REGISTER
Keranjang Anda Kosong
Total:
0

Jerman yang Berusaha Terus Relevan dalam Urusan Pembinaan Usia Muda


Aditya Hasymi pada 2021-02-19 jam 12:00 PM


Gantigol/Ilham Dito


Sebuah ujaran beradaptasi atau mati benar-benar dipegang teguh oleh oleh para pemangku kebijakan sepak bola di Jerman. Pasalnya, Die Mannschaft terus menyesuaikan diri dengan cepatnya perubahan terkait urusan menyepak si kulit bundar dalam hal regenerasi pemain muda.

Dewasa ini, apalagi di era saat pandemi melanda seperti saat ini, adaptasi menjadi hal yang penting. Adanya disrupsi, sebuah keadaan dimana rangkaian sistem yang lama mau tidak mau harus berganti dengan cara yang lebih baru, semakin menegaskan pentingnya perubahan. Mereka yang mampu menyesuaikan diri dialah yang mampu tetap terus bertahan.

Kondisi untuk terus relevan itu berlaku di segala lini, entah itu bisnis ataupun sepak bola sekalipun.

Beradaptasi agar tak digerus zaman diyakini betul oleh sepak bola Jerman. Pembinaan pemain muda menjadi sektor untuk menyesuaikan diri tersebut, mengingat setiap jengkal aktivitasnya digolongkan sebagai upaya menyiapkan masa depan. Der Panzer seperti tak ingin lagi terjerembab dalam memori buruk yang mereka pernah alami.

Kredit: Getty Images

Stakeholder sepak bola Jerman tersadar, akan pentingnya sebuah sistem dalam pembinaan pemain muda, ketika melihat tim nasional tersingkir secara mengenaskan di gelaran Euro 2000. Dalam turnamen yang menjadikan Belgia dan Belanda sebagai tuan rumah nya itu, skuad Erich Ribbeck ini babak belur secara mengenaskan tak lolos grup dengan predikat juru kunci. Menjejali skuad dengan bintang seperti Lothar Matthaus, Thomas Haesller, dan Ulf Kirsten tak ada guna jika masa keemasan sudah lewat.

Tersungkur hingga titik yang paling dalam adalah harga mahal yang harus dibayar sepak bola Jerman ketika melupakan pentingnya regenerasi pemain.

Alhasil, semenjak catatan pahit Euro 2000 tersebut, seluruh pemangku kebijakan dalam sepak bola Jerman menyepakati bahwa pembinaan muda harus dijadikan prioritas. Cara pandang meraih kesuksesan dalam bal-balan adalah menjadikan pembibitan usia dini sebagai hulunya dengan didukung oleh komponen lain: pelatih yang berkualitas, sekolah, kesebelasan yang mentas di Bundesliga, dan membentuk tim nasional berdasar kelompok umur.

Langkah nyata dari upaya perbaikan dalam hal pembinaan pemain muda diwujudkan dengan program bertajuk “DFB Talent Development”. Sebagai nahkoda, DFB sebagai PSSI-nya Jerman menunjuk Ulf Schott sebagai direktur pengembangan bakat. Kesemuanya bertujuan untuk membangun sistem dan membenahi struktur kaderisasi pemain muda untuk timnas kelak.

DFB Talent Development Programme ini hadir sebagai solusi yang diapungkan oleh stakeholder bal-balan Jerman demi kembali trengginasnya penampilan tim nasional. Langkah jelas untuk mengidentifikasi talenta dari seluruh Jerman, lalu kemudian membekali skill dan pemahaman taktik secara berkala, menjadi tujuan utama hadirnya program ini.

Pembinaan Pemain Muda yang Lebih Terstruktur

Lambatnya regenerasi pemain yang berimbas pada mentoknya prestasi tim nasional menjadi masalah bersama yang dipikirkan oleh stakeholder sepak bola Jerman. Baik itu dari DFB sebagai federasi, badan liga teratas Bundesliga, hingga kesebelasan professional meyakini adanya kebutuhan talenta dari negeri sendiri -atau seringkali disebut sebagai homegrown player- adalah sebuah keniscayaan.

Sebagai pihak yang memiliki otoritas tertinggi, DFB tak canggung untuk menggelontorkan dana demi suksesnya program pencarian bakat ini. Nominal senilai 20 juta euro dicairkan atas mandat dari presiden federasi saat itu, Gerhard Mayer-Vorfelder, pada musim panas medio 2002. Dana segar tadi diinvestasikan dalam bentuk pusat latihan pesepakbola muda yang jumlahnya mencapai total 366 sentra Latihan di seantero Jerman.

Struktur pembinaan pemain muda di Jerman tak hanya berhenti pada pembangunan sentra latihan. Federasi sepak bola negara yang beribukota di Berlin ini juga memastikan setiap talenta yang hadir diberikan kesempatan yang sama. Darimana asal saing pemain berasal atau berlatih, entah itu berada pinggiran kota bahkan keturunan sekalipun, diberikan hak untuk mendapatkan program yang sama.

Kredit: DFB

Untuk memastikan kesempatan yang sama dari tiap talenta muda Jerman untuk masuk dalam radar pemandu bakat, maka DFB Talent Development Programme ini dirancang berjenjang. Ada empat level yang merepresentasikan bagaimana seorang pesepakbola berkarir: mulai dari amatir hingga sampai di tahapan pro.

Level pertama adalah grassroots football dimana talenta muda masih bermain pada level amatir pada sekolah bal-balan yang dekat dengan rumah. Di fase kedua adalah dimana pemain muda bergabung ke tim akademi klub yang berlaga di Bundesliga. Berlanjut di level ketiga saat berada di rentang usia 15 tahun, mulai masuk tim nasional kelompok umur. Hingga akhirnya mencapai level paling atas dengan berlaga di kesebelasan professional.

Benih yang disemai pun muncul bak jamur di musim penghujan ketika model pembinaan pemain muda dilakukan secara terstruktur oleh DFB. Sekira 22,000 pesepakbola muda mendapatkan fasilitas kelas premium. Tak hanya berhenti di pemain saja, para pelatih yang turut membersamai juga ikut terpacu untuk meningkatkan kualifikasinya. Tercatat dari data UEFA, kini Jerman telah memiliki 28.400 pelatih berlisensi B, 5.500 pelatih berlisensi A, dan 1.070 orang dengan lisensi pro.

Pencapaian dengan jumlah yang luar biasa tersebut tentu tak mungkin terealisasi apabila sumber dayanya, dalam hal ini pemain muda, diarahkan dengan mentalitas yang benar. Berbeda jauh dengan kebanyakan, pemain muda di Jerman tidak ditanamkan untuk menjadikan kemenangan sebagai motivasi utama. Mengumpulkan menit bermain lebih ditekankan. Sehingga, proses berlatih tidak lagi disepelekan, namun menjadi hal yang penting.

Mentalitas terus bekerja keras dalam berlatih agar mendapat menit bermain ini diamini oleh direktur Teknik DFB, Robin Dutt. “Bagi pesepakbola Jerman, menit bermain adalah segalanya. Layaknya dalam olahraga golf, seberapa sering anda ikut turnamen akan diperhitungkan sebagai sebuah handicap. Begitulah yang terjadi ketika pelatih bertanya kepada pemain muda di Jerman: seberapa sering kamu bermain, bukan berapa banyak gelar yang sudah kamu peroleh”, ujar Dutt dalam wawancara yang dilansir The Guardian.

Adaptasi Taktik di era Sepak Bola Modern

Taktik dalam sepak bola tidaklah statis, melainkan terus berkembang dari era ke era. Satu waktu pernah total football berjaya, di era selanjutnya pertahanan gerendel catenaccio yang menuai hasil. Maka dari itu, butuh adaptasi secara berkala bagi sebuah kesebelasan untuk meraih kesuksesan.

Jerman dengan DFB sebagai otoritas sepak bola tertingginya menyadari hal tersebut, lagi-lagi dari memori kelam Euro 2000. Satu pengalaman yang memberikan gambaran utuh bahwa taktik adanya masanya dan bisa dicap usang apabila tidak ada penyesuaian dari waktu ke waktu.

DFB ingin menggeser mental tim nasional Jerman yang selalu dicap terlambat panas menjadi tancap gas sejak awal. Memulainya dengan menanamkan kepada generasi selanjutnya adalah langkah signifikan.

Ketika sepak bola modern mengharuskan sebuah tim yang lihai dalam hal penguasaan bola dan memiliki kreativitas di lapangan, DFB dengan program pencarian bakatnya memasukkan poin tersebut dalam kurikulumnya. Pun dengan keadaan bahwa postur tubuh tak lagi menjadi keunggulan mutlak, perlahan-lahan pelatih di Jerman turut memberikan tempat bagi mereka yang tak menjual kekuatan fisik kala merumput.

“Gaya bermain tim nasional Jerman yang mengandalkan fisik pemain perlahan-lahan akan coba digeser menjadi lebih teknikal”, tegas Ulf Schott selaku direktur pengembangan bakat dari DFB.

Berkat pergeseran orientasi bermain Jerman yang bergeser ke arah yang lebih teknikal, talenta-talenta muda yang merekah dari negara yang diakui sebagai ibukota dari benua Eropa ini jauh berbeda dari musim-musim sebelumnya.

Kredit: FIFA

Thomas Mueller dan Philip Lahm barangkali dapat menjadi contoh terbaik dari hasil pendekatan yang lebih taktikal dalam pengembangan usia muda di Jerman. Postur tubuh kurus kerempeng Mueller dan tinggi yang jauh dari kata ideal Lahm, jika mengacu ke era sebelumnya, membuatnya tak masuk hitungan dalam skuad tim nasional. Akibat penekanan yang lebih terhadap taktik keduanya dapat tempat di barisan Tim Panzer.

Mueller adalah tipe pemain depan yang amat langka di Jerman. Posturnya yang kurus memang tak begitu memadai dalam duel udara. Namun, kejelian untuk mencari ruang membuatnya pantas diacungi jempol sebagai seorang Raumdeuter. Setali tiga uang, jika masih berkiblat dengan mengutamakan fisik sebagai modal utama, timnas Jerman akan kehilangan sosok Lahm yang memiliki intelegensi tinggi yang sama baiknya, saat menyisir sayap dan menahan bola di lini tengah.

Pendekatan Saintifik dalam Pembinaan Pemain Muda ala Jerman

Adalah hal yang lazim di era sepak bola modern untuk menggunakan pendekatan saintifik. Publik kerap menyebutnya sebagai sports science. Keterlibatan data dan teknologi menjadi aspek vital sebagai determinan untuk menentukan sebuah tim berpeluang menang atau tidak dalam pertandingan.

Sepak bola Jerman merasa perlu untuk memasukkan unsur saintifik dalam pengembangan pemain muda mereka. Mulai tahun 2006, DFB mempersilahkan pendekatan secara sains, utamanya melalui riset dan analisis, sebagai landasan dalam konsep pengembangan pemain muda.

Otoritas sepak bola tertinggi di Jerman percaya jika pendekatan saintifik akan mampu membantu untuk mengidentifikasi kebutuhan apa yang harus disiapkan untuk menunjang skill individu dari pemain muda menuju jenjang professional. Tak main-main, DFB memaksimalkan satu lembaga terpusat bernama The Deutsche Sporthochschule di kota Cologne, sebagai pusat riset pengembangan sepak bola.

Keterlibatan dari The Deutsche Sporthochschule diwujudkan dengan mengembangkan metode tes fisik bagi bakat muda Jerman. Tes fisik yang biasa dilakukan, melalui pendekatan saintifik, coba dimaksimalkan secara efektif. Upaya tersebut dilakukan untuk memonitor metode latihan dengan memberikan rekomendasi agar training session selanjutnya jauh lebih maksimal.

Apa yang ditunjukkan oleh DFB dalam menjaring bakat muda pesepakbola merupakan langkah inovasi agar tak terpuruk di era sepak bola modern. Metode baru dalam pencarian talenta, memikirkan ulang taktik yang sesuai, dan melibatkan aspek saintifik dalam melakukan regenerasi menjadi alasan besar mengapa Jerman terus mampu relevan dalam persaingan sebagai negara sepak bola kelas wahid.


TAG: Timnas Jerman Liga Jerman Bundesliga






BACA LAINNYA


LAPAK


ARTIKEL POPULER


LEGENDA BULAN INI


IKUTI KAMI