REGISTER
Keranjang Anda Kosong
Total:
0

Mengkaji Sepak Bola dari Sudut Pandang Sosiologi


Aditya Hasymi pada 2021-02-16 jam 12:00 PM


Gantigol/Ilham Dito


Sepak bola dengan keterlibatan aktif manusia mampu memengaruhi tatanan sosial. Fakta inilah yang membuat kajian ilmu sosiologi menjadikan permainan mengolah si kulit bundar ini sebagai salah satu laboratorium terbaik untuk menyimak perkembangan interaksi yang ada di masyarakat dari masa ke masa.

Sosiologi adalah sebuah ranah keilmuan yang melembagakan dan merefleksikan secara sistematis apa-apa yang terjadi dalam kehidupan masyarakat. Sejak awal kemunculan di awal abad ke-20, ilmu yang berada di kutub sosial ini mencermati faktor-faktor yang membentuk peradaban di lingkup masyarakat seperti struktur, karakter, problematika, serta yang paling utama: fenomena sosial.

Berkembangnya ilmu sosiologi sejalan dengan apa yang terjadi di kehidupan manusia. Hingga akhirnya, di satu titik, terdapat singgungan yang mempertemukan sosiologi dengan sepak bola. Bisa dibilang, sepak bola juga turut andil dalam membentuk fenomena sosial yang dampaknya tak terelakkan di interaksi antar manusia.

Sepak bola yang mampu memengaruhi lapisan sosial di masyarakat ini tak lepas dari meledaknya olahraga ini sebagai yang paling populer seantero jagad. Kemunculan Piala Dunia dengan kemeriahan yang tersaji hingga liga yang amat bersolek seturut siaran televisi berwarna menaikkan intensitas perhatian khalayak ramai.

Alhasil, terciptalah kondisi yang cukup sulit untuk memisahkan antara sepak bola dengan kehidupan masyarakat itu sendiri. Keduanya telah terkait secara natural, membentuk sebuah dimensi, yang dalam istilah sosiologi disebut dimensi sosial.

Menarik untuk mencermati lebih jauh kelindan dari sepak bola dan ilmu sosiologi. Prosesnya terjadi secara sistematis. Peran para pemikir begitu begitu penting dengan berusaha mengejawantahkan sepak bola sebagai fenomena sosial.

Ketika Sosiologi Menelaah Sepak Bola

Awal mula dari rumpun ilmu sosiologi menelaah sepak bola hingga saat ini dimulai dari para penggiatnya, sosiolog, yang menaruh olahraga sebelas lawan sebelas ini sebagai objek penelitian. Barisan cendekiawan dari ilmu yang mempelajari tindak tanduk manusia ini menilai, bal-balan sebagai sebuah fenomena, yang didalamnya terkandung aktivitas penanda bergeraknya pendulum era dari tradisional menuju modern.

Tonggak pertemuan antara sosiologi dan sepak bola terjadi pada tahun 1921 di Jerman. Hal ini tak lepas dari jasa seorang ilmuwan bernama Heinz Risse, yang mempublikasikan penelitian tentang ikatan interaksi manusia dalam kegiatan olahraga berjudul “Soziologie des Sports”. Sejak saat itu, mulailah ranah sosiologi olahraga hadir sebagai salah satu cabang penelitian dari ilmu sosiologi itu sendiri.

Istilah sosiologi olahraga kemudian berkembang dengan melihat fakta bahwa kedekatan aktivitas kesehatan tersebut dengan masyarakat di aspek lapisan institusi sosial, organisasi sosial, relasi sosial, dan perilaku kelompok.

Pintu keterhubungan sepak bola dengan sosiologi kemudian terbuka. Meminjam pengertian dari sosiologi olahraga tadi, mengolah si kulit bundar tak lagi sebatas apa yang ada di lapangan hijau. Lebih dari itu, sepak bola dapat diperhitungkan keberadaanya dengan memengaruhi kondisi kehidupan masyarakat sekitar serta menjadi pemicu terjadinya perubahan sosial.

Melihat perkembangan sepak bola yang semakin masif, dengan menjamurnya basis massa berupa suporter, membuat keterikatan dengan ilmu sosiologi tak dapat dipungkiri lagi. Adalah Pierre Bourdieu, seorang filsuf asal Prancis, berhasil menangkap fenomena sosial berkoloninya manusia untuk mendukung satu kesebelasan yang sama melalui teori refleksi sosialnya. Bourdieu lewat penelitian yang dipublikasikan medio 1970-1980 berargumen bahwa ketika satu orang memutuskan untuk terhubung dengan klub yang ia suka dalam barisan suporter, hal tersebut merupakan pilihan sosialnya secara sadar.

Kerja dari Risse dan Bourdieu yang menarik garis lurus keterhubungan antara sosiologi dan sepak bola kemudian dilanjutkan oleh Christine Eisenberg, dalam publikasinya berjudul “Fußball, Soccer, Calcio: An English Sport on Its Way Around the World” di tahun 1997. Eisenberg melihat bal-balan dapat merefleksikan fenomena kelas sosial di masyarakat. Argumen utama dari Profesor yang berafiliasi dengan HU Berlin ini menjelaskan bahwa sepak bola tumbuh dengan menyatukan tiga pihak dalam kelas sosial: kelas atas (pemangku kebijakan), kelas menengah, dan kelas bawah (pekerja dan petani).

Ketika semakin banyak publikasi hasil riset rumpun ilmu sosiologi yang menjadikan sepak bola sebagai objek penelitian, maka dibutuhkan satu wadah formal agar hasil kerja akademik tersebut tak sia-sia. Kemunculan dari jurnal Soccer & Society serta German Academy for Football Culture seakan menjadi rumah bagi studi sepak bola secara ilmiah.

Soccer & Society muncul sebuah jurnal ilmiah pertama yang menjadi rumah bagi karya ilmiah dengan sepak bola sebagai kajian akademik. Jurnal ilmiah terbitan dari Taylor and Francis ini menangkap sisi humanis dari bal-balan yang efeknya mengglobal. Secara rutin sejak tahun 2000, Soccer & Society telah menjadi rumah bagi mereka yang mengkaji olahraga mengolah si kulit bundar secara akademik dengan berbagai perspektif, seperti antropologi-politik dan tentunya sosiologi itu sendiri.

Apresiasi fenomena sosial yang menjadi budaya akibat besarnya pengaruh sepak bola di era modern menjadi titik awal hadirnya German Academy for Football Culture. Beberapa saat sebelum Piala 2006 Jerman digelar, Deutsche Akademie für Fussball-Kultur ini menjadi titik temu bagi mereka yang percaya bahwa kini bal-balan telah bersalin rupa menjadi fenomena sosial. Atas upaya sistematis German Academy for Football Culture dengan sokongan dana dari pemerintah daerah Nürnberg, seluruh dunia akhirnya bersepakat bahwa sepak bola telah melampaui batas kesebelasan ataupun ritual akhir pekan dan telah membentuk produk budaya nya sendiri: football culture.

Mencermati bagaimana sosiologi membaca sepak bola pada akhirnya mampu menggiring pada satu kesimpulan: apa yang tersaji di lapangan hijau selama 90 menit sejatinya hanya lapisan terluar saja. Hal yang terjadi dari luar lapangan jauh melebihi si kulit bundar itu sendiri.


TAG: Sepakbola Sosiologi






BACA LAINNYA


LAPAK


ARTIKEL POPULER


LEGENDA BULAN INI


IKUTI KAMI