REGISTER
Keranjang Anda Kosong
Total:
0

Luther Blissett dan Aksi Perlawanannya


Hamdani M pada 2021-11-25 jam 12:00 PM


Gantigol/Aldito Ilham


Pada pertandingan kualifikasi Piala Eropa 1984 yang mempertemukan Inggris dengan Luxemburg, seorang pemain kulit hitam berseragam Three Lions berhasil mencetak gol. Bukan hanya satu, tetapi tiga. Terasa lebih spesial karena pada pertandingan ini dia bermain sebagai debutan. Dia adalah Luther Blissett.

Blissett adalah pemain Inggris keturunan Jamaika. Inggris dan Jamaika memang memiliki hubungan erat. Hal ini karena Jamaika pernah menjadi jajahan Inggris sejak 1655 hingga 6 Agustus 1962. Tidak sedikit pula warga negara Inggris yang memiliki darah Jamaika. Beberapa pemain berlabel Timnas Inggris bahkan berketurunan Jamaika. Sebut saja Kyle Walker, Raheem Sterling, Theo Walcott dan Chris Smalling. 

Pertandingan melawan Luxemburg mencatat sejarah baru bagi Timnas Inggris. Hari itu pertama kalinya Timnas Inggris memiliki pemain senior dan pencetak gol berkulit hitam. Pertama kalinya bagi Blissett mencetak gol untuk Timnas Inggris, juga pertama kalinya ia hattrick. Dan ironisnya, hari itu menjadi satu-satunya hari di mana ia mencetak gol untuk Timnas Inggris. Secara keseluruhan, Blissett mampu mencatatkan 14 kali penampilan bersama Three Lions terhitung sejak tahun 1982 sampai 1984.

Di level klub, nama Blissett sebenarnya tidak terlalu mentereng. Selama berkarier di Inggris ia tidak pernah memperkuat klub-klub dengan sejarah yang besar. Ia membela klub dengan prestasi pasang surut, dari papan bawah ke papan tengah kembali ke bawah, begitu seterusnya.

Sebagian besar kariernya ia habiskan bersama Watford. Selain Watford, ia juga pernah memperkuat AC Milan pada musim 1983/1984,  Bournemouth pada tahun 1988-1991, dipinjamkan oleh Watford ke West Bromwich Albion pada 1992. Kemudian memperkuat Bury pada musim 1993/1994. Serta bermain bersama Derry City, Mansfield Town, Southport, Wimborne Town, dan Fakenham Town masing-masing hanya satu musim atau kurang. Hingga akhirnya pensiun di Chesham United pada 1997.

Bagi para penggemar Watford, Blissett bukan pemain sembarangan. Dia adalah legenda klub. Debutnya bersama Watford terjadi pada musim 1975/1976, saat usianya masih 17 tahun. Blissett terhitung tiga kali datang ke Watford. Catatan 503 pertandingan dan mencetak 186 gol bersama The Hornets. Sampai hari ini masih menjadi rekor yang belum terpecahkan bagi klub yang bermarkas di Vicarage Road itu.

Tapi kisah tentang Blissett yang paling menarik bukanlah soal prestasinya bersama Watford maupun hatricknya saat berseragam Three Lions, melainkan kisahnya saat ia telah menjadi inspirator bagi gerakan radikal di Italia. Blissett telah menjadi alasan banyak aktivis di Italia bergerak melakukan perlawanan.

Semua bermula saat Blissett dipinang AC Milan pada musim 1883/1884. Saat itu Rossoneri sedang membutuhkan tambahan penyerang untuk memperkuat lini depan mereka. Ilario Castagner, yang menjadi pelatih AC Milan saat itu, menandatangani Blissett dari Watford dengan harapan yang terlalu muluk.

Saat itu Blissett memang sedang dalam performa terbaiknya bersama Watford. Ia berhasil membawa The Hornets duduk di peringkat kedua di bawah Liverpool. Keberhasilan Blissett bersama Watford membuat AC Milan percaya diri membawanya ke Italia. Tetapi mereka salah. Kultur sepakbola Italia dan Inggris berbeda.

Sepakbola Inggris yang banyak mengandalkan duel fisik cocok untuk Blissett, sementara Italia lebih kalem nan artistik. Seiring berjalannya waktu Blissett paham, Italia buka lahan subur bagi dia. 

Blissett sempat optimis pada awal musim di San Siro. Lima laga awal yang ia jalani bersama AC Milan, dalam laga persahabatan dan Piala Italia, menunjukkan harapan yang tinggi. Sembilan gol berhasil ia lesakkan. Hanya saja catatan hebat Blissett terhenti saat Liga Italia bergulir. Insting predatornya hilang. Tugas mencetak gol yang menjadi kewajibannya gagal ia tunaikan dengan baik.

Castagner sempat mempertahankan harapan atas pemainnya itu. “Sekali ia (Blissett) mencetak gol, ia tidak akan berhenti,” ucap Castagner sewaktu awal-awal datangnya kritikan untuk Blissett. Tapi ternyata Castagner salah. Setelah ucapan tersebut, Blissett tak pernah menemukan kembali jiwa predatornya.

 

Dukungan untuk Blisset

Penggemar AC Milan, terutama dari golongan kanan, pun semakin menunjukkan rasa marahnya pada Blissett. Termasuk kemarahan yang berujung rasis untuk pemain kelahiran Jamaika ini. Blissett mengakui bahwa ia hanyalah sedikit orang berkulit hitam yang menjadi pesepakbola profesional di Italia. Sebuah alasan yang membuat penggemar sepakbola sayap kanan semakin edan dalam melakukan penghinaan terhadapnya.

Nasib buruk yang menimpa Blissett saat memperkuat AC Milan serta tindakan rasis yang menimpanya membuat gerakan kiri di Italia menjadi geram. Rasisme yang diterima oleh Blissett adalah sebuah tindakan kejam.

Permainan buruk serta ekspektasi pendukung AC Milan yang gagal dipenuhi oleh Blissett memang layak jadi sumber masalah. Tapi mencemoohnya dalam hal rasial, adalah soal lain. Untuk alasan apapun, hal itu tidak bisa dibenarkan.

Simpati untuk Blissett berdatangan, terutama dari aktivis sayap kiri Italia. Awalnya semangat mereka hanya untuk menentang serangan rasis yang diterima oleh Blissett. Namun seiring dengan berjalannya waktu gerakan semakin melebarkan sayap. Dari gerakan solidaritas untuk Blissett hingga berkembang menjadi gerakan anti penindasan.

Luther Blissett segera menjadi simbol persatuan dan perlawanan menghadapi tindakan diskriminatif dan kesewenang-wenangan yang menimpa siapa saja. Jadi, setiap ada tindakan diskriminatif di Italia, nama Luther Blissett segara mencuat sebagai individu maupun kelompok yang melawan tindakan tersebut.

 

Atas Nama Blisset

Gerakan Luther Blissett melampaui gerakan yang digagas oleh suporter sepakbola pada umumnya. Mereka berjuang lebih luas dari batas definitif sepakbola, pada ranah yang berada di luar jangkauan Blissett. Melalui gerakan ini, kelompok sayap kiri radikal Italia berusaha membuktikan pada dunia bahwa ada banyak hal yang salah pada tatanan hidup mereka.

Salah satu yang paling dahsyat tentu bagaimana gerakan ini melakukan “prank” terhadap saluran televisi pemerintah Italia. Tindakan ini dilakukan untuk membuktikan betapa bodohnya orang-orang pemerintahan Italia. Bermula dari kabar tentang seorang seniman Inggris Harry Kipper yang menghilang di perbatasan Yugoslavia-Italia saat sedang bersepeda.

Dikabarkan Harry Kipper sedang menggambar kata "ART" di seluruh benua. Televisi pemerintah Italia, yang memiliki program pencarian orang hilang pun segera mengirim kru mereka. Uang digelontorkan untuk menelusuri pencarian Harry Kipper hingga ke London. Hasilnya? Nihil. Karena memang kisah tentang Harry Kipper tidak pernah benar-benar ada.

Ini hanyalah kisah yang di kemudian hari diakui oleh gerakan Luther Blissett sebagai rekayasa mereka. Satu kejadian yang membuktikan tentang betapa bodohnya orang-orang yang bekerja di bawah payung pemerintah Italia kala itu.

Gerakan Blissett yang lebih banyak lagi berupa tulisan-tulisan perlawanan dari kelompok radikal kiri Italia, lalu menisbatkan tulisan tersebut pada Luther Blissett. Salah satu yang paling fenomenal dari kerja gerakan ini adalah novel Q.

Novel yang mengambil tokoh utama seorang mata-mata ini mengusung semangat perlawanan dari para pembaharu agama kelas rendah atas permainan kuasa antara kepausan, pangeran Jerman dan kekaisaran suci Romawi. Cerita yang khas dari ajaran Marxisme.

Novel yang sempat dibagi-bagikan secara cuma-cuma ini kemudian beredar luas, dan diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa. Empat penulisnya (Roberto Bui, Federico Guglielmi, Luca Di Meo, dan Giovanni Catabriga) menenggelamkan identitas mereka dan menyematkan nama Luther Blissett sebagai penulis novel.

Isi novel yang terlampau kompleks dengan berbagai masalah sosial yang sedang dihadapi Eropa pada dekade itu, serta kemampuan intelektual Luther Blissett yang dianggap tidak mungkin menulis novel sebagus itu, maka tuduhan pun beredar. Novel Q sempat dianggap sebagai karya Umberto Eco. Tapi pengakuan empat penulisnya segera menjadi sanggahan nyata atas tuduhan itu. Dari sini, gerakan perlawanan dengan nama Luther Blissett semakin menggema.

Blissett mungkin tidak pernah menyangka sebelumnya, perlakuan rasis yang ia terima saat memperkuat AC Milan akan berdampak besar bagi gerakan perlawanan. Toh, gerakan ini juga pada awalnya datang bukan dari inisiasinya. Namanya hanyalah kode bagi cita-cita yang lebih besar, lebih mulia. Dalam salah satu manifesto gerakan ini disebutkan “Siapapun dapat menjadi Luther Blissett, hanya dengan mengadopsi nama Luther Blissett.”

Siapapun yang memiliki kesamaan dengan Luther Blissett, baik perjuangan, ideologi, maupun nasibnya, dipersilahkan untuk menjadi bagian dari gerakan Luther Blissett ini. Dalam sebuah pidato di tahun 2004 silam, pemilik nama Blissett berseloroh, "Karena semua bisa menjadi bagian dari gerakan Luther Blissett bahkan hanya dengan mengadopsi namanya, maka ia bisa masuk dalam gerakan ini karena memiliki nama yang sama persis dengan gerakan ini."

Narasi siapapun dalam manifesto gerakan Luther Blissett membuat gerakan ini berkembang bukan hanya di Italia. Juga bukan hanya pada sekitaran sepakbola. Ia menjadi luas, seluas masalah penindasan itu sendiri.

Nama-nama kondang dalam jagat filsafat seperti Paolo Virno dan Antonio Negri juga menyebut Luther Blissett dalam semangat gerakan mereka. Manifesto gerakan ini juga memberi tahu pada dunia bahwa siapapun bisa terlibat dalam gerakan perlawanan, bahkan termasuk kita yang berada jauh dari Italia.


TAG: Luther Blissett Tokoh






BACA LAINNYA


LAPAK


ARTIKEL POPULER


LEGENDA BULAN INI


IKUTI KAMI