REGISTER
Keranjang Anda Kosong
Total:
0

Menyusun Ulang Bentuk Dukungan kepada Kesebelasan


Aditya Hasymi pada 2020-08-04 jam 12:00 PM


Gantigol/Ilham Dito


Some people believe football is a matter of life and death, I am very disappointed with that attitude. I can assure you it is much, much more important than that

- Bill Shankly -

Merayakan sepak bola dengan mendukung sepenuh jiwa kini menembus ruang interaksi antar manusia. Gerak-geriknya terasa penting agar roda kehidupan terus berputar.

Sebuah pertanyaan sederhana seringkali terlintas di antara para suporter sepak bola: mengapa berjibaku mendukung kesebelasan? Tak jarang maknanya begitu meluas, seperti: mengapa rela menghabiskan gaji demi rutin membeli merchandise klub? Mengapa rela menabung demi ‘naik haji’ untuk menonton langsung dari pinggir lapangan bagi fans klub liga-liga Eropa di Indonesia? Hingga yang paling ekstrim: mengapa rela berada di garda depan dalam duel antar suporter lain?

Secara tidak langsung, olahraga yang mempertontonkan kelihaian mengolah si kulit bundar telah meresap pada sendi-sendi kehidupan manusia. Bentuknya telah bersalin rupa dari sekadar hiburan pelepas penat di akhir pekan menjadi layaknya sebuah bentuk peribadatan. Hal-hal yang tampak di atas lapangan hijau telah berpengaruh pada kehidupan di luar lapangan.

Karena, bagi sebagian orang, mendukung kesebelasan di lapangan hijau bukan hanya persoalan menang dan kalah. Aktivitas menyoraki tim kesayangan dari tribun ini telah menjadi representasi dari ideologi yang dianut.

Menyokong Klub sebagai Representasi Ideologi

Sebuah ideologi perlu disebarluaskan agar dapat tumbuh subur. Sebagus apapun gagasan dalam sebuah ideologi, tidak akan termanifestasikan dengan baik, apabila hanya sedikit orang yang memahami. 

Sepak bola menyajikan apa yang dibutuhkan oleh suatu ideologi agar dapat menyebar ke seluruh penjuru. Pada suatu kondisi normal, permainan menggocek si kulit bundar ini mampu menyajikan ratusan ribu manusia berkerumun dalam satu wadah utama - stadion. Bak sebuah virus, paham tersebut menyebar dari satu tribun ke tribun lainnya.

Contoh terbaik dari sebuah ideologi bersalin rupa dalam bentuk dukungan kepada sebuah kesebelasan ada di Italia, tepatnya di kawasan Livorno. Klub bernama Associazione Sportiva Livorno Calcio, atau akrab disebut sesuai dengan nama kotanya, menjadi elemen penting dari tumbuh suburnya ideologi komunis. Brigate Autonome Livornesi, begitu para suporter dari pantai barat Italia ini menamakan dirinya. Ultras dari klub yang berdiri pada 1915 ini menasbihkan diri sebagai benteng terakhir komunisme dalam tiap geloranya.

Kultur yang terbangun sejak periode perang di negara Pisa ini menjadi alasan para pendukung Livorno bernafaskan ideologi kiri. Sejarah mencatat bahwa Partai Komunis berdiri di Italia pada 1921 tepat di jantung kota pelabuhan ini. Basis penduduk yang sebagian besar adalah pekerja dari pelabuhan semakin menegaskan, bagaimana dukungan bernada palu arit mampu menembus sudut tribun.

Bentuk dukungan dari tifosi Labronici ini semakin menjadi-jadi ketika muncul sosok yang dikultuskan. Hadirnya sosok Cristiano Lucarelli, penyerang sekaligus putra daerah, menjadi subyek membuncahnya dukungan berhaluan kiri pada tim yang bermarkas di Armando Picchi ini. Pemain bernomor punggung 99 ini secara gamblang menyatakan komunis sebagai ideologi politiknya. 

Pria yang terkenal dengan sensasinya membayar sisa kontraknya di Torino untuk dapat bergabung dengan Livorno ini terkenal sangat dekat dengan tifosi. Kecintaan pada klub masa kecilnya dibuktikan dengan hadirnya kakak dari Alessandro Lucarelli di tribun pada  setiap pertandingan penting Amaranto. Tak jarang Lucarelli naik ke tribun untuk bersama-sama menyanyikan Bandiera Rossa dengan lantang.

Patut diketahui bahwa mars dari klub yang meraih runner-up Serie A pada musim 1942/43 ini, Bandiera Rossa, sangat dekat dengan manifestasi ideologi komunis. Mars yang secara harfiah berarti bendera merah ini memiliki lirik yang amat kiri dengan seruan: ‘red flag will be triumphant, long live communism and freedom’. Sangat palu arit sekali!

Menyeberang lautan berjarak 2.500 kilometer, suporter Glasgow Celtic menyerukan ideologi kiri yang senada dengan Livorno. Pendukung klub yang berada di ujung Timur kota Glasgow ini menamakan dirinya ‘The Green Brigade’. Paham yang dibawa oleh sekelompok orang yang mendukung The Bhoys ini menitikberatkan kebebasan bagi semua, atau lebih familiar dikenal sebagai front anti-fasis, anti-rasis, dan anti-sektarian.

The Green Brigade membawa semangat kebebasan untuk semua hingga ke tribun Celtic Park. Salah satu pesan yang secara gamblang diserukan oleh fans dari tim seteru berat Glasgow Rangers ini adalah kebebasan Palestina dari tekanan Israel. Seruan kencang akan penghentian serangan Palestina oleh Israel dari suporter Celtic ini menemukan momentumnya pada partai kualifikasi Liga Champions 2016/2017. Ketika itu di kandang sendiri, Glasgow Celtic akan menjamu Hapoel Be’er Sheva, yang notabene kesebelasan yang berasal dari Israel.

Walaupun otoritas sepak bola Eropa, UEFA, telah mewanti-wanti agar tak ada simbol politis pada pertandingan tersebut, The Green Brigade bersikap tak ambil pusing. Para suporter klub yang berdiri pada 1888 itu telah bersepakat untuk merayakan sepak bola dengan ideologi mereka, melawan kolonialisme yang dilakukan Israel terhadap rakyat Palestina. Alhasil, ribuan bendera Palestina tampak dikibarkan sepanjang pertandingan yang memperebutkan satu tiket ke fase grup Liga Champions tersebut.

Aksi simbolik yang dilakukan oleh The Green Brigade di tribun mereka memang penuh resiko akan sanksi yang datang pada klub. Namun, secara sadar pendukung yang menolak adanya penjajahan di dunia ini merasa puas, karena apa yang mereka pahami selama ini atas nilai kemanusiaan telah tunai disuarakan.

Perlu disadari bahwa mereka yang tergabung dalam barisan suporter adalah sekumpulan manusia. Dalam diri manusia menyimpan serangkaian niatan, latar belakang yang beragam, mimpi, dan harapan. Maka menjadi kewajaran apabila bentuk dukungan yang diteriakkan dari tribun lebih dari yang sekadar merayakan kemenangan belaka, namun bersalin rupa hingga menjadi perwakilan apa yang mereka percayai.


TAG: Livorno Tifosi Labrocini Serie A Cristiano Lucarelli Brigate Autonome Livornesi






BACA LAINNYA


LAPAK


ARTIKEL POPULER


LEGENDA BULAN INI


IKUTI KAMI