REGISTER
Keranjang Anda Kosong
Total:
0

Ketika Raksasa Turun Kasta


M Bimo pada 2021-09-01 jam 12:00 PM


Gantigol/Aldito Ilham


Semua klub menjalani setiap musimnya berada di garis kesuksesan dan kegagalan, promosi dan degradasi atau juara yang sama. Status klub tersebut yang membedakan peluang terjadinya sukses dan gagal itu. Klub dengan status raksasa atau bertabur pemain bintang tentu punya peluang lebih besar, begitu juga sebaliknya.

Tapi bukan berarti klub hebat bisa selamanya berada di level teratas. Kamu pasti pernah dengar julukan raksasa yang tertidur atau semacamnya, yang menandakan era terburuk yang pernah klub hebat itu jalani. Degradasi dan kebangkrutan bukan menjadi hal yang tidak mungkin mereka alami.

Fenomena Arsenal yang sedang terjadi saat ini menjadi contoh mudah membayangkannya. Status mereka sebagai Big Four Premier League tentu berbanding terbalik dengan fakta yang terjadi saat ini. The Gunners penghuni juru kunci, paling tidak hingga matchday ketiga Premier League 2021-2022, dan kalau tak segera bangkit degradasi sudah menanti.

Arsenal belum pernah terdegradasi sejak kompetisi berganti menjadi Premier League pada 1992. Tapi jika sejarah ditarik lebih jauh ke belakang, mereka pernah merasakannya pada musim 1912/1913. Hanya menang tiga kali dan kalah sebanyak 23 kali, Arsenal yang masih memakai nama Woolwich Arsenal mengakhiri musim sebagai juru kunci.

Klub London Merah ini adalah satu contoh di mana klub dengan nama dan sejarah yang besar juga bisa mengalami masa yang buruk. Mereka bukan lah yang pertama, tahun-tahun sebelumnya klub raksasa dari berbagai liga juga pernah terjerembab di zona degradasi pada akhir musim dengan nama besar mereka.

 

Setahun di Neraka

Jika membahas Bundesliga Jerman, kamu mungkin bakal menunjuk Bayern Munchen dan Borussia Dortmund sebagai dua klub dengan nama besar hingga saat ini. Tapi perlu diketahui, ada Hamburger SV (HSV) sebagai klub dari Liga Jerman yang perlu dihormati akan nama besarnya.

HSV merupakan salah satu dari klub pendiri Bundesliga. Kini The Dinosaur menjalani masa terberatnya berkutat di divisi 2. Bundesliga. Sebelumnya, mereka menjalani musim dengan bangga karena selama 54 tahun lebih belum pernah terdegradasi. Namun akhirnya pada musim 2017-2018, sang Dinosaurus mengalami kepunahannya.

Setidaknya sudah empat musim mereka menjalani sebagai klub divisi dua Liga Jerman. Meski begitu, ada daya tarik tersendiri dengan jatuhnya HSV ke divisi dua. Apalagi kalau bukan terciptanya kembali Derby Hamburg antara HSV dan St Pauli. Belum lagi rivalitas antarkota HSV dan Werder Bremen kembali terjadi karena mereka semua sama-sama bermain di 2. Bundesliga.

HSV memiliki hubungan persahabatan lama dengan Rangers sejak 1970an. Entah kebetulan atau tidak, mereka juga berbagi nasib yang sama meski waktunya berlainan. Mungkin kamu masih ingat delapan tahun yang lalu Rangers harus memulai segalanya dari nol karena dinyatakan bangkrut pada 2012.

Setelah gagal membayar utang sebesar 33 juta Poundsterling, Rangers memulai musim 2012-2013 dari Third Division alias divisi tiga Liga Skotlandia. Padahal dua musim sebelumnya mereka menjuarai Scottish Premier League (SPL). Seorang penggemar Rangers bernama Ross Kilvington menyebut Third Division saat itu bagai sepakbola rakyat versus Rangers. Momen yang sangat langka bagi klub dari kota-kota kecil melawan klub sebesar Rangers pada kompetisi resmi.

Sementara itu, Lee Newell yang menulis untuk situs Rangers From The Stands bersaksi atas pengalamannya yang mengikuti klub ke penjuru Skotlandia. Dia menceritakan pengalamannya melihat lapangan yang seperti padang rumput dan tekel-tekel brutal yang dipertontonkan setiap pertandingannya. Bagai melihat film horor.

"Bagaimana bisa Rangers berakhir di tempat yang mengerikan itu?" ujarnya seperti dilansir These Football Times.

Di tanah Inggris juga ada raksasa yang mengalami hal serupa. Bukan Arsenal tentu saja, atau lebih tepatnya mungkin belum terjadi, tapi 20 tahun sebelum Premier League lahir Manchester United pernah merasakan degradasi pada 1973. Menariknya, enam tahun sebelumnya mereka adalah rajanya Eropa dengan menjuarai Champions League.

Keadaan makin diperparah karena era 70an tingkat kekerasan dan hooliganisme sedang tinggi-tingginya. Pertandingan Manchester United kontra Cardiff mungkin menjadi salah satu yang paling panas di divisi kedua Liga Inggris pada waktu itu. Ribuan suporter "Setan Merah" yang datang ke kandang Cardiff membuat keributan, pemain di lapangan juga bersitegang.

Tapi Manchester Merah yang akhirnya tertawa pada akhir musim karena mereka kembali ke tempat mereka seharusnya berada, First Division. Sementara itu, Cardiff harus gigit jari karena terdegradasi. Tahun itu dijuluki Tahun Singkat di Neraka bagi United.

 

Keterpurukan Memperkuat Hubungan Suporter dan Klub

Kota Madrid memiliki dua klub besar, Real Madrid dan Atletico Madrid. Klub yang disebut pertama memiliki julukan Galacticos merujuk pada skuat mereka yang bertabur bintang. Sementara Atletico selama ini lebih akrab sebagai underdog yang sesekali mampu membuat kejutan baik di La Liga maupun kancah Eropa.

Atletico pernah merasakan degradasi ke Segunda Division pada 2000, tepat lima tahun setelah mereka merayakan double winner. Pada musim yang buruk tersebut, mereka juga menggunakan branding 'Setahun di Neraka' untuk mengundang simpati dari suporter.

Klub menurunkan harga tiket dengan nominal yang sangat terjangkau, membuat penonton di Stadion Vicente Calderon tahun itu jumlahnya melebihi apa yang pernah mereka capai semasa masih berkompetisi di La Liga.

Beruntung Atletico mampu menyudahi masa-masa kelam di neraka itu hanya satu musim saja. Keberhasilan mereka menjuarai Segunda Division memiliki arti tersendiri bagi para fans. Kemenangan itu sama berharganya saat mereka memenangi La Liga 1996 atau 2004. Momen itu melambangkan persatuan saat dalam kesulitan dan memperkuat ikatan antara klub dan suporter, sesuatu yang merupakan landasan identitas Atletico.

Jangan lupakan juga kasus Juventus yang dipaksa turun kasta ke Serie B usah tersandung Calciopoli. Kasus ini tak hanya mencoreng nama besar Si Nyonya Tua melainkan menjadi aib bagi sepakbola Italia juga.

Kasus bergulir setelah polisi dan Federasi Sepakbola Italia (FIGC) melakukan investigasi terhadap beberapa hasil pertandingan Serie A musim 2004-2005 dan 2005-2006. Dua musim itu merupakan musim jayanya Juventus karena mereka meraih gelar juara Serie A berturut-turut.

FIGC mencurigai adanya kecurangan pada pertandingan yang melibatkan Juventus. I Bianconeri diduga mendapat keuntungan dari wasit demi memuluskan langkah menjuarai Serie A pada dua musim tersebut.

Setelah investigasi dilaksanakan, bukti-bukti yang terkumpul mengarah ke Luciano Moggi yang saat itu menjabat sebagai Direktur Umum Juventus. Dia terbukti melakukan berbagai cara mengatur pertandingan yang melibatkan Juventus, termasuk mengancam wasit serta perangkat pertandingan.

Itu adalah pengalaman pertama Juventus turun kasta setelah 109 tahun terbentuk. Meski mengalami eksodus pelatih dan pemain besar-besaran, namun Alessandro Del Piero, Gianluigi Buffon, Pavel Nedved, David Trezeguet, dan Mauro Camoranesi, serta pelatih Didier Deschamps sukses melewati musim di Serie B dengan mudah dan keluar sebagai juara.

Nama besar sebuah klub tidak menjamin eksistensi mereka di level teratas. Ada kalanya mengalami musim yang buruk dan tak tertolong masuk ke jurang degradasi. Bagaimana pun Arsenal sedang menghadapi bahaya ini. Rangkaian hasil buruk sudah mereka dapatkan sejak musim lalu dan rupanya musim ini masih berlanjut. Aktivitas di bursa transfer juga bisa dibilang tidak berjalan dengan baik.

Tapi The Gunners nggak perlu khawatir, degradasi bukan sesuatu yang bisa bikin fans pergi dan nggak jatuh cinta lagi. Justru momen ini yang menjadikan ikatan suporter dan klub semakin kuat. Berlaga di divisi kedua tidak buruk-buruk amat. Targetnya promosi, sangat jelas dan cukup mudah dicapai. Yah, paling tidak lebih mudah dicapai daripada menargetkan juara Premier League lah, ya.


TAG: Degradasi Klub






BACA LAINNYA


LAPAK


ARTIKEL POPULER


LEGENDA BULAN INI


IKUTI KAMI