REGISTER
Keranjang Anda Kosong
Total:
0

Minimnya Kesempatan Pelatih Berkulit Hitam


M Bimo pada 2021-03-02 jam 12:00 PM


Gantigol/Ilham Dito


Diskriminasi ras masih terus terjadi di kehidupan sosial. Ras kulit hitam menjadi salah satu yang paling banyak terkena dampak akibat diskriminasi ini. Meninggalnya George Floyd dan kampanye Black Lives Matter menjadi bukti bahwa hal semacam ini masih terjadi belum lama ini.

Pun di sepakbola, tindakan rasisme yang dilakukan oleh pemain dan suporter masih saja dipertunjukkan. Berbagai kampanye telah dilakukan oleh federasi, badan liga hingga klub untuk menanggulangi diskriminasi ras. Namun, masih tetap kejadian saja.

Padahal, pemain berkulit hitam punya jasa penting di lapangan hijau. Coba hitung berapa banyak pemain yang memiliki ras asli maupun keturunan Afrika yang dianggap pahlawan dan punya jasa besar di klub? Tentu saja banyak.

Tapi kondisi itu berbanding terbalik untuk para pelatih. Kamu sadar nggak kalau dunia sepakbola hanya punya segelintir pelatih berkulit hitam?

Kondisi memprihatinkan tersebut baru-baru ini disinggung oleh mantan pemain dan pelatih AC Milan, Clarence Seedorf. Pelatih asal Belanda ini menyebutkan kalau mereka tidak memiliki kesempatan yang sama untuk berada di level manajerial tertinggi di dalam sepakbola, khususnya di Eropa.

Saat ini di Premier League sendiri hanya ada satu pelatih berkulit hitam yakni Nuno Espirito Santo yang merupakan pelatih Wolverhampton Wanderers. Sementara itu, pelatih yang dulunya pemain penting di Premier League seperti Thierry Henry harus hijrah sampai Amerika Serikat untuk mendapat kesempatan. Henry kini melatih klub asal Kanada CF Montreal yang berlaga di Major League Soccer (MLS).

"Saya bermain 12 tahun di Italia. Setelah melatih Milan, meskipun telah melakukan pekerjaan yang bagus, saya tidak menerima panggilan lagi," katanya seperti dilansir Gazzetta dello Sport.

Nasib yang bak Bumi dan langit

Permasalahan diskriminasi rasial ini memang masih banyak terjadi di kehidupan sehari-hari. Tak cuma para pelatih, orang-orang biasa pun akan sulit mendapat panggilan pekerjaan ketika di CV mereka mencantumkan ras aslinya.

Penelitian yang dilakukan oleh Harvard Business School pada 2017 lalu mengungkapkan, fakta jika perusahaan lebih tertarik dua kali lipat memanggil pelamar dari ras kulit putih ketimbang pelamar yang mengaku berasal dari ras kulit hitam, Asia atau memiliki keturunan dari dua ras tersebut di CV mereka.

Penelitian ini juga menunjukkan bahwa pelamar yang memalsukan atau menutupi fakta memiliki keturunan darah Asia dan Afrika juga terbukti ampuh untuk dapat panggilan interview. Ini membuktikan bahwa diskriminasi rasial seperti ini terjadi di berbagai bidang dan kondisinya sudah sangat memprihatinkan.

Alasan yang sama juga mungkin terjadi di sepakbola. Oleh karena memang, pelatih berkulit hitam bisa dibilang sangat langka. Di sepakbola Inggris, Tony Collins tercatat sebagai pelatih kulit hitam pertama saat ia melatih Rochdale pada 1960. Prestasinya hanya sebatas membawa Rochdale masuk final piala liga 1962.

Namun sejak saat itu sampai satu setengah abad kemudian, keberadaan pelatih kulit hitam masih sangat sulit ditemui, bahkan tidak hanya di skena sepakbola Inggris saja. Jika dibandingkan dengan pemain kulit hitam yang main di level tertinggi, jumlahnya sangat jauh berbeda sekali.

Begitu juga di divisi tertinggi sepakbola Inggris yakni Premier League. Jumlah pelatih kulit hitam sepanjang sejarah angkanya bahkan tidak sampai dua digit. Total hanya ada sembilan manajer kulit hitam sepanjang sejarah Premier League.

Legenda sepakbola Ruud Gullit merupakan pelatih kulit hitam pertama di sana. Dia tercatat sebagai pemain-pelatih Chelsea pada 1996. Gullit mengulangi prestasi Tony Collins dengan mengantarkan Chelsea ke final piala liga 1997. Namun kali ini, pelatih asal Belanda itu lebih beruntung karena berhasil juara.

Mungkin itu adalah satu-satunya prestasi yang bisa ia raih sepanjang karier menjadi pelatih. Gullit tidak bisa mengulangi prestasi serupa saat menjadi pelatih Newcastle United, Feyenoord, LA Galaxy dan Terek Grozny. Tentu raihannya akan sangat berbeda saat dibandingkan dengan prestasinya saat masih menjadi pemain.

Pelatih kulit hitam kedua yakni Chris Hughton. Reputasinya sebagai pelatih juga cukup dihormati terlebih saat ia membawa Newcastle United juara Championship musim 2009-2010 dan menjadikan Brighton & Hove Albion runner up Championship musim 2016-2017. Kini, mantan penggawa timnas Irlandia berdarah Ghana itu berstatus pelatih dari Nottingham Forest yang merupakan kontestan Championship.

Sementara nama-nama seperti Thierry Henry, Patrick Vieira atau Sol Campbell harus memulai dari bawah dulu untuk mendapat kesempatan. Henry menjalani musim yang sangat singkat bersama Monaco pada pekerjaan pelatih pertamanya. Setelah itu, ia pergi sampai Kanada ketika menerima pinangan CF Montreal. Belum ada prestasi berarti yang mampu ditorehkan mantan bintang Arsenal ini.

Sempat menangani skuat Manchester City muda, Patrick Vieira justru mendapat job pertamanya sebagai pelatih di Amerika Serikat. Ia menangani New York City FC selama dua musim. Setelah itu, ia bergabung menjadi pelatih Nice, kontestan Ligue 1, di Prancis pada 2018 hingga musim kemarin.

Sementara Sol Campbell mencoba peruntungannya sebagai pelatih saat menangani klub kontestan League Two, divisi ketiga dan yang terbawah di kasta sepakbola profesional Inggris, Macclesfield Town. Dia juga sampai musim lalu pernah menangani klub League Two lainnya, Southend United.

Nasib para pelatih yang dulunya merupakan pemain bintang ini sangat kontras sekali dengan pelatih kulit putih yang juga mantan pemain lainnya. Seperti yang bisa dilihat Mikel Arteta, Frank Lampard dan Steven Gerrard kesemuanya langsung mendapat kesempatan di level tertinggi meski mereka belum ada pengalaman sama sekali.

Meski bisa dibilang karier kepelatihan mereka tak terlalu sukses kecuali Gerrard, Arteta musim ini menjalani musim yang berat bersama Arsenal yang ada di peringkat 11 dan Lampard dipecat oleh Chelsea, tapi ada perbedaan nasib yang sangat mencolok bagi mantan pemain berkulit hitam dan kulit putih yang kini jadi pelatih.

Wajar saja jikalau Seedorf resah soal diskriminasi ini. Fakta di lapangan memang menunjukkan seperti apa yang Seedorf katakan. Sudah saatnya klub mempercayakan tak hanya pemain kulit hitam di lapangan, tapi juga pelatih kulit hitam di balik nahkoda tim.


TAG: Serie A Premier League Pelatih Manajer Sepakbola






BACA LAINNYA


LAPAK


ARTIKEL POPULER


LEGENDA BULAN INI


IKUTI KAMI