REGISTER
Keranjang Anda Kosong
Total:
0

Jesse Lingard, Masa Depan Calon Bintang yang Gagal di Manchester United


Hamdani M pada 2021-02-09 jam 12:00 PM


Gantigol/Ilham Dito


Tidak ada yang meragukan kualitas akademi Manchester United. Anak-anak dari berbagai penjuru dunia berbondong-bondong datang ke Carrington untuk menimba ilmu di bawah kurikulum yang dikembangkan oleh akademi sepak bola Setan Merah. Pemain-pemain hebat banyak yang lahir dari sini. Dari sekian banyak anak muda yang berada di sana, mereka yang terbaik akan mendapat kontrak dari Manchester United. Bermain untuk klub senior. Salah satu pemain yang sempat dianggap sebagai yang terbaik di akademi itu adalah Jesse Lingard. 

Jesse Lingard telah mengidentifikasi diri sebagai bagian dari Setan Merah sejak ia berusia tujuh tahun. Sejak saat itu, ia selalu bangga dengan lambang Setan Merah di dadanya. Meski sempat mengalami beberapa kali masa pinjaman, kesetiaannya pada United tak berubah. Ia akhirnya mendapat kepercayaan bermain di era Louis van Gaal. Meski tidak bisa dikatakan kepercayaan penuh, namun ini cukup membuatnya bahagia. Terlebih, ia telah gagal meyakinkan dua pelatih United sebelumnya, Alex Ferguson dan David Moyes.

Di bawah arahan van Gaal, Lingard juga mulai sedikit menunjukkan peran pentingnya dalam tim. Seperti yang pernah terjadi saat United menghadapi Crystal Palace di pertandingan final Piala FA 2015/16. Dia mencetak gol kemenangan United atas The Eagles di masa tambahan waktu. Kemenangan yang turut mengantarkan United menjuarai Piala FA.

Sayang, pertandingan ini adalah yang terakhir bagi United di musim tersebut. Juga pertandingan terakhir Van Gaal. Ini artinya tidak ada lagi kesempatan bagi Lingard untuk melanjutkan penampilan apiknya di musim itu. Lebih jauh, ia harus kembali memulai dari awal, sambil mengharap manajer baru United akan memberinya kesempatan bermain lebih.

Musim 2016/17 Lingard mengawali musim dengan banyak ekspektasi tinggi dari para pendukung. Sinar terangnya di pertandingan resmi terakhir United di musim sebelumnya, serta latar belakangnya sebagai jebolan akademi klub, membuat banyak pihak berharap lebih kepadanya. Jose Mourinho yang saat itu ditunjuk sebagai manajer baru menggantikan van Gaal pun dibuat terpesona oleh bakat Lingard.

Pada pertandingan Community Shield melawan juara bertahan Liga Inggris, Leicester City, Lingard kembali menunjukkan pesonanya. Dia menjadi salah satu pencetak gol United. Mereka menang 2-1. Dua gol di dua pertandingan yang menentukan. Nama Lingard segera dielu-elukan. Calon bintang masa depan.

Kredit: © Getty Images

Skill di atas rata-rata. Semangat bermain yang membara. DNA juara ala United. Semua itu ada di kepala pendukung Setan Merah saat mereka ditanya tentang Lingard di masa depan. Lingard segera memberi jawaban. Tapi sayang, jawaban yang tidak memuaskan. Meski penampilannya tidak bisa dianggap buruk, namun ia juga dianggap kurang memuaskan oleh pendukung Setan Merah. Tapi dasar pendukung United. Nampaknya mereka banyak yang terlalu terbuai oleh generasi emas akademi Setan Merah di tahun 1992.

Betapapun tidak memuaskannya Lingard, harapan akan sinar terangnya di masa depan terus saja dirawat oleh sebagian pendukung Setan Merah. Hal yang sama juga diamini oleh Lingard. Ia terus berada di barisan pemain United. Dengan tanpa putus asa mengharapkan tempat utama dan segera menunjukkan sinarnya.

Tapi ia tidak pernah benar-benar bersinar. Statistik permainannya adalah bukti sahih akan hal itu. Di musim 2016/2017, ia hanya berhasil mencatatkan satu gol dan dua assist dari 25 kesempatan tampil di Liga Premier Inggris. Sempat bersinar di musim 2017/18 dengan delapan gol dan lima assist, Lingard kemudian kembali menurun di musim berikutnya. Dua musim setelah itu dia hanya mencetak total lima gol selama dua musim di Liga Premier Inggris.

Inkonsistensi Lingard tidak ditanggapi dengan sabar oleh pengganti Mourinho, Ole Gunnar Solskjaer. Dia segera meminta manajemen mendatangkan gelandang serang lain. Agar tak melulu mengandalkan Lingard. Bruno Fernandes adalah yang diinginkan Solskjaer. Lingard segera tersingkir seiring dengan sinar yang ditunjukkan Bruno. Konsistensi Bruno di lapangan tengah United berdampak buruk bagi Lingard. Ia kehilangan tempat di tim utama United. Dan dengan segera dilupakan pendukung. Mereka juga mulai lupa akan ekspektasi terhadap Lingard yang dulu pernah ada.

Satu tahun sejak kedatangan Bruno, Lingard segera menyadari, ia semakin tak diinginkan di Old Trafford. Solskjaer tidak pernah mendapat tuntutan dari pihak manapun hanya karena ia tidak memainkan Lingard. Satu-satunya tuntutan yang diterima Solskjaer justru karena ia jarang memainkan van De Beek. Tuntutan yang semakin menunjukkan betapa tidak diinginkannya Lingard oleh penggemar Setan Merah musim ini. 

Di tengah situasi yang tidak menguntungkannya tersebut, Lingard segera pergi. Dia menuju ke West Ham. Klub papan tengah yang kini sedang menanjak bersama David Moyes. Para pendukung Setan Merah nampak tak ada yang peduli dengan kepergiannya. Pemain yang pernah dua kali memastikan trofi bagi United dengan golnya di moment krusial itu tidak dianggap berarti. Dia seperti dipersilahkan pergi begitu saja. Bahkan saat ia bersinar dalam laga debutnya bersama West Ham, tidak terdengar satu pun teriakan penyesalan dari pendukung Setan Merah. 

Kepergian Lingard ke West Ham ini mendapat apresiasi dari Dimitar Berbatov. Dengan usia yang menginjak 28 tahun dan jarang mendapat tempat di tim utama, Lingard memang tak seharusnya berharap masa depan yang cerah di United. Masa keemasannya sebagai pemain sepak bola adalah hari ini. Jika hari ini ia tidak bersinar, semestinya ia mencari jalan keluar. Bukan cuma sekadar duduk manis di bangku cadangan sambil berharap bersinar suatu saat nanti. Kata Berbatov, “saya pikir dia perlu pindah. Dia harus pergi ke tempat lain untuk bermain. Mungkin di klub yang lebih rendah dari United. Selama ia mendapat lebih banyak menit bermain di sana, itu bisa jadi pembuktian tentang apa yang bisa ia lakukan.”

Penilaian Berbatov ini berbanding lurus dengan pendapat mantan pemain United lain, Michael Owen. Dia menyebut Lingard sudah terlalu tua untuk terus menunggu. “Sekarang waktunya (Lingard) memutuskan. Keputusan tentang karier profesionalnya. Apakah ingin tetap menjadi bagian kecil dari klub besar, atau bermain secara teratur tapi tidak memiliki banyak peluang untuk memenangkan trofi apapun,” kata Owen memberi penilaian.

Kegalauan Lingard akan masa depannya di Old Trafford bertepatan dengan kekurangan stok pemain depan West Ham. Tim yang mulai mapan di lini tengah itu kemudian membawa mantan anak asuh Moyes di United. Sekilas, Lingard bukanlah transfer yang tepat bagi West Ham. Mereka sedang kekurangan striker, namun yang didatangkan justru pemain dengan posisi gelandang serang. Meski begitu, nampaknya Moyes punya rencana lain untuk Lingard. 

Benar saja, pada pertandingan pertama Lingard untuk West Ham, ia diberi Moyes peran baru. Ia ditempatkan sebagai striker bayangan. Hampir tidak pernah bermain di musim ini, ia langsung mendapatkan tempatnya di tim utama West Ham. Bermain sejak menit awal, ia tampil luar biasa. Dua gol yang mengantarkan West Ham menang atas tim kuat di papan tengah Liga Inggris, Aston Villa 3-1. Ia kembali ceria. Ia kembali berjoget, merayakan golnya.

Apakah Lingard bisa terus konsisten tampil baik bersama West Ham? Apakah ia akan kembali dipanggil United setelah masa pinjaman? Entahlah. Satu yang pasti tentang Lingard. Ia kerap memberi harapan palsu. 


TAG: Jesse Lingard Manchester United Premier League West Ham United






BACA LAINNYA


LAPAK


ARTIKEL POPULER


LEGENDA BULAN INI


IKUTI KAMI