REGISTER
Keranjang Anda Kosong
Total:
0

Membingkai Memori Sepak Bola dari Kartu Panini


Aditya Hasymi pada 2020-09-16 jam 12:00 PM


gantigol/Ilham Dito


Ada masa di kala untaian memori yang terhampar di lapangan hijau dapat tersusun rapi melalui potongan-potongan kertas berbentuk kartu. Imajinya meresap betul dari satu suporter ke suporter yang lain melalui interaksi yang amat manusiawi.

Jauh sebelum segala macam interaksi dipindahkan secara digital melalui gawai, kertas yang dicetak dalam berbagai medium begitu berarti. Hari ini dimana berita lebih mudah dikonsumsi melalui portal berita daring, sebelumnya ada koran cetak yang begitu berkesan dengan pengalaman memegang berlembar-lembar halaman untuk mengetahui kabar terbaru. Baru harum kertas yang dicetak dari tiap halaman buku, dewasa ini telah berganti dalam lembaran pdf yang dapat disimpan dalam sebuah sabak elektronik.

Urusan menyepak si kulit Bundar pun bersinggungan dengan peralihan analog menuju digital. Penemuan televisi mengubah kebiasaan fans menonton pertandingan dengan perluasan siaran yang menembus batas-batas wilayah. Belum lama ini, kala dunia dibekap oleh pandemi, suporter dari seluruh penjuru dunia bahkan bisa memilih paket pertandingan lewat streaming berbayar.

Namun, ada satu hal dari upaya merayakan olahraga sebelas lawan sebelas ini yang tak lekang oleh zaman: upaya membingkai memori yang tersaji di lapangan hijau dari mengoleksi kartu.

Ya, deretan kartu yang bergambar profil pemain, baik berdasar klub maupun tim nasional, dijadikan sebuah memorabilia yang begitu unik dan tak tergantikan. Adalah Panini, sebuah perusahaan percetakan asal Italia, yang mengkomodifikasi cetakan kartu bergambar foto dari para seniman lapangan hijau begitu berharga untuk dimiliki.

Cetakan kartu sepak bola buatan Panini telah berhasil menunjukkan wajah manusiawi dari permainan mengolah si kulit bundar ini. Dari dari harum kertas hingga albumnya sukses merekatkan seluruh suporter bal-balan lewat interaksi tak terbatas dari kesebelasan yang didukung.

Panini yang Sukses Merekatkan Penggila Bola Melalui Sebuah Kartu

Jika ada sesuatu di dunia ini yang mampu menyatukan gelora para penggila bola di seluruh dunia selain pertandingan itu sendiri, maka kartu Panini lah yang bisa. Rilisnya tiap empat tahun sekali selalu dinanti pandemen bal-balan seantero jagad bak gelaran Piala Dunia. Rupa kartunya telah menjelma bagai artefak pembingkai memori dari tiap penjuru dunia tak peduli bahasa ataupun asal usul ras.

Duo bersaudara bernama belakang Panini, Benito dan Giuseppe, adalah sosok yang paling bertanggung jawab dari menjamurnya kultur mengoleksi kartu sepak bola. Mereka mengawalinya pada tahun 1961 di satu kota di bagian Italia tengah, Modena, dengan mendirikan distributor koran. Dengan jenama yang menggunakan nama yang sama dengan nama belakang mereka, usahanya kini telah menjadi grup perusahaan yang memproduksi segala macam cetakan kertas berupa buku, majalah, hingga bentuk yang mendapat untung besar - kartu dan stiker sepak bola.

Kartel bisnis dari Panini bersaudara mulai mendapat tempat melalui fanatisme kelewat gila dari suporter sepak bola, tatkala mereka mengakuisisi produk gagal dari sebuah koleksi stiker, yang dibuat oleh perusahaan berbasis di Milan. Tak tanggung-tanggung tiga juta paket stiker sukses ludes dijual oleh perusahaan yang dikemudian hari akan melebarkan sayapnya hingga ke Amerika Serikat ini.

Setelah profit yang cukup menjanjikan, Panini segera tancap gas untuk menjadikan kartu bergambar pemain sepak bola sebagai komoditas jualan yang paling utama. Pada gelaran Piala Dunia 1970, perusahaan dari Modena ini menerbitkan ‘L’Almanaco Illustrato del Calcio Italiano’, sebuah panduan ilustrasi bergambar untuk memudahkan para fans mengenali para pemain yang berlaga. Selain itu, untuk menambah semarak hajatan bal-balan empat tahunan itu, di tahun yang sama pula kartu sepak bola dirilis oleh perusahaan yang berdiri 1961 ini.

Momen itu pulalah yang kemudian lestari hingga sekarang. Panini selalu mengeluarkan kartu sepak bola pada tiap gelaran besar sepak bola sejagat, macam Piala Dunia dan Piala Eropa, untuk menambah gegap gempita di antara para suporter. Sampai pada gelaran Piala Dunia 2018 lalu, perusahaan percetakan Italia ini masih rutin mencetak kartu sepak bola dengan album pelengkap dengan lisensi hak cipta resmi dari FIFA.

Kemunculan Panini dengan kartu sepak bolanya memunculkan interaksi baru yang amat manusiawi di antara para suporter. Para fans, bahkan mungkin mereka yang hanya menikmati sepak bola sebagai tanpa embel-embel mendukung kesebelasan dari manapun, menjadi sering berkumpul untuk dapat saling melengkapi koleksi. Mereka saling bercengkrama seolah membuktikan prinsip olahraga ini sebagai ‘the beautiful game’.

Budaya mengoleksi kartu sepak bola yang dicetuskan oleh Panini ternyata terus berlanjut walaupun zaman telah berganti sedemikian cepat. Peralihan teknologi dari analog menuju digital tampak tak berefek sedikitpun bagi ritual melengkapi gambar diri sebuah kesebelasan melalui kartu. Ada unsur nostalgia yang amat kental sehingga mengoleksi kartu sepak bola di era saat ini tetap terlihat keren mewarnai kultur fanatisme.

kini banyak dari mereka yang mendaku diri menggilai duel sebelas lawan sebelas di lapangan hijau berani merogoh kocek sedalam-dalamnya, hanya demi lengkapnya koleksi kartu sepak bola dalam album manis cetakan Panini.

Kartu Sepak Bola yang Bernilai Investasi

Begitu magisnya kultur mengoleksi kartu sepak bola buatan Panini hingga bagi para fans yang menggemarinya berani mengeluarkan uang yang tak sedikit. Terhitung hingga senilai puluhan juta rupiah berputar dalam transaksi agar album koleksi dapat terisi lengkapnya.

Pada gelaran Piala Dunia 2018 silam, Luis Miguel, seorang suporter tim nasional Peru tampak mencolok dari kerumunan. Ia menenteng album yang berisi kartu bergambar pemain yang berlaga di Rusia buatan Panini itu. Berkali-kali Luis menyapa suporter lain yang turut meramaikan Fan Fest Sparrow Hills untuk siapa tahu ia mendapatkan kepingan yang dicari.

“Saya mengumpulkan kartu ini sejak beberapa bulan sebelum Piala Dunia digelar. Jika ada yang menawar album saya dengan harga tinggi, dalam kisaran 350 Dollar AS (5 juta rupiah) tentu akan saya lepas”, ujar Luis dalam kutipan wawancara yang dilansir oleh DetikSport.

Setali tiga uang, kisaran nominal harga tinggi yang mengelilingi hobi mengoleksi kartu sepak bola juga terjadi di Indonesia. Para penggila bola dari tanah air tak segan-segan menyisihkan uangnya demi melengkapi koleksi berdasar pada pemain atau tim kesayangan.

Sebut saja Hindra, seorang fans sepak bola yang menggemari kartu bola buatan Panini sejak hingar bingar Piala Dunia 1994 di Amerika Serikat. “Saya mengoleksi kartu sepak bola dengan membeli secara ketengan maupun per bungkus. Untuk kartu yang dijual secara ketengan harganya bisa mencapai puluhan juta rupiah karena edisinya bergambar pemain terkenal, sedangkan yang per bungkus relatif murah, berkisar 30.000 sampai 150.000 rupiah, karena dalam bungkusan isinya disusun secara acak”, ujar sosok pengagum talenta CR7 ini dalam wawancara yang dilansir Harian Kontan.

Gelimang uang yang menghampiri dari mengoleksi kartu sepak bola telah membuatnya menjadi komoditi potensial sebagai aset investasi. Unsur nostalgia yang cukup kental dalam kultur mengoleksi kartu bola menjadikan nilainya semahal barang antik. Semakin khas dan spesifik memori yang tergambar dalam sebuah kartu sepak bola, maka semakin mahal pula nominal yang muncul.

Upaya mengoleksi kartu sepak bola telah menawarkan sebuah kemewahan di era digital yang serba cepat ini, untuk sejenak melambatkan waktu sembari bercengkrama memilah memori di lapangan hijau yang ingin dikenang.


TAG: Panini World Cup Piala Dunia Fifa Laga






BACA LAINNYA


LAPAK


ARTIKEL POPULER


LEGENDA BULAN INI


IKUTI KAMI