REGISTER
Keranjang Anda Kosong
Total:
0

Kombinasi Club-Based dan Region-Based dalam Pembinaan Pemain Muda


Aditya Hasymi pada 2020-10-17 jam 12:00 PM


Gantigol/Ilham Dito


Upaya pembinaan pemain sepak bola usia muda di tanah air memiliki cara tersendiri. Proses kerjanya merupakan peleburan dari kompetisi itu sendiri, yang bermula dari perserikatan menuju tim professional.

Semangat perjuangan yang ada dalam sepak bola nasional memang telah mengakar kuat. Identitas kedaerahan saat itu yang sangat kental, disatukan oleh satu payung besar bernama PSSI. Tiap-tiap dari identitas daerah tersebut berserikat dalam sebuah kesebelasan.

Alhasil, ketika kompetisi bal-balan pertama kali digelar, semangat kedaerahan itu sangat nampak dari tim yang ikut terlibat. Yogyakarta diwakili oleh PSIM, Ibukota Jakarta berafiliasi dengan Persija, sampai nama Sulawesi berkibar bersama PSM Makassar, adalah beberapa contoh bagaimana identitas wilayah tampak dari tim sepak bola yang tumbuh di Indonesia.

Pembinaan pemain pun berjalan serupa di era kompetisi perserikatan. Tiap wilayah di Indonesia memiliki kawah candradimuka nya masing-masing untuk membina pemain muda. Asa mencetak pemain melalui bentuk paling jamak dalam sekolah sepak bola hingga diklat terus diapungkan dari tiap daerah.

Seiring berjalanya zaman, kompetisi juga turut bergerak ke arah modern. Klub-klub yang berlaga di kompetisi tanah air pun dituntut bergerak ke arah kemandirian. Perlahan-lahan mulai meninggalkan sokongan dana dari daerah hingga memikirkan infrastruktur yang terbaik.

Mekanisme pembinaan pemain muda juga turut diuntut berkembang seiring perubahan di aspek klub. Tiap kesebelasan yang ingin dikategorikan sebagai profesional, diharuskan untuk mempunyai wadah tersendiri guna mengkader pemain-pemain baru. Istilah yang sering dipakai adalah mencetak pemain sendiri dalam sebuah akademi.

Pada prakteknya, perkembangan pembinaan pemain muda di Indonesia ternyata tetap terus menyandarkan asanya pada daerah. Sehingga, terdapat dua jalur mekanisme pembibitan pemain, baik dibina secara berkelompok oleh provinsi atau dikomandoi langsung oleh klub yang mapan secara langsung.

Dalam segmen GANTItalks yang terbaru, kami berkesempatan berdiskusi dengan Ketua Asosiasi PSSI Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, Syauqi Soeratno. Salah satu topik pembahasan yang kami kulik bersama eks CEO Badan Liga Amatir Indonesia ini adalah terkait corak khas dari pembinaan pemain muda di Indonesia. Menurutnya, upaya mengkader pemain bal-balan di negeri ini merupakan kombinasi dari club-based dan regional-based.

“Dalam perspektif saya, pembinaan usia muda di Indonesia terbagi menjadi dua, yakni berdasarkan klub dan daerah. Keduanya berjalan beriringan dalam proses pembibitan pemain muda”, jelas Syauqi.

Perspektif pembinaan berdasarkan daerah merupakan integrasi dari banyak elemen yang ada di dalamnya. “Banyak perkumpulan sepak bola yang masih awet sejak era perserikatan serta sekolah sepak bola yang menjamur sebagai bentuk peran daerah membina pemain”, tutur Syauqi. Mereka semua berjalan tanpa afiliasi sehingga bisa dikatakan bergerak secara organik melahirkan pemain-pemain baru”, tambahnya.

Ketersediaan dari sarana penunjang di daerah ternyata juga memiliki andil bagaimana pemain muda dapat berkembang. Mereka yang sedang merintis karir sebagai pesepakbola dari daerah akan sangat terbantu untuk mengembangkan bakatnya. Yogyakarta dapat menjadi bukti sahih dari ketersediaan sarana, utamanya lapangan, sehingga banyak bakat tersaring dari kota budaya ini.

“Di Yogyakarta ini banyak sekali lapangan sepak bola menjamur. Jumlahnya bahkan sampai ratusan, termasuk lapangan di desa sekalipun”, tutur pimpinan Asprov DIY ini. “Maka dari sinilah daerah dapat terus mencetak bakat-bakat baru”, jelas Syauqi.

Pada jalur yang lain, peran dari perspektif club-based melakukan pembinaan amat terlihat dari munculnya akademi dari hirarki klub. Keberadaan akademi dalam struktur klub, utamanya dalam klub profesional di Liga 1, berawal dari syarat wajib yang ditetapkan AFC. PT LIB sebagai operator liga tanah air kemudian memberlakukan hal tersebut dapat berjalan terus menerus.

Kedua perspektif dalam pembinaan pemain muda tersebut kemudian bertemu dalam prakteknya di lapangan. Akademi dari klub Liga 1 sering kali mendapatkan pemain yang sebenarnya terlebih dahulu digembleng dari daerah melalui perkumpulan atau sekolah sepak bola. Sehingga, bak sebuah proses ekonomi, antara permintaan dan penawaran akan pemain binaan akan selalu bertemu.

“Ketika PSSI memberlakukan kompetisi bagi akademi para klub yang berlaga di Liga 1, atau lebih dikenal dengan nama Elite Professional Academy, maka disitulah pertemuan pemain binaan klub dan wilayah”, tutur Syauqi. “Maka kami dari assosiasi provinsi berupaya menjembatani itu semua dengan kompetisi dalam level provinsi agar dapat menjaring bibit unggul”, tambah sosok yang sempat masuk bursa ketua PSSI ini medio April lalu.

Perpaduan antara perspektif regional-based dan club-based dalam pembinaan pemain muda juga tak dapat dielakkan ketika melihat banyaknya talenta yang perlu wadah berkembang. “Proses pembinaan pemain muda di daerah terus berjalan secara simultan. Sumber daya yang dihasilkan cukup banyak. Sementara itu akademi klub di Liga 1 juga terbatas. Maka keduanya harus terus berjalan beriringan”, tegas eks Deputi Sekjen PSSI pada tahun 2009 hingga 2011 ini.

Kedepan, harapan akan perspektif club-based dan regional-based ini dapat membina dan menghasilkan talenta muda tentu sangat besar. Tentu dibutuhkan dukungan dari semua elemen yang berperan dalam ekosistem sepak bola nasional. Momentum jeda liga karena pandemi seperti saat ini menjadi kesempatan tepat untuk terus berbenah akan sistem pembinaan yang berkelanjutan.


TAG: Pembinaan Akademi Syauqi Soeratno






BACA LAINNYA




LAPAK


BERITA POPULER


1

Dari DM Instagram, Terungkap Kualitas Vlado Sebagai Pelatih

2

Formasi WM dan Perkembangannya

3

Sejarah Formasi: 4-2-3-1, Gelandang Bertahan dan Pemain Nomor 10

4

Memahami Proses dan Menjaga Ekspektasi Bersama Seto

5

Filosofi Sepakbola Indonesia Adalah Pertala

LEGENDA HARI INI


Card image cap
23 October

Pada tanggal 23 Oktober 1973, pemain Derby County menuntut kepada manajemen agar Brian Clough diperkerjakan kembali sebagai pelatih. Sebuah surat yang ditandatangani oleh setiap anggota tim utama diserahkan kepada ketua klub setelah Clough dan asistennya mengundurkan diri.


IKUTI KAMI