REGISTER
Keranjang Anda Kosong
Total:
0

Mousa Dembele, Pahlawan Tanpa Tanda Jasa White Hart Lane


M. Bimo pada 2020-10-16 jam 12:00 PM


Gantigol/Aldito Ilham


Tak ada yang bisa menyangkal kalau Tottenham Hotspurs merupakan salah satu tim kuda hitam yang mampu merepotkan Big Four Liga Inggris dalam perebutan tahta juara. Sejak satu dekade terakhir, The Lilywhites selalu konsisten finis di zona Eropa klasemen Liga Inggris.

Penampilan terbaik Tottenham saat itu mungkin pada eranya Mauricio Pochettino. Pelatih asal Argentina ini sangat dihormati karena mampu mendongkrak prestasi Tottenham di kancah domestik maupun Eropa. Mampu finis di posisi 2 klasemen Liga Inggris musim 2016/2017 dan mencapai final Liga Champions pada tahun lalu adalah raihan terbaik Tottenham selama dinahkodai Pochettino.

Musim ini, The Lilywhites bersama Jose Mourinho mulai mengambil ancang-ancang untuk kembali merebut posisi teratas Liga Inggris. Membantai Manchester United 6-1 menjadi penanda kalau musim ini anak asuh Mourinho nggak santai-santai saja. 

Di balik performa bagus dari sebuah klub, selalu ada pemain yang disorot sebagai superhero. Musim ini, duet Harry Kane dan Son Heung-min kembali menjadi andalan. Terbukti dalam empat pertandingan awal, duet ini selalu menciptakan asis dan gol yang berkesinambungan.

Jika menarik waktu sedikit ke belakang, nama Gareth Bale mungkin yang akan selalu disebut sebagai pahlawan atau paling tidak pemain paling berpengaruh di White Hart Lane. Tak ada yang bisa melupakan golnya ke gawang Inter Milan pada Champions League 2010. Bale yang melakukan solo run dari sisi kiri pertahanan Tottenham, melewati Javier Zanetti dan tendangannya tak bisa dihadang tekel dari Walter Samuel dan juga kiper Julio Cesar.

Gol itu seakan menunjukkan bintang sepakbola baru pada masanya, sebelum akhirnya Bale diboyong ke Santiago Bernabeu untuk berseragam Real Madrid. Usai perantauannya selama tujuh tahun di Spanyol, musim ini Bale kembali ke White Hart Lane dan akan kembali berjuang menjadi pahlawan untuk kedua kalinya.

Nama seperti Bale, Son dan Kane memang sungguh menyilaukan dalam sejarah Tottenham Hotspurs. Tapi pendukung setia nggak mungkin hanya fokus kepada tiga nama itu saja. White Hart Lane paling tidak punya satu nama yang bisa disebut pahlawan tanpa tanda jasa. Sebab, kontribusi dia, meski dipandang sebelah mata, namun hasilnya sangat membantu membuat performa tim semakin solid.

Mousa Dembele di bawah bayang-bayang

Berapa dari kamu yang ingat dengan nama Mousa Dembele? Pemain asal Belgia ini berseragam Tottenham selama tujuh tahun sebelum akhirnya hengkang ke Tiongkok pada 2019. Pochettino pernah menyebutkan, kalau pemain terbaik yang pernah ia miliki bukan Kane, Dele Alli atau Son, melainkan Mousa Dembele.

Gelandang box-to-box ini dinilai memiliki kemampuan menggiring bola yang sangat baik. Ia juga disebut punya naluri menyerang dan mendikte permainan lawan. Tak hanya dalam membangun serangan, permainan Dembele juga tampak solid ketika sedang melakukan transisi dari menyerang ke bertahan dan juga sebaliknya. Detik ini dia ada di sepertiga pertahanan lawan, detik berikutnya posisi Dembele sudah ada di belakang dan siap untuk bertahan.

Jika harus memilih satu dari 249 penampilan Dembele bersama Tottenham di semua ajang, mungkin derby London Utara ketika versus Arsenal pada 2018 menjadi salah satu penampilan terbaiknya saat itu. Untuk bisa melihat kontribusi nyata Dembele pada pertandingan itu, kamu harus melihat pertandingannya full selama 90 menit. Tidak lewat highlight karena Dembele bukan Kane atau Dele Alli yang tugasnya mencetak gol.

Derby London Utara di Wembley, Tottenham menang 1-0. Peran Mousa Dembele bisa dibilang sangat sentral. Setiap kali usahanya membawa bola ke depan untuk membangun penyerangan, ia selalu bisa mendominasi hadangan dari Jack Wilshere atau juga Mesut Ozil. Tak jarang ia juga memberikan umpan terobosan untuk menghadiahkan bola manja bagi Kane atau Alli di barisan depan.

Satu-satunya gol Tottenham pada pertandingan ini juga tak lepas dari kontribusinya. Dembele yang menginisiasi serangan memberikan umpan terobosan lewat sayap menuju Ben Davies usai menggocek Mesut Ozil. Kemudian Davies memberikan crossing awal dan disambut sundulan Harry Kane yang menjebol gawang Petr Cech. Jika dalam statistik, umpan terobosan Dembele tadi dinamakan keypass yang nilainya sama dengan asis ataupun pencetak gol itu sendiri.

Penampilannya mencuri perhatian. BT Sport menganugerahi Dembele sebagai Man of The Match pada pertandingan itu dengan sorakan suporter, "Ohh Mousa Dembele!" sebagai lagu latarnya. Tapi itu tak serta merta membuat dia dianggap sebagai pahlawan White Hart Lane.

Dengan rata-rata umpan berhasil tidak pernah di bawah 90 persen serta puluhan dribel berhasil yang ia torehkan dalam satu musim, Dembele rupanya masih saja mendapat gangguan di posisinya. Seperti pada 2016 lalu misalnya, Didier Ndong yang datang dari Sunderland menggusur posisi Dembele di barisan tengah Tottenham. Sebelumnya, Dembele nyaman di posisinya selama enam bulan menjadi langganan starting eleven.

Tapi yang pasti, kenaikan performa Dembele terjadi cukup signifikan ketika skill-nya dipoles oleh pelatih Andre Villas-Boas. Kemampuan dia sebagai gelandang tengah yang lugas dalam membangun serangan dan rapat dalam menjaga pertahanan sangat diakui oleh pelatih asal Portugal ini. Ketika Tottenham bersama Villas-Boas, gelandang bertahan menjadi posisi permanen Dembele yang tidak bisa direbut oleh siapapun.

Kepergiannya ke Guangzhou R&F pada Januari 2019, menghentikan petualangannya di White Hart Lane. Ia pergi ke Tiongkok dengan beberapa catatan statistik mengesankan, yakni sebanyak 81 persen tekel berhasil dan menjadi satu-satunya pemain Tottenham yang tidak pernah melakukan kesalahan berujung gol dalam 249 penampilannya.

Guangzhou R&F cukup beruntung bisa mendapatkan jasa pemain Belgia ini hanya dengan 11 juta Poundsterling saja. Cedera yang membuat Dembele cukup lama menepi dari skuat Tottenham mempengaruhi harga jual pemain ini. Selain itu, peremajaan skuat yang klub London Utara ini lakukan dengan tidak memperpanjang kontrak pemain di atas 30 tahun, membuat tak ada alasan bagi mereka untuk menjual Dembele dengan harga yang sedikit lebih mahal.

Faktor-faktor itu yang membuat kepergian Mousa Dembele dari Tottenham terlihat sangat sepi tanpa ada peringatan apapun. Cukup tragis mengingat Dembele bisa saja jadi pemain tengah paling berpengaruh di Tottenham seperti Frank Lampard di Chelsea atau setidaknya dihargai layaknya Mark Noble di West Ham United.

Mungkin ia terkesan disepelekan, namun Mousa Dembele diakui dapat membantu orang lain di sekitarnya untuk menjadi pemain yang lebih baik. Dengan berada di dekatnya, ia memberikan arahan serta kebebasan bagi pemain untuk dapat berkembang. Dembele adalah teman sekaligus mentor terbaik bagi pemain Tottenham pada masa itu. Mousa Dembele adalah pahlawan tanpa tanda jasa White Hart Lane.


TAG: Moussa Dembele Tottenham White Hart Lane Premier League






BACA LAINNYA




LAPAK


BERITA POPULER


1

Dari DM Instagram, Terungkap Kualitas Vlado Sebagai Pelatih

2

Formasi WM dan Perkembangannya

3

Sejarah Formasi: 4-2-3-1, Gelandang Bertahan dan Pemain Nomor 10

4

Memahami Proses dan Menjaga Ekspektasi Bersama Seto

5

Filosofi Sepakbola Indonesia Adalah Pertala

LEGENDA HARI INI


Card image cap
23 October

Pada tanggal 23 Oktober 1973, pemain Derby County menuntut kepada manajemen agar Brian Clough diperkerjakan kembali sebagai pelatih. Sebuah surat yang ditandatangani oleh setiap anggota tim utama diserahkan kepada ketua klub setelah Clough dan asistennya mengundurkan diri.


IKUTI KAMI