REGISTER
Keranjang Anda Kosong
Total:
0

Maraton ala Fortaleza Leoparda Sur


M Bimo pada 2021-08-28 jam 12:00 PM


Gantigol/Aldito Ilham


Ketika mendengar nama Bonek yang terpikirkan pasti tentang betapa setianya sekelompok suporter kepada klub kesayangannya. Persebaya main di mana pun pasti bakal dijabanin entah bagaimana caranya. Ya naik angkutan umum, kendaraan pribadi, bahkan berjalanan kaki pun bakal dilakukan, nggak rela Bajol Ijo berjuang sendirian.

Cara totalitas mendukung seperti ini memang sudah jamak terjadi di sepakbola Indonesia. Bukan hanya Bonek sebenarnya, kelompok suporter klub lain pun banyak yang melakukannya. Tak banyak yang tahu, di belahan benua lainnya juga ada kelompok suporter yang melakukan aksi serupa setiap klub kesayangannya melakoni laga away.

Salah satu yang sering melaksanakan yaitu kelompok suporter bernama Fortaleza Leoparda Sur. Mereka adalah kelompok suporter yang mendukung klub Atletico Bucaramanga yang berkompetisi di Categoria Primera A Liga Kolombia.

Fortaleza dikenal akan fanatisme dan loyalitas terhadap klub asal Kota Bucaramanga tersebut. Rentetan nyanyian chant, koreografi, hingga berbagai macam petasan dan asap selalu menghiasi laga Atletico Bucaramanga jika digelar di Estadio Alfonso Lopez.

Uniknya, banyak kelompok-kelompok kecil di dalam Fortaleza yang memiliki budaya awayday yang cukup ekstrem. Mereka rela menempuh ratusan kilometer dengan cara berjalan kaki. Menumpang truk-truk besar secara ilegal adalah salah satu cara mereka agar bisa sampai tujuan lebih cepat.

Perjuangan yang memakan waktu, tenaga, dan penuh risiko ini mereka lakukan 'hanya' untuk sampai ke stadion dan menonton bola.

 
Bukan Cuma Sekadar Nama yang Menempel di Kelompok

Pada musim 1996-1997, Atletico Bucaramanga menjalani musim terbaik mereka. Tim berjuluk The Leopards ini berhasil mencapai babak final Categoria Primera A. Keberhasilan ini dirayakan oleh banyak warga Bucaramanga dengan turun ke jalan, mengadakan pesta, dan bertukar siulan. Meski akhirnya di final mereka harus puas sebagai runner up saja.

Saat itu, Atletico Bucaramanga belum memiliki kelompok suporter yang benar-benar komitmen mendukung di stadion. Baru lah karena prestasi ini, sekelompok pemuda terilhami untuk membuat kelompok suporter yang loyal. Salah satu kelompok suporter panutannya pada saat itu ialah kelompok suporter dari Liga Argentina.


sumber foto: periodico15

Baru lah pada 1998 proyek ini diseriusi. Para pemuda ini terdiri dari berbagai kalangan namun tujuan mereka berkumpul dan mendirikan kelompok ini sama, memberikan cinta dan dukungan penuh untuk Atletico Bucaramanga.

Setelah melalui diskusi, Fortaleza menjadi nama yang dipilih untuk kelompok mereka. Kelompok ini memiliki nama lengkap Fortaleza Leoparda Sur. Fortaleza sendiri dalam bahasa Spanyol berarti kekuatan, sementara Leoparda adalah julukan dari tim kesayangan mereka. Kata terakhir, Sur, berarti selatan yang merujuk pada tribun selatan dari Estadio Alfonso Lopez, tempat mereka berdiri.

Fortaleza bukan cuma sekadar nama yang menempel pada sebuah kelompok. Para suporter Bucaramanga ini sejak awal berdiri benar-benar ingin membuat kelompok ini punya kekuatan. Mereka memastikan tidak ada orang atau kelompok lain yang bisa mengusik dan menyentuh mereka.

Maka dari itu, kerusuhan dan kekerasan sudah seperti makanan sehari-hari bagi kelompok ini. Meski aktivitas yang mereka lakukan tidak selalu berakhir rusuh, tapi ada beberapa kejadian kerusuhan yang melibatkan Fortaleza dengan kelompok suporter lain atau bahkan dengan klubnya sendiri.

Pada 2011, mereka pernah melakukan aksi kekerasan fisik dan verbal kepada pemain Bucaramanga karena performa tim yang dianggap buruk. Sementara pada 2012, Fortaleza terlibat tawuran di tengah-tengah pertandingan antara Sucre FC vs Bucaramanga. Tawuran ini mengakibatkan satu suporter cedera serius dan 19 lainnya ditahan polisi. Itu hanya sebagian dua contoh, tentu masih banyak kejadian lain yang nggak kalah bikin geger.

 
Perjalanan Away Ekstrem La Mulera

Kalau kamu ingin merasakan sensasi ikut dalam perjalanan awayday Fortaleza, sangat disarankan untuk menonton film dokumenter berjudul La Fortaleza. Dokumenter yang didistribusi oleh Copa90 ini mengikuti perjalanan menantang tiga orang suporter Bucaramanga menempuh ratusan kilometer berjalan kaki saat awayday. Pengambilan gambar pun dilakukan dengan sudut pandang orang pertama, membuat penonton semakin merasakan berdebarnya pengalaman tersebut.

Cerita di dalam film itu diambil pada tahun 2015, saat Atletico Bucaramanga terpuruk di kasta kedua dan sedang berjuang mendapatkan posisinya kembali di Categoria Primera A.

Perjalanan tersebut dilakukan oleh tiga suporter anggota kelompok kecil bernama La Mulera. Nama kelompok mereka merupakan terjemahan dari Geng Truk. Nama ini diambil karena kebiasaan mereka yang jika awayday dilakukan dengan cara melompat dari truk satu ke truk lainnya. Selebihnya perjalanan mereka lalui dengan berjalan kaki.

Itu adalah hari yang penting bagi Bucaramanga dan seluruh suporternya. Categoria Primera B telah mencapai babak semifinal grup dan Bucaramanga menyisakan dua pertandingan terakhir di Grup A. Kalau mereka bisa menang dua-duanya, maka The Leopards bisa mengamankan tiket promosi setelah tujuh tahun terpuruk di divisi dua.

Pertandingan pertama mengharuskan Bucaramanga awayday ke Popayan. Ini adalah perjalanan dengan jarak tempuh cukup jauh, yakni hampir 1000 kilometer. Namun La Mulera, kelompok kecil bagian dari Fortaleza Leoparda Sur, tetap memutuskan untuk berangkat dengan cara mereka, lompat dari satu truk ke truk lainnya.

Film ini akan membawa kamu merasakan bagaimana tiga anggota La Mulera mencari tumpangan secara ilegal, mengamen koin ke orang-orang yang lewat demi membeli tiket pertandingan, meminta makanan dan minuman dari rumah-rumah yang mereka temui di jalan, hingga bermalam di bekas bangunan kosong yang cukup mencekam.

Perjalanan yang mereka tempuh bukan lah hal yang mudah. Jarak antara Bucaramanga dan Popayan hampir 1000 kilometer, kira-kira sama seperti jarak dari Jakarta ke Padang. Dan, perjalanan itu mereka lalui dengan berjalan kaki dan menumpang truk.

Dilansir Copa90, salah satu anggota La Mulera menyebutkan kalau perjalanan jauh dengan cara ini sering memakan korban. Banyak risiko yang sering mereka hadapi, seperti misalnya bertemu dan terlibat keributan dengan kelompok suporter lain, jatuh dari truk saat akan naik atau turun, dan juga tertabrak kendaraan.

Meski banyak pelanggaran hukum yang diperlihatkan di film ini, tapi sejatinya Andres Torres selaku sutradara ingin menunjukkan sisi lain daripada para suporter yang hanya memiliki niat tulus mendukung dengan cara mereka walaupun agak ekstrem. Mereka bukan lah penjahat.


TAG: Fortaleza Klub Atletico Bucaramanga






BACA LAINNYA


LAPAK


ARTIKEL POPULER


LEGENDA BULAN INI


IKUTI KAMI