REGISTER
Keranjang Anda Kosong
Total:
0

Massimo Bonini Senjata Juventus Dari San Marino


Hamdani M pada 2021-01-29 jam 12:00 PM


Gantigol/Ilham Dito


Tidak ada yang mengenal San Marino dalam dunia sepakbola sebelumnya. Maklum, negara ini kecil. Jumlah penduduknya tidak sampai menyentuh angka 50.000 penduduk. San Marino juga tidak memiliki klub besar. Bahkan sampai tahun 1980-an, San Marino masih belum memiliki federasi sepakbola yang diakui UEFA. Kompetisi sepakbola juga belum terbentuk secara profesional. Meski demikian terbelakang soal sepakbola, San Marino pernah memiliki kebanggaan dalam hal sepakbola. Salah satu putra daerah mereka merupakan skuat yang turut mengantarkan Juventus mengibarkan bendera kejayaan. Dialah Massimo Bonini.

Juventus di tahun 1980 sampai 1985 an adalah klub dengan catatan prestasi yang mengagumkan. Skuat yang  diasuh Giovanni Trapattoni waktu itu dihuni oleh banyak nama-nama kelas wahid. Ada nama Michel Platini, Paolo Rossi, dan Zbigniew Boniek. Mereka saling bahu membahu menggalang lini penyerangan Juventus. Di barisan pertahanan, nama Gaetano Scirea, Claudio Gentile, dan Antonio Cabrini menjadi palang pintu yang sulit ditembus. Dan di antara dua barisan penyerang dan pertahanan itu, Bonini bertugas menjadi penyeimbang di lini tengah. Etos kerjanya dan dedikasinya kepada klub adalah hal yang sulit dicari padanannya. 

Di balik kisah hebatnya bersama Juventus dalam meraih banyak trofi, ia memiliki latar belakang serta prinsip yang wajib diapresiasi. Dia memilih setia berkewarganegaraan San Marino. Negara yang pada saat Bonini berada di puncak kariernya, masih belum memiliki federasi sepakbola resmi. 

Perjalanan Karier Bonini

Massimo Bonini lahir pada 13 Oktober 1959 di San Marino. Dia memulai karier mudanya di klub lokal SS Juvenes pada tahun 1973. Dia berada di sana selama empat tahun. Setelah itu ia melanjutkan petualangan masa mudanya dengan bergabung klub AC Bellaria. Pada musim 1978/79 dia bergabung klub Serie C Forli FC. Hanya berselang 23 pertandingan di klub barunya itu, ia kembali digariskan untuk naik tingkat ke Serie B. Dia dikontrak Cesena. Bersama klub berlambang kuda laut itu kariernya meningkat pesat.

Di musim pertama bersama Cesena, ia hampir saja mengantarkan klubnya itu meraih promosi ke Serie A. Cesena mengakhiri musim tepat satu peringkat di bawah klub yang dipersilakan promosi ke Serie A. Di musim keduanya, ada AC Milan dan Lazio yang bergabung di Serie B. Mereka terdegradasi ke Serie B karena pada 1980 terlibat skandal Totonero. Bersaing dengan dua klub yang memiliki tradisi juara tak membuat Cesena gentar. Bonini muda berhasil membawa klubnya itu meraih satu tiket ke Serie A.

Bakatnya sebagai gelandang penghambat serangan lawan membuat Bonini mendapat banyak perhatian. Dari sini ia kemudian dibajak klub Serie A lain yang lebih mapan, Juventus. “Dia akan menjadi lebih baik daripada Furio,” demikian ungkap Pierluigi Cera ketika memperkenalkan Bonini ke hadapan manajemen Juventus. Bersama Si Nyonya Tua inilah ia meraih puncak kariernya dalam sepakbola.

23 Agustus 1981, Bonini mendapatkan debut pertamanya bersama Juventus. Pada debut pertamanya ini, ia berhasil membantu Juventus mengalahkan Rumini di Stadion Romeo Neri. 13 September 1981 ia merasakan debut pertamanya di Serie A melawan klub yang memberinya banyak pengalaman sepakbola, Cesena. Masuk sebagai pemain pengganti pada babak kedua menggantikan Marco Tardelli, Bonini menikmati debutnya dengan kemenangan telak 6-1. Di musim perdananya bersama Juventus, ia berhasil meraih scudetto. Hadiah besar pertama untuk karier sepakbolanya.

Musim keduanya, banyak bintang datang ke Juventus. Di antaranya, Michel Platini dan Zbigniew Boniek. Mereka semua berkarakter menyerang. Di musim ini Juventus meraih hasil buruk di Serie A. Namun mereka berhasil melangkah jauh di kompetisi Eropa. Pada gelaran Piala Eropa (Liga Champion) Juventus berhasil melangkah hingga partai final. Ini adalah final pertama mereka sejak 1973. Sempat diunggulkan karena mampu menyingkirkan Aston Villa, akhirnya Bonini dkk. harus menyerah dari Hamburg SV. Atas semua pencapaian Bonini di musim ini, Guerin Sportivo memberikan penghargaan sebagai pemain muda terbaik. 

Musim ketiganya bersama Juventus, Bonini semakin tampil solid. Dia adalah penyeimbang untuk para bintang Juventus yang lebih cenderung menyerang. Paolo Rossi, Platini, dan Boniek menjadi aman dalam melancarkan serangan karena ada nama Bonini di bagian terdalam lapangan tengah Juventus.

Massimo Bonini memiliki kekuatan fisik yang luar biasa. Staminanya berada di luar rata-rata pemain lain. Kemampuan tekel dan permainan taktisnya juga turut melengkapi atributnya sebagai gelandang bertahan. Dia bukan tipe pemberi umpan yang handal. Dia adalah gelandang penjelajah yang tak kenal lelah. “Saya harus banyak berlari dan itu mudah bagi saya. Itu tentang mengetahui bagaimana membaca permainan, berlari ke arah bola, menempati ruang, mengambil penguasaan dan mengoper ke penyerang. Tapi di atas semua itu, tim harus ditata, untuk mempertahankan bentuk taktisnya saat kehilangan penguasaan bola,” pengakuan Bonini tentang gaya bermainnya.

Pada musim 1984/1985, Juventus kembali hancur di kompetisi lokal. Namun di saat yang sama mereka bagus dalam kompetisi Eropa. Pada musim ini mereka berhasil meraih gelar setelah mengalahkan Liverpool di partai final dengan skor 1-0. Final yang menyisakan tragedi bersejarah dalam sepakbola, Heysel. Gelar ini turut melengkapi pencapaian mereka sebelumnya. Saat bertemu dengan Liverpool dalam kejuaraan Super Cup Winner. Dua kali Juventus meraih kemenangan. 

Massimo Bonini terus berada di Juventus hingga 1988. Sebelum akhirnya ia memutuskan untuk berpetualang ke Bologna. Dia selalu terlibat dalam pertandingan-pertandingan penting yang dijalani Juventus. Selama delapan musim bersama Juventus, ia berhasil meraih satu trofi Liga Champion, tiga kali Scudetto, satu Copa Italia, satu Super Cup Winner, dan satu Piala International winner.

Godaan Pindah Kewarganegaraan 

Sudah menjadi kebiasaan bagi Italia untuk menarik setap anak San Marino yang memiliki bakat sepakbola untuk bermain bersama mereka. Tradisi yang dekat di antara kedua negara itu serta San Marino yang masih belum memiliki federasi sepakbola adalah penyebabnya. Ini pula yang terjadi pada Bonini. Ia sempat mencicipi seragam Timnas Italia Junior. Di bawah asuhan Azeglio Vicini, ia masuk dalam skuat Italia U-21.

Seiring dengan penampilan impresifnya bersama Juventus, ia sebenarnya memiliki kesempatan untuk membela Italia. Tawaran untuk berseragam Italia terbuka lebar. Kualitas permainannya. Pengalaman masa kecilnya berseragam Timnas Italia, adalah alasan kuat untuk mengganti paspornya jadi Italia. Tapi Tidak sesederhana itu bagi Bonini. Dengan berbagai resikonya, ia tetap setia menjadi San Marino.

“Saya memiliki keberuntungan dan kesialan lahir di San Marino. Sial, karena saya tidak bisa bermain untuk Italia, tetapi di atas segalanya semoga sukses karena itu adalah tempat di mana Anda bisa hidup dengan baik dan damai. Banyak orang akan memberikan apa saja agar bisa lahir di San Marino,” kata Bonini menjelaskan bagaimana ia memilih untuk tetap menjadi San Marino. 

Di ujung karier sepakbolanya, Bonini mendapat debut internasionalnya bersama San Marino. Menghadapi Swiss di Stadion Olimpico di Serravalle, San Marino, mereka kalah 4-0. Dia menghabiskan 19 kali pertandingan membela Timnas San Marino hingga tahun 1995. Dia masih aktif di Timnas, termasuk saat San Marino kalah 10-0 dari Norwegia pada 1992.


TAG: Massimo Bonini Juventus San Marino Serie A






BACA LAINNYA


LAPAK


ARTIKEL POPULER


LEGENDA BULAN INI


IKUTI KAMI