REGISTER
Keranjang Anda Kosong
Total:
0

Nasib Mereka yang Gagal dan Terbuang dari Akademi


M Bimo pada 2021-02-23 jam 12:00 PM


Gantigol/Ilham Dito


Sebuah klub diklaim memiliki masa depan yang cerah jika memiliki banyak pemain muda. Apalagi pemuda-pemuda itu datang dari produk akademinya sendiri. Klub juga bakal dipandang sukses jika memiliki sistem akademi dengan pemain-pemain lokal yang mereka bina sendiri. Hingga akhirnya pada waktu yang tepat, jasa mereka akan dibutuhkan di tim utama.

Akademi berjalan tidak hanya melatih satu atau dua pemain muda yang dinilai memiliki potensi saja. Tapi ada ratusan bahkan ribuan pemain muda pada rentang usia 6-16 tahun yang terlibat. Tentunya, nggak semua dari pemain itu bisa sukses menembus tim utama.

Ada beberapa pilihan nasib yang menunggu mereka di depan. Sukses bersama tim utama, jadi cadangan tim utama, terlempar ke klub lain, dan yang parah adalah tidak menjadi pesepakbola sama sekali. Semua kemungkinan itu bisa terjadi bagi semua pemain muda akademi di klub manapun.

Tapi sayangnya, kemungkinan terparah justru lebih sering dialami oleh para pemain muda ini. Kisah yang tersaji di layar kaca tentu saja hanya menampilkan para pemain muda yang kariernya sukses saja. Tapi bagi mereka yang tak beruntung, tak banyak yang tahu kalau karier dan hidup mereka harus berjalan tragis usai dilepas akademi.

Tak banyak yang tahu juga kalau banyak pemain muda yang mengalami stres, kehilangan jati diri, kehilangan percaya diri, bahkan ada yang harus berakhir bunuh diri karena karier menjadi pemain sepakbola harus kandas seketika.

Bagaimana tidak, mereka meninggalkan segalanya untuk bisa bergabung dengan akademi sepakbola sejak usia 6 atau 8 tahun. Kebanyakan dari mereka harus jauh dari keluarga sejak usia sedini itu. Mereka juga banyak yang meninggalkan pendidikan demi bisa fokus di lapangan hijau, tidak tahu kalau ada konsekuensi tak terduga di balik tawaran kontrak menggiurkan dari akademi klub. Inilah ironi dari mereka yang gagal dan terbuang dari akademi.

Apa yang Mereka Dapatkan pada Akhirnya Tak Sesuai Pengorbanannya

Klub-klub profesional sangat ambisius dengan pemain muda. Mereka bisa merekrut ratusan hingga ribuan anak laki-laki ke akademi dan menginstruksikan mereka dengan pelatihan intensif empat kali seminggu sejak usia 8 tahun.

Ada ratusan pemain baru yang masuk, tentu ada ratusan pemain lain yang keluar akademi. Ada yang sukses, ada juga yang jatuh tersungkur. Bagi mereka yang punya potensi, tentu menjadi aset finansial yang berharga bagi klub. Kalau tak ada tempat di tim utama, para wonderkid ini bisa mereka jual ke klub lain dengan harga yang tak main-main.

Hal itu bisa terjadi karena alih-alih menggunakan produk akademi sendiri, klub-klub ini lebih tertarik merogoh uang miliaran Rupiah untuk merekrut pemain bintang yang sudah teruji.

Dilansir dari The Guardian, para pemain muda biasanya sudah disodorkan kontrak oleh sistem akademi sejak 13 tahun. Salah satu klausul dari kontrak yang mereka sebut program beasiswa ini mengharuskan pemain itu untuk melepas pendidikannya demi fokus pada program khusus yang telah disiapkan akademi selama dua sampai tiga tahun ke depan. Tapi sebenarnya, akademi tetap tidak memberi jaminan kepada mereka untuk bisa main di level tertinggi. Kemungkinan dibuang jika tak sesuai harapan? Tentu saja besar.

Premier League dan divisi di bawahnya, English Football League (EFL), telah sejak lama dengan gigih mempertahankan profesionalisme dalam lingkup proses, pelatihan dan fasilitas akademi mereka. Apalagi sejak diperkenalkan Elite Player Performance Plan (EPPP) pada 2012 lalu, akademi di sepakbola Inggris menjadi salah satu yang tak diragukan kualitasnya.

Berbeda dari sebelumnya, Elite Player Performance Plan ini menekankan bahwa pemain muda yang dikontrak akan diberi fasilitas pendidikan dan menerima kesejahteraan serta kursus dalam keterampilan hidup. PL dan EFL menyebutkan program itu dibuat demi mendukung pengembangan pemain muda yang berwawasan luas.

Tapi fakta yang didapat oleh Gordon Taylor, kepala eksekutif Asosiasi Pesepakbola Profesional Inggris, melaporkan lima dari enam pemain yang menerima kontrak EPPP tidak bermain sepakbola profesional pada usia 21 tahun. Sementara itu PL dan EFL melaporkan, banyak pemain akademi klub dilepaskan untuk mencari level mereka di kompetisi non liga, beberapa melanjutkan kuliah dan banyak mantan pemain muda yang selepas dari akademi berakhir sebagai karyawan magang di kantor pengacara atau akuntan.

Ini tentu saja bukan nasib yang diinginkan dari impian mereka ketika masih kecil dulu. Bayangkan mereka yang jauh dari keluarga, menelantarkan pendidikannya, berlatih keras empat kali dalam seminggu dan melakoni pertandingan di akhir pekan. Lalu kemudian hanya untuk tidak menjadi apa-apa, dilepas oleh akademi pada usia 18 tahun atau bahkan lebih muda lagi.

Masih melansir dari The Guardian, studi akademis yang dilakukan oleh Dr David Blackelock dari Teesside University, menemukan pada 2015 sebanyak 55 persen pemain muda mengalami tekanan psikologis sejak 21 hari setelah dilepas dari akademi.

Para pemain ini menerima gangguan yang dinamakan "identitas atletik", di mana mereka selalu melihat diri mereka sebagai pesepakbola. Sehingga ketika mereka dilepas dan tidak menjadi seperti yang mereka impikan, para pemain muda ini mengalami kehilangan jati diri dan kepercayaan diri.

Masalah Sistem dan Minat Pemain Muda yang Tinggi

Berada di akademi sepakbola pada kenyataannya tidak sehebat apa yang banyak orang pikirkan. Ambil contoh dari kisah nyata yang dialami oleh Alex Stephens, mantan pemain akademi Watford dan Norwich City yang meninggal dunia pada usia 21 tahun.

Ibunya, Faye Stephens, mengatakan kalau anaknya telah di akademi Watford sejak usia 10 tahun. Namun, selama menjadi pemain muda Faye merasa anaknya selalu berada di bawah tekanan di bawah pengawasan ketat atas kinerjanya. Dia sering mengalami kecemasan berlebih dan gangguan obsesif impulsif.

Setelah pindah ke akademi Norwich dan dilepas pada usia 18 tahun, Alex sempat berjuang mengikuti seleksi di beberapa klub. Sayangnya ia justru cedera dan banyak menghabiskan waktu untuk pemulihan fisik dan mentalnya yang depresi. Akhirnya, Alex kemudian mengikuti kursus sebagai tukang pipa ledeng dan bekerja sebagai DJ.

Sepakbola memberikan anak-anak muda mimpi. Oleh karena itu, inilah mimpi para anak-anak muda yakni menjadi pemain sepakbola dan hanya ingin menjadi pemain sepakbola. Salah satu pemicunya terjadi karena setelah melihat pemain muda yang sukses. Dalam usia 24 tahun, pemain sepakbola sudah bisa memiliki segalanya antara lain kepopuleran, penghargaan dan tentu saja harta.

Tapi sayangnya, klub tidak bisa menampung minat masyarakat yang sangat tinggi ini. Kemudian menjadi salah satu faktor mengapa banyak pemain akademi yang tidak sesuai kriteria sulit menggapai mimpinya. Sebenarnya bukan murni salah dari individu pemain itu sendiri, tapi sistem juga patut disalahkan.

Terkait situasi runyam ini, sebenarnya pernah ada klub Inggris, Huddersfield Town, yang menolak soal kegigihan Premier League dalam menganut EPPP. Pada 2017 lalu, Huddersfield blak-blakan menolak dan membubarkan akademi mereka dari semua kelompok usia yakni 8-16 tahun.

Huddersfield merasa resah karena ratusan pemain yang masuk ke akademi mereka tidak pernah ada lagi yang bermain di level tertinggi Premier League setelah lulus. Terakhir pemain muda Huddersfield yang bermain di Premier League adalah Jon Stead yang lulus pada 1999 lalu.

Tapi pada akhirnya, masalah serius yang dialami oleh mereka yang tak sukses di akademi masih terus membayangi. Sejauh ini, beberapa mantan pemain akademi memiliki nasib yang berbeda-beda. Ada yang tetap bermain sepakbola meski di kompetisi non liga, ada yang melanjutkan pendidikan, ada yang berakhir di penjara karena terlibat dalam transaksi narkoba dan paling buruk ada yang bunuh diri karena tak kuasa menahan tekanan stres dan depresi.

Dalam hal ini, peran orangtua tentu sangat penting. Diharapkan orangtua mampu membimbing anaknya untuk tetap berpikiran realistis. Membuat simulasi berbagai kemungkinan yang akan terjadi dalam hidup dan apa yang harus dilakukan jika rencana tak berjalan sesuai harapan mungkin bisa dilakukan.

Dan tentu saja, klub dan liga harus memiliki solusi dan jawaban atas keraguan tentang kelangsungan sistem dan program akademi muda mereka. Jangan mau ambil pemain yang bagus-bagus saja. Untuk mereka yang tak sesuai kualifikasi harus dipikirkan juga, dong!


TAG: Premier League Alex Stephens






BACA LAINNYA


LAPAK


ARTIKEL POPULER


LEGENDA BULAN INI


IKUTI KAMI