REGISTER
Keranjang Anda Kosong
Total:
0

Melihat Lyon Berjaya


Aditya Hasymi pada 2020-10-10 jam 12:00 PM


Gantigol/Ilham Dito


Ada masanya dimana manajemen tim yang solid menjadi modal utama untuk menjadi juara Liga Prancis, dibanding gelontoran uang dari taipan minyak timur tengah. Olympique Lyonnais membuktikan hal itu selama tujuh kesempatan secara beruntun.

Derap dari negara Prancis sangat dekat dengan upaya mendominasi demi meraih kekuasaan. Sebut saja Napoleon Bonaparte, penggagas dari Revolusi Prancis di tahun 1789, menegaskan dominasinya dengan menaklukkan beberapa wilayah di Eropa pada abad ke-19. Louis XIV, berkuasa sangat dominan selama 72 tahun memerintah negara biru-putih-merah ini hingga dijuluki sebagai Louis le Grand atau Louis yang agung.

Perkara sepak bola negeri Prancis juga berbicara mengenai dominasi. Dari lintasan waktu yang terbentuk dalam perkembangan bal-balan di negara yang beribukota di Paris ini, dapat dibagi menjadi beberapa periode dominasi. Kurun waktu 60an sampai 70an adalah Saint Etienne yang berkuasa. Kemudian, daerah selatan ganti mendominasi melalui kiprah Olympique Marseille dari 1989 sampai 1992.

Sebelum derasnya uang investor dari Qatar yang membuat tim ibukota begitu dominan di Ligue 1 dalam lima tahun terakhir, ada kalanya sebuah tim yang dibangun sedari masih berada di Ligue 2 turut merajai sepak bola Prancis. Olympique Lyon, sebuah kesebelasan dari daerah timur laut Prancis ini merajai kompetisi domestik dari  tahun  2001 hingga 2007 silam.

Dominasi Lyon yang meraja di Prancis pada abad ke-20 dilabeli sebagai sebuah kesuksesan yang hakiki di era sepak bola modern. Bagaimana tidak, gelar liga yang dipertahankan secara berkesinambungan oleh Les Gones terjadi secara organik, yakni dengan proses dan kerja keras.

Kunci utama dari Lyon pada era 2000an menjadi penguasa Prancis ada pada keputusan untuk memperkuat sisi manajemen tim.  Ada proses restrukturisasi klub yang condong pada pembenahan gerak langkah dalam kurun jangka panjang. Dari segi itulah kita bisa melihat klub dengan seragam dominan putih ini berjaya.

Manajemen Tim yang Solid sebagai Pondasi Kejayaan Lyon

Layaknya sebuah prosesi transformasi, gerak perubahan yang terjadi merata dari sisi atas ke bawah. Langkah awal yang diambil klub yang berdiri pada 1899 ini adalah merombak struktur kepemimpinan. Didatangkanlah sosok yang kelak begitu berjasa menghantarkan Lyon menuju klub elite Prancis dalam diri Jean-Michel Aulas.

Pada pertengahan tahun 1987, tepatnya di bulan Juni, sosok pengusaha bernama Jean-Michel Aulas secara penuh membeli hak kepemilikan dari Lyon. Sejak saat itu, pemilik dari perusahaan Cegid, perusahaan pengembang piranti lunak di bidang akuntansi ini menetapkan arah dari klub dengan program berjangka empat tahun. Janji dari Aulas bagi suporter OL adalah sesegera mungkin promosi ke Ligue 1 dan lolos kompetisi antarklub Eropa.

Sebagai sosok yang memiliki latar belakang di dunia usaha, Aulas mengawali langkahnya dengan membereskan hutang dari klub yang bermarkas di Groupama Stadium ini. Baginya, prestasi klub akan muncul ketika kondisi keuangan klub telah stabil.

Masih dalam pendekatan ala entrepreneur, pria kelahiran 1949 ini percaya bahwa posisi strategis dalam klub harus diisi oleh orang-orang yang tepat. Maka dirombaknya struktur kepengurusan tim, salah satunya dengan menempatkan Bernard Lacombe, yang kelak menjadi tangan kanan dalam mengurusi transfer pemain.

Dari sisi teknis kepelatihan, sosok Raymond Domenech, yang waktu itu belum digadang-gadang sebagai calon arsitek timnas Prancis, ditunjuk sebagai pemegang kendali di pinggir lapangan. Semangat khas putra daerah, mengingat Domenech kelahiran dari Lyon, menjadi semangat tersendiri sehingga Aulas menunjuknya. Alhasil, hanya setahun berkubang di Ligue 2, pada musim 1989/90 Les Gones kembali ke kasta tertinggi setelah berhasil sebagai pemuncak klasemen.

Proses membangun tim yang solid masih berlanjut kala kembali di Ligue 1 pada musim 1990/1991. Memang hasilnya tak langsung berbuah piala, namun di tangan Aulas, Lyon tampak menjanjikan secara performa. Sejak musim 1996 sampai dengan 1999, klub berlambang singa ini konsisten finis di pos ketiga dalam klasemen.

Awal millennium akan dikenang bagi seluruh suporter Olympique Lyon sebagai penanda awal dominasi dari kejayaan klub. Kembali, Aulas menaruh orang baru di pinggir lapangan, dengan menunjuk Jacques Santini sebagai pelatih. Skema 4-3-3 digelar sebagai upaya Les Gones memilih untuk bermain atraktif.

Sektor transfer pemain menjadi titik pula yang dibenahi dengan perekrutan efektif. Winger dari Brasil, Sonny Anderson, menjadi rekrutan penting Aulas pada 2000 silam. Catatan 92 gol selama tiga musim berbaju putih-putih menjadikan nilai transfer 19 juta euro sangat sepadan. Sayap kiri Pierre Laigle yang direkrut dari Sampdoria serta Tony Vairelles yang digamit dari Bastia melengkapi trisula Les Gones di lini depan, yang berbuah gelar juara Ligue 1 untuk kali pertama dari kejayaan yang akan berlangsung lama setelahnya.

Aktivitas transfer pemain yang tepat guna, tak sekadar menghamburkan uang, kemudian dinilai sebagai kunci utama dari kejayaan Lyon mendominasi Liga Prancis selama tujuh musim. Pemain-pemain seperti Michael Essien, Florent Malouda, Eric Abidal, Giovane Elber, hingga sang legenda eksekutor tendangan bebas Juninho Pernambucano direkrut dengan nilai transfer yang ekonomis, tak sampai menyentuh 15 juta euro.

Satu yang menarik dari aktivitas transfer pemain dari Lyon, dimana Aulas juga turut berperan, adalah formula yang dipegang teguh untuk tak menghalang-halangi pemain pergi, karena cepat atau lambat gantinya akan didatangkan. Pemain-pemain yang moncer saat membela klub yang kini sudah berumur 121 tahun ini kerap kali menjadi sasaran transfer dari liga yang lebih gemerlap, macam Premier League atau La Liga. Jika harga penawaran yang datang selangit, insting Aulas sebagai seorang wirausaha berbicara.

Kesiapan dari Lyon untuk terbuka melepas pemainnya, terutama apabila nilai transfernya jauh lebih tinggi dari harga taksirannya, tak peas dari solidnya pembinaan pemain muda dari akademi. OL Academy, kawah candradimuka dari klub untuk membina youngster, tampak selalu siap menghasilkan pemain yang dapat nyetel dengan skuad utama. Siapa yang tak kenal Karim Benzema, Alexandre Lacazette, dan Anthony Martial yang kini telah mentas dari akademi Lyon dan menjadi tulang punggung klubnya di La Liga dan Premier League.

Kunci dari manajemen Lyon untuk dapat solid sehingga berbuah dengan dominasi domestik adalah dengan hadirnya kesamaan nilai yang dibangun sebagai visi dan misi klub. Nilai bekerja bersama dalam sebuah tim menjadi identitas yang dibangun. Contoh kecilnya dapat dilihat dari terdapatnya empat pelatih berbeda dalam tujuh tahun berjaya namun kondisi dalam tim tak goyah sedikitpun. Mulai dari Santini, Le Guen, Houllier, hingga terakhir di Alan Perrin, tiap keputusan yang berkaitan dengan gerak klub di dalam dan di luar lapangan merupakan keputusan yang diambil secara bersama-sama.

Kini, Olympique Lyon terus berusaha mereplikasi apa yang dulu telah mereka pegang teguh saat berjaya dahulu. Waktu nantinya kembali akan berbicara bagaimana solidnya manajemen yang akan mampu bertahan di balik bergelimang uang investor di Liga Prancis.


TAG: Olympique Lyonnais Ligue 1 Liga Prancis






BACA LAINNYA




LAPAK


BERITA POPULER


1

Dari DM Instagram, Terungkap Kualitas Vlado Sebagai Pelatih

2

Formasi WM dan Perkembangannya

3

Sejarah Formasi: 4-2-3-1, Gelandang Bertahan dan Pemain Nomor 10

4

Memahami Proses dan Menjaga Ekspektasi Bersama Seto

5

Filosofi Sepakbola Indonesia Adalah Pertala

LEGENDA HARI INI


Card image cap
23 October

Pada tanggal 23 Oktober 1973, pemain Derby County menuntut kepada manajemen agar Brian Clough diperkerjakan kembali sebagai pelatih. Sebuah surat yang ditandatangani oleh setiap anggota tim utama diserahkan kepada ketua klub setelah Clough dan asistennya mengundurkan diri.


IKUTI KAMI