REGISTER
Keranjang Anda Kosong
Total:
0

Mengintip Kelanjutan Premier League di Tengah Ketidakpastian


M Bimo pada 2020-04-01 jam 12:00 PM


soccerbible


Pandemik virus corona memberi pengaruh serius kepada sepak bola dunia. Hampir seluruh liga yang negaranya terdampak harus menyetop keberlangsungan kompetisi. Bermain dengan pintu tertutup alias tanpa penonton pun bukan keputusan yang bijak saat ini. Terlepas dari bisnis industri sepak bola yang mengharuskan kompetisi tetap berjalan kalau nggak mau perputaran uang berhenti.

Asosiasi sepak bola Inggris telah menetapkan kalau seluruh pertandingan dan kompetisi akan ditunda setidaknya hingga 30 April mendatang. Ya, semua pertandingan Premier League, Football League, Women's Super League, Women's Championship dan seluruh jadwal pertandingan di liga Skotlandia, Wales dan Irlandia Utara semua ditunda.

Itu pun masih harus melihat kondisi pandemik yang terjadi di Inggris ataupun negara lainnya. Bisa dimulai lagi sesuai jadwal, atau bisa diundur sampai waktu yang tidak ditentukan. Ketua Eksekutif Premier League, Richard Masters menyebutkan, kalau kesehatan pemain, staf dan suporter adalah prioritas utama mereka. Premier League sama-sama bersinergi dengan para klub, pemerintah dan juga FA di tengah situasi yang belum pernah terjadi sebelumnya ini.

Langkah tersebut mengikuti keputusan yang dibuat oleh otoritas sepak bola negara lain yang sudah menerapkannya lebih dulu, seperti Italia, Spanyol dan Prancis. Sementara itu, UEFA setuju untuk mengundur gelaran Euro 2020 yang semula direncakan berjalan pada 12 Juni 2020 sampai 12 Juli 2020, menjadi 11 Juni 2021 sampai 11 Juli 2021.

Keputusan UEFA itu mendapat dukungan dari banyak otoritas sepak bola dunia. Kebanyakan dari mereka menganggap dengan diundur Euro 2020, bisa memberi ruang bagi klub yang kompetisinya ditunda untuk menyelesaikan itu terlebih dahulu. Sebelum akhirnya para pemain bisa fokus untuk membela negara di kompetisi sepak bola terbesar setelah Piala Dunia itu.

Sejumlah negara sepakat menyatakan sangat ingin bisa meneruskan kompetisi yang kebanyakan sudah berlangsung setengah jalan. Namun di tengah ketidakpastian seperti ini, apakah kompetisi bisa berjalan normal seperti sebelum pandemik terjadi?

Federasi sepak bola Italia (FIGC) mengakui kalau keberlangsungan Serie A musim ini mungkin bisa saja tidak selesai. Meski demikian, mereka punya beberapa opsi alternatif jika kompetisi tidak bisa diselesaikan secara normal.

FIGC setidaknya menyiapkan tiga pilihan alternatif. Pertama mereka akan melakukan babak play-off untuk menentukan klub yang pantas juara. Opsi kedua, mereka akan memutuskan tabel klasemen saat ini adalah klasemen final akhir musim. Pilihan terakhir dan yang terburuk, musim 2019-2020 diputuskan tanpa juara ataupun degradasi.

Dilansir dari euronews.com, Richard Masters berpikir kalau tiga opsi yang disiapkan FIGC itu bisa saja diterapkan di Premier League. Namun saat ini, mereka masih fokus dan mengusahakan untuk menjadwal ulang seluruh pertandingan yang tertunda, termasuk pertandingan klub akademi. Kemudian penjadwalan ulang ini dilakukan ketika situasi sudah benar-benar aman.

Menurut pernyataan tersebut, otoritas sepak bola Inggris masih belum bisa memastikan kelanjutan kompetisi. Keputusan masih digodok sambil wait and see melihat perkembangan situasi. Hingga demikian, spekulasi-spekulasi pun dibuat untuk memprediksi kelanjutan kompetisi Premier League.

Saat ini, Liverpool memimpin jauh di klasemen Premier League dengan jarak 25 poin dari peringkat kedua yang diisi oleh Manchester City. Dengan kompetisi digelar normal, Liverpool bisa meraih gelar juara berjarak dua pertandingan saja. Jika Premier League mengadopsi pilihan mengakhiri kompetisi dengan perolehan klasemen sementara adalah hasil final, maka Liverpool juga bakal tetap juara.

Jika seperti itu, klub Premier League yang berhak mewakili berkompetisi di Liga Champions musim depan adalah Liverpool, Leicester (posisi tiga), Chelsea (peringkat empat), dan Manchester United (peringkat lima).

Manchester City memang berada di peringkat kedua dan normalnya berhak mewakili Inggris di Liga Champions. Namun mereka kini statusnya sedang disanksi UEFA karena terbukti melanggar Financial Fair Play. Hukuman ini adalah buntut dari kasus tahun 2018 lalu. Kini The Citizens dilarang berlaga di Liga Champions maupun Liga Europa selama dua musim.

Keputusan menghentikan kompetisi dan membuat klasemen saat ini menjadi final juga ada sisi kontroversialnya. Terutama bagi mereka yang sedang bertempur di zona degradasi. Saat ini, Aston Villa (25 poin) dan Norwich City (21 poin) duduk di dua klasemen terbawah. Sementara West Ham United, Watford dan Bournemouth sama-sama memiliki 27 poin dan Brighton & Hove Albion punya peluang terdegradasi cukup tinggi karena hanya berjarak dua poin dari zona degradasi.

Membuat klasemen final sekarang ini bakal membuat Bournemouth harus terdegradasi hanya karena kalah selisih gol saja. Jika Premier League memutuskan opsi ini, bukan tak mungkin itu bakal jadi keputusan paling kontroversial yang pernah dibuat liga.

Spekulasi lain, bagaimana jika Premier League ditunda sampai situasi pandemik cukup membaik? China merupakan negara pertama yang mengalami penyebaran virus corona sangat dahsyat. Kini, pandemik di sana mulai menunjukkan penurunan cukup drastis. Bahkan beberapa rumah sakit darurat yang dibangun ketika pandemik sedang tinggi-tingginya, satu per satu ditutup karena kasus positif sudah tak menanjak lagi.

Situasi ini tentu saja membuka harapan bagi Britania Raya untuk pulih. Kini di seluruh Britania Raya ada lebih dari 25.000 kasus positif dan angka kematian mencapai 381 jiwa akibat virus corona. Jika krisis ini bisa berlalu dalam beberapa minggu ke depan, bukan tak mungkin Premier League bakal dilanjutkan sebelum jadwal musim berikutnya tiba. Apalagi, Euro 2020 sudah resmi diundur sampai tahun depan. Membuat mereka leluasa untuk mengatur ulang jadwal-jadwal yang tertunda.

Tapi kalau pandemik belum juga membaik, apa mungkin Premier League bisa tetap dilanjutkan meski tanpa penonton? Opsi ini memang sempat ingin dilakukan oleh mereka beberapa waktu lalu. Sebelum akhirnya pilihan itu dibatalkan karena pandemik yang kian mengganas.

Pilihan menggelar pertandingan tanpa penonton juga masih dilirik-lirik kesempatannya oleh otoritas sepak bola Inggris. Mengingat mereka jelas tidak mau kalau biaya hak siar dipotong oleh pihak televisi. Namun jika melihat situasi sekarang, banyak negara di Eropa yang sudah menerapkan lockdown yang artinya ini situasi yang tak boleh disepelekan.

Selain itu, dengan banyaknya pesepak bola yang dinyatakan positif virus corona, membuat pilihan tetap menggelar pertandingan meski tanpa penonton bukan bukan pilihan yang baik. Ingat, blunder nggak melulu terjadi di lapangan. Blunder juga bisa terjadi di balik meja yang dilakukan oleh pemangku kekuasaan.

FIGC dan beberapa federasi sepak bola negara lain sedang menggodok opsi play-off sebagai penentu juara liga dan degradasi. Tentu saja Premier League bisa mengintip kemungkinan menerapkan pilihan ini. Empat terbawah calon klub terdegradasi bisa menggelar pertandingan untuk menentukan siapa yang harus turun divisi dan siapa yang bertahan.

Tim yang sebenarnya masih bisa bersaing untuk tempat di Liga Champions atau Liga Europa juga bisa dilakukan babak play-off. Ini juga bisa memangkas beberapa jadwal pertandingan yang tersisa di Liga Inggris. Tapi pasti bakal muncul pertanyaan lagi, Premier League kan hanya menyisakan sembilan pertandingan tersisa, apakah membuat play-off lebih adil ketimbang melanjutkan seluruh pertandingan tersisa itu?

Sampailah pada keputusan terakhir dan juga yang paling buruk, yakni Premier League musim 2019-2020 dihentikan total dan dianggap tidak ada. Mengingat virus corona yang mulai mewabah dari Januari hingga kini Maret, artinya sudah tiga bulan, namun tak kunjung membaik. Malahan semakin hari korbannya semakin bertambah bukannya berkurang.

Masalahnya pesepak bola juga yang jadi korbannya. Bukan hanya kompetisi, tapi diri pribadi dari para pemain yang hingga kini terinfeksi virus tersebut. Hal ini membawa kekhawatiran kepada para pemain, apakah usai dinyatakan sembuh mereka bisa kembali bugar atau memiliki cedera bagian dalam mengingat virus corona menyerang organ pernapasan.

Oleh karena itu, banyak juga netizen yang usul agar Premier League musim ini digugurkan saja. Kalau situasi membaik dalam beberapa minggu atau beberapa bulan, setidaknya Agustus sudah mulai lagi dengan musim yang baru. Tapi kembali lagi, meski terlihat ini adalah keputusan yang paling adil namun ada pihak-pihak yang tetap terdzolimi dengan keputusan ini.

Lihat saja Liverpool, bertengger di peringkat satu hampir sepanjang musim. Baru kalah sekali, berjarak 25 poin dari peringkat dua dan hanya butuh dua pertandingan lagi mereka bisa mengangkat trofi Premier League untuk pertama kalinya. Masak kompetisi dibatalkan dan pencapaiannya selama musim ini nggak dihitung sama sekali?

Meski demikian, apapun keputusan otoritas sepak bola Inggris nantinya diharapkan harus memprioritaskan kesehatan dan keselamatan pemain dan suporter. Persis seperti yang telah dijanjikan oleh Richard Masters sebelumnya.

Kami memang rindu dengan sepak bola meski hanya nonton dari layar kaca. Tapi balik lagi, sepak bola khususnya Premier League bukan semata-mata soal Liverpool yang layak jadi juara. Bukan juga untuk mereka yang ada berjuang di zona degradasi. Tapi nyawa lebih penting dari itu semua.


TAG: Premier League Covid-19 Laga Fa






BACA LAINNYA


LAPAK


ARTIKEL POPULER


LEGENDA BULAN INI


IKUTI KAMI