REGISTER
Keranjang Anda Kosong
Total:
0

Mengingat Pengalaman Bermain Terburuk di Sepanjang Karier Edgar Davids


M Bimo pada 2021-04-22 jam 12:00 PM


Gantigol/Ilham Dito


Nama Edgar Davids mungkin sudah tak asing di telinga para pecinta Serie A akhir 90an. Gelandang bertahan asal Belanda ini pernah bersinar bersama dengan Juventus pada 1998 hingga 2004.

Pemain yang terkenal dengan kacamatanya yang ikonik itu pernah merasakan bermain di tiga raksasa Italia. Selain Juventus, Davids juga pernah berseragam untuk AC Milan dan Internazionale. Selain itu, dia juga pernah mencicipi liga besar Eropa lainnya seperti La Liga untuk Barcelona, Premier League untuk Tottenham Hotspur dan Crystal Palace dan tentu saja Eredivisie untuk Ajax Amsterdam.

Tapi mungkin banyak yang lupa kalau pemain jebolan akademi Ajax ini mengakhiri kariernya di klub League Two, divisi ketiga Liga Inggris, Barnet. Pada 2012, keputusan transfer yang cukup mengejutkan ketika Edgar Davids mau pindah untuk menjadi pelatih-pemain Barnet. Pasalnya, klub divisi tiga ini menjadi favorit kuat terdegradasi pada musim itu.

Menyandang nama besar sebagai mantan pemain bintang, merapatnya Davids tentu membuat fans Barnet senang bukan kepalang. Mungkin dia menjadi satu-satunya pemain terkenal yang pernah berseragam Barnet, meskipun saat itu usia Davids sudah menginjak 40 tahun.

Pertama kali datang, Davids bekerja secara sukarela dengan embel-embel membantu mengembangkan sepakbola Inggris. Ini juga bisa jadi kesempatan perdana dia untuk meniti karier sebagai pelatih, berkembang dengan klub kecil sebelum akhirnya menapaki level yang lebih tinggi.

Kedatangannya juga memberi dukungan psikologis kepada Barnet dan memanfaatkan celah finansial dari nama besar pelatihnya. Namun, realita tak mesti berakhir indah seperti ekspektasi yang dibayangkan. Pada akhir musim, Davids gagal membawa Barnet keluar dari zona degradasi. Ironisnya, mereka berjuang hingga pekan terakhir dan baru resmi terdegradasi usai menelan kekalahan dari Northampton Town.

Nomor Punggung 1 Terkutuk

Meski terdegradasi dari League Two, Edgar Davids menyatakan komitmennya tetap bersama Barnet. Pada musim 2013-2014, Davids berniat memberikan dampak yang lebih signifikan sebagai pemain di lapangan. Kali ini sedikit absurd, ia memilih mengenakan nomor punggung 1 pada musim itu. Dia juga menjadikan dirinya sendiri seorang kapten dan bermain di posisi bek tengah.

Nomor punggung 1 bukanlah nomor yang familiar untuk pemain selain penjaga gawang. Nomor ini Davids ambil dari penjaga gawang utama Barnet, Graham Stack. Tapi, penjaga gawang ini merasa tak keberatan kalau nomor punggung itu dipakai oleh Edgar Davids.

Mungkin Davids ingin meniru legenda Belanda Ruud Geels, seorang striker Ajax dan timnas Belanda pada Piala Dunia 1974 yang mengenakan nomor punggung 1 juga. Tapi pada waktu Davids mengenakannya, otomatis semua mata suporter langsung mengarah kepadanya.

"(Nomor 1) adalah nomor punggungku untuk musim ini. Aku yang akan memulai tren ini," ujarnya saat itu seperti dilansir Sport Bible.

Tapi lagi-lagi, nasib apes tampaknya masih terus menaungi Davids. Hanya berselang empat bulan sejak musim 2013-2014 dimulai, Edgar Davids sudah mengumpulkan banyak kartu. Termasuk tiga kartu merah yang ia terima, menjadi salah satu pemain Barnet paling banyak diusir keluar lapangan.

Salah satu insiden yang terkenal adalah ketika ia menyikut salah seorang pemain Wrexham yang juga mantan penggawa Liverpool, Stephen Wright. Apesnya lagi, pertandingan itu pas banget sedang disiarkan langsung oleh televisi. Situasi yang membuat reputasi Edgar Davids dan juga Barnet mulai jadi cemoohan.

Tidak mengherankan kalau kondisi ini membuat suporter Barnet mulai jengah. Ada kabar yang menyebutkan kalau terjadi ketegangan di ruang ganti oleh pemain dan pelatih. Musim itu, Barnet tidak mampu menembus babak play-off apalagi promosi.

Terlepas dari sikap egois dan arogan di atas lapangan, tapi rupanya suporter memiliki pandangan baik terhadap sosok Edgar Davids. Sebelumnya, dia merupakan pelatih-pemain yang sering turun ke lapangan dan menjadi man of the match. Davids juga bahkan hampir mengeluarkan Barnet dari jurang degradasi League Two.

Ada juga beberapa fans yang menyaksikan kesopanan pemain berjuluk Pitbull ini di luar lapangan. Dia selalu menyambut ramah suporter yang meminta tanda tangannya, bahkan tak jarang para suporter itu ia ajak ngobrol juga.

Muncul juga cerita tentang bagaimana Edgar Davids pernah membantu suporter yang busnya mengalami mogok dalam perjalanan away. Davids meminta sopir bus yang ia tumpangi untuk berhenti dan membantu para suporter tersebut, bus suporter mereka bawa ke bengkel. Davids juga katanya sempat mentraktir kopi untuk para suporter-suporter malang itu.

Yah, meski nomor punggung 1 yang ia kenakan di Barnet cukup terkutuk, tapi paling tidak Edgar Davids masih menjadi nomor satu di hati para suporter Barnet. Mungkin jasanya di dalam maupun di luar lapangan tetap akan dikenang hingga hari ini.


TAG: Edgar Davids Barnet Fc League Two






BACA LAINNYA


LAPAK


ARTIKEL POPULER


LEGENDA BULAN INI


IKUTI KAMI