REGISTER
Keranjang Anda Kosong
Total:
0

Nasib Tragis Jean-Pierre Adams, Koma 39 Tahun Gegara Cedera Kaki


M Bimo pada 2021-05-26 jam 12:00 PM


Gantigol/Aldito Ilham


Cedera memang menjadi mimpi paling buruk yang menghantui para pemain sepak bola. Mau cedera ringan atau parah, semuanya menyiksa dan dapat mengancam hidup serta karier mereka.

Mendengar cerita pemain yang harus menepi selama bertahun-tahun karena cedera patah kaki memang terdengar tragis. Tapi Jean-Pierre Adams punya kisah yang lebih pilu. Eks bek Paris Saint-Germain dan timnas Prancis ini mengalami koma selama 39 tahun akibat kesalahan operasi pada cedera kaki yang ia alami.

Sejak 1982 hingga hari ini, Adams hanya bisa terbaring di kasur rumahnya dengan dirawat dan ditemani sang istri, Bernadette. Istrinya adalah pahlawan selama masa-masa kelam yang terjadi. Dia sama sekali tidak pernah meninggalkan Adams yang dalam kondisi vegetatif sendirian.

Menarik kisah ke belakang, Jean-Pierre Adams lahir di Dakar, Senegal pada 1948. Ia datang ke Prancis bersama neneknya dan didaftarkan di sebuah sekolah pada usia 10 tahun. Usai ditinggal oleh sang nenek, mantan pemain bertahan ini diadopsi oleh keluarga baik dari Prancis.

Pada 1960an, Adams mulai berkarier sebagai pesepakbola amatir. Pada masa itu juga Adams dan Bernadette pertama kali bertemu di sebuah pesta dansa dan seiring waktu berlalu, keduanya menjalin asmara. Hubungan pasangan ini sempat tak direstui keluarga karena saat itu masa-masa rasisme ekstrem, di mana bangsa kulit hitam kurang dihormati.

Namun, akhirnya mereka berhasil menikah pada 1969 dan memiliki rumah di Fontainebleau, sebuah kawasan di selatan Paris. Adams bermain untuk tim lokal sana dan memenangkan kejuaraan amatir perdananya. Tak lama, Adams dipinang oleh klub divisi utama Liga Prancis, Nimes. Di sana ia membantu klub tersebut menjadi runner up liga dan dipanggil ke timnas Prancis.

Pada masa itu, Adams merupakan salah satu pemain berkulit hitam pertama yang membela timnas Prancis. Ia yang berduet dengan Marius Tresor di lini pertahanan dijuluki Garde Noire alias Pengawal Hitam. Garde Noire ini diteruskan oleh beberapa duet bek seperti Patrick Vieira, Marcel Desailly, dan Lilian Thuram yang juga sukses mengawal lini pertahanan Prancis di tahun-tahun kemudian.

Secara total, Adams tercatat membela panji Prancis sebanyak 22 kali. Ia pernah menjadi juara liga bersama Nice dan menjadi andalan lini belakang Paris Saint-Germain selama dua tahun yakni 1977-1979.

Cedera Ringan yang Diperparah Keadaan

Usai hengkang dari Paris, karier Adams mulai menurun. Adams memutuskan pensiun pada 1981 usai klub terakhirnya, Chalon terdegradasi. Setahun kemudian, ia berniat memulai karier kepelatihan dengan mencoba menangani sebuah tim muda. Maret 1982, Adams pergi ke Dijon untuk berlatih dan belajar. Tapi di sana ia justru mengalami cedera tendon yang sebenarnya tidak begitu berbahaya.

Usai mengalami cedera itu, dia pergi ke Rumah Sakit Edouard Herriot di Lyon untuk menjalani pemeriksaan rontgen. Tadinya dia hanya mau rontgen saja, sebelum akhirnya bertemu dengan seorang dokter di lorong rumah sakit. Dokter ini mengaku bagian dari tim medis Olympique Lyonnais. Dengan segala pengalaman dan pengetahuannya soal cedera pemain sepakbola, dokter tersebut menawarkan bantuan dan menjadwalkan tindakan operasi pada 17 Maret 1982.

Tapi apesnya pada hari H, mayoritas staf rumah sakit, termasuk dokter bedah dan dokter ahli lainnya, melakukan mogok kerja. Hanya segelintir dokter yang masih masuk bertugas dan beberapa staf muda yang masih dalam tahap pelatihan.

Sebenarnya, operasi yang akan Adams lakukan ini tidak begitu genting. Namun, mantan pemain belakang ini menolak untuk menundanya. Akhirnya Adams dioperasi oleh dokter yang sebelumnya sudah merawat delapan pasien tanpa henti. Dokter ini didampingi oleh ahli anestesi dan staf magang yang masih dalam tahap pelatihan.

Alhasil, operasi itu berlangsung dengan sangat parah. Staf magang dan ahli anestesi melakukan banyak kesalahan fatal yang membuat Adams mengalami serangan jantung. Pada saat itu dan hingga kini, Adams mengalami koma dan ia tidak bisa beraktivitas seperti biasa selama separuh hidupnya.


sumber foto: Standardmedia.co.ke

Beruntung Adams memiliki istri yang sangat setia. Bernadette menolak menyerahkan Adams ke panti jompo dan memilih mengurusnya sendiri. Beruntungnya Liga Prancis, federasi sepakbola Prancis, dan organisasi  untuk mantan-mantan pemain sepakbola Prancis, Variety Club of France, mau mendukung Bernadette. Mereka banyak menyokong Bernadette dan Adams dalam banyak hal, tentunya termasuk uang.

Selama 39 tahun ini, Jean-Pierre Adams hanya bisa terbaring dan tak bisa menggerakkan otot-ototnya sama sekali. Bahkan untuk menutup matanya pun dia tidak mampu. Hanya istrinya yang tahu apakah Adams sedang terbangun atau tidur karena keadaan matanya yang selalu terbuka.

Butuh 12 tahun untuk pengadilan memutuskan staf medis bersalah atas insiden ini. Meskipun insiden terjadi pada 1982, namun baru pada 1989 staf medis dinyatakan bersalah karena "cedera yang tidak disengaja". Bahkan masih perlu hampir lima tahun urusan staf medis yang bersalah dengan keluarga Adams dan Bernadette mencapai kata sepakat soal tanggungan perawatan.

Pada ketika pengadilan mengambil keputusan untuk kasus tersebut, baik ahli anestesi maupun staf magang hanya diberi hukuman ringan berupa percobaan selama satu bulan dan denda sebesar Rp11,8 juta saja.

Hukuman yang tentunya tidak setimpal, mengingat keluarga Adams masih mengeluarkan banyak biaya perawatan selama hampir empat dekade kemudian.


TAG: Jean-Pierre Adams Prancis Parist-Saint Germain Tokoh






BACA LAINNYA


LAPAK


ARTIKEL POPULER


LEGENDA BULAN INI


IKUTI KAMI