REGISTER
Keranjang Anda Kosong
Total:
0

Hilangnya Kepang Warna-warni Taribo West dalam perjalanan menjadi Pastor


M Bimo pada 2020-11-09 jam 12:00 PM


Gantigol/Ilham Dito


Jika harus menunjuk salah satu pemain Nigeria paling nyentrik pada era 90an hingga 2000an, mungkin satu-satunya pemain yang layak ialah Taribo West. Eks pemain bertahan Inter Milan ini punya rambut kepang yang unik. Lebih unik lagi, warna rambutnya diubah sesuai dengan warna kebesaran klub yang ia bela.


West mengawali karier sepakbola di negaranya, Nigeria. Ia akhirnya hijrah ke Eropa untuk pertama kalinya yakni pada 1992 saat bermain untuk klub Ligue 1, A.J. Auxerre. Namanya semakin melejit tentu saja ketika berseragam Internazionale setelah dilepas oleh klub Prancis tersebut. Dia meraih gelar Ligue 1 dengan Auxerre dan menjuarai Champions League bersama Nerazzurri.


Usai dua musim, West tetap di Italia meski menyeberang untuk bergabung bersama AC Milan. Tapi ia justru dipinjamkan ke klub Liga Inggris, Derby County. Setelah itu ia berpindah-pindah ke Kaiserslautern di Jerman, pindah lagi ke Serbia, Qatar, Plymouth Argyle, Nigeria dan Iran. Sebelum akhirnya gantung sepatu pada 2008.


Taribo West merupakan salah satu bek tangguh Nigeria pada masanya. Ia membuat 41 penampilan bersama timnas berjuluk Super Eagles dan merupakan bagian dari tim yang memenangkan emas Olimpiade 1996. West juga tampil dua kali di Piala Dunia 1998 dan 2002. Ia menjalani karier yang cukup mulus. Satu-satunya kontroversi dalam kariernya yaitu ia dituduh memalsukan usia aslinya meski akhirnya tak terbukti.


Tak banyak yang tahu kalau Taribo West adalah sosok yang sungguh religius. Sebagian besar uang yang dia hasilkan dari sepakbola diberikan kepada gereja bernama The Storm Miracle Ministries of All Nations yang terletak di Milan. Gereja tersebut dibangun oleh West dari hasil jerih payahnya selama berkarier di lapangan hijau.


Seorang pastor yang telah dianggap saudara perempuan West, Patience Ikemefuna, menjadi orang penting di balik pembangunan gereja ini. Ia juga yang meyakinkan kalau Taribo West bisa menjadi pastor suatu saat ini. Salah satu caranya adalah dengan membangun gereja di pinggiran utara Kota Milan pada 2014 tersebut. West mengungkapkan bahwa masukan-masukan darinya mengubah hidupnya.


Dari seorang yang percaya dengan dukun menjadi orang yang melayani Tuhan


Usai ia meyakinkan dirinya untuk lebih religius daripada sebelumnya, kepang ikonik warna-warni Taribo West mulai hilang. Memangnya warna apa yang bisa merepresentasikan sebuah gereja? Pertanyaan candaan yang mungkin Taribo West sendiri tidak bisa menjawabnya.


Ya, Taribo West mengubah dirinya dari sosok tembok kokoh di lapangan hijau, menjadi seorang penyampai firman Tuhan kepada jamaatnya. Sebenarnya jika ingin menarik waktu ke belakang, West telah melakukan pelayanan religius pertamanya sejak berseragam Inter Milan pada 1997 lalu. Ia memberikan khotbah kecil-kecilan kepada orang yang ia temui di pinggiran Kota Milan.


Aktivitas ini ia teruskan ketika pindah ke Inggris. West bahkan sampai membujuk pelatih Derby County saat itu, Jim Smith, untuk memberinya libur pada hari Minggu agar ia bisa pulang ke Italia untuk meneruskan aktivitas religinya.


Taribo West merasa Tuhan telah menyelamatkannya dua kali. Pertama, ia merasa dipertemukan sepakbola untuk menuntunnya keluar dari kehidupan kriminal dan perang antar-geng. Kemudian yang kedua, Tuhan juga telah membukakan hatinya dari yang dulunya seorang juju, bisa dibilang sebagai orang yang percaya dengan sihir. Ketika itu, West banyak mengoleksi jimat-jimat yang dipercaya memberikan keberuntungan bagi karier sepakbolanya.


"Ketika saya masih aktif bermain, saya tidak memiliki keyakinan apa-apa. Saya biasa meminta mallam dan babalawo (semacam orang pintar atau dukun) untuk membuat jimat," kata dia.


Kabar yang dituliskan oleh Vice pada 2016 menyebutkan kalau West saat itu bekerja di Lagos, Nigeria. Ia juga mendirikan pelayanan religi di sana. West sering ditemukan sedang berkhotbah di pasar yang ramai di Lagos. Taribo West benar-benar telah meninggalkan hingar-bingar mewahnya kehidupan pesepakbola dan menyerahkan diri sepenuhnya untuk melakukan pekerjaan di jalan Tuhan.


Meski demikian, Gereja Shelter in the Storm Miracle Ministries of All Nations milik West yang ada di Milan hingga kini masih beroperasi. Bangunan itu tak hanya sebagai tempat beribadah, melainkan juga dijadikan tempat untuk membantu imigran tunawisma dan pelaku prostitusi yang miskin dan kurang mampu. Hal itu mereka lakukan semata-mata untuk menyelamatkan orang-orang yang kurang beruntung.


"Saya menggunakan gereja saya di Milan untuk membantu para tunawisma dan orang Nigeria yang dibawa ke Italia atas nama prostitusi," kata West.


Gereja tersebut memberikan para imigran tempat tinggal, mencarikan pekerjaan dan membantu mereka untuk mengurus dokumen jika diperlukan. West mengaku sangat berat untuk membantu para imigran dan tunawisma ini. Sebab, ia harus mengeluarkan banyak uang untuk melakukan itu. Tapi tak ada alasan yang lebih baik daripada menelantarkan orang-orang kurang beruntung ini begitu saja.


Taribo West tetaplah Taribo West. Jiwa sepakbola tak pernah hilang dari dirinya. Meski agak kurang meyakinkan jika fans Inter Milan mengharapkan dia merumput lagi dalam suatu kesempatan, namun sesekali rupanya West masih cukup vokal berkomentar soal penampilan timnas Nigeria. Tentunya dengan kata-kata sopan dan tetap menggabungkannya dengan tema yang religius. Namanya juga pastor ya kan.


TAG: Taribo West Inter Milan Nigeria Pastur






BACA LAINNYA


LAPAK


ARTIKEL POPULER


LEGENDA BULAN INI


IKUTI KAMI