REGISTER
Keranjang Anda Kosong
Total:
0

Menilai Kembali Karier Juan Sebastian Veron


M Bimo pada 2020-12-01 jam 12:00 PM


Gantigol/Ilham Dito


Kepalanya plontos dan memiliki kumis dan jenggot yang menyatu sebagai ciri khas penampilannya. Dia menempati posisinya sebagai pemain tengah dan pernah menikmati kesuksesan di Argentina dan juga Serie A. Pendukung Manchester United pasti familiar dengan pemain ini. Ya, dia adalah Juan Sebastian Veron.

Meski pernah dianggap menjadi salah satu pemain penting bagi Setan Merah pada 2001 hingga 2003, namun faktanya Veron tak dinilai sebagus itu. Bisa dibilang, keputusannya untuk hijrah ke Premier League mungkin menjadi pilihan yang terburuk. Ia dicap menjadi salah satu rekrutan terburuk Liga Inggris ketika itu. Terlebih dengan statusnya sebagai pemain termahal Inggris dengan memecahkan rekor transfer 28,1 juta Poundsterling, Veron belum dianggap mampu sebaik ekspektasi banyak orang.

Sir Alex Ferguson pernah ngamuk kepada media yang mempermasalahkan penampilan buruk gelandang anyar Manchester United tersebut. Sambil berapi-api, Ferguson berteriak kepada media kalau Veron adalah pemain yang hebat. Ia menutup konferensi pers itu dengan umpatan perpisahan singkat: "Kalian semua idiot!"

Karier Veron di Manchester United terbilang singkat. Ia hanya memainkan dua musim dengan tampil sebanyak 51 kali dan mengoleksi tujuh gol untuk Setan Merah. Setelah itu ia diboyong Claudio Ranieri ke Chelsea pada 2003. Namun di Stamford Bridge Veron hanya mencatatkan tujuh kali penampilan karena lebih sering dipinjamkan ke Inter Milan dan klub lamanya, Estudiantes.

Begitulah akhir petualangan Veron di Premier League. Setelah hengkang dari Chelsea, Veron kembali ke Argentina untuk membela klub masa mudanya, Estudiantes dan bermain di sana hingga usianya 42 tahun.

Musim yang indah di Italia

Sejarah Juan Sebastian Veron di Premier League mungkin memang tidak berkesan. Tapi mari menarik memori ke belakang ketika pemain kelahiran La Plata ini memulai karier. 

Veron muda mengasah bakatnya di akademi Estudiantes. Ayahnya, Juan Ramon Veron, merupakan pesepakbola profesional yang menghabiskan seluruh masa kariernya di Estudiantes. Besar kemungkinan kalau Veron banyak diturunkan pelajaran soal sepakbola dari sang ayah.

Veron memulai debutnya di Liga Argentina pada 1994. Musim sebelumnya adalah musim yang buruk bagi Estudiantes karena mereka baru saja terdegradasi. Kemalangan ini justru jadi rezeki untuk Veron karena ia kemudian dipromosikan dari akademi dan mendapatkan satu tempat di lini tengah. Ia turut membawa klub berjuluk El Leon promosi pada musim berikutnya.

Veron senior mungkin merupakan pemain yang loyal pada satu klub. Tapi sang anak tampaknya lebih senang mengambil kesempatan di luar zona nyaman. Kesempatan pertama yang didapat pemain berjuluk La Brujita atau Penyihir Kecil ini terjadi pada 1996. Usai dua musim di Estudiantes, Veron menandatangani kontrak dengan Boca Juniors dan berkesempatan satu klub dengan Diego Maradona.

Maradona yang baru saja meninggal dunia pada 25 November 2020 ini pernah memuji Veron. Melihat dari kepribadian dan cara Veron mengontrol bola, Maradona percaya kalau Veron bakal memiliki karier yang sukses di masa depan. Meski kemudian kedua pesepakbola ini pernah berseteru pada laga amal Game for Peace 2006 lalu. Alasannya karena Maradona kesal sebab Veron sering melanggarnya pada pertandingan itu. Agak sepele, sih.

Tapi tidak banyak cerita perjalanan yang mereka lalui di Boca Juniors karena waktu mereka bersama pun singkat. Pada tahun yang sama, Veron melakukan perjalanan ke Eropa untuk pertama kalinya. Saat itu, ia menandatangani kontrak bersama Sampdoria, menghabiskan beberapa musim di sana dan mendapat musuh pribadi pertamanya yakni Roberto Mancini.

Di Sampdoria, Veron merupakan salah satu pemain kesayangan Sven-Goran Eriksson. Sehingga ketika Eriksson pindah ke Lazio, La Brujita pun turut dibawa olehnya. Bisa dibilang Lazio adalah tempat reputasi Veron mulai terbentuk. Hingga akhirnya ia dipinang Parma pada akhir 1990an dan memenangkan Coppa Italia serta Europa League di sana.

Skuat Parma 1998-1999 terdiri dari pemain-pemain yang jika disebutkan namanya akan membawa nostalgia buat kamu pecinta sepakbola Italia tahun 90an hingga 2000an. Saat itu di Parma Veron bermain dengan Hernan Crespo, Fabio Cannavaro, Faustino Asprilla dan Lilian Thuram. Satu nama yang tak boleh terlewat adalah Gianluigi Buffon muda yang berdiri di bawah mistar gawang.

Veron hanya bertahan satu musim di Parma. Ia reuni kembali dengan Eriksson di Lazio yang pada musim 1999 punya target memenangkan Serie A. Bersama dengan Diego Simeone, Pavel Nedved, Alessandro Nesta, Marcelo Salas, Mancini dan Fabrizio Ravanelli, pasukan Eriksson sukses menyalip Juventus di menit-menit akhir musim 1999-2000.

Pada musim itu, Veron bersama Lazio sukses mengawinkan gelar Coppa Italia dan Serie A juga meraih piala UEFA Super Cup untuk dibawa pulang. Pada 2000, mereka juga sukses merengkuh gelar juara Supercoppa Italiana. Musim yang indah di Italia bagi Juan Sebastian Veron.

Meredup di Inggris

Kesuksesan Veron saat itu membawa minat Manchester United untuk memboyongnya ke Old Trafford muncul. Pada 2001 Veron resmi berseragam Setan Merah sekaligus membuat Sir Alex Ferguson membuktikan tudingan bahwa musim itu MU tidak mau bersaing mengontrak pemain kelas dunia. Ferguson juga turut memboyong Andy Cole dari Newcastle United dan Roy Keane dari Nottingham Forest dan jumlah uang yang digelontorkan MU untuk deretan pemain baru ini memecahkan rekor transfer pemain di Inggris.

Awal musim perdananya cukup berjalan mulus. Veron mencetak empat gol dari delapan pertandingan pertamanya. Namun inkonsistensi performa United membuat Ferguson cukup sering mengganti formasi dan sebelas pemain pertamanya. Veron tidak pernah tahu di pertandingan mana ia akan dimainkan dan di pertandingan mana ia akan dicadangkan.

Selain itu, perbedaan budaya sepakbola antara Inggris dan Italia cukup membuat Veron kesulitan beradaptasi. Ia mengatakan kalau di Inggris tiap pertandingannya bak pembuktian bagi para pemain. Ketika pemain tak cukup menunjukkan hasil baik di sebuah pertandingan, ia akan terancam untuk kehilangan tempatnya.

Paruh musim 2001-2002, Veron mengalami cedera tendon achilles yang membuatnya absen hingga akhir musim. Keadaan tambah ambyar ketika Manchester United meraih hasil terburuk selama 11 tahun di liga dengan finis di posisi tiga. Musim yang benar-benar kacau.

Satu musim setelahnya lumayan ada peningkatan dari performa Veron. Ia bermain gemilang di Eropa dengan mencetak empat gol di fase grup. Ia juga dapat bersaing untuk posisi lini tengah Manchester United yang bisa dibilang punya pemain yang melimpah. David Beckham, Ryan Giggs serta Paul Scholes nampaknya tak mampu menggeser Veron, khususnya Scholes sebab ia punya peran yang sama dengan Veron.

Lagi-lagi ia mengalami cedera yang membuatnya absen cukup lama pada musim 2002-2003. Selama cedera, Ferguson kembali menggunakan formasi 4-4-2 yang merupakan formasi andalan klub dan kembali membuat United sulit dikalahkan. Sekembalinya dari cedera, kesempatan bermain Veron tampak tak banyak. Dia hanya main pada tujuh dari 18 pertandingan terakhir Premier League musim itu.

Merasa kemungkinan menjadi pemain utama menipis, Veron memutuskan pindah ke Chelsea hanya untuk dipinjamkan ke Inter Milan. Ia cukup sukses selama dua musim di sana dengan memenangkan dua Coppa Italia dan satu lagi gelar Serie A.

Kemudian setelah itu Veron pulang, menghabiskan lima musim di Estudiantes. Sempat menjalani satu musim di klub amatir Brandsen, kemudian bergabung kembali dengan Estudiantes selama setahun.

Veron memutuskan pensiun pada 2014. Dia sempat masuk jajaran petinggi klub Argentina tersebut dan memutuskan turun ke lapangan hijau sekali lagi pada 2017 bersama Estudiantes pada usia 42 tahun.

Karier Veron tidak boleh diadili hanya karena musimnya yang kurang baik di Premier League. Nyatanya, ia lebih banyak merasakan kesuksesan di luar tanah Inggris. Dia adalah ikon klub masa kecilnya, salah satu yang sering merasakan gelar bersama klub top Serie A dan pemain tertua yang pernah main di Copa Libertadores.

Sir Alex Ferguson benar, Juan Sebastian Veron adalah pemain hebat.


TAG: Veron Manchester United Lazio Argentina Alex Ferguson






BACA LAINNYA


LAPAK


ARTIKEL POPULER


LEGENDA BULAN INI


IKUTI KAMI