REGISTER
Keranjang Anda Kosong
Total:
0

John Charles dan Ian Rush, Sukses dan Gagalnya Pemain Wales di Juventus


M Bimo pada 2020-04-10 jam 12:00 PM


thesefootballtimes


Juventus kini pemegang status sebagai klub paling sukses di Serie A. Selama hampir satu dekade terakhir, dominasinya di Liga Italia tak tergoyahkan. Belum ada klub Serie A manapun yang bisa menyela dari dominasi Juventus dalam meraih gelar juara. Sejak musim 2011/2012 sampai musim 2018/2019, gelar juara liga selalu diklaim oleh klub berjuluk Nyonya Tua ini.

Pemain bintang datang dan pergi silih berganti. Musim ini, Bianconeri kedatangan pemain tengah asal Wales, Aaron Ramsey, secara cuma-cuma. Ramsey datang ke Turin setelah menghabiskan 11 musim masa baktinya di Arsenal dengan status bebas transfer. Pemain tim nasional Wales ini tentu saja membawa ingatan fans Juventus kepada dua pemain asal Wales yang pernah berseragam hitam-putih, John Charles dan Ian Rush. Meski demikian, nasib kedua pemain legendaris ini di Juventus bak bumi dan langit.

Sepanjang abad ke-20, Juventus memiliki pemain-pemain dengan nama kondang seperti Zbigniew Boniek, Didier Deschamps, Luis Del Sol, Raimundo Orsi, Luis Monti, Michel Platini dan Zinedine Zidane. Namun sebelum nama-nama ini, ada satu pemain punya andil besar yang membuat Juventus menjadi klub Italia paling disegani di Eropa.

Ialah John Charles. Dilahirkan di Swansea pada 27 Desember 1931, mantan pesepak bola asal Wales ini memulai karier dengan bermain di klub kelompok usia di kampung halamannya. Ia ditemukan oleh pencari bakat Leeds United ketika bermain di kompetisi kelompok usia muda. Setelah direkrut Leeds, Charles dipinjamkan ke klub Yorkshire pada 1948 setelah menjalani seleksi yang menakjubkan.

Di sana Charles memulai sepak bola profesional dari tim cadangan. Tak ada posisi tetap untuk dia. Kadang dicoba di sayap, bek kanan, bek kiri, bek tengah sampai jadi gelandang. Sampai akhirnya ia debut di liga pada April 1949 sebagai bek tengah.

Setelah kembali ke Leeds pada akhir 1951, karier sepak bola Charles berubah. Pelatih Frank Buckley, orang yang berjasa membuat pemain Wales ini menjadi bintang, memutuskan untuk mengubah posisi Charles menjadi striker. Charles yang tadinya sebagai bek berbalik mengembangkan kemampuan fisik, kekuatan dan duel udara. Keputusan itu berbuah manis. Di akhir musim Divisi Dua, Charles mencetak 26 gol untuk Leeds United.

Musim tiap musim terlewati, Charles makin jago saja. Total 30 golnya dalam 41 penampilan pada musim 1955/1956 membawa Leeds promosi ke Divisi Utama. Promosi ternyata membuat performa penyerang ini semakin menanjak. 38 golnya dalam 40 pertandingan membuat namanya menduduki pemuncak top skorer dan membantu Leeds finis di posisi delapan klasemen pada musim pertama Leeds saat kembali berkompetisi di divisi teratas Liga Inggris.

Tak butuh waktu lama bagi Juventus untuk tertarik karena permainan Charles yang begitu cemerlang. Dengan bantuan Gigi Peronace, agen pemain sepak bola pertama di Inggris, Bianconeri mengamankan tanda tangan kontrak Charles dengan tebusan Rp 1,2 miliar. Sang pemain mendapatkan Rp 197 juta karena menandatangani kontrak tersebut.

Pada masa itu, Juventus memang lagi jor-joran membeli pemain bintang. Selain Charles, pemilik Juventus, Agnelli Family, juga memboyong Omar Sivori dari River Plate. Alasan klub Italia ini mengeluarkan banyak uang adalah bercermin pada musim 1956/1957 saat mereka hampir terdegradasi. Juventus finis hanya berjarak tiga poin dari zona degradasi.

Pemain Wales itu membuktikan harga yang cukup mahal dengan penampilan ciamiknya. Di bawah asuhan pelatih Ljubiša Broćić asal Serbia, Charles beraksi sebagai striker tengah dan didukung oleh duo sayap, Sivori dan kapten Giampiero Boniperti. Trio ini membawa malapetaka bagi barisan pertahanan klub Serie A musim 1957/1958.

Bianconeri menyelesaikan musim dengan raihan juara dengan jarak delapan poin. Itu adalah gelar pertama Juventus dalam enam tahun terakhir. Bintang utamanya tentu saja John Charles yang mengemas 28 gol dan menjadi Capocannoniere alias top skorer Serie A. Tak butuh waktu lama bagi tiga penyerang Juventus ini untuk mendapatkan tempat di hati suporter mereka. Trio itu kemudian dikenal sebagai The Holy Trident.

Musim kedua berseragam Bianconeri, Charles gagal mempertahankan gelar Scudetto. Meski demikian, dia mencetak 23 gol di liga dan membantu Juventus membawa pulang trofi Coppa Italia ke Turin. Musim selanjutnya yakni 1959/1960, Charles lagi-lagi jadi aktor utama kesuksesan Juventus merebut kembali gelar Scudetto dan Coppa Italia. Charles dan Sivori mengacak-acak berisan pertahanan klub-klub Serie A dengan Charles mencetak 23 gol dan Sivori sebagai Capocannoniere dengan 28 gol. Hanya empat dari 17 tim yang jumlah golnya dapat melebihi akumulasi gol yang dicetak oleh Charles dan Sivori.

Meski Charles mampu meraih gelar Scudetto ketiganya bersama Juventus pada musim 1960/1961, namun nyatanya performa dia perlahan mulai menurun. Ia hanya mencetak 15 gol dalam satu musim dibayang-bayangi oleh Sivori yang meraih Ballon D'or pada 1961. Akhirnya musim 1961/1962 menjadi musim terakhir Charles di Bianconeri. Badai cedera membuat waktu bermainnya terbatas. Charles hanya turun lapangan sebanyak 21 kali dengan hanya mencetak delapan gol. Selain masalah di lapangan, Charles juga diterpa masalah pribadi khususnya saat ia bercerai dengan sang istri.

Selama lima tahun berada di Turin, John Charles tak pernah mendapat kartu sama sekali. Ia tidak pernah terlibat dalam keributan di lapangan seperti tarik-tarikan jersey, tekel keras dan memprovokasi pemain lain. Dia bermain bola seperti layaknya orang bermain bola. Menjauhkan kontroversi dan lebih mengandalkan talentanya untuk menghibur banyak orang.

Pemain asal Wales ini mendapat penghargaan atas catatan statistiknya yang luar biasa. Di Juventus, total ia telah mencetak 105 gol, bermain di 155 pertandingan, meraih tiga gelar Serie A dan satu Coppa Italia. Status legendaris Charles disematkan ketika para suporter memilihnya sebagai pemain asing terbaik dalam sejarah klub saat perayaan seratus tahun klub.

Charles bukan satu-satunya pemain Wales yang pernah memperkuat Juventus di masa lampau. Pada musim panas 1986, Ian Rush juga pernah dibajak ke Turin. Tapi, nasib karier kedua pemain ini bak bumi dan langit. Sangat jauh berbeda.

Ada beberapa alasan mengapa Juventus getol banget memburu tanda tangan Rush. Usai dia dikontrak Liverpool saat usianya masih 19 tahun pada 1980, striker muda itu masuk skuat utama satu musim kemudian. Dia menjadi pencetak gol terbanyak klub dengan raihan 30 gol dalam 49 penampilan. Ketika itu Liverpool berhasil merebut kembali juara Liga Inggris.

Musim 1983/1984 adalah titik puncak Rush bersama Liverpool. Ia memainkan peran penting saat The Reds meraih gelar treble bersejarah. Pemain tim nasional Wales itu mencetak 47 gol dalam 65 pertandingan dan berhasil membawa Liverpool meraih trofi Milk Cup, Liga Inggris dan Liga Champions. Total gol itu termasuk lima gol dalam sembilan pertandingan Liga Champions.

Rush benar-benar jadi mimpi buruk pertahanan klub lawan di Inggris dan juga Eropa. Bahkan pada musim ia diterpa cedera dan tak banyak bermain, Rush masih bisa cetak 22 gol dalam 44 penampilan. Itu saja dia sempat melewatkan 14 pertandingan karena cederanya.

Selain piawai mencetak gol, striker kelahiran Flintshire ini juga memiliki pribadi yang menjadikannya diimpikan banyak pelatih. Rush dikenal sebagai pemain yang bisa menjalin komunikasi dengan pemain lain di Liverpool seperti Kenny Dalglish yang sudah senior sekalipun. Dia juga dinilai lebih bermain kolektif ketimbang egois mementingkan target pribadinya sendiri.

Punya karier yang begitu cemerlang di Liverpool, lalu kenapa Rush meninggalkan The Reds? Satu faktor yang mempengaruhi kepindahannya adalah karena bencana Heysel Stadium pada 1985. Kejadian itu mengakibatkan hilangnya nyawa 39 suporter Juventus di final Liga Champions antara Juventus versus Liverpool. Dampaknya membuat klub-klub Inggris dilarang bermain di kompetisi Eropa selama lima tahun. Ini tentu saja memengaruhi finansial Liverpool dan mau tak mau harus menjual Ian Rush.

Sedang ada di puncak karier, tak heran jika Ian Rush begitu banyak peminatnya. Rush meninggalkan Liverpool ke Juventus dengan biaya transfer Rp 63 miliar, rekor biaya transfer termahal pemain Britania Raya. Presiden Juventus, Giampiero Boniperti, yang pernah bekerja sama dengan John Charles melihat kesamaan antara dua pemain Wales ini: pencetak gol produktif dan pandai mengacak-acak barisan pertahanan lawan. Tapi namanya nasib tentu tak ada yang tahu.

Pada musim pertama setelah menandatangani kontrak dengan Juventus, Rush tidak bisa didaftarkan ke skuat Bianconeri. Sebab saat itu slot pemain asing telah diisi oleh dua pemain Prancis, Michel Platini dan Michael Laudrup. Sementara itu setiap tim Serie A hanya diizinkan mendaftarkan dua pemain asing saja.

Awalnya Juventus mau meminjamkan jasa Rush ke Lazio pada musim 1986/1987. Namun atas permintaan sang pemain, Juventus setuju untuk meminjamkan Rush ke klub lamanya, Liverpool. Di sana, pemain Wales ini kembali menunjukkan performa yang luar biasa. Di musim itu dia mencetak 40 gol dalam 57 pertandingan.

Catatan statistik yang mengejutkan membuat suporter Juventus menjadi semakin bersemangat. Mereka menyambut Rush di bandara usai kembali ke Turin setelah kontrak pinjamannya usai. Padahal saat itu Rush dikabarkan naik penerbangan yang informasinya dirahasiakan. Sayangnya, harapan suporter tak pernah jadi kenyataan.

Ada beberapa faktor yang membuat Rush gagal beradaptasi di Italia. Pertama tentu saja karena terkendala bahasa. Michael Laudrup adalah satu-satunya pemain yang bisa berbahasa Inggris di skuat dan ini membuat Rush kesulitan untuk menjalin komunikasi atau membangun hubungan dengan rekan setimnya.

Selain itu, taktik di bawah pelatih Rino Marchesi sangat berbeda dengan apa yang dimainkan Rush di Liverpool. Sepak bola Italia masih menjadi sesuatu yang asing bagi bintang muda ini.

Bianconeri finis di urutan keenam di liga, jauh dari posisi kedua di mana mereka menyelesaikan musim sebelumnya. Marchesi hengkang karena gagal mengangkat prestasi tim. Meski demikian, performa Rush di musim pertamanya nggak jelek-jelek amat. Rush berhasil mencetak 13 gol, menjadikannya pencetak gol terbanyak di klub.

Dia juga mencetak gol penalti yang menentukan langkah Juventus di play-off kualifikasi Piala UEFA melawan rival sekota, Torino, pada Mei 1988. Namun meski berjasa membuat Bianconeri lolos ke kompetisi Eropa, Rush memutuskan memilih kembali ke Liverpool pada musim panas itu. Petualangannya di Italia berakhir begitu cepat.

Ketika petualangannya tak secemerlang pendahulunya, John Charles, ada beberapa hal yang menunjukkan keengganan Rush untuk merangkul budaya sepak bola di negara yang asing buat dia, "Rasanya seperti tinggal di negara lain," ujar Rush seperti dikutip dari gentlemanultra.com.

Pemain asal Wales itu tidak kembali ke Liverpool karena gagal move on. Tetapi jasanya benar-benar dibutuhkan saat itu. Pelatih Kenny Dalglish disebut sampai melakukan pendekatan pribadi agar Rush mau kembali berseragam The Reds. Namun Rush punya kenangan indah di Italia dan merasa pernah merumput di Serie A adalah salah satu keputusan terbaik yang pernah ia buat.

"Saat saya di Juventus membuat saya belajar akan banyak hal, baik pribadi maupun sebagai pemain. Saya mencetak 13 gol dalam satu musim dan saya merupakan pencetak gol terbanyak di klub," katanya.

Setidaknya Rush layak dapat pujian soal itu. Tak banyak pemain Britania Raya yang dalam 30 tahun terakhir berani menantang diri mereka sendiri di lingkungan baru. Sementara itu, John Charles sempat membuat suporter Juventus memberikan julukan Il Gigante Buono yang berarti sang raksasa lembut.

Sedihnya, sosok John Charles kini tidak bisa dilihat lagi. Dia meninggal dunia pada 2004 silam pada usia 72 tahun. Meski raganya tidak ada, tetapi ingatannya akan selalu hidup selamanya dalam sejarah klub Juventus.


TAG: John Charles Ian Rush Juventus Serie A






BACA LAINNYA


LAPAK


ARTIKEL POPULER


LEGENDA BULAN INI


IKUTI KAMI