REGISTER
Keranjang Anda Kosong
Total:
0

Merobohkan Tembok Catenaccio Ala Luigi Radice


Hamdani M pada 2021-01-08 jam 12:00 PM


Gantigol/Ilham Dito


Italia sudah sejak lama dikenal dengan permainan sepakbola gaya bertahan. Sepakbola gaya bertahan ini dikenal dengan nama Catenaccio. Mazhab sepakbola yang mengutamakan fokus pada pertahanan. Semua fokus tim adalah untuk menghindarkan tim dari kebobolan. Fokus pada pertahanan ini telah menjadi adat di Italia. Hampir semua pelatih-pelatih klub Italia memakainya. Hanya ada sedikit pengecualian untuk hal itu. Luigi Radice adalah satu dari sedikit pelatih tersebut.

Radice membawa gaya baru dalam sepakbola Italia. Ia adalah penganut total football ala  Rinus Michels-Johan Cruyff. Filosofi yang bersinar saat dipraktikkan oleh Belanda dan Bercelona. Filosofi itu tidak ia adopsi sepenuhnya. Ia memodifikasinya. Zona mista. Demikian banyak pengamat bola menyebut gaya khas dari Radice. Jadilah Radice dianggap sebagai pencetus taktik ini.

Sebelum bergelut dengan dunia taktikal sepakbola, Radice adalah satu dari sebelas pemain yang mempraktikkan taktik di lapangan. Semasa masih aktif sebagai pemain, Radice menghabiskan kariernya di beberapa klub Italia. Masa mudanya ia habiskan bersama AC Milan. Ia kemudian dipromosikan ke tim senior dan bermain di sana hingga tahun 1959. Sempat singgah ke Triestina dan Pandova, Radice kembali ke Milan pada tahun 1965. Ia berada di sana hingga pensiun sebagai pemain.

Sebagai pemain, prestasi terbaik Radice adalah saat ia memperkuat AC Milan. Bermain sebagai bek kiri, Radice berhasil membawa AC Milan menjadi juara Serie A sebanyak tiga kali. Saat ia memperkuat AC Milan di kesempatan keduanya, ia berhasil menjuarai Liga Champion Eropa pada 1963. Ini merupakan yang pertama kali bagi klub Italia.   

Selepas pensiun sebagai pemain, ia mulai menjadi pelatih. Karier awalnya sebagai pelatih ia habiskan bersama klub-klub kurang mapan. Monza, Treviso, Florenz, dan Cesena adalah klub-klub yang pernah ia tukangi. Saat memasuki karier sebagai pelatih, ia tampil melawan gaya pakem sepakbola Italia. Sepakbola Italia yang terbiasa fokus pada pertahanan ia racuni dengan sepakbola yang semangat dalam tampil menyerang. Radice adalah pengikut Cruyff. Dia adalah pelatih yang fasih dalam memainkan strategi menyerang. Yang tidak segera memperkuat pertahanan saat tim asuhannya sedang unggul.

Permainan menawan Radice menuai hasilnya ketika ia menangani Monza. Pada tahun 1997, ia berhasil membawa Monza memenangi Play Off Serie C. Monza menang atas Carpi 3-2, 15 Juni 1997. Prestasinya dalam melatih, serta gaya permainan yang ia tawarkan membuat beberapa klub tertarik dengan jasanya. Ia akhirnya menerima tawaran yang diajukan Torino kepadanya. Ini terjadi pada Juli 1975. Keputusan menangani Torino adalah prestasi puncaknya duduk sebagai pelatih. 

Di tiga dekade sebelumnya, Torino merupakan klub Italia dengan nama besar yang ditakuti. Di tahun 1940-an mereka memenangkan tujuh gelar Serie A dari sepuluh kesempatan yang ada. Tapi kemudian zaman keemasan Torino sirna ketika pesawat yang membawa skuat mereka mengalami kecelakaan. Sejarah besar klub itu yang coba dibangkitkan lagi oleh Torino. Luigi Radice adalah orang yang ditugasi untuk melakukannya.

Radice kemudian melakukannya dengan baik. Di tahun kedua memimpin Torino, 1976, ia berhasil mempersembahkan gelar juara bagi tetangga Juventus tersebut. Pada musim itu ia juga meraih penghargaan sebagai Manager of The Year. “Pelatih hebat yang mengubah sepakbola Italia,” Puji kapten Torino, Claudio Sala. Tahun 1977, ia gagal mempertahankan gelar juaranya. Torino hanya kalah satu poin di belakang rival sekotanya, Juventus di akhir kompetisi.

Sempat meninggalkan Torino pada 1980, ia kembali lagi kepada klub yang memberinya prestasi sebagai pelatih terbaik itu. Pada musim 1984/85 ia kembali. Kesempatan keduanya bersama Torino ini ia habiskan hingga tahun 1990. Pada musim kedua di kesempatan keduanya membela Torino, 1985, ia berhasil membawa The Bulls meraih peringkat kedua Serie A.

Selain sebagai penentang gaya mapan, Radice juga terbilang perfeksionis. Ia selalu mengharap kesempurnaan dalam setiap eksekusi taktiknya. Juga dalam hasil akhir yang bisa didapat timnya. 

Cerminan untuk hal ini misalnya bisa dilihat dari pertandingan terakhir Torino di musim 1976. Saat itu mereka bermain melawan Cesena di kandang sendiri. Radice membutuhkan kemenangan untuk mengamankan gelar. Kalaupun imbang, gelar mungkin aman, namun harus menunggu hasil dari pertandingan pesaing mereka, Juventus. 

Radice tampak hanya fokus pada apa yang mungkin diraih oleh klubnya. Ketika wasit meniupkan peluit panjang dan hasil akhir pertandingan menunjukkan angka sama kuat, ia tampak murung. Wajahnya mencerminkan rasa kecewa. “Yesus, saya benar-benar patah hati," pernyataan pertamanya pada tim setelah pertandingan. 

Orang mungkin mengira ini diucapkan Radice karena hasil imbang mengancam gelar juaranya. Tapi sejenak orang-orang tersadar. Apa yang ia sampaikan bukan hanya sekadar kekhawatiran atas gelar. Ini murni rasa kecewanya pada hasil pertandingan. Ini terlihat ketika seorang reporter mempertanyakan tentang reaksinya tersebut. Radice menjawab, “tapi saya agak kecewa. Kami telah membuang keunggulan 1-0.”

Bagaimana Zona Mista  Luigi Radice Bekerja?

Secara taktikal, Radice membawa gaya baru dalam sepakbola Italia. Dia adalah orang yang memperkenalkan gaya zona mista. Ini adalah cara yang dipakai Radice untuk menghadapi taktik yang familiar di Italia, Catenaccio. Tembok kuat Catenaccio pernah ia robohkan dengan kekuatan zona mistanya pada tahun 1976.

Secara mendasar, Radice menggunakan taktik 3-5-2 atau 4-4-2 dalam formasinya. Tapi, idenya untuk setiap formasi selalu sama, memakai tiga bek tengah. Jika ia memakai empat bek, maka satu bek di sayap akan turut serta membantu penyerangan. Sementara dalam bertahan, kembali ke empat bek. Sementara saat menggunakan tiga bek tengah sebagai dasar, maka dua sayapnya akan turun membantu pertahanan. Ini kemudian menghasilkan lima bek dalam pertahanan.

Zona Mista Radice telah mencapai banyak hal hebat dalam merevolusi sepak bola Italia.  Apa yang dipilih dan dipraktikkan Radice banyak menginspirasi pelatih-pelatih di Italia. Ada kesadaran umum yang dibangun Radice, klub Italia cukup cocok bermain dengan gaya menyerang.

Banyak pelatih yang mengikuti jejaknya serta mulai memainkan gaya sepakbola yang lebih atraktif. Taktik sepakbolanya diwarisi oleh Trapattoni, Arrigo Sacchi, Marcelo Lippi dan banyak lainnya yang mengadopsi dan mengembangkannya dengan pengetahuan taktis mereka sendiri.

Tapi Radice telah pergi. Keberadaannya di pinggir lapangan pernah menjadi warna tersendiri dalam sepakbola Italia. Gelar yang ia raih mungkin tidak sebanyak pelatih-pelatih sukses lainnya. ia hanya sekali juara Serie A. Tapi ia mewariskan lebih dari sekadar juara. Ia mewariskan gaya sepakbola. Mazhab taktik yang lain dari Catenaccio khas Italia, Zona Mista. Karena warisannya inilah, namanya akan selalu dihormati. 

 


TAG: Luigi Radice Ac Milan Serie A






BACA LAINNYA


LAPAK


ARTIKEL POPULER


LEGENDA BULAN INI


IKUTI KAMI