REGISTER
Keranjang Anda Kosong
Total:
0

Liga Indonesia Sebaiknya Berhenti Kala Pandemi


Aditya Hasymi pada 2020-10-03 jam 12:00 PM


Ilham Dito/Gantigol


Urusan menyepak si kulit bundar di lapangan hijau sejatinya menyuguhkan kegembiraan bagi semua. Namun beda cerita, apabila, hal-hal yang menyakitkan dan menyedihkan justru timbul dari aktivitas olahraga sebelas lawan sebelas ini. Lebih baik tak ada sepak bola jika ada korban jiwa.

Pandemi Covid-19 secara langsung berdampak dengan meluluhlantakkan segala macam sektor, salah satunya aspek olahraga. Tak terkecuali di sepak bola, keriuhan yang biasa terjadi di stadion kala pertandingan dipanggungkan, sontak lenyap ketika virus mematikan yang bermula dari Wuhan ini melanda. Penularan virus SARS COV-2 yang cepat menyebar dalam kerumunan mengakibatkan banyak liga ditunda bahkan dihentikan guna menghentikan penularan.

Memang, setelah kurang lebih tiga bulan berkutat di rumah saja akibat virus corona yang merebak pada medio Maret lalu, sendi-sendi aktivitas di masyarakat sudah mulai bergeliat. Dunia mengenalnya sebagai sebuah tatanan baru, atau akrab disebut sebagai ‘new normal’. Kegiatan luar ruangan sudah boleh dilakukan, dimana mempertandingkan sepak bola ikut di dalamnya, dengan syarat protokol kesehatan yang amat ketat.

Bundesliga mengawalinya pada Mei silam, lalu menyusul kemudian Premier League, La Liga, dan Serie A sebulan setelahnya. Empat kompetisi top dunia tersebut kembali memanggungkan sepak bola dengan penyesuaian yang amat kentara terkait keselamatan seluruh elemen di pinggir lapangan.

Masker harus digunakan bagi yang staf kepelatihan dan pemain cadangan. Menjaga jarak adalah kewajiban dan seluruh pemain selalu dicek suhunya. Satu hal yang terlihat jelas, yang bisa dibilang sedikit banyak mengurangi kegemerlapan bal-balan, yakni tidak diperkenankanya penonton untuk memenuhi tribun.

Empat kompetisi sepak bola tersohor dunia itu pada akhirnya berhasilkan menyelesaikan satu musim yang sempat mengalami jeda akibatnya merebaknya virus korona. Status juara yang didapatkan dari klub yang berlaga pada empat liga tersebut didapat dari perjuangan memeras peluh di lapangan. Sontak, Eropa dengan UEFA nya banyak dipuji dengan kesuksesan menggulirkan kembali si kulit bulat tanpa ikut berperan dalam penyebaran virus.

Kesuksesan UEFA dengan mempertandingkan sepak bola di era kenormalan baru inilah yang ingin direplikasi oleh PSSI. Ya, otoritas tertinggi bal-balan di Indonesia ingin meniru apa yang terjadi di belahan bumi Eropa dengan memutar kembali roda kompetisi. Seperti yang kita tahu, Liga 1 dan Liga 2 juga terkena imbas Covid-19 dengan turut berhenti per 15 Maret 2020.

Namun, ada satu hal penting yang sepertinya dilupakan oleh PSSI kala berniat untuk memutar kompetisi di tengah pandemi: kondisi kurva penyebaran virus korona yang sudah melandai. Bisa dibilang, otoritas liga di Indonesia hanya ikut-ikutan keriuhan sepak bola yang sudah kembali bisa dimainkan di tengah Covid-19 yang masih berkeliaran, tanpa melihat kondisi sekeliling dimana ancaman penularan masih amat tinggi.

PSSI seperti terburu-buru ingin lagi menggelar pertandingan, utamanya kompetisi Liga 1 dan Liga 2, tanpa mempertimbangkan situasi dan kondisi sekitar serta tersedianya infrastruktur yang memadai. Sekonyong-konyong liga akan kembali digelar padahal tanda-tanda penularan virus menurun masih jauh panggang dari api. Ironis memang, melihat sebuah olahraga yang sejatinya mengundang kesehatan, malah menghasilkan hal yang sepenuhnya berbalik dengan potensi sakit yang muncul bahkan jiwa yang terenggut.

Rencana kompetisi Liga 1 dan Liga 2 yang seharusnya kembali bergulir 1 Oktober kemarin terpaksa harus tertunda. Bak lagu lama yang berputar lagi, sebuah alasan klasik berupa izin keamanan yang tak diberikan, mengganjal pesepakbola tanah air untuk merumput setelah berbulan-bulan. Otoritas keamanan Indonesia, dalam hal ini Kepolisian RI, tidak memberikan izin keramaian pada Liga dalam payung PSSI ini karena situasi kasus penularan Covid-19 masih terus meningkat.

Momentum kembali ditundanya kompetisi untuk bergulir seharusnya membuat PSSI kembali berpikir ulang. Walaupun protokol kesehatan sudah ditekankan sebagai penjamin virus korona tak masif menjangkit kala Liga 1 dan Liga 2 ada, realisasinya masih dipertanyakan. Lebih baik liga berhenti kala pandemi.

Penerapan Protokol di Liga Kala Pandemi yang Masih Tanda Tanya

Satu hal yang masih menjadi tanda tanya ketika liga kembali digelar adalah penerapan protokol kesehatan. PSSI berjanji membuat hingga sebelas, bukan hanya satu, buku panduan terkait pelaksanaan kompetisi di masa Covid-19. Sebuah hal bombastis yang menarik untuk dinanti realisasinya. Namun, proses sosialisasi guna mengakses buku panduan tersebut masih tanda tanya.

Kesimpangsiuran sosialisasi protokol kesehatan selama kompetisi masa Covid-19 dipertegas dengan protes salah satu klub, Persebaya. Melalui sang ketua umum, Azrul Ananda, melayangkan protes akibat ketidakjelasan yang melingkupi di dalam usaha kembali menggelar liga. “Jadi memang bagi kami Persebaya, ini masih jadi tanda tanya besar. Kami khawatir yang kami suarakan dari awal adalah memaksakan ketidakpastian. Itu yang kami khawatirkan”, tukas Azrul dalam wawancara yang dikutip dari Kompas (20/7).

Hal yang abu-abu ini memang amat beresiko bagi kesehatan seluruh pelaku sepak bola tanah air. Klub-klub dari Liga 1 yang harusnya untung, malah jadi buntung. Selain Persebaya yang menolak keras, ada juga Persik Kediri, Barito Putera, dan Persita Tangerang yang bersikap serupa. Mereka semua menolak liga kembali ada atas ketidakpastian yang muncul sehingga waktu persiapan akan sangat mepet. Lebih lagi tim Demang Lehman yang mengalami trauma langsung dengan Covid-19 ketika asisten pelatihnya, Yunan Helmi, sempat terpapar virus secara langsung.

Selain penerapan protokol kesehatan yang masih simpang siur, realisasi dari kebijakan menggelar liga tanpa penonton bak hanya ucapan belaka. Bagaimana tidak, ketika terjadi partai usiran tanpa penonton sebelum pandemi saja para suporter tetap ngeyel dengan memenuhi luar stadion, apalagi kini ketika kondisi rakyat sedang haus hiburan. Lebih-lebih lagi tak ada lagi peraturan tambahan yang memastikan penonton hanya menonton dari layar kaca. Potensi akan adanya kerumunan itu tampak nyata walaupun seruan telah dikencangkan.

Alasan ketiga yang membuat liga sebaiknya disudahi kala pandemi adalah tidak ada jaminan bagi para aset – dalam hal ini pemain yang merumput di lapangan hijau akan keselamatan mereka. Kesan dipaksakan untuk bergulirnya kembali liga bisa berimbas dengan potensi bertambahnya pemain dan ofisial yang terjangkit virus korona. Beberapa hari jelang liga yang sedianya dihelat lagi pada 1 Oktober lalu, empat pemain dan dua ofisial dari tim Bajul Ijo dikonfirmasi positif Covid-19. Bukan tidak mungkin jumlah pemain yang terinfeksi virus bertambah seiring dengan jumlah testing yang kerap dilakukan jelang sebuah pertandingan.

Lebih baik Liga disudahi dahulu kala pandemi atas alasan force majeure. Momentum ini sebaliknya bisa dimanfaat seluruh stakeholder sepak bola di tanah air untuk berbenah. Bisa dengan memperbaiki infrastruktur stadion guna memenuhi standar, menyesuaikan jenama klub agar mereguk keuntungan ekonomi di luar pemasukan tiket, hingga fokus pada pembinaan usia muda.


TAG: Shopee Liga 1 Liga Indonesia Covid-19 Pssi






BACA LAINNYA




LAPAK


BERITA POPULER


1

Dari DM Instagram, Terungkap Kualitas Vlado Sebagai Pelatih

2

Formasi WM dan Perkembangannya

3

Sejarah Formasi: 4-2-3-1, Gelandang Bertahan dan Pemain Nomor 10

4

Memahami Proses dan Menjaga Ekspektasi Bersama Seto

5

Filosofi Sepakbola Indonesia Adalah Pertala

LEGENDA HARI INI


Card image cap
23 October

Pada tanggal 23 Oktober 1973, pemain Derby County menuntut kepada manajemen agar Brian Clough diperkerjakan kembali sebagai pelatih. Sebuah surat yang ditandatangani oleh setiap anggota tim utama diserahkan kepada ketua klub setelah Clough dan asistennya mengundurkan diri.


IKUTI KAMI