER
Keranjang Anda Kosong
Total:
0

Gas Air Mata, Pengontrol Kericuhan yang Bikin Ricuh


M Bimo pada 2020-04-02 jam 12:00 PM


Aldito Ilham


Granat ini pertama kali digunakan oleh tentara Prancis pada 1914. Gas air mata ditembakkan kepada prajurit jerman di daerah perbatasan. Sejak pertama kali dipakai pada perang yang disebut Battle of the Frontiers, gas air mata kini juga menjadi andalan pihak keamanan selain di medan perang.

Suporter sepak bola menjadi salah satu kelompok yang cukup mengenal baik dengan gas air mata. Tampaknya petugas keamanan hanya punya satu cara untuk menyetop segala macam kericuhan yang terjadi di tribun atau luar lapangan, yakni dengan menembakkan gas air mata. Namun tak banyak disadari, aksi penembakan gas air mata ini malah bisa jadi pemicu kericuhan makin tak terkontrol.

Penggunaan gas air mata bukan baru dilakukan pada zaman sepak bola moderen. Sejarah mencatat, senjata ini telah diandalkan aparat keamanan untuk kericuhan sepak bola sejak beberapa dekade lalu. Buntut dari kecerobohan, kebrutalan dan salah antisipasi aparat juga membuat kericuhan makin menjadi-jadi.

Tertulis di buku Sports around the World: History, Culture, and Practice yang ditulis oleh John Nauright, kebrutalan aparat dan gas air mata pernah menimbulkan kerusuhan suporter terburuk dalam sejarah sepak bola. Pada 1964, setidaknya 300 lebih suporter tewas dalam pertandingan kualifikasi Olimpiade yang mempertemukan Peru vs Argentina di Estadio Nacional di kota Lima, Peru.

Hari itu menjadi hari yang penting bagi masyarakat Peru. Tim nasional mereka hanya butuh hasil imbang untuk dapat berlaga di babak utama Olimpiade 1964 di Tokyo, Jepang. Optimisme membumbung tinggi karena bermain di depan 53 ribu pendukung meski saat itu mereka menghadapi tim kuat Argentina.

Suasana Estadio Nacional memanas karena tuan rumah tertinggal 0-1. Sisa waktu pertandingan hanya tinggal sedikit. Enam menit sisa pertandingan, Peru mencetak gol penyama kedudukan. Stadion bergemuruh seiring dengan optimisme untuk lolos semakin nyata. Sebelum akhirnya wasit asal Uruguay, Angel Eduardo Pazos memutuskan untuk menganulir gol tersebut.

Keputusan ini menyulut emosi suporter Peru. Para suporter garis keras memutuskan untuk berlari ke dalam lapangan untuk memprotes keputusan wasit. Selangkah sebelum sampai di hadapan wasit, lusinan pihak keamanan lebih dulu memukuli fans Peru bertubi-tubi hingga tumbang. Tanpa peringatan, tanpa usaha pencegahan dengan cara baik-baik terlebih dahulu.

Kericuhan tak hanya terjadi karena suporter yang masuk ke dalam lapangan saja. Di tribun, suporter lainnya juga ikut tersulut emosi. Sumpah serapah ditujukan untuk pihak keamanan. Batu dan benda-benda lain mulai dilemparkan ke arah polisi. Ini membuat polisi bereaksi dengan menembakkan gas air mata ke arah tribun.

Bukannya meredakan suasana, tindakan polisi ini malah bikin makin ricuh. Tembakan itu membuat puluhan ribu suporter panik. Mereka berusaha menyelamatkan diri masing-masing tak peduli dengan yang lainnya. Berlari tanpa arah, entah harus ke mana. Mengakibatkan banyak orang terinjak-injak.

Gas air mata itu sendiri membuat penonton terjebak, terinjak, bahkan sampai sesak napas. Laporan BBC menyebutkan, setidaknya ada 328 korban suporter meninggal dunia pada kejadian tersebut. Komandan polisi yang memerintahkan menembakkan gas air mata dihukum 30 bulan kurungan.

Kejadian serupa juga pernah terjadi di Ghana. Tepatnya pada 9 Mei 2001, sebanyak 126 suporter meninggal pada kejadian terburuk dalam sepak bola Afrika ini. Tak lain dan tak bukan penyebabnya adalah gas air mata yang ditembakkan ke penonton sehingga menimbulkan kepanikan.

Saat itu Stadion Accra Sport menjadi saksi tragedi berdarah tersebut. Bermula dari pertandingan derby Liga Utama Ghana yang mempertemukan tuan rumah Hearts of Oak dan Asante Kotoko. Dua klub ini merupakan klub paling sukses di Liga Utama Ghana. Mereka juga punya basis suporter loyal dalam jumlah besar. Stadion Accra Sport penuh sesak.

Panitia pelaksana (panpel) pertandingan menyiagakan aparat keamanan cukup banyak saat itu. Mereka menambah jumlah personel pada jelang akhir laga untuk antisipasi kericuhan. Benar saja, tuan rumah Accra mencetak dua gol pembalik keadaan pada akhir pertandingan. Hal ini membuat suporter Asante Kotoko berang dan mulai merusak kursi stadion dan melemparkannya ke dalam lapangan.

Sayangnya respons polisi terlalu gegabah. Mereka mencoba menghentikan aksi para suporter dengan menembakkan gas air mata. Ironisnya, panitia pelaksana saat itu malah mengunci gerbang keluar tribun agar kericuhan tidak merembet keluar stadion. Hasilnya suporter yang panik terjebak di tribun tanpa bisa ke mana-mana.

Tindakan polisi bersama panpel yang sembrono membuat suporter panik hingga berdesakkan mencari jalan keluar lalu terinjak-injak. Gas air mata juga membuat 116 orang tewas karena asphyxia atau kekurangan oksigen. CNN melaporkan 10 orang lainnya meninggal karena trauma.

Gas air mata juga sudah bukan barang asing bagi suporter Indonesia. Bahkan sejak zaman Ligina, ada kejadian memorial yang masih diingat hingga sekarang. Salah satunya adalah waktu semifinal Ligina 1996/1997 yang mempertemukan juara bertahan Bandung raya dan Mitra Surabaya.

Atmosfer panas sudah tercium sejak sebelum pertandingan dimulai. Puncaknya ketika menit ke-63 pertandingan diputuskan untuk berhenti karena ada gesekan suporter di tribun. Kejadian ini membuat aparat menembakkan gas air mata. Namun angin yang kencang membawa gas tersebut sampai ke bangku cadangan pemain. Semifinal dilanjutkan keesokan harinya dan dimenangkan oleh Bandung Raya dengan skor 0-1.

Kericuhan berujung tembakan gas air mata juga sempat membuat satu nyawa melayang di laga Indonesian Premier League 2012. Saat itu Persebaya 1927 sedang menjamu Persija di Stadion Gelora 10 November. Keributan yang ditengarai karena gesekan antara suporter dan aparat keamanan ini berujung ditembakkan gas air mata ke arah tribun penonton. Padahal menurut penonton yang meluapkan amarahnya di media sosial, tribun itu banyak diisi oleh perempuan dan anak-anak.

Gas air mata membuat penonton panik. Mereka berlarian mencari jalan keluar dari tribun. Berdesak-desakan membuat salah satu penonton terjatuh dari tribun ekonomi dan terinjak-injak oleh rekan-rekannya hingga meninggal dunia. Dari hasil pemeriksaan autopsi seperti dilansir dari detik.com, polisi mengungkapkan kalau korban meninggal dunia karena kehabisan oksigen.

Tentu masih banyak kejadian di sepak bola yang diakibatkan oleh gas air mata baik di Indonesia maupun di luar negeri. Gas air mata memang tak langsung bikin orang yang terkena kehilangan nyawa. Namun efek dari gas ini bisa berisiko tinggi, baik secara langsung dan tidak langsung, bagi yang terkena hingga maksimal meninggal dunia.

Secara langsung, granat gas ini dapat menyebabkan mata perih hingga kebutaan. Selain itu dapat juga membuat kulit terbakar sampai terjadi pendarahan. Paling parah tentu saja bisa memicu seseorang kehabisan oksigen dan sesak napas. Sementara secara tak langsung, gas air mata dapat menimbulkan kepanikan luar biasa dan trauma bagi korbannya. Terlebih efek dari gas ini bisa dirasakan oleh korbannya sampai berhari-hari.

Penembakan gas air mata ke tribun oleh aparat pastinya harus dilandasi SOP yang jelas. Dikutip dari berbagai sumber, Kombes Pol Tri Maryanto mengatakan, polisi diizinkan menembakkan gas air mata kalau kerumunan massa melanggar pasal 170 KUHP tentang perusakan secara bersama-sama.

Brigjen. Pol. Drs. Charles Bonardo Sadatua Nasution juga menyebutkan tentang pasal lain di dalam SOP penembakan gas air mata. Menurutnya polisi atau aparat keamanan tidak boleh menembakkan langsung menuju ke kerumunan massa. Mereka harus menembakkannya ke arah atas.

"SOP Kepolisian penembakan gas air mata harus melalui atas tidak langsung menuju ke kerumunan massa," ujarnya.

Selain itu, Kombes. Pol. Awi Setiyono sedikit menjabarkan tentang SOP gas air mata. Menurutnya aparat harus memberikan peringatan terlebih dahulu kepada massa. Satu, dua, tiga kali peringatan masih juga ngeyel, aparat atas izin pimpinan pasukan diizinkan untuk menembakkan gas air mata.

Massa pengunjuk rasa atau suporter yang berlaku ricuh juga bisa menimbulkan reaksi penembakan. Untuk itu, Awi Setiyono benar-benar menggaris bawahi kebijakan setiap personel aparat dalam menembakkan gas air mata tanpa melupakan prosedur tetap yang telah disesuaikan.

Polisi juga seharusnya bisa mengantisipasi apa yang bakal terjadi jika gas air mata terkena penonton di tribun yang penuh sesak. Seperti yang sudah-sudah, kepanikan 100% bakal terjadi. Belum lagi pintu keluar yang terbatas tidak bisa menampung seluruh suporter dalam waktu bersamaan. Jangan samakan pendemo di jalanan yang berada di tempat terbuka dan bisa punya banyak pilihan lari dari situasi genting.

Apalagi setiap tribun di stadion Indonesia hampir selalu penuh sesak dengan penonton. Terutama pada pertandingan derby atau big match yang rawan gesekan antar suporter. Kalau bisa, pakai cara lain deh.

Gas air mata memang dicap sebagai pengendali kericuhan di stadion. Terlepas dari kejadian berdarah yang pernah tertulis di dalam sejarah sepak bola, stadion tetaplah tempat yang menyenangkan bagi suporter. Satu-satunya tempat di mana bisa mengeluarkan unek-unek, berteriak menyalahkan wasit, pemain lawan ataupun permainan membosankan tim sendiri. Teriak saja pakai sumpah serapah, semua orang pasti maklum.

Jadi menurut kamu, apakah polisi Indonesia sudah melakukan penembakan gas air mata sesuai SOP? Kamu suporter yang sudah akrab ditembaki gas air mata tentu bisa menjawabnya.


TAG: Tear Gas Laga Mitra Surabaya Bandung Raya Ligina






BACA LAINNYA


LAPAK


ARTIKEL POPULER


LEGENDA BULAN INI


IKUTI KAMI