REGISTER
Keranjang Anda Kosong
Total:
0

Kepemilikan Asing dan Praktik "Sportwashing" di Liga Australia


M Bimo pada 2021-10-06 jam 12:00 PM


Gantigol/Aldito Ilham


Liga sepakbola tertinggi Australia, A-League, sedang diguncang isu tak sedap. Ada laporan berita yang menyinggung soal kontroversi dari kepemilikan asing beberapa klub A-League. Para pemilik asing ini dicap memiliki latar belakang gelap dan bersembunyi di balik klub yang mereka miliki.

Laporan yang menyoroti kontroversi kepemilikan asing klub A-League ini dibuat oleh jaringan televisi ABC lewat programnya, Four Corners. Acara dokumenter ini cukup populer karena investigasinya sering menyingkap kontroversi dari berbagai bidang.

A-League saat ini terdiri dari 12 tim kontestan. Sebanyak 11 dari mereka merupakan tim yang berasal dari Australia, sementara hanya Wellington Phoenix yang datang dari Selandia Baru dan berkompetisi di liga sepakbola profesional Negeri Kangguru.

Four Corners menyebutkan bahwa hampir setengah klub A-League dimiliki oleh asing. Setidaknya ada lima klub antara lain Sydney FC yang dimiliki pebisnis Rusia, David Traktovenko, Adelaide United yang pemiliknya seseorang dari Belanda, Western Sydney Wanderers dikuasai oleh miliarder asal Hungaria, Paul Lederer, Melbourne City yang dimiliki oleh The City Football Group dari Uni Emirat Arab, dan Brisbane Roar yang berada di bawah kepemilikan Bakrie Group dari Indonesia.

Dari sederet nama asing itu, latar belakang mereka dipermasalahkan. Dimulai dari nama yang sudah familiar di telinga pecinta sepakbola Indonesia, Bakrie Group. Four Corners menyoroti keluarga Bakrie yang memiliki catatan kelam, pengaruh, dan ikatan politik yang kuat di Indonesia. Nirwan Bakrie juga mereka sebut punya pengaruh besar di ranah sepakbola Indonesia.

Brisbane Roar didaftarkan ke regulator perusahaan Australia dengan perusahaan induk Pelita Jaya Cronus. Joko Driyono terdaftar sebagai direktur perusahaan tersebut dan ikut terlibat di berbagai aktivitas Brisbane Roar.

Latar belakang Joko Driyono ini juga ikut disorot. Four Corners turut mengungkap fakta bahwa Joko pernah dipenjara selama 18 bulan pada 2019 lalu. Seperti yang diketahui, pria yang akrab dipanggil Jokdri ini berurusan dengan hukum karena menugaskan seorang rekan untuk mengambil barang bukti terkait kasus pengaturan pertandingan di sepakbola Indonesia.

Meski telah dibebaskan dari penjara, nama Jokdri tetap ada sebagai Presiden Direktur Pelita Jaya Cronus dan Brisbane Roar.

Tak hanya Keluarga Bakrie dan Jokdri, pemilik Sydney FC asal Rusia juga dicurigai. Tak banyak latar belakang yang bisa dikulik dari David Traktovenko. Segelintir informasi yang diketahui dia merupakan seorang pebisnis dan pernah menjadi bagian dari FC Zenit sebagai ketua dewa direktur pada tahun 2003-2005. Ia membeli Sydney FC pada tahun 2009.


sumber foto: Brisbane Roar

Menantu Traktovenko, Scott Barlow, diangkat menjadi ketua tim. Selain itu, Traktovenko disinyalir memiliki hubungan dekat dengan Presiden Rusia, Vladimir Putin.

Pada 2018, Adelaide United kepemilikannya diambil alih oleh seseorang asal Belanda yang identitasnya tidak diketahui. Ia hingga kini berusaha tetap sebagai anonim tanpa menunjukkan identitas maupun batang hidungnya di hadapan publik.

Latar belakang pemilik asing yang paling jadi kontroversi tentu saja The City Football Group. Mereka sepenuhnya memiliki Melbourne City. The City Football Group dipimpin oleh Sheikh Mansour, seorang politisi, Wakil Perdana Menteri UEA, dan anggota Kerajaan Abu Dhabi. Nama ini tentu sudah cukup familiar karena Sheikh Mansour ini orang yang sama dengan pemilik Manchester City.

Kontroversinya adalah Sheikh Mansour diduga memiliki misi khusus dalam aktivitasnya di The City Football Group. Salah satunya adalah mencuci nama baik Keluarga Kerajaan atas kejahatan perang yang mereka lakukan. Selain itu, mereka juga dianggap mencoba memulihkan reputasi baik UEA atas pelanggaran hak asasi manusia yang tengah disorot Amnesty Internasional dan Human Rights Watch.

Kontroversi latar belakang dari pemilik asing klub-klub A-League adalah satu masalah. Masalah lainnya, Four Corners menyoroti soal transparansi keuangan pembiayaan klub. Oleh karena kelima klub A-League yang dimiliki asing ini dijalankan oleh perusahaan swasta, maka menurut peraturan di Australia mereka tidak harus mempublikasikan laporan keuangan tahunan kepada publik.

Mantan direktur urusan perusahaan Federasi Sepakbola Australia, Bonita Mersiades mengatakan otoritas sepakbola Australia harusnya menyadari masalah ini. Apalagi dengan kontroversi latar belakang para pemilik dan rapor merah mereka pada keterlibatan dalam aktivitas perusahaan dan klub, Mersiades menganggap pihak otoritas harus peduli tentang hal tersebut.

 

Tuduhan Sportwashing

Salah satu yang menarik dari yang dituduhkan Four Corners atas kepemilikan asing klub A-League ialah sportwashing. Mereka menganggap bahwa prestasi di olahraga dapat memulihkan atau membuat sesuatu jadi terlihat lebih baik. Meski faktanya prestasi itu hanya untuk menutupi kebohongan-kebohongan. Tapi lebih khususnya, sportwashing di sini dikaitkan dengan pelanggaran hak asasi manusia.

Dalam kasus A-League, Sheikh Mansour dituduh melakukan tindakan sportwashing ini. The City Football memiliki kepemilikan penuh atau saham di 10 tim sepakbola di berbagai negara. Tim andalannya tentu saja Manchester City.

Tapi Melbourne City untuk pertama kalinya berhasil menjuarai A-League pada musim 2020-2021. Sebelumnya mereka harus puas hanya menjadi runner up saja.

Petinggi Melbourne City dikuasai oleh dua orang yang memiliki hubungan dekat dengan Sheikh Mansour. Ketua tim dipegang oleh Khaldoon Al Mubarak dan wakilnya Simon Pearce. Di luar jabatannya sebagai ketua dan wakil klub, mereka berdua ini adalah penasihat senior pemerintah Abu Dhabi.

Kembali ke sportwashing, UEA telah lama dikritik oleh Amnesty Internasional terkait catatan pelanggaran hak asasi manusia. Menurut Sam Klintworth, Kepala Eksekutif Amnesty Internasional Australia, Amnesty Internasional menentang kepemilikan City Football Group atas Melbourne City karena catatan HAM UEA yang buruk.

Amnesty menuduh UEA telah menggunakan tim sepakbola seperti Manchester City dan Melbourne City untuk keperluan sportwashing reputasi internasionalnya. Masih menurut Klintworth, dengan prestasi dan tim yang punya banyak bintang, orang-orang akan memberi cap positif kepada tim olahraga tanpa memandang faktor lain di belakangnya.


sumber foto: Melbourne City FC

"Sportswashing pada dasarnya adalah mengambil atribut positif yang terkait dengan olahraga dan menggunakannya untuk meningkatkan reputasi. Jadi, pada dasarnya, itu dapat memanfaatkan kemewahan, akses, daya tarik universal olahraga, untuk meningkatkan merek klub, dan itu juga dapat dilihat untuk menyamarkan atau mengalihkan dari pelanggaran hak asasi manusia," ujarnya lebih lanjut.

Dilansir dari laman resmi Amnesty, UEA telah dituduh melakukan beberapa pelanggaran HAM seperti pembungkaman dan pemenjaraan mereka yang menentang keluarga raja yang berkuasa, pelanggaran atas hak-hak perempuan, LGBTQIA+, dan eksploitasi pekerja migran.

Kasus sportwashing ini ditandai penting oleh Amnesty International. Mereka menuntut federasi sepakbola Australia, Football Australia, untuk menandatangani kebijakan FIFA tentang hak asasi manusia.

Namun menurut Amnesty, sejauh ini Football Australia telah menolak menandatangani kebijakan tersebut. Alasan di balik penolakan itu sebenarnya masih menjadi tanda tanya. Namun yang pasti ada usaha federasi untuk melindungi investasi klub yang pemiliknya tidak mematuhi dari kebijakan mengenai HAM itu.

Bukan hanya di Australia, Amnesty International telah menyoroti tindakan sportwashing secara global. Di mana, negara dan investor yang bersalah atau tidak mematuhi kebijakan HAM telah banyak berinvestasi dalam olahraga, khususnya sepakbola, untuk memulihkan reputasi jelek mereka.

Tahun lalu Amnesty menyoroti pembelian Newcastle United di Inggris oleh konsorsium Saudi. Kekhawatirannya tentu saja masih berkaitan dengan masalah pelanggaran HAM dari negara atau investor tersebut. 

“Tak ada alasan bahwa standar HAM tidak dihormati dalam bisnis olahraga. Faktanya di lapangan, pelanggaran ini malah semakin meningkat karena penggemar menuntut standar prestasi yang tinggi,” kata Direktur Amnesty International, Sam Klintworth.

Dalam olahraga, hak asasi manusia harus dihormati. Klub harus menjalankan itu demi penggemar dan suporternya, bukan demi kepentingan politik pemiliknya yang kaya raya.

Sebenarnya sepakbola Australia khususnya A-League sedang dalam tren yang bagus. Kualitas liga mereka meningkat seiring dibentuknya akademi-akademi oleh setiap klub. Sehingga para pemain muda berbakat Australia tidak perlu menimba ilmu jauh-jauh ke luar negeri.

Dan, tidak bisa dipungkiri kalau A-League naik level juga berkat pemilik-pemilik asing ini. Beberapa klub bahkan ada yang tadinya miskin hingga tidak bisa membayar gaji, namun setelah diambil alih oleh investor asing nasib klubnya jadi jauh lebih baik.

Di sini lah otoritas sepakbola Australia harus mulai mengambil langkah untuk menentukan regulasi tentang kepemilikan asing. Jangan sampai blunder dan malah jadi tempat yang aman dan nyaman bagi pemilik asing yang memiliki niat politik busuk di dalamnya.


TAG: Sportwashing Pengaturan Skor Laga






BACA LAINNYA


LAPAK


ARTIKEL POPULER


LEGENDA BULAN INI


IKUTI KAMI