REGISTER
Keranjang Anda Kosong
Total:
0

Kebangkitan AC Milan, Raksasa itu Telah Terbangun dari Tidurnya


Aditya Hasymi pada 2020-10-27 jam 12:00 PM


Gantigol/Ilham Dito


Raksasa dari Italia tampak telah terbangun dari tidurnya. AC Milan tampak menjanjikan untuk kembali mencengkram kekuasaan di Serie-A.

AC Milan dikenal sebagai salah satu klub besar di Italia. Namanya mencuat sebagai pemburu gelar juara Serie-A bersama Juventus, AS Roma, dan tetangga berisiknya – Inter Milan. Apalagi, ketika berbicara tentang kejuaraan antarklub di level Eropa, nama Il Diavolo Rosso sebagai tim tersukses dari negara tricolore dengan raihan tujuh piala.

Walakin, ketika berbicara tentang kesuksesan Milan dewasa ini, bak membicarakan sejarah. Terasa amat jauh. Hal tersebut terjadi karena butuh mengulik satu dekade  ke belakang untuk membicarakan kesuksesan Rossoneri. Sudah sepuluh tahun lewat dari terakhir kali Milan mengalami era keemasan dari klub.

Ya, kita harus memutar jarum waktu pada selang waktu 1988 sampai 2010. Sebuah era dimana kota Milan benar-benar berwarna merah. Waktu dimana di bawah tangan dingin Silvio Berlusconi sebagai pemilik klub, AC Milan berkibar namanya.

Berlusconi begitu lihai membentuk skuad juara bagi AC Milan. Musim 1988-1989 dan 1989-1990 akan diingat bagaimana eks perdana Menteri Italia itu dengan tepat memilih Arrigo Sacchi sebagai juru strategi. Setelahnya hadir trio Belanda yang terkenal itu (Basten-Rijkaard-Gullit) dan barisan pertahanan tangguh yang digalang Baresi-Costacurta-Maldini.

DNA juara bagi klub kebanggan tifosi tribun selatan San Siro ini terus berlanjut ketika Sacchi berganti Ancelotti. Formasi khas pohon cemara yang sukses mengorbitkan nama-nama seperti Shevchenko, Inzaghi, Pirlo, Seedorf, hingga Kaka membuat gelar Liga Italia, Liga Champions, hingga Coppa Italia melekat di AC Milan.

Kondisi limbung mulai menghampiri sisi merah Milan kala krisis keuangan mulai menjangkiti. Hal tersebut mulai tercium ketika medio 2009, Rossoneri menjual mahal bintangnya Kaka ke Real Madrid. Memang, gelar scudetto masih dapat digapai pada musim 2010/2011. Namun, itulah terakhir kali klub yang berdiri 1899 ini berjaya.

Kekayaan Berlusconi mengalami kolaps akibat skandal di pemerintahan Italia di akhir musim 10/11. Kepingan penting tim dalam diri Ibrahimovic dan Thiago Silva dilego ke Paris Saint-Germain. Sang raksasa dari utara Italia itu perlahan tenggelam dan jauh dari gelar.

Investasi bodong dari investor Tiongkok

AC Milan dipaksa memulai langkahnya dari nol untuk menjadi klub raksasa. Dimulai dari tampuk kepemilikan klub, yang berganti dari tangan Berlusconi kepada pengusaha asal Tiongkok, Li Yonghong. Kedatanganya dengan membawa segepok renminbi membuat Diavolo Rosso bak orang kaya baru.

Di bawah tangan seorang pengusaha Tiongkok dengan dukungan finansial yang masif, Milan tampak kembali agresif. Nominal 200 juta euro digelontorkan dalam satu musim mercato untuk 11 pemain anyar. Andre Silva, Nikola Kalinic, Hakan Calhanoglu, hingga Leonardo Bonucci adalah beberapa nama yang diangkut ke San Siro seturut kedatangan Li.

Dus, Milan seperti lupa bahwa menukik tajamnya klub tidak semudah itu dibangkitkan hanya dengan membeli pemain gres. Apalah arti berduyun-duyun kedatangan pemain apabila tak satupun bisa nyetel dalam taktik. Jutaan euro tampak sia-sia telah dikeluarkan, ketika Rossoneri tampak kepayahan hanya untuk bisa finis di posisi tujuh klasemen.

Tak dinyana pula bahwa proses akuisisi Milan oleh Li ternyata dilakukan dengan uang pinjaman. Seiring waktu, akhirnya pada saat jatuh tempo, taipan asal negeri tirai bambu ini tak dapat membayar hutangnya. Sebuah hasil nahas diterima tetangga Inter Milan ini pada akhir musim 2017/2018: finansial buntung, prestasi urung diraih.

Saat kapal Milan mulai akan karam, muncul penyelamat dari Amerika melalui Elliott Management. Perusahaan manajemen investasi kepunyaan Paul Singer ini hadir dengan bantuan untuk menyelamatkan klub kebanggan daerah Lombardi ini agar tetap stabil secara finansial. Jeratan hukuman Financial Fair Play dari UEFA dapat dilewati kala utang peninggalan Li telah dilunasi.

Kebijakan transfer demi stabilitas keuangan klub

Keadaan dimana AC Milan berada di bawah naungan Elliott Management merupakan titik awal dari langkah perbaikan. Proses membangunkan kembali raksasa Italia dimulai dengan merapikan struktur manajemen klub. Rossoneri merajut asa untuk menjadi klub profesional yang berorientasi jangka panjang dengan mematri stabilitas sebagai pondasi.

Orang-orang terbaik di belakang layar klub mulai didatangkan satu demi satu. Demi menjaga identitas klub sesuai marwahnya, legenda Milan dalam diri Paolo Maldini, diberi karpet merah untuk menjabat Direktur Teknik. Ivan Gazidis, yang ditarik dari klub Premier League Arsenal, didapuk sebagai CEO klub untuk membenahi kondisi mismanajemen yang dialami klub kebanggaan Milanisti ini.

Satu sisi yang tampak menjadi perhatian dari manajemen AC Milan untuk kembali menstabilkan kondisi klub ada proses rekrutmen pemain. Mereka yang berada di balik kemudi klub setan merah dari kota mode ini banyak belajar, bahwa langkah sembrono di bursa transfer merupakan awal kegagalan tim. Plus, yang jadi perhatian mereka bahwa keuangan klub masih dalam taraf penyesuaian setelah lilitan hutang yang muncul.

Milan kini lebih fokus pada perekrutan bakat-bakat muda beli dalam kebijakan transfernya. Kondisi ini, selain bentuk pengetatan keuangan, adalah sasaran jangka Panjang klub berupa peremajaan skuad. Sudah lama Rossoneri tak punya talenta moncer yang kemudian merekah di sebelas awal tim.

“Milan memiliki strategi jangka panjang demi stabilitas klub agar keuangan dapat kembali stabil. Membeli bakat muda adalah salah satunya”, ujar Gazidis ketika ditanya kebijakan baru dari transfer pemain. “Agar berdampak pula dalam performa di lapangan, pemain muda yang direkrut harus sudah melewati analisis menggunakan data dan pemantauan juru bakat”, tambah CEO Il Diavolo Rosso itu dalam wawancara yang dikutip dari Tribal Football.

Perekrutan pemain muda yang berbasis data dan juga pantauan juru bakat ini yang membedakan gerak Milan sekarang dengan masa lalu. Tak ada lagi langkah sembrono yang dilakukan Rossoneri ketika melantai di bursa transfer. Dipasangnya Geoffrey Moncada sebagai otak dibalik perekrutan dan pemantauan bakat muda menjadi kunci.

Moncada sebelumnya menjadi sosok yang bertanggung jawab atas kejutan klub Prancis, AS Monaco, menembus babak semifinal Liga Champions di tahun 2017. Kemampuan pria asal Perancis itu menilai bakat pemain muda membuat dunia terhenyak dengan talenta macam Mbappe, Bakayoko, hingga Bernardo Silva. Setali tiga uang, karena itulah Moncada ditarik dari Prancis untuk kembali mengoptimalkan Casa Milan.

Sehingga kini bisa kita lihat bahwa wajah baru Milan jauh lebih segar dengan talenta muda. Lini serang diisi oleh talenta muda Portugal bernama Rafael Leao. Sisi sayap begitu bergairah dengan hadirnya Brahim Diaz yang dipinjam dari Madrid, Alexis Saelmaekers yang datang dari Anderlecht, serta Jens Petter Hauge yang digamit dari Liga Norwegia. Keseimbangan lini tengah pun terjaga dengan determinasi dari pemuda Aljazair bernama Ismael Bennacer dan masa depan Italia bernama Sandro Tonali.

Satu hal yang semakin menegaskan langkah Milan menuju stabilitas klub seperti era terdahulu adalah rencana untuk membangun stadion secara mandiri. Sudah menjadi rahasia umum bahwa Rossoneri masih harus berbagi kepemilikan lapangan dengan tim sekotanya Inter. Hal tersebut berdampak negatif. dari sisi pemasukan klub melalui tiket. 

Melalui stadion yang nanti akan menjadi kepemilikan penuh, imbasnya akan menaikkan angka pemasukan tiket hingga 70 juta euro. Ujungnya adalah klub yang sehat secara ekonomi.

Deru arah perbaikan itu tampak nyata ketika melihat performa Milan di Serie A dalam empat laga awal ini. Klub kebanggaan Milanisti ini kembali kokoh dengan menyapu bersih semua pertandingan dengan kemenangan, termasuk kemenangan penting kala derbi melawan Inter.

Menarik untuk menanti apakah konsistensi akan hadir dari tim sisi merah kota Milan ini. Jika hal tersebut muncul, maka sah untuk mengatakan bahwa raksasa dari Italia itu telah terbangun dari tidur panjangnya.


TAG: Milan Serie A






BACA LAINNYA


LAPAK


ARTIKEL POPULER


LEGENDA BULAN INI


IKUTI KAMI