REGISTER
Keranjang Anda Kosong
Total:
0

Hubungan Alkohol dengan Sepakbola


M Bimo pada 2021-08-07 jam 12:00 PM


Gantigol/Aldito Ilham


Bagi beberapa pria dewasa, rokok dan minuman beralkohol adalah konsumsi sekunder yang kadang menyelinap di antara konsumsi primer seperti makan tiga kali sehari dan minum air putih. Minuman beralkohol juga membuat penikmatnya kecanduan. Terkadang mereka mengesampingkan yang primer hanya untuk menikmati minuman keras ini.

Pun dengan para pesepak bola, mereka juga tentunya punya kebiasaan dalam menenggak minuman beralkohol. Apalagi jika pemain yang berasal dari negara dengan budaya meminum minuman beralkohol yang kuat, seperti Jerman, Inggris, dan Republik Ceko.

Minuman beralkohol berbeda daripada minuman lainnya. Itu memiliki kandungan-kandungan yang membuat minuman ini digolongkan dalam kategori keras. Apalagi efek memabukkan yang ditimbulkan membuat tak sembarang orang bisa mengonsumsinya.

Tapi tak dapat dipungkiri, sepakbola dan minuman beralkohol punya hubungan yang erat. Tak sedikit pemain hebat dunia kecanduan alkohol. Sebut saja Paul Gascoigne, George Best, dan legenda Brasil Manuel Francisco dos Santos. Mereka bisa menorehkan prestasi sekalipun dalam pengaruh alkohol di atas lapangan.

Banyak pertanyaan yang timbul ketika membahas pemain dengan kecanduan alkohol seperti nama-nama di atas. Seberapa besar pengaruh alkohol terhadap performa pemain? Apakah alkohol lebih menyebabkan kerusakan fisik ketimbang menghadirkan manfaat psikologis? Atau apakah alkohol bisa menghadirkan efek relaksasi yang membantu pemain lebih rileks di atas lapangan?

 
Pub yang Lekat dengan Sepakbola

Di Inggris, banyak pub kecil yang menjadi saksi sejarah akan lahirnya tim-tim hebat. Maka nggak heran ketika pub memiliki kedekatan dengan sepakbola baik dari suporter, pemain, pelatih, staf, maupun para petinggi klub.

Dimulai dari banyaknya tim sepakbola di Inggris yang sesudah pertandingan menjadikan pub sebagai tempat transit. Di sana mereka berkumpul untuk melemaskan otot atau sekadar ganti pakaian.

Dalam buku The People's Game yang ditulis oleh sejarawan James Walvin, pub merupakan tempat penting yang melahirkan tim sepakbola di Inggris. Pub menawarkan tempat untuk bertemu, tempat bertukar berita dan informasi, tempat di mana tim, manajemen dan, fans berkumpul.

Kebiasaan mereka berkumpul di pub tentu saja berimbas pada budaya mengonsumsi minuman keras. Pub memang tempatnya untuk melakukan hal itu. Dan, perlahan-lahan alkohol mulai memasuki dunia sepakbola bermula dari pub-pub lokal Inggris.

Pada tahun 1902, Newton Heath berutang 2.670 Poundsterling dan terancam bangkrut. Pada rapat penyelamatan klub, disetujui bahwa pembuat bir asal Manchester, John Henry Davies, bersedia mengambil alih utang klub. Rencana ini kemudian membuat Newton Heath sekarang menjadi Manchester United.

Selain itu, banyak juga sponsor-sponsor utama klub sepakbola yang berasal dari perusahaan minuman keras. Mereka bahkan mengambil spot sebagai sponsor utama yang logonya mejeng di bagian depan jersey.


sumber foto: Getty Images

Sejumlah pemain juga ada yang banting stir membangun pub ketika mereka pensiun dari lapangan hijau. Di antaranya ada William Foulke si pemilik pub The Duke di Sheffield. Foulke dulunya merupakan penjaga gawang yang pernah berseragam Sheffield United dan Chelsea. Dia merupakan pemabuk berat hingga minuman beralkohol mempengaruhi berat badannya.

Meski penggunaan minuman beralkohol banyak dikonsumsi oleh pemain, namun faktanya banyak juga pelatih yang menentang kebiasaan ini. Herbert Chapman, mantan pelatih legendaris Arsenal, menjadi salah satu contoh pelatih yang menolak keras tentang penggunaan alkohol dan rokok oleh pemain.

Chapman bahkan pernah merekrut tukang susu berusia 19 tahun yang bermain untuk klub non-liga, Kettering Town. Alasan pelatih Arsenal mau menampung anak muda tersebut cukup sederhana. Ketika Chapman bertanya apakah pemain ini merokok atau mengonsumsi minuman alkohol, anak muda tersebut dengan yakin menjawab tidak. Akhirnya Chapman mengontrak anak muda bernama Eddie Hapgood ini pada 1927.

 
Hasil Penelitian dan Fakta di Lapangan yang Tak Berkesinambungan

Sudah ada beberapa penelitian yang membahas kaitan alkohol dan performa atlet.  Departemen Fisiologi Institut Karolinska di Swedia meneliti efek langsung etanol, alkohol, dan infus terhadap otot rangka para atlet. Penelitian ini dilakukan kepada lima atlet sukarelawan dan hasil yang ditemukan adalah alkohol membuat penyerapan glukosa pada kaki menurun. Aliran darah ke kaki juga jadi berkurang, hal ini mungkin disebabkan adanya penyempitan pembuluh di otot.

Jika disimpulkan secara teori, hal ini menjadikan pemain yang meminum minuman keras pada malam sebelum pertandingan, kemungkinan besar akan memiliki lebih sedikit energi dan oksigen yang dikirim ke otot. Hingga akhirnya, kaki mereka akan terasa lebih berat dari biasanya saat babak kedua berlangsung.

Tes laboratorium yang diterbitkan dalam Canadian Journal of Applied Sports Science juga mengetes sekelompok sukarelawan atlet untuk mengonsumsi alkohol. Mereka ingin meneliti kemampuan para peminum minuman keras ini untuk mengatur suhu tubuh secara alami.

Baca Juga: Pembrontakan dan Alkohol Mengiringi Perjalanan Socrates Menjadi Legenda

Setelah meminum alkohol dalam dosis tertentu, para atlet ini melakukan perjalanan menggunakan sepeda selama tiga jam dalam kondisi suhu yang tidak terkendali. Kemudian para peneliti menyimpulkan, bahwa kadar alkohol dalam darah dapat mengganggu termoregulasi saat melakukan olahraga ringan.

"Pada dasarnya, mereka yang mengonsumsi alkohol berdampak pada kurang mampunya mereka untuk mengendalikan suhu tubuh," seperti yang tertulis pada laporan penelitian tersebut.

Masih banyak lagi penelitian yang menyimpulkan kalau alkohol memiliki dampak buruk pada tubuh manusia. Dampaknya bisa mempengaruhi kinerja otot rangka, termoregulasi dan hidrasi, metabolisme, dan neurologis.

Berbagai penelitian juga menyebutkan kalau alkohol bisa mempengaruhi performa fisiologis. Seperti misalnya performa dan kinerja aerobik.


sumber foto: Getty Images

Secara teori, alkohol berdampak buruk. Tapi nyatanya banyak kejadian ajaib terjadi di lapangan hijau yang dibuat oleh para pemain dalam pengaruh alkohol.

Selama Piala Dunia 2010, pelatih Inggris saat itu, Fabio Capello terkenal sangat keras soal aturan. Ia melarang keras pemainnya untuk mengonsumsi alkohol selama gelaran kompetisi tersebut. Namun karena dua pertandingan awal melawan Amerika Serikat dan Aljazair The Three Lions bermain lesu, Capello akhirnya memperbolehkan pemain untuk mengonsumsi minuman beralkohol pada malam sebelum pertandingan kontra Slovenia.

Hasilnya adalah kemenangan 1-0 untuk Inggris yang membuat mereka lolos grup. Kemudian ada metode pelatihan unik yang dilakukan oleh pelatih Nottingham Forest era 1979, Brian Clough. Ia yang merupakan peminum berat membuat pesta miras dengan para pemain sehari sebelum pertandingan final League Cup 1979.

Pada pesta itu, Clough menyediakan banyak minuman beralkohol mulai dari bir hingga champagne. Malam itu semua pemain dan staf mabuk berat. Hari berikutnya pada pertandingan, mereka tertinggal 0-1 dari Southampton pada babak pertama. Namun ketika mereka semua sudah sadar dari pengaruh alkohol pada paruh kedua, Nottingham Forest berhasil membalikkan keadaan dan menjadi juara dengan skor 3-2.

Tapi banyak juga cerita alkohol dan pemain sepak bola yang berakhir tragis. Salah satu yang terkenal tentu saja yang menimpa seorang legenda George Best. Dekat dengan kehidupan malam, otomatis membuat eks Manchester United ini kecanduan alkohol parah.

Kecanduan itu pun membuat hati Best rusak dan ia didiagnosa kondisi hatinya hanya bekerja 20 persen saja. Sebelum alkohol benar-benar menghabisi tubuhnya, Best merasakan kariernya terhempas jatuh dari langit setelah sukses bersama Setan Merah.

Ternyata hubungan sepakbola dan alkohol lebih ruwet daripada yang dibayangkan. Antara penelitian dan banyak kejadian yang sudah terjadi, tidak berkesinambungan.


TAG: Alkohol Laga






BACA LAINNYA


LAPAK


ARTIKEL POPULER


LEGENDA BULAN INI


IKUTI KAMI