REGISTER
Keranjang Anda Kosong
Total:
0

Menimbang Suporter sebagai Pemilik Klub di Liga Inggris


Aditya Hasymi pada 2021-05-03 jam 12:00 PM


Gantigol/Ilham Dito


Ketika yang tamak mulai bertindak semena-mena, maka saat itulah kekuatan massa menjadi yang mampu melawan.

Riuh wacana bergulirnya European Super League (ESL), sebuah ajang yang mempertandingkan klub-klub besar sepak bola Eropa dengan iming-iming pendapatan besar, menjadi momentum bagi suporter. Keterlibatan suporter justru semakin terlihat sebagai komponen penting yang bukan hanya barisan pendukung semata, tetapi juga punya posisi tawar.

Hadirnya ESL yang didalangi oleh Florentino Perez membuat geger jagat persepakbolaan dunia. Pasalnya upaya yang dilakukan oleh 12 klub besar dari Premier League, Serie-A, dan La Liga ini dianggap merusak marwah dari bal-balan itu sendiri. Ada kultur dan proses yang dikesampingkan untuk meraup uang sebanyak mungkin.

Padahal, adanya kultur dan proses yang terbangun dari sebuah kesebelasan ada andil dari mereka yang dianggap komoditas oleh dewan direksi klub: suporter. Pihak-pihak yang selama ini menjalankan klub, seperti owner dan dewan direksi, seolah amnesia bahwa mereka yang setia di tribun berangkat dari ikatan batin yang sifatnya natural bukan transaksional.

Suporter kesebelasan dari Premier League menjadi yang paling lantang menyuarakan keberatan atas wacana ESL. Spion Kop, basis massa paling vokal dari Liverpool, sempat menyuarakan aksi boikot dengan banner protes di pagar stadion Anfield hingga mengancam menarik banner telah terpasang di tribun. Di pusat kota London, fans dari Chelsea menyemut memenuhi area Stamford Bridge untuk menekan The Blues keluar dari ESL.

Terbaru, kerumunan massa dari pendukung Manchester United melakukan protes besar-besaran jelang partai North-West Derby. Laga yang seharusnya mempertemukan United dengan Liverpool tersebut terpaksa ditunda akibat keriuhan yang menjalar hingga rumput Old Trafford. Mosi yang dibawa identik: menggulingkan sang pemilik keluarga Glazer yang tamak dengan menjalankan The Red Devils sebagai klub pengeruk cuan semata.

Alhasil, melalui gelombang protes yang kencang, satu-persatu klub Premier League mengundurkan diri dari keikutsertaan di ESL. Kekuatan massa yang masif mampu membuat mereka yang berkuasa harus mengambil langkah mundur. Barisan suporter mengapungkan wacana bahwa adanya unsur kepemilikan klub di tangan fans adalah cara mengembalikan marwah sepak bola sebenarnya.

Tampak tak sia-sia aksi yang dilakukan oleh para suporter asli Liverpudlian hingga Manchunian tadi. Begitu kencang gaung yang diserukan membuat Pemerintah Inggris Raya sampai membuat satu sesi khusus dalam proses dengar pendapat di parlemen.

Parlemen UK memasukkan wacana struktur kepemilikan kesebelasan yang melibatkan suporter dalam sesi dengar pendapatnya. Sebuah policy paper diapungkan bertajuk Fan-Led Review of Football Governance sebagai respon atas kontroversi yang ditimbulkan oleh ESL. Pada policy paper tersebut juga dimuat upaya mereformasi kepemilikan klub dengan melibatkan suporter dan menanggulangi urusan finansial atas bal-balan yang beralih menjadi industri.

“Hal ini adalah momentum untuk mengembalikan unsur integritas dan kompetitif dalam sepak bola. Tentu tak melupakan hal utama bahwa kesebelasan memiliki keterikatan dengan suporter dan komunitas lokal”, ujar eks Menteri Olahraga UK Tracey Crouch sebagai inisiator policy paper tersebut dilansir BBC.

Fan-Led Review of Football Governance juga mempertimbangkan model kepemilikan 50+1 khas Bundesliga. Peraturan bagi klub-klub di Liga Jerman tersebut sontak naik kembali atas masifnya monopoli pemilik klub dalam riuhnya ESL. Hal ini menjadi wajar mengingat model kepemilikan 50+1 tersebut berupaya untuk melindungi klub dari pemilik yang sembrono yang berujung tak demokratis.

Seruan model 50+1 dalam kepemilikan klub, dimana memberikan ruang besar bagi suporter, dianggap menjadi jalan terbaik bagi situasi pelik di bal-balan Inggris saat ini. Apakah serta merta cara menjalan klub ala Jerman ini dapat langsung berbuah hasil baik di tanah Britania?

Model 50+1: Antara Sistem yang Demokratis dan Tekanan Prestasi

Sebagai sebuah negara, Jerman punya masa kelam soal pedihnya kala tata pemerintahan begitu mengandalkan tangan besi. Dipaksa satu visi dan tidak boleh membangkang. Kekuatan hanya ada pada satu tangan. Segalanya berjalan otoriter tanpa ada ruang diskusi.

Itulah mengapa Jerman kini berupaya demokratis di segala sektor. Tak terkecuali soal bal-balan. Pemangku kebijakan liga, dalam hal ini di level Bundesliga melahirkan sistem 50+1 dalam model kepemilikan klub. Sejak 1990, konsep ini diterapkan demi menuju struktur klub yang lebih professional.

Ruang diskusi yang menghargai banyak pihak benar terbuka adanya di model 50+1. Kepemilikan klub tidak boleh dimonopoli oleh satu pihak saja. Batasan maksimum ada di 50 persen. Lalu sisanya adalah ruang bagi pihak-pihak lain, salah satunya adalah suporter.

Model kepemilikan klub 50+1 ini dianggap demokratis karena menutup peluang terjadi gerak langkah klub yang semena-mena. Pasalnya, setiap ada kebijakan yang dirumuskan, selalu ada proses telaah yang melibatkan banyak kepala. Hal-hal seperti memilih presiden klub misalnya atau mengelola visi klub dilakukan dengan kesepakatan yang mufakat, bukan hanya sepihak.

Menjadi wajar ketika melihat Manchester United atau Liverpool dengan pemiliknya sekarang mulai kelihatan sembrono menjalankan klub karena uang semata lalu seruan memberlakukan 50+1 naik drastis.

Tentu sah-sah saja klub Premier League ingin ikut-ikutan cara kesebelasan Bundesliga dengan model 50+1 nya. Namun, apakah serta merta menyelesaikan keriuhan?

Jawabanya tidak semudah itu ternyata. Ada batasan kultur dan legal yang membuat klub-klub Premier League menerapkan kepemilikan 50+1 layaknya para kontestan Bundesliga.

Model 50+1 memang membuat kepemilikan klub di banyak tangan, suporter bisa ada di dalamnya, sehingga berjalan demokratis. Namun hal tersebut mensyaratkan, dari sudut pandang kultural, bahwa tim dijalankan secara sukarela, bukan bergerak demi keuntungan bisnis dan terlibat pula dalam bagian industri hiburan.

Di Jerman, hal ini lumrah terjadi karena awal klub berkembang lahir dari komunitas lokal. Motivasi menjalankan klub hanya sesederhana siapa saja yang tertarik dengan kegiatan olahraga dapat bergabung menjadi member dan punya hak suara. Orang-orang setempat punya ruang lebih untuk terlibat.

Atas dasar fakta kultural di Jerman tersebut menjadikan model 50+1 bisa berjalan di Bundesliga. Adanya kebutuhan akan olahraga semata. Sehingga, lini pergerakanya bukan melebarkan sayap bisnis, melainkan mengembangkan bentuk sarananya.

Bayern Munich misalnya. Dominasi yang dilakukan oleh FC Hollywood bukan barang baru di negeri Panzer mengingat sejak 1980 mereka berangkat dari dominasi kuat di olahraga catur. Pun begitu dengan rivalnya Borussia Dortmund. Die Borussen hadir awalnya sebagai organisasi nirlaba untuk mewadahi masyarakatnya berolahraga.

Jika ditarik ke klub-klub Liga Inggris saat ini, tentu ada halangan besar mengenai pandangan soal bagaimana klub berjalan. Para kontestan Premier League hari ini, terutama The Big Six, telah mendeklarasikan dirinya layaknya firma terbuka. Harus ada pemasukan signifikan karena bagi mereka sepak bola adalah bisnis dan masuk sebagai industri hiburan dengan berbagai gimmicknya.

Pun dengan halangan soal legal hukum. Kebanyakan klub-klub Premier League saat ini telah berjalan bagaikan sebuah aset. Entitasnya dapat diperjual belikan layaknya barang dagangan. Siapa saja latar belakangnya, asal punya uang lebih, dapat memilikinya. Tentu sangat rumit di hadapan pengadilan nantinya untuk mengubahnya menjadi badan non-profit. Ada kerugian hingga sanksi gagal bayar yang membayangi pemilik sebelumnya.

Sebenarnya peluang klub-klub Inggris mengikuti model 50+1 tak tertutup sepenuhnya. Model kepemilikan tim layaknya Bundesliga ini sudah dilakukan, tetapi kebanyakan di level semi-pro dan amatir. Tengok saja apa yang dilakukan oleh FC United of Manchester dan AFC Liverpool. Mereka bergerak dari komunitas mereka sendiri dan ujungnya kembali ke marwah yang menjadi identitas bersama.

Tentu ada konsekuensi yang harus diterima. Proses adalah segalanya sehingga tidak bisa menjadi rangkaian sekali jadi. Prestasi ataupun gelar juara pun bukan menjadi hal yang sampai di nomor satukan. Apakah klub-klub Premier League bersedia?


TAG: Fcum Afc Liverpool Punk Football Premier League






BACA LAINNYA


LAPAK


ARTIKEL POPULER


LEGENDA BULAN INI


IKUTI KAMI