REGISTER
Keranjang Anda Kosong
Total:
0

Inter Bukan Tempat Pelarian yang Tepat untuk Christian Eriksen


M Bimo pada 2021-01-15 jam 12:00 PM


Gantigol/Ilham Dito


Christian Eriksen bisa dibilang merupakan salah satu gelandang menyerang terbaik yang pernah bermain di Premier League. Pemain berpaspor Denmark ini tujuh tahun berseragam Tottenham Hotspur sebelum akhirnya menjajal Serie A bersama Inter Milan pada musim 2019/2020.

Ketika dia meninggalkan Tottenham pada awal tahun 2020, hanya David Silva yang bisa menghasilkan assist lebih banyak dari Eriksen di Premier League selama satu dekade terakhir. Eriksen juga mencatat rata-rata 10 gol setiap musimnya bersama The Lilywhites.

Catatan-catatan itu sebenarnya sudah layak untuk menyebut pemain berusia 28 tahun ini sebagai salah satu gelandang serang terbaik di Eropa. Namun, kepergiannya dari White Hart Lane justru membuat nasibnya berubah 180 derajat.

Beberapa bulan pertamanya di Inter Milan berjalan tidak sesuai rencana. Pemain Denmark ini berjuang mati-matian hanya untuk mendapatkan tempat di skuat utama asuhan Antonio Conte.

Pemain yang sukses besar di Premier League, Champions League bahkan bersama tim nasional Denmark ini disebutkan tidak cocok di Serie A. Tapi sebenarnya Eriksen ini nggak cocok dengan iklim sepakbola Italia atau karena faktor pelatihnya ya?

Pengorbanan Conte, sudah lakukan segala cara

Sama seperti Eriksen, Antonio Conte datang ke Giuseppe Meazza setelah menuntaskan karier menangani klub Premier League. Beberapa tahun sebelumnya, pelatih kelahiran Lecce ini sukses besar di Juventus. Ia membawa Nyonya Tua scudetto tiga kali berturut-turut.

Conte turut membawa formasi andalannya yaitu 3-5-2 di Inter Milan. Dengan formasi ini, Conte cukup sukses menjadi saingan serius untuk Juventus pada musim 2019/2020. Buktinya I Nerazzurri mengakhiri musim di peringkat dua, hanya selisih satu poin dari Juventus yang merebut scudetto pada musim itu.

Gaya sepakbola yang Conte terapkan adalah salah satu yang terbaik. Ia tidak meminta anak asuhnya untuk bebas berekspresi dan bereksperimen, namun dengan tegas menyuruh mereka untuk mengikuti segala instruksinya sehingga mencapai ketepatan teknis dan taktis.

Tiga gelandang tengah yang menjadi andalan Conte adalah Marcelo Brozovic sebagai playmaker, berduet dengan Nicolo Barella dan Stefano Sensi di kanan dan kirinya, sebelum akhirnya masuk Arturo Vidal. Pemain lawan tak cukup hanya menghentikan Brozovic untuk mengacaukan permainan Inter. Sebab, Barella dan Sensi sama efektifnya di lini tengah dan rajin menyuplai bola dari lini pertahanan tim.

Conte menyadari kurangnya kedalaman skuat mereka di lini gelandang tengah. Namun tampaknya Borja Valero, Matias Vecino dan Roberto Gagliardini cukup layak untuk menjadi backup Sensi dan Barella yang sempat cedera. Di lini depan, duet Lukaku dan Lautaro Martinez tampil sangat luar biasa. Kedua penyerang Inter ini hampir tak ada cela.

Sementara itu, Eriksen datang mengisi skuat Conte dengan tebusan seharga 20 juta Euro. Meski sebenarnya Inter bisa mendapatkannya secara gratis jika mau menunggu kontraknya dengan Tottenham selesai, namun Inter masih dianggap untung karena bisa mendapat pemain yang harga pasarnya setara 50 juta Euro dengan harga miring, daripada harus bersaing dengan banyak klub lain ketika kontrak Eriksen sudah habis.

Datangnya Eriksen bersamaan dengan dua pemain dari Premier League lainnya yakni Ashley Young dan Victor Moses. Mantan winger Manchester United dan Chelsea itu dengan mulus masuk ke dalam rencana Conte, meninggalkan Eriksen yang menemukan kesulitan tersendiri.

Conte telah mencoba dengan perlahan-lahan memakai jasa Eriksen ke dalam skema formasinya, mulai dari 3-5-2 hingga mengubahnya ke 3-4-1-2 demi menemukan formasi yang nyaman bagi pemain Denmark ini. Tetapi Eriksen tetap kesulitan untuk menunjukkan performa terbaiknya.

Perubahan taktik dan formasi yang dilakukan demi Eriksen ini rupanya turut mempengaruhi tim secara keseluruhan. Dengan formasi 3-4-1-2, posisi Barella dan Brozovic jadi lebih ke dalam dan defensif, yang berarti mereka tidak dapat menekan lebih tinggi ke depan.

Formasi ini membuat tim lawan lebih mudah menguasai lini tengah Inter, tempo pertandingan tidak dapat diatur dengan baik. Posisi Eriksen yang ada di belakang dua penyerang memblokir garis passing vertikal dari pertahanan Inter ke lini serang mereka.

Demi mengakomodasi pemain bintang baru ini, sepakbola dinamis dan vertikal yang selama ini ditunjukkan pada awal musim berganti menjadi permainan yang lebih horizontal dan tak banyak melakukan penetrasi. Hasilnya? Christian Eriksen tetap tak mampu menunjukkan kemampuan maksimalnya.

Eriksen mulai lebih banyak menjadi penghangat bangku cadangan. Berharap menanti dimainkan di sepertiga akhir permainan dengan kontribusinya yang tak terlalu berpengaruh.

Merekrut Eriksen adalah kesalahan

Sejujurnya, Antonio Conte sudah melakukan segala yang dia bisa untuk membuat Eriksen mengeluarkan segala upaya yang dia punya. Termasuk saat mengubah taktik dan formasi dari 3-5-2 menjadi 3-4-1-2 adalah salah satu contohnya.

Berharap Conte untuk menemukan cara lain? Sepertinya pada situasi seperti ini tidak mungkin. Inter Milan sedang berada di jalur yang penting untuk menikung AC Milan di puncak klasemen. I Nerazzurri juga menjaga permainannya agar tak tersandung dan dilewati Roma atau Juventus.

Bahkan pelatih ini menyebutkan, dengan menaruh Christian Eriksen lebih banyak di bangku cadangan adalah pilihan terbaik untuk klub saat ini.

"Saya selalu membuat pilihan demi kebaikan Inter dan karena itu saya mencoba melakukan segalanya dengan cara yang benar. Eriksen memiliki banyak peluang sejak awal tahun. Ketika saya menganggapnya layak, dia akan bermain pada starting eleven, jika tidak saya akan membuat keputusan lain," ujar Antonio Conte beberapa waktu lalu.

Kinerja Christian Eriksen yang minim dampak ini sebenarnya sudah menjadi sorotan sejak beberapa bulan pertama kehadirannya di Inter. Bahkan eks Tottenham Hotspur ini turut membuat para legenda Italia maupun Inter Milan ikut memberikan komentar.

Paolo Di Canio menyebutkan kalau Eriksen bisa jadi masalah bagi Conte. Mantan penyerang yang pernah menangani Sunderland ini menganggap Eriksen tidak memiliki kecepatan.

"Eriksen di Tottenham menjadi pemain yang selalu dicari oleh rekannya, tapi tidak di Inter. Dia tidak memiliki kecepatan di kakinya. Serie A sebenarnya tidak terlalu cepat, tapi Eriksen tidak pernah bisa mengimbanginya," ujar Di Canio seperti dikutip dari Sky Sports.

Sementara menurut Christian Vieri, Inter sudah salah dari awal ketika merekrut Eriksen. Vieri yang pernah berseragam Inter pada periode 1999-2005 menganggap kalau pemain Denmark ini tidak cocok dengan taktik Antonio Conte.

"Kami harus mengatakan bahwa Inter salah merekrutnya Januari lalu. Seseorang harus mengakuinya dan bertanggung jawab. Mudah saja," kata Vieri.

Sejauh musim 2020/2021, Eriksen baru dimainkan sebanyak sembilan kali dari 17 pertandingan Serie A yang Inter Milan jalani, dengan tanpa mencetak gol ataupun assist sama sekali.

Dia di klub merupakan pemain yang berpenghasilan tinggi bersama dengan Lukaku. Rasanya berat bagi Inter untuk membayarkan gaji fantastisnya beserta bonus jika menilik dari kontribusi Eriksen seperti saat ini.

Pada masa lampau Inter memang punya pengalaman buruk melepas pemain dengan sangat terburu-buru. Seperti Andrea Pirlo dan Clarence Seedorf yang justru juara Champions League bersama AC Milan atau Philippe Coutinho yang saat itu masih berusia 21 tahun dan hanya dijual murah ke Liverpool, kini setelah lima tahun market value pemain ini mencapai 160 juta Euro.

Tapi secara realistis, melepas satu atau dua pemain dari skuat agar tidak menumpuk dan menjaga keuangan klub bukan pilihan yang buruk, kan?


TAG: Inter Milan Serie A Christian Eriksen






BACA LAINNYA


LAPAK


ARTIKEL POPULER


LEGENDA BULAN INI


IKUTI KAMI