REGISTER
Keranjang Anda Kosong
Total:
0

Laku Budi Pemuda Bari bernama Castrovilli


Aditya Hasymi pada 2020-10-23 jam 12:00 PM


Gantigol/Ilham Dito


Sikap menjunjung tinggi budi pekerti ketika berada di luar lapangan amat berpengaruh kepada karir seorang pesepakbola. Mereka yang mampu menjaga tabiatnya kala tak sedang merumput akan terhindar dari lubang hitam kemandekan.

Sebuah kota di sisi tenggara Italia, yakni Bari, begitu tersohor dalam ranah calcio dengan talenta dari Antonio Cassano. Maradona dari Bari, begitulah pandemen sepak bola Italia mengagumi bakat dari pemuda dari distrik San Nicola ini kala menggocek bola. Si Peter Pan yang satu ini begitu membawa nama kota Bari terpandang kala bersinar bersama AS Roma dan mengenakan jersey Gli Azzurri.

Sayang, dibalik begitu bersinarnya Cassano di atas lapangan, perangainya kala tak sedang mengolah si kulit bundar justru berbanding terbalik. Pria yang lahir di bulan Juli ini begitu buruk dalam mengelola hidupnya sebagai seorang manusia.

Cassano sangat doyan berpesta sampai lepas kendali, bahkan dijuluki sebagai raja pesta, akibat kegemaranya pada dunia hiburan malam. Sikap yang masa bodoh terhadap asupan makanan membuatnya sempat pada taraf kegemukan hingga dilabeli ‘El Gordito’ – si pemakan sampah. Deretan trofi yang diperoleh begitu sepi, tak sebanding dengan “prestasi” menaklukan hati wanita yang konon sampai 1000 kaum hawa pernah tidur seranjang dengan pria yang kerap dipanggil Fantantonio ini.

Perilaku kelewat batas yang dilakukan oleh Antonio Cassano di luar lapangan lantas membawa asosiasi yang jelek bagi kota Bari. Pasalnya, pemain yang mengoleksi 39 caps bersama tim nasional Italia ini sudah kadung di cap sebagai anak emas kebanggaan kota. Deru sepak bola pada kota yang berbatasan dengan Laut Adriatik ini langsung menukik seturut redupnya karir dari Cassano.

Tingginya angka pengangguran dan sedikitnya jumlah investasi untuk membangun infrastruktur menjadi penanda awal kota Bari mengalami kemunduran. Pasca kepindahan Cassano menuju AS Roma pada medio 2001 membuat klub lamanya, SSC Bari, terjatuh dalam lubang kebangkrutan. Pengaturan skor dan korupsi dari balik kemudi klub yang berdiri pada 1908 ini seakan memburamkan mimpi anak daerah untuk berkembang dengan bakatnya.

Seperti sebuah cahaya terang di ujung terowongan, kota Bari tampak kembali muncul ke permukaan dengan harapan, kala bakat dari Gaetano Castrovilli mencuat di Serie-A.

Ya, mencuatnya bakat dari Castrovilli sebagai seorang gelandang tengah membuat mimpi kota Bari untuk berkembang melalui calcio terbuka kembali. Pemain yang mengawali karirnya akademi SSC Bari ini tampak meretas jalan menuju pemain top, namun dengan pendekatan yang sangat berbeda dari sosok Antonio Cassano.

Ketika kondisi klub berlambang ayam jago ini sedang buruk-buruknya, Castrovilli membuat sebuah keputusan penting. Kondisi yang tampak tak mendukung untuk perkembangan karirnya, membuat pria kelahiran Februari 1997 ini berani mengambil sikap, untuk mengadu nasib jauh dari zona nyaman. Pada musim 2015-2016, pemain dengan kaki kanan sebagai kaki terkuatnya ini pergi jauh dari rumahnya untuk mengadu nasib di tim primavera dari Fiorentina.

Jarak 11.763 kilometer yang terbentang dari Bari menuju Florence tak sedikit pun membuat Castrovilli gentar. Yang ada di benaknya pada waktu itu adalah bisa tampil impresif agar hati dari Vincenzo Montella, pelatih senior La Viola kala itu, kemudian menariknya ke tim senior. Hanya butuh waktu setahun untuk pemain dengan tinggi 187 cm ini membuat Pantaleo Corvino sebagai Direktur Teknik Fiorentina untuk merekrutnya. Transfer sebesar 1.2 juta euro menjadi mahar kepindahan Castrovilli.

Nama Castrovilli sebagai gelandang berbakat di kancah Serie-A semakin diperbincangkan kala performa impresif yang ia tunjukkan pada musim 2019-2020. Di bawah asuhan Giuseppe Iachini sebagai pelatih baru La Viola menggantikan Montella, pria 23 tahun ini tampak nyaman sebagai orkestrator di lini tengah. Namanya tak tergantikan dari susunan sebelas awal sejak debutnya kala menghadapi Napoli yang berakhir drama tujuh gol itu.

Kehadiran Castrovilli di lini tengah Gigliati ini mampu menjawab kebutuhan adanya sosok pengatur permainan sepeninggal perginya Jordan Veretout ke AS Roma. La Viola tampak telah menemukan seorang gelandang sentral dengan segudang talenta, yang tak hanya mampu memenangkan duel di lini tengah dengan kecepatan, namun juga mampu melewati lawan dengan bola berada di kakinya.

Sontak, label ‘Cassano baru’ segera cepat melekat mengingat kesamaan kota keduanya bermula. Dari Bari menuju sepak bola Italia. Meskipun disadari, dari segi gaya permainan, baik Castrovilli maupun Cassano sangat berbeda.

Pemain yang bernomor punggung sepuluh ini kala berseragam ungu memilih jalan yang sunyi dibanding kompatriotnya Cassano. Pembawaan Castrovilli cenderung lebih kalem saat berada di luar lapangan hijau. Hal tersebut tak lepas dari didikan keluarga serta ketenangan yang ia temukan saat menggemari menari sedari kecil.

Kegemaran menari yang Castrovilli temukan saat masih kecil ternyata berpengaruh terhadap kelenturan tubuhnya. “Latihan tari yang sempat saya geluti sedari kecil sangat membantu dalam pergerakan membawa bola saat merumput”, ujar pemain yang telah mencetak lima gol dan dua asis ini bersama Fiorentina. Itulah sebab mengapa Castrovilli begitu tenang mengatur permainan bersama La Viola.

Satu yang membuat Castrovilli tampak berbeda dari Cassano dan menjadi sosok contoh baik bagi anak-anak kota Bari adalah laku budi yang ia tunjukkan. Fantatonio yang dicap si anak Bengal begitu terbalik dengan pemain yang mengawali karirnya di kelompok umur 19 SSC Bari pada 2016 ini yang begitu rendah hati.

Ajaran laku budi yang baik dari keluarganya yang terbangun di daerah Italia Selatan begitu meresap di hati Castrovilli. “Keluarga saya mengajarkan nilai-nilai baik yang harus dijunjung tinggi dalam hidup. Yang terpenting dalam hidup adalah rendah hati dan terus bekerja keras”, ujar pemain yang memiliki kontrak hingga 2024 bersama La Viola ini mencoba menjabarkan petuah keluarga yang dibawanya hingga kini.

Kerendahan hati yang ditunjukkan Castrovilli di luar lapangan sedikit banyak berpengaruh kala sedang merumput. Sosoknya adalah seorang pemain yang mau berkorban demi tim. Kerja kerasnya sebagai gelandang sentral ia tunjukkan dalam kemauan untuk turun menjemput bola dan mengalirkan nya kembali ke lini depan.

Kerendahan hati yang ditunjukkan kala bermain dan di luar lapangan membuat hati dari allenatore tim nasional Italia, Roberto Mancini, kepincut. Panggilan untuk mengenakan kostum kebesaran Gli Azzurri untuk kali pertama diterima Castrovilli pada November 2019 yang lalu. Dalam partai kualifikasi Euro 2020 menghadapi Bosnia Herzegovina, dirinya bermain selama empat menit setelah menggantikan Lorenzo Insigne.

Dengan laku budi yang terus dibawa oleh Castrovilli bukan tidak mungkin karirnya akan terus menjulang tinggi. Apa yang dicapainya selama ini menjadi bukti bahwa dengan menjunjung tinggi tingkah laku yang baik, seorang pesepakbola telah melakukan investasi untuk karir yang lebih stabil kelak.


TAG: Serie A As Bari Acf Fiorentina






BACA LAINNYA


LAPAK


ARTIKEL POPULER


LEGENDA BULAN INI


IKUTI KAMI