REGISTER
Keranjang Anda Kosong
Total:
0

Ode Penyesalan Bagi Setan Merah


Aditya Hasymi pada 2020-08-24 jam 12:00 PM


Gantigol/Ilham Dito


Ketika semua orang beranggapan, bahwa pihak yang paling menyesali lolosnya Paris Saint-Germain ke partai puncak Liga Champions adalah Gianluigi Buffon, masih ada Manchester United yang paling menyimpan sesal.

Bagaimana tidak, dua eks pemain inti setan merah, Angel di Maria dan Ander Herrera, menjadi pemain kunci lolosnya Parisien ke final turnamen bergengsi antar klub Eropa untuk kali pertama. Andai keduanya masih ada dalam skuad United musim ini, mungkin saja tak ada namanya kesialan hingga tiga kali kandas di babak semifinal.

Meski gagal meraih supremasi tertinggi di Eropa, konsistensi permainan skuad armada Thomas Tuchel ini sejak sepak bola digulirkan setelah pandemi menjadi kunci. Gol demi gol kemenangan berdatangan, dengan total 25 gol, terbanyak kedua di Champions League setelah Bayern München. Tak hanya itu, dalam rentetan perjalanan ke Final, klub kebanggaan kota Paris ini tampil apik dengan hampir menyapu bersih kemenangan, dengan hanya tumbang sekali di tangan mantan klub asuhan Tuchel,  Borussia Dortmund, pada babak 16 besar.

Hal sebaliknya dialami oleh klub yang mendaku diri sebagai raksasa Inggris, Manchester United. Sebelum kompetisi dihentikan akibat Covid-19 yang meruak, The Red Devils sedang menjalani musim yang begitu berat. Permainan semenjana yang ditunjukkan sempat membuat Ole Gunnar Solskjaer berada di ujung tanduk.

Miskin kreativitas dan loyo di lapangan tengah menjadi antitesis dengan apa yang ditunjukkan oleh Les Rouge et Bleu. Baru setelah restart kompetisi dimainkan dalam normal baru, setan merah sedikit membaik dengan kemenangan beruntun, walaupun akhirnya mengakhiri musim dengan nirgelar.

Penampilan berkualitas dari Les Parisiens tersebut ditopang dengan sinergitas di lini tengah, dimana kreativitas dan determinasi begitu menonjol, dengan Di Maria dan Herrera sebagai aktor utama. Dua kepingan yang benar-benar disesali oleh Setan Merah.

Kreativitas Di Maria yang Terbuang Percuma di Tangan United

Pria asal Rosario ini berposisi sebagai gelandang tengah dengan ciri khas permainan kebanyakan pemain Amerika Latin yang begitu stylish. Talentanya semakin lengkap dengan visi mengumpan yang ciamik. Bakatnya merekah ketika sukses mengantar Tim Tango menggondol medali emas Olimpiade Beijing 2008. Gol semata wayangnya di partai final ketika melawan Nigeria sukses menarik perhatian para pemandu bakat klub-klub Eropa.

Di bawah asuhan dua pelatih top ketika berada di El Real, Jose Mourinho dan Carlo Ancelotti, pemain yang identik dengan nomor punggung 11 ini menemukan bentuk permainan terbaiknya sebagai pusat kreativitas tim. Kecepatan yang dimiliki oleh pria dengan nama tengah Fabian ini membuatnya mematri posisi sayap kanan dalam sebelas awal Los Merengues. Catatan 36 gol dan 85 asis selama empat musim di Real Madrid, membawa pemain dengan satu gelar Liga Champions ini untuk mencicipi kerasnya atmosfer Premier League bersama Manchester United.

Fase karir Di Maria ketika berseragam United dicap sebagai salah satu transfer flop. Biaya yang dikeluarkan untuk memboyong pemilik 102 caps timnas Argentina ini, yakni 60 juta paun, dinilai tak sebanding dengan performa yang ditunjukkan kala merumput. Total hanya 32 pertandingan yang dilakoni oleh pria kelahiran 1988 ini selama bernomor punggung tujuh United. Disinyalir kepindahan Di Maria ke Man United berada di waktu yang salah, kala Van Gaal yang relatif pragmatis dari segi taktik berkuasa.

Manchester United dalam rezim Louis Van Gaal seperti tak memanfaatkan abilitas dari mega transfernya kala itu. Gaya stylish penuh gocekan khas Argentina yang dibawa oleh Di Maria mentok dengan pilihan taktik United yang lebih bermain lebih ke dalam dan langsung mengalirkan bola ke lini depan dengan meminimalisir sentuhan. Keadaan bertambah pelik ketika pemain dengan kaki kiri dominan ini tak diberi ruang berkreasi, layaknya lulusan kompetisi Portugal lain, Cristiano Ronaldo, kala berbaju Setan Merah.

Hal yang berkebalikan didapatkan oleh Di Maria ketika berlabuh bersama Paris Saint-Germain. Ada ruang kreativitas yang benar-benar diberikan sepenuhnya kepada pemain yang total telah menceploskan 22 gol bagi saat membela Argentina ini. Kendali penuh dalam lini tengah sebagai sentral diberikan kepada pria kelahiran 14 Februari ini oleh Laurent Blanc, pelatih yang memboyongnya dari The Red Devils kala itu.

Bak gayung bersambut, kondisi Les Parisiens saat itu dalam posisi sedang membangun tim atraktif, dan area sepertiga akhir menjadi titik lemah. Berturut-turut gelandang kreatif diangkut ke ibukota Prancis dalam diri Javier Pastore, Ezequiel Lavezzi, hingga Lucas Moura namun tak ada yang mampu memberikan fantasi yang diharapkan terjadi di Parc de Princes. Hadirnya Di Maria mampu mengisi ruang hampa di lini tengah PSG dan empat gelar Ligue 1 beruntun sejak musim 2015 dengan rasio gol yang signifikan dan kini menjadi finalis Liga Champions menjadi bukti sahih.

Gelontoran kreativitas dari lini tengah yang ditawarkan oleh Angel Di Maria menjadi penyesalan bagi Man United jika berkaca dari performa dua musim terakhir. Setan Merah tampil tak meyakinkan akibat tak adanya playmaker mumpuni. Beberapa pemain sempat dicoba namun tak kunjung moncer. Upaya memulangkan si anak hilang, Paul Pogba, tak berjalan sesuai ekspektasi. Juan Mata sudah habis masa edarnya semenjak hengkang dari Chelsea.

Asa sempat hadir di Old Trafford ketika Bruno Fernandes hadir sebagai dinamo di lini tengah. Pemain yang datang di bursa transfer Januari musim 19/20 dari Sporting Lisbon ini memberikan warna tersendiri. Man United tampak garang di lini depan dengan mencatatkan rekor tak pernah kalah di liga semenjak era normal baru. Namun, keganasan MU pasca kedatangan pemain Portugal bernomor punggung 18 ini sekilas semu, karena gol yang hadir cukup banyak dari titik putih. Dari total 12 gol yang dikoleksi oleh midfielder berusia 25 tahun ini pada musim debutnya, delapan diantaranya merupakan hasil dari sepakan 12 pas.

Andai masih ada Angel Di Maria, bisa jadi Setan Merah tak perlu bergantung dari eksekusi penalti seorang Bruno Fernandes, karena gol bisa terjadi dari segala situasi di lapangan hijau.

Determinasi Ander Herrera yang Dirindukan United

Sebuah adagium dalam sepak bola berkata bahwa tim yang bisa menguasai lini tengah selangkah di depan untuk memenangkan pertandingan. Untuk bisa mencapai hal tersebut, dibutuhkan sosok gelandang yang penuh determinasi nan cermat dalam membaca permainan. Terbukti, banyak kesebelasan yang mendominasi bermula dari kokohnya gelandang sentral yang menjadi kunci permainan. Sebut saja duet Xavi-Iniesta, Patrick Vieira, dan Andrea Pirlo masing-masing punya peran signifikan di balik kesuksesan tim yang mereka bela.

Manchester Merah punya kenangan manis terkait sosok gelandang sentral yang menjadi inti penting mendominasi kompetisi domestik dan Eropa. Sosok gelandang bertahan bernomor punggung 16, Roy Keane, menjadi sosok yang bertanggung jawab di balik kokohnya lini tengah United asuhan Sir Alex Ferguson pada era Premier League. Perawakan yang gahar, kadang tak segan untuk memaki kawan dan lawan, ditambah seringkali mempertontonkan tekel lugas kala bermain menjadi ciri khas pria asal Republik Irlandia ini.

Ingatan tersebut berusaha direplikasi oleh klub berjuluk Setan Merah ini ketika mendatangkan Ander Herrera dari Athletic Bilbao medio 2014. Posisinya sebagai jangkar di lini tengah sontak mengingatkan pada performa Roy Keane yang gahar. Bukan tanpa alasan kala itu Van Gaal merekrutnya, selain tentu saja cocok dengan skema United waktu yang cenderung pragmatis, etos kerja yang tinggi di lapangan menjadi pertimbangan pemain asli Bilbao ini direkrut.

Kontribusi Herrera selama lima musim berseragam Red Devils, dengan dua gelar piala domestik dan 132 penampilan, seolah tak berbekas dengan transfer yang begitu mudah. Ya, sosok berpostur 182 cm ini lepas secara gratis setelah kontraknya tidak diperpanjang oleh manajemen Manchester United.

Memang, alasan kontrak pemain yang sempat malang melintang bersama Real Zaragoza ini tak diperpanjang adalah terkait usia yang sudah tak produktif bagi seorang gelandang, berada di usia kepala tiga. Namun, fakta di lapangan membuktikan bahwa keputusan manajemen setan merah untuk tak memakai jasa Herrera lagi adalah keliru besar.

Statistik performa Man United sepeninggal Herrera dapat menjadi bukti. Dimulai dari rasio mencetak gol yang menurun, dari yang sebelumnya berada di kisaran 2.2 kini turun menjadi 1.75 kala tanpa pemain bernomor punggung 21 ini.

Angka tersebut menunjukkan bahwa mental ngotot Herrera untuk merebut bola dari lawan dan segera melakukan transisi dari bertahan ke menyerang begitu vital. Pun begitu dengan jumlah kebobolan per pertandingan yang meningkat dari rataan 0.44% menjadi 1.88% membuktikan kepergian pemain kelahiran 14 Agustus ini meninggalkan lubang yang besar di tubuh Setan Merah.

Hilangnya Herrera dari lini tengah tetangga dari Manchester Biru ini juga meniadakan unsur kepemimpinan di dalam tim. Determinasi pria keturunan Basque ini di lini tengah membuatnya dihormati oleh rekan setim.

Adu mulut antara Bruno Fernandes dan Victor Lindelof dalam partai semifinal Europa League melawan Sevilla yang lalu menjadi bukti. Perlu ada sosok dengan kepemimpinan tinggi, yang mampu mengatur dan memotivasi, agar sesama rekan setim bisa bekerja sama dengan apik.

Kini nasi telah menjadi bubur bagi Manchester United. Yang telah berlalu hanya menjadi penyesalan. Sebuah pekerjaan rumah bagi Setan Merah untuk mengisi segi kreativitas dan determinasi dalam tim, yang kini tampak hampa tanpa sosok Angel Di Maria dan Ander Herrera.


TAG: Ander Herrera Angel Di Maria Paris Saint-Germain Manchester United Liga Inggris






BACA LAINNYA


LAPAK


ARTIKEL POPULER


LEGENDA BULAN INI


IKUTI KAMI