REGISTER
Keranjang Anda Kosong
Total:
0

Mimpi-Mimpi yang Patah di Sepakbola Afghanistan


Aditya Hasymi pada 2021-09-07 jam 12:00 PM


Gantigol/Aldito Ilham


Legenda pelatih Liverpool, Bill Shankly, pernah berujar bahwa sepakbola bukan sekadar perkara hidup dan mati namun lebih dari itu. Namun, falsafah tersebut tak berlaku di Afghanistan. Di sana, urusan menyepak si kulit bulat benar-benar bersinggungan pada kehidupan dan kematian.

Afghanistan kembali merebut perhatian dunia dengan gejolak konflik yang berkepanjangan. Semua bermula dari kepentingan Amerika Serikat atas wilayah negara yang beribukota di Kabul ini. Hingga tensi ketegangan meninggi saat kelompok Taliban turut terlibat tarik ulur demi kekuasaan.

Kondisi perpolitikan yang tak menentu di Afghanistan turut berimbas pada kesejahteraan rakyat. Termasuk pada lini di mana masyarakat dapat bergembira dalam hidup: sepakbola. Secara kasat mata dapat dibayangkan, bahwa menjadi pesepakbola di negara yang berbahasa Persia ini tak banyak bergelimang kemudahan seperti kondisi pada umumnya.

Padahal dari segi prestasi, untuk negara yang dirundung konflik, Afghanistan berada di posisi di atas rata-rata. Tim nasional pria mampu berbicara banyak di kawasan Asia Selatan lewat ajang South Asian Football Federation (SAFF) Championship. Sekali mereka jadi kampiun SAFF Championship di tahun 2013 dan dua kali meraih runner-up pada edisi 2011 dan 2015.

Belum lagi memperhitungkan sepakbola Afghan di kancah benua. Nama mereka meroket setelah mencapai semi-final dan meraih pos keempat di AFC Challenge Cup, sebuah turnamen untuk negara berkembang di Asia, medio 2014. Tak hanya itu, klub tersukses di kompetisi liga, Shaheen Asmayee, hampir saja lolos ke fase grup AFC Cup musim 2017 jika tak kalah di preliminary round atas klub Tajikistan, Khosilot.

Hanya saja kondisi di luar lapangan yang begitu tak menentu benar-benar menjadi pengganjal. Situasi konflik telah mencerabut keutuhan masyarakat. Pesepakbola di Afghanistan hampir tak punya lagi rasa tenang mengolah si kulit bundar. Di dalam pikiran mereka berkecamuk dengan terus mengkhawatirkan apakah masih ada hari esok untuk merumput.

 
Mereka yang Menanggung Rugi Akibat Perang

Pada saat kondisi konflik berkecamuk, barulah banyak pihak menyadari bahwa damai itu mahal harganya. Semua tersadarkan bahwa ketika lingkungan berjalan tentram, maka peradaban akan terus maju. Setiap umat manusia akan punya kualitas hidup yang tinggi.

Sebaliknya, ketika keadaan berkata buruk akibat perselisihan, akan banyak yang terhambat. Kualitas hidup masyarakat akan terus menurun hingga kemiskinan merajalela. Tak ada lagi kebebasan untuk mengembangkan ide-ide brilian. Termasuk sepakbola salah satunya.

Ketika damai tidak ada lagi, maka si kulit bundar tak bisa bebas bergulir. Ketika sepakbola terhambat untuk dimainkan, akan banyak mimpi yang patah karenanya. Itulah yang terjadi di Afghanistan.

Tersebutlah nama Ali Askar Lali, pesepakbola yang membawa nama harum Afghanistan kala berhasil lolos ke perempatfinal AFC Youth Championship 1977, untuk menyebut pesepakbola yang harus mengubur asa karena situasi konflik yang berkepanjangan. Rencananya untuk mengubah hidup lewat bal-balan mentok karena negaranya jauh dari kata damai.

“Hidup saya dalam bahaya. Saya tertangkap dua kali dan beruntung tak dibunuh”, ujar Lali ketika berbicara untuk Al Jazeera. Patut diketahui bahwa Lali adalah satu dari sekian banyak warga yang harus mengungsi karena Afghanistan dijadikan medan perang oleh Amerika Serikat dan Uni Soviet dalam kurun 1979-1989.

Berkecamuknya perang sembilan tahun di Afghanistan membuat banyak mimpi tentang sepak bola yang patah. Sebagian besar para pemuda dari negara yang tak punya batas perairan ini dipaksa membuang jauh angan menjadi pesepakbola. Lapangan, tempat biasa mereka berlama-lama dengan si kulit bulat, tak bisa lagi dengan leluasa dipakai karena ada rasa takut terkena peluru yang menyasar.

Termasuk di dalamnya ada sosok Lali yang sedang merintis karir di usia muda. Mimpinya patah setelah ia dan keluarganya dipaksa mengungsi karena tanah kelahiranya berkecamuk.

“Saat itu saya sedang merintis jalan menjadi pemain tim nasional. Di samping itu pula saya juga sedang menempuh pendidikan di bangku sekolah. Impian saya bisa sukses di dua jalur itu. Namun, jalan berkata lain, asa saya seketika hancur ketika dipaksa mengungsi dari negara yang saya cintai”, ujar Lali menceritakan hidupnya yang miris kepada Al Jazeera.

Perseteruan di Afghanistan juga menjadi saksi bagaimana banyak talenta yang layu sebelum berkembang. Tersebutlah nama Hafizullah Qadami, sahabat karib Lali yang merumput bersama Ferozi FC. Pesepakbola di posisi penyerang ini tak pernah mencapai level pro sebagai bomber di lini depan karena hilang saat dalam pengungsian akibat kecamuk perang. “Penyerang berbakat dari negeri ini, Qadami, dikabarkan tenggelam saat pindah menuju Australia”, ujar Lali mencoba menceritakan.

Tidak ada hal yang menyenangkan dari meletusnya peperangan. Mereka yang justru tak berdosa malah menjadi pihak yang paling tersakiti. Sepak bola, sekali lagi, menunjukkan sisi humanis yang hendaknya dikhidmati bersama: bahwa lebih baik bergulat bersama si kulit bulat yang akan menghadirkan kebahagiaan, dibanding mengangkat senjata yang hanya berbuah kepiluan semata.


TAG: Afghanistan Laga






BACA LAINNYA


LAPAK


ARTIKEL POPULER


LEGENDA BULAN INI


IKUTI KAMI