REGISTER
Keranjang Anda Kosong
Total:
0

Jargon Suporter West Ham: Sex, Drug, and Carlton Cole


M Bimo pada 2020-06-29 jam 12:00 PM


Gantigol/Ilham Dito


Setiap klub dan suporternya pasti memiliki pemain yang dicap sebagai pahlawan. Pemain ini biasanya berjasa besar dalam perjalanan klub saat menuju puncak kesuksesan. Tak ada yang bisa suporter berikan selain teriakan-teriakan penyemangat dalam setiap pertandingan. Namun terkadang, seorang pemain tak bisa selamanya berada di klub yang sama. Ia bisa saja berpindah seragam atau juga gantung sepatu meninggalkan rumput hijau. Tapi namanya tentu saja tak bisa hilang dari dinding penghargaan klub itu sendiri.

West Ham menjadi salah satu klub Liga Inggris yang cukup sering kedatangan pemain dengan skill di atas rata-rata. Sebelum bersinar bersama Manchester United dan Manchester City, Carlos Tevez lebih dulu mencuri perhatian saat masih bermain untuk The Hammers. Atau mungkin masih ada yang ingat ketika Dimitri Payet menjadi pemain kunci West Ham bersama dengan Andy Carroll ketika menjadi kuda hitam pada musim 2015 sampai musim 2017.

Jika membahas pemain legenda West Ham, tentu Mark Noble menjadi satu-satunya nama yang pantas menyandang gelar itu saat ini. Selain sebagai kapten tim, Noble hampir menghabiskan seluruh masa kariernya di The Hammers. Noble muda pernah meniti karier di akademi West Ham sejak tahun 2000. Empat tahun di akademi, ia kemudian dipromosikan ke tim senior dan telah bermain sebanyak lebih dari 400 pertandingan untuk West Ham hingga hari ini.

Namun jika berbicara soal kesetiaan dan pengorbanan untuk klub, Carlton Cole sangat layak sebagai pahlawan untuk West Ham United. Cole bergabung dengan The Hammers dari Chelsea dengan mahar dua juta poundsterling pada 2006. Cole bukanlah tipe penyerang produktif selama berseragam West Ham United. Selama sembilan musim di Upton Park, ia tak pernah mencetak lebih dari 10 gol dalam satu musim Premier league. Padahal, mantan pemain Persib Bandung ini merupakan striker utama selama bermain untuk klub London Timur tersebut.

Oleh karena performanya yang kurang mengesankan, Cole oleh suporter dijuluki "Can't Control." Julukan yang cukup menyindir dan buruknya lagi, pemain berkepala plontos itu namanya jadi bahan lelucon di sosial media. Namun, tak ada pemain West Ham yang punya loyalitas untuk klub sebesar yang Carlton Cole punya.

Loyalitas bukan sekadar angka bagi Cole. Bukan juga sekadar berapa lama sang pemain bertahan di satu klub yang sama. Tapi Carlton Cole punya sejarah membantu West Ham lebih dari angka-angka itu.

Pada 2011, West Ham nyaris kolaps. Mereka kesulitan finansial yang berujung buruknya performa tim pada musim 2010-2011. Pada akhir musim, klub asal London Timur ini terdegradasi ke Championship. Beberapa pemain memilih pergi, seperti Wayne Bridge ke Manchester City dan Robbie Keane yang bergabung dengan Tottenham Hotspurs.

Namun tidak untuk Carlton Cole. Ia bersama Rob Green dan Mark Noble memutuskan untuk tetap di Upton Park dan bertekad membawa West Ham kembali ke Premier League.

Musim 2011-2012, West Ham yang saat itu dilatih Sam Allardyce finis di peringkat ketiga klasemen Championship. Cole menjadi salah satu pahlawan pada laga final play off kontra Blackpool di Wembley. Cole menyumbang satu gol dan berkontribusi pada gol kemenangan yang dicetak oleh Ricardo Vaz Te. Kontribusi Cole terlihat sangat nyata saat itu. Terlepas dari raihan hanya 14 gol dalam satu musim Championship.

Di balik perayaan kembalinya West Ham United usai hiatus satu musim dari Premier League, ada kekhawatiran tersendiri yang dialami oleh klub. Ya, saat itu kondisi keuangan klub belum stabil. Dengan promosi ke Premier League, itu berarti West Ham harus menyiapkan dana operasional yang bisa mencapai dua kali lipat ketimbang berkompetisi di Championship.

Belum lagi kontrak pemain inti seperti Rob Green, Mark Noble dan Carlton Cole yang harus diperpanjang, juga pelatih Sam Allardyce yang kontraknya akan habis pada musim panas 2012. Melepas tiga pemain itu mungkin bakal jadi blunder terbesar yang akan dibuat West Ham. Namun jika memperpanjang, dana yang dibutuhkan pun mepet.

The Hammers boleh bernapas lega karena Sam Allardyce ingin tetap mendampingi West Ham di pinggir lapangan tanpa membicarakan kontrak terlebih dahulu. Meski begitu, mereka mendapat tantangan lain karena saat itu Carlton Cole sedang didekati Stoke City. Ia ditawari gaji yang cukup besar di sana, namun Cole menolaknya.

Rasa cinta yang besar terhadap West Ham membuat Carlton Cole rela gajinya dipotong demi bisa tetap berseragam West Ham. Bahkan ketika degradasi pada musim 2010-2011, Cole mengaku kalau gajinya dipotong setengah ketika bermain di Championship.

"Saya tidak ingin meninggalkan 'kapal' ini. Saya tidak akan bisa hidup dengan keegoisan diri. Kembali ke Premier League bersama West Ham adalah hadiah untuk saya dan teman-teman tim yang berjuang," ujar Cole seperti dikutip dari The Guardian, Jumat (26/5).

Pada musim di mana West Ham kembali ke Premier League, Cole sama sekali tak membicarakan soal kontrak kepada petinggi klub. Cole tahu West Ham sedang kesulitan finansial. Tapi Cole juga tahu kalau klubnya sekarang sangat membutuhkan jasanya di barisan depan. Uang memang menjadi faktor besar bagi Cole dalam bermain sepak bola. Namun untuk West Ham, ia rela memberikan apapun yang ia bisa.

Sam Allardyce memberikan penghormatan kepada Cole karena menunjukkan cinta sejati untuk klub ini. Serta gol dan kontribusinya terhadap dua gol West Ham di final play off Championship, akan dikenang sebagai pertandingan terbaik West Ham bersama Carlton Cole.

Penghormatan juga diberi oleh suporter West Ham terhadap loyalitas Cole kepada klub. Sebelum laga final play off Championship menghadapi Blackpool, nama Cole santer dikabarkan akan bergabung dengan Stoke City musim depan. Namun ia menolaknya dan memilih tetap di Upton Park.

Laga itu adalah pertama kalinya saat tercetus sebutan untuk Cole yang kini jadi jargon suporter West Ham. Jargon tersebut berbunyi: Sex, drugs and Carlton Cole. Jargon ini berarti tiga hal yang sangat dicintai suporter West Ham, termasuk Cole yang sudah rela mengorbankan segalanya untuk klub kecil dari London Timur ini.

Perjalanan Carlton Cole dan West Ham berhenti sampai akhir musim 2014-2015. Di musim terakhirnya, Cole mencatatkan 23 penampilan dengan raihan dua gol. Ia kemudian hijrah ke Skotlandia untuk bergabung dengan Celtic. Selama berseragam West Ham, Cole telah bermain sebanyak 293 kali dengan mencetak 67 gol dan 33 asis di seluruh kompetisi.

Perjalanan karier Cole usai meninggalkan Upton Park pun tak berjalan mulus. Di Skotlandia, striker ini hanya mencatat lima kali penampilan dan satu gol selama satu musim. Cole kemudian bergabung dengan Sacramento Republic FC, klub kasta kedua Liga Amerika Serikat, sebelum akhirnya berlabuh di Persib Bandung pada 2017.

Bagi suporter West Ham, pasti menyenangkan bisa melihat Carlton Cole benar-benar berjuang untuk West Ham United. Ia tak cuma pemain yang berjuang di lapangan. Cole jadi contoh nyata pemain yang punya tekad tinggi di luar lapangan juga. Hingga musim terakhirnya di West Ham, julukan "Can't Control" itu pun berganti menjadi "Cole, si Pemain yang Tak Terhancurkan."


TAG: Carlton Cole West Ham United






BACA LAINNYA




LAPAK


BERITA POPULER


1

Dari DM Instagram, Terungkap Kualitas Vlado Sebagai Pelatih

2

Memahami Proses dan Menjaga Ekspektasi Bersama Seto

3

Filosofi Sepakbola Indonesia Adalah Pertala

4

Omelan Bang Ben dan Intensitas Permainan Timnas yang Buruk

5

Formasi WM dan Perkembangannya

LEGENDA HARI INI


Card image cap
05 March

Pada tanggal 5 Maret 1870, London menjadi tuan rumah pertandingan internasional pertama di dunia, dengan mempertemukan Timnas Inggris menghadapi sekelompok pemain Skotlandia yang berbasis di London. Pertadningan Itu berakhir imbang 1-1.


IKUTI KAMI