REGISTER
Keranjang Anda Kosong
Total:
0

Kiper Paling Politis yang Dimiliki FC St. Pauli


Fiqih Jati Fajar pada 2021-05-21 jam 12:00 PM


Gantigol/Aldito Ilham


Penjaga gawang selalu menjadi pemain spesial dalam sebuah tim sepak bola. Jika anda ingin menjadi Legenda, maka anda harus melakukan sedikit kegilaan. Banyak penjaga gawang profesional yang memiliki kemampuan yang hebat dalam permainan dan kehidupan layak secara umum. Setiap pemain memiliki tanggung jawabnya dalam sebuah tim, untuk bekerja sama dengan yang lain.

Namun ada seorang penjaga gawang yang sangat luar biasa, mengesampingkan beberapa hal dalam hidupnya, dia tidak memiliki kata 'kerja tim' dalam kamus dirinya. Dalam sebagian besar karirnya dalam sepakbola, dia selalu memikul semuanya sendirian, hanya bergantung pada kekuatan dan reflek, mental serta fisiknya. Menangkis semua serangan yang mencoba masuk ke wilayah kekuasaannya.

Untuk sebuah tim sepakbola dengan label Tim politik sayap kiri, kiper tersebut memiliki kehendak individunya dan keyakinan politik yang kuat. Seorang penjaga gawang “gila” yang selalu dinantikan oleh para penggemar St. Pauli untuk kembali berlaga. Setelah masa pensiunnya, dia sangat senang bekerja sebagai buruh lepas pelabuhan di Hamburg, tetapi pernah menjadi orang yang paling penting didalam tim St. Pauli, orang tersebut ialah Volker Ippig.

Volker Ippig Penjaga Gawang Paling Politis

Volker Ippig berasal dari Lensahn, sebuah kota kecil dengan lingkungan pedesaan yang berjarak sekitar 100 km dari utara kota Hamburg. Ippig adalah seorang yang unik dan juga sedikit ‘gila’, dia selalu melakukan latihan fisik seperti bersepeda atau mencoba melarikan diri dengan tidak membeli tiket di bus. Terkadang dia berhasil lolos namun terkadang dia juga tertangkap. Hal ini terjadi di akhir tahun 1970-an. Ketika Ippig masuk ke tim utama pada tahun 1981, Hamburg dan khususnya daerah Reeperbahn yang dekat dengan markas St. Pauli, adalah sarang ide dan gerakan politik sayap kiri paling radikal.

Banyak orang selalu berkumpul di dalam pub dan kafe yang berada di Hafenstraße. Namun ketika tim sepak bola St. Pauli bermain, semua komunitas yang berada di sana akan berpindah ke Millerntor stadium, dan membawa serta gagasan politik sayap kiri bersama mereka. Ippig mengatakan bahwa St. Pauli selalu spesial bagi orang-orang yang tertarik dengan sepak bola, terlepas dari kondisi yang sangat persuasi politik.

St. Pauli adalah yang paling sukses membangun ulang identitas tim pada masanya. dimasa itu, banyak Kelompok penggemar dan Tim dijerman yang tidak berani mengklaim sikap dan arah politiknya, namun ketika St. Pauli bangkit dan mempropagandakannya, St. Pauli menjadi sebuah klub yang mulai diminati banyak orang.

St. Pauli selalu diidentikkan dengan spektrum ideologi politik sayap kiri radikal yang menjadi landasan penggemar mereka. Bagi para penggemarnya, tidak ada pemain lain yang dapat mewujudkan cita-cita terbesar kelompok sayap kiri selain Volker Ippig. Tidak seperti pesepak bola lain pada umumnya, kiper berambut panjang itu tidak mengadopsi gagasan politiknya hanya sebagai citra diri, dia selalu bergerak secara realitas dan tanpa paksaan.

Di sepanjang kariernya, sikap politiknya menjadi hal yang lebih penting daripada sepak bola itu sendiri. Atas Sikap politiknya, beberapa kali karir sepakbolanya terancam. Ketika waktu luang atau bahkan ditengah padatnya jadwal liga, beberapa kali ia pergi untuk membantu pekerjaan di taman kanak-kanak yang dikhususkan untuk anak -anak disabilitas dan kebutuhan khusus. Dia juga membangun sebuah pondok di pedesaan untuk dirinya sendiri. Di setiap akhir pekan dia akan pergi ke sana untuk sekedar bersantai sambil membaca buku-buku karangan Carlos Castaneda dan sedikit bermeditasi.

Ippig pernah berhenti sejenak dari karir sepak bolanya untuk pergi dan bergabung dengan solidaritas pekerja yang bertujuan membangun kembali wilayah yang hancur akibat perang di Nikaragua. ketika dia kembali pulang ke St. Pauli, Ippig selalu mengangkat kepalan tangan kirinya ke udara dan mengarahkannya ke para penggemar yang berada di tribun sebagai bentuk hormat dan rasa terima kasih kepada mereka yang terus menantikannya. Dia bahkan sampai tinggal di Squat Hafenstraße untuk sementara waktu, berkumpul bersama orang-orang yang datang untuk menontonnya bermain bersama St. Pauli.

Berakhirnya Karir 'Sang Penjaga Gawang'

Pada tahun 1991, Volker Ippig memutuskan selesai dari karirnya sebagai pesepakbola. Keputusannya berhenti didasari insiden yang menimpanya di tempat latihan, Ippig mengalami patah tulang punggung di usia 29 tahun dan mengalami kecacatan setelahnya. Delapan tahun kemudian, dan masih dalam kondisi yang tidak begitu sehat, dia kembali ke St Pauli sebagai pelatih penjaga gawang, membawa serta ide-ide alternatif tentang kebugaran dan fleksibilitas.

Ippig bahkan membawa metode pengobatan hemeopati yang digunakannya untuk membantu mengobati pemain yang terkena cedera. Namun Metode uniknya melahirkan konflik dengan manajer St pauli saat itu dan akhirnya Ippig meninggalkan St Pauli untuk selamanya pada tahun 2003.

Ippig tercatat pernah melatih di Vfl Hamburg, VfB Lübeck dan kemudian VfL Wolfsburg di bawah Felix Magath. Ippig juga bekerja sama dengan kiper Simon Jentzsch, tetapi ketika Magath mendatangkan Diego Benaglio dan membawa pelatihnya sendiri, akhirnya Ippig harus pergi dengan lapang dada.

Ippig memulai bisnis pelatihan kipernya sendiri, dan juga menjadi pelatih kepala TSV Lensahn, yang merupakan tim kota asalnya. bahkan sejak 2008 ia telah menambah penghasilannya sendiri dengan bekerja di dermaga Hamburg, sebagai pekerja bongkar muat kapal kontainer.

Ippig mengakui bahwa dia memang seorang sayap kiri radikal dan sangat bangga dengan pilihan hidupnya. Dengan kisah hebatnya sebagai pemain dan seorang penganut politik sayap kiri, Ippig berada di posisi yang tepat untuk menilai apa yang terjadi dengan tim lamanya.

“The Millerntor (Stadion St Pauli) pernah menjadi laboratorium terbuka untuk sepak bola Jerman,membangun hubungan erat antara penggemar, pemain, dan manajemen yang sangat harmonis. Namun Hari ini, semua telah berubah dan hanya menjadi mitos yang tersisa dengan banyak kabut dan para pengoceh.”

Lambang tengkorak dan tulang bersilang dari St Pauli telah menjadi simbol budaya tandingan, seperti halnya kaus Che Guevara Dan banyak simbol lainnya, Ippig masih melihat potensi di St. Pauli dan mengakui betapa klub itu sangat berarti baginya secara pribadi.

“Semua saya lakukan karena sepak bola. Jantungku berdegup kencang. Saya menghargai nilai-nilai sosial dan komunal, dan ini masih menjadi harga yang tak ternilai dari St Pauli.”

Volker Ippig hadir menjadi bentuk cinta paling nyata yang hidup sebagai identitas St. Pauli, walau dengan beberapa rasa kecewa yang tertinggal, dia tetap cinta terhadap St. Pauli secara esensial. Setelah kepergiannya dari Millerntor stadium namanya diabadikan oleh para penggemar St. Pauli lewat nyanyian berjudul “Volker hört die Signale/ Volker Mendengar sinyalnya,” dengan nada yang diambil dari lagu “The Internationale” yang merupakan semangat perjuangan kaum kiri di dunia. Ippig tetaplah Ippig, seorang manusia unik dan gila yang berjalan dengan suara hatinya sebagai bentuk manusia seutuhnya.


TAG: Volker Ippig St Pauli Sayap Kiri Bundesliga






BACA LAINNYA


LAPAK


ARTIKEL POPULER


LEGENDA BULAN INI


IKUTI KAMI