REGISTER
Keranjang Anda Kosong
Total:
0

Kontroversi Ballon d'Or, Banyak Pemain yang Layak Selain Messi dan Ronaldo


M Bimo pada 2021-02-25 jam 12:00 PM


Gantigol/Ilham Dito


Tak bisa disangkal kalau tanah Eropa punya kualitas sepakbola terbaik di dunia. Ditunjang oleh pemain hebat dari berbagai benua, Eropa menjadi kiblat para pesepakbola di seluruh dunia.

Setiap benua memiliki wakil pemain hebat yang berkiprah di Eropa. Dari Sir Bobby Charlton untuk Inggris, Johan Cruyff dan Marco van Basten dari Belanda, Lionel Messi untuk Argentina, Cristiano Ronaldo dari Portugal, Franz Beckenbauer hingga Gerd Muller yang mewakili Jerman. Semua nama-nama itu pernah setidaknya satu kali memenangkan penghargaan individu terbesar yakni Ballon d'Or.

Ballon d'Or bisa dibilang hadiah terbesar yang bisa dimenangkan oleh seorang pemain sepakbola. Penghargaan Bola Emas ini digagas oleh majalah France Football dan diadakan setiap tahunnya. Tentu tak bisa dipungkiri, selain gelar juara bersama klub dan juga timnas,  para pemain juga mengincar penghargaan ini yang tentunya tak bisa dimenangkan oleh sembarang pemain.

Tapi seperti yang telah diketahui, Ballon d'Or saat ini bagai diduopoli oleh Cristiano Ronaldo dan Lionel Messi sejak 2008. Sejak saat itu hingga terakhir kali diadakan yaitu 2019, penilaian pemain nomor satu dunia selalu jatuh kepada Ronaldo atau Messi. Hanya pada 2018 keduanya tidak berhasil menjadi yang terbaik nomor satu, saat itu Ballon d'Or dimenangkan oleh Luca Modric.

Messi dan Ronaldo memang pemain hebat, tak ada yang bisa menyangkal itu. Namun, agak tidak adil rasanya ketika penghargaan pemain terbaik dunia selalu dikuasai Ronaldo dan Messi. Jika dilihat secara baik-baik, banyak pemain yang lebih layak, dinilai dari berbagai pertimbangan, ketimbang hanya pemain Juventus dan Barcelona ini.

Ini Aspek yang Dinilai Juri Ballon d’Or

Sebelum masuk nominasi, para pemain tentunya harus melewati screening serta penilaian dari berbagai aspek. Performa mereka di atas lapangan secara keseluruhan tentu menjadi aspek penting dan utama serta faktor penentu. Nilai performa ini kebanyakan dinilai dari statistik seperti raihan gol, assist, cleansheet dan lain sebagainya.

Raihan trofi selama semusim juga dinilai oleh para juri. Namun, itu tak lebih besar nilainya dibanding dengan performa di atas lapangan. Seorang pemain bisa saja menjuarai treble, tapi jika dia hanya menjadi penghangat bangku cadangan selama satu musim tanpa membuat perbedaan di lapangan, ya jangan harap masuk nominasi.

Pemain yang banyak memenangkan Ballon d'Or pun hingga saat ini kebanyakan pemain depan dengan raihan gol fantastis, atau pemain tengah yang selalu menjadi orang paling disorot di lapangan setiap pertandingannya.

Raihan trofi ini menjadi faktor yang sangat penting bagi mereka pemain belakang dan kiper untuk membantu memenangkan penghargaan bergengsi ini. Tidak mengherankan jika sejauh ini baru ada tiga bek dan satu penjaga gawang yang berhasil mendapat Ballon d'Or. Beckenbauer dan Fabio Cannavaro terbantu karena menjuarai Piala Dunia, sedangkan Matthias Sammer menang saat usai juara Euro bersama Jerman.

Kiper Lev Yashin menjadi satu-satunya kiper terbaik yang mampu mengubah peran penjaga gawang. Hingga kini, belum ada lagi penjaga gawang lain yang berhasil menyamai prestasinya.

Performa terbilang faktor penting dan penentu dalam kriteria penilaian juri. Tapi selain itu, ada aspek lain yang tak kalah penting dinilai juri yakni perilaku pemain di dalam dan di luar lapangan. Ini juga menjadi indikator penting karena permainan yang ditunjukkan oleh pemain di lapangan, juga turut mencerminkan perilakunya.

Seseorang mungkin telah berkontribusi pada jumlah gol yang masif untuk klub dan negaranya, juga perannya krusial saat membantu klub atau negaranya meraih trofi. Namun, kesalahan yang mencoreng perilaku baiknya di atas dan luar lapangan bisa saja membuat hilangnya kesempatan pemain tersebut untuk meraih gelar Ballon d'Or.

Tahun Ini Tak Ada Lagi Duopoli Ronaldo-Messi

Lalu mengapa Ballon d'Or saat ini bisa dibilang kontroversial? Alasan utamanya tentu saja karena duopoli Messi dan Ronaldo. Apakah mereka kurang pantas mendapatkannya? Tentu saja sangat pantas. Dengan puluhan gol serta assists yang mereka ciptakan setiap musimnya, serta trofi-trofi yang dimenangkan bersama klub, dua pemain ini sangat pantas mendapat penghargaan itu.

Tapi perlu diingat, Ballon d'Or adalah penghargaan untuk pemain terpilih dari seluruh dunia. Yang artinya, banyak pemain lain yang kalau mau ditimbang-timbang lebih memiliki kelayakan untuk mendapatkan gelar tersebut ketimbang cuma Ronaldo dan Messi.

Pada 2010, Wesley Sneijder menjalani musim terbaiknya bersama Inter Milan dengan menjuarai treble. Selain itu, ia juga berperan penting pada langkah Belanda yang mencapai final Piala Dunia 2010. Ia ikut terlibat dalam 23 gol dalam 41 pertandingan bersama Inter dan beberapa tambahan untuk tim nasional. Namun musim yang mengesankan itu masih belum cukup baginya untuk dinobatkan sebagai pemain terbaik dunia.

Pada 2013, Franck Ribery juga menjadi pemain yang digadang-gadang bakal menjuarai Ballon d'Or. Ia mengemas 34 gol dalam 43 penampilan bersama Bayern Munchen. Pada musim itu ia menjuarai Bundesliga, DFB-Pokal, European Super Cup dan FIFA Club World Cup.

Anehnya, pada tahun itu Ribery justru kalah oleh Ronaldo dengan satu-satunya prestasi dia yang mencetak 68 gol, namun tanpa mempersembahkan satu trofi pun untuk Real Madrid. Lebih mengejutkan karena Ribery justru terpilih di urutan ketiga di belakang Messi pada penghargaan pemain terbaik tahun itu.

Mundur sedikit ke tahun 2010 lagi, Andres Iniesta seharusnya layak memenangkan penghargaan ini. Iniesta mendominasi lini tengah Barcelona dan timnas Spanyol. Pada musim 2009-2010, dia merupakan pemain kunci raksasa Catalan dalam menjuarai gelar liga yang ke-20, memenangkan tiga trofi lainnya dan tentu saja juara dunia bersama Spanyol.

Sungguh kejam rasanya Iniesta justru pulang dari acara penghargaan itu dengan tangan kosong. Lagi-lagi penghargaan dibawa pulang oleh rekan setimnya, Lionel Messi.

Di tahun yang sama, Barcelona juga memiliki Xavi Hernandez yang termasuk dalam generasi emas Spanyol pada saat itu. Pada Ballon d'Or 2010, Xavi berada di peringkat ketiga di bawah Iniesta dan Messi.

Peran Xavi sama seperti Iniesta, ia merupakan jenderal lapangan tengah bagi Barcelona dan Spanyol yang mencapai kesuksesan luar biasa pada tahun itu. Tapi tentu saja, mungkin banyak orang ingin melihat pemain lain mengangkat trofi pemain terbaik dunia itu. Pada tahun 2010 itu, Xavi atau Iniesta adalah nama yang tepat untuk menjadi pembeda.

Tapi lagi-lagi, Xavi harus kalah dari juniornya. Mau diapakan lagi, toh sampai satu dekade ke depan nama Messi dan Ronaldo selalu menjadi pengisi nomor satu penghargaan pemain terbaik kontroversial ini.

Kita sebagai penikmat tak pernah benar-benar tahu bagaimana sebenarnya standar penilaian para juri Ballon d'Or, apa pembahasan mereka saat menentukan nominasi pemain dan lain sebagainya. Namun, mari sudahi era duopoli dan mulai melirik kontribusi pemain lain yang lebih layak daripada mereka berdua.

Tahun 2020 kemarin kalau tidak dibatalkan akibat pandemik COVID-19, seharusnya Robert Lewandowski yang sangat layak untuk membawa pulang piala Bola Emas itu dan mengakhiri duopoli Ronaldo dan Messi seperti yang dilakukan oleh Modric.

Musim ini, seharusnya nama Messi dan Ronaldo sudah tidak ada di tiga besar jika melihat prestasi mereka sekarang. Juventus sudah tak difavoritkan menjadi juara, sementara Lionel Messi masih dalam drama bak telenovela bersama Barcelona.

Kalau dua pemain ini masih ada saja di daftar tiga besar Ballon d'Or 2021, kebangetan banget sih.


TAG: Ballon D'or Lionel Messi Cristiano Ronaldo






BACA LAINNYA


LAPAK


ARTIKEL POPULER


LEGENDA BULAN INI


IKUTI KAMI