REGISTER
Keranjang Anda Kosong
Total:
0

Kolaborasi Sehati James dan Ancelotti


Aditya Hasymi pada 2020-10-06 jam 12:00 PM


Ilham Dito/Gantigol


Tak ada hal yang lebih nyaman selain bisa bersama dengan rekan yang saling percaya satu sama lain. James Rodriguez seperti telah ditakdirkan untuk bisa nyetel dalam tangan dingin Carlo Ancelotti

Pria Kolombia berusia 29 tahun itu telah kembali dengan talenta yang dulu ia pernah perlihatkan kepada penikmat sepak bola seluruh dunia 2014 silam. Pusat kreativitas dari sebuah tim kembali berputar di sekeliling dari James Rodriguez pada tiga pertandingan awal kala berseragam Everton.

Hames, begitulah penyebutan nama dari sosok yang berposisi sebagai gelandang serang ini, tampak tak butuh penyesuaian yang lama untuk langsung klik dengan skema permainan dari Merseyside biru. Torehan tiga gol dan dua asis nya ketika empat kali turun dalam sebelas awal Bersama The Toffees menjadi bukti sahih.

Sabtu lalu, pemain dengan postur tubuh 181 meter ini menjadi penampil terbaik dengan dua gol dan satu asisnya, kala tim sekota dari Liverpool ini melumat Brighton and Hove Albion dengan skor 4-2. Hasil tersebut menjadikan Everton menjadi pemuncak klasemen sementara Premier League dengan menyapu bersih empat pertandingan awal dengan kemenangan.

Capaian gemilang dari tim yang bermarkas di Goodison Park ini tak lepas dari kolaborasi ciamik antara taktik brilian dari Carlo Ancelotti untuk memaksimalkan kemampuan dari seorang James Rodriguez. Keduanya tampak saling memahami satu sama lain sehingga menghasilkan efek positif bagi klub dimana mereka berada.

James dan Ancelotti yang Ditakdirkan Saling Melengkapi

Sejak ‘gol yang itu’ ketika berseragam Los Cafeteros saat Piala 2014 silam, James Rodriguez tampak menggendong sebuah ekspektasi yang begitu berat. Kepindahan yang begitu bombastis menuju klub di jantung kota Spanyol tak dinyana akan menjadi keputusan yang akan disesali di kemudian hari.

Adalah Carlo Ancelotti yang menjadi sosok yang percaya akan bakat khas Amerika Latin dari James Rodriguez. Musim panas 2014 silam menjadi awal dari hubungan yang begitu dekat di antara keduanya. Sebuah transfer bernilai 75 juta euro seakan menjadi nilai tukar yang sepadan atas kreativitas di lini tengah dari pria kelahiran Cucuta ini.

Di awal karir pemain dengan kaki kiri sebagai kaki terkuat ini ketika berseragam Los Merengues, Carletto lah yang berjasa dengan memberikan kepercayaan di lini tengah. Dirinya berada dari tiga gelandang tengah penyuplai bola bersama Toni Kroos dan Isco. Namun, kolaborasi jilid pertama dari James dan Ancelotti ini bernasib tak mujur, dengan kandas di semifinal Liga Champions di tangan Juventus, serta harus puas sebagai runner-up La Liga di bawah Barcelona.

Santiago Bernabeu seakan menjadi tempat yang tak nyaman bagi James ketika Zinedine Zidane mengambil alih kendali tim sepeninggal Ancelotti. Seringnya didera cedera membuat bangku cadangan lebih akrab menyapa pemain dengan total 76 caps bersama tim nasional Kolombia ini. Memang, James akhirnya merasakan gelar si kuping besar pada 2016 bersama El Real. Walakin, seperti sayur tanpa garam, ada yang kurang bagi pemain bernomor 10 ini kala berseragam putih-putih tatkala dirinya jarang dipercaya untuk turun ke lapangan.

Lagi-lagi sosok allenatore kelahiran Reggiolo ini yang muncul sebagai penyelamat dari karir James yang meredup. Tiga tahun setelah berpisah dengan Don Carlo di Real Madrid, pemain yang berada sebagai pemain terbaik urutan kedua Piala Dunia 2014 setelah Leo Messi ini kembali bersatu di Bayern. Pindah dengan status pinjaman menuju FC Hollywood, James mencoba merangkai lagi karirnya yang dirundung rasa frustasi dengan arahan Ancelotti.

Benar saja, bersama Ancelotti di Tim Bavaria, James kembali menemukan sentuhan magisnya sebagai gelandang kreatif. Menit demi menit berlaga di lapangan hijau kembali dikumpulkan oleh sosok kelahiran 1991 ini. Berhasil membukukan 15 gol dan 20 asis kala berseragam Die Roten merupakan catatan terbaik ketiga sepanjang karirnya. Dua gelar Bundesliga kala berseragam Bayern kembali menasbihkan kembalinya kualitas James sebagai pemain kelas dunia. 

Kesuksesan di Jerman ternyata tak juga membuat Bayern berniat mempermanenkan status James. Apalagi, kursi kepelatihan Die Roten telah berganti setelah Ancelotti didepak dan Jupp Heynckes didatangkan sebagai suksesor, pada musim panas 2019. Kembali, mau tidak mau eks pemain FC Porto ini kembali ke Madrid untuk menjadi penghangat bangku cadangan di era Zidane sebagai pelatih.

Garis hidup dari James Rodriguez seperti ditakdirkan untuk bertemu kembali dengan Carlo Ancelotti. Saat Carletto menjalani musim keduanya bersama Merseyside Biru, tim yang dibesutnya memiliki kelemahan dalam hal kreativitas dari lini tengah. Performa angin-anginan dari Gylfi Sigurdsson dan Yannick Bolasie masih dianggap belum cukup bagi Ancelotti untuk mendongkrak produktivitas gol dari The Toffees. Bak gayung bersambut, tidak ada jaminan tempat bagi James di sebelas awal Madrid saat Zidane masih berkuasa.

Reuni James-Ancelotti kembali terjadi untuk kali ketiga di Everton. Transfer sebesar 20 juta paun ini kembali menghadirkan kolaborasi Kolombia-Italia yang sempat bersemayam di Real Madrid dan Bayern Muenchen.

“Saya sangat senang berada di sebuah klub besar ini (Everton), sebuah klub dengan sejarah kaya, dan di sini dengan manajer saya yang memahami saya dengan sangat baik”, terang James memuji pelatih Italia berusia 61 tahun itu dalam wawancara yang dikutip dari laman resmi Everton FC.

Tak lama berselang, Ancelotti turut memuji hadirnya James yang dengan gemilang mendongkrak permainan Everton. “Seperti yang saya katakan di hari pertamanya, para pemain dengan kualitas tidak akan punya masalah dengan masa adaptasi. Kualitasnya (James) hadir karena sepak bola yang dipertontonkan tidak begitu rumit”, tutur Don Carlo dalam wawancara yang dilansir dari BBC selepas membungkam Brighton.

Hadirnya James di lini tengah Everton memproyeksikan dimensi baru dalam skema yang diusung oleh Ancelotti. Begitu nyamannya pemain bernomor punggung 19 ini dengan bola di kakinya, ia akan dengan mudah membuat aliran bola Everton akan semakin variatif di jantung pertahanan lawan. Ditambah lagi dengan hadirnya Allan dan Doucoure di belakangnya sebagai gelandang bertahan, akan memudahkan kerja dari pemain berusia 29 tahun ini untuk fokus pada kreasi serangan, baik langsung dari tengah atau menyisir dari flank.

Menarik menanti kolaborasi sehati untuk kali ketiga dari James dan Ancelotti. Apabila konsistensi itu hadir, bukan tidak mungkin kali ini Everton yang akan mengecap manisnya.


TAG: James Rodríguez Carlo Ancelotti Everton






BACA LAINNYA




LAPAK


BERITA POPULER


1

Dari DM Instagram, Terungkap Kualitas Vlado Sebagai Pelatih

2

Formasi WM dan Perkembangannya

3

Sejarah Formasi: 4-2-3-1, Gelandang Bertahan dan Pemain Nomor 10

4

Memahami Proses dan Menjaga Ekspektasi Bersama Seto

5

Filosofi Sepakbola Indonesia Adalah Pertala

LEGENDA HARI INI


Card image cap
23 October

Pada tanggal 23 Oktober 1973, pemain Derby County menuntut kepada manajemen agar Brian Clough diperkerjakan kembali sebagai pelatih. Sebuah surat yang ditandatangani oleh setiap anggota tim utama diserahkan kepada ketua klub setelah Clough dan asistennya mengundurkan diri.


IKUTI KAMI