REGISTER
Keranjang Anda Kosong
Total:
0

Omelan Bang Ben dan Intensitas Permainan Timnas yang Buruk


Angger Worodjati pada 2020-01-08 jam 12:00 PM


Dodo Karundeng/TEMPO


Ucapan pedas dilontarkan Benyamin Sueb dalam drama komedi Si Doel Anak Sekolahan. Memerankan Sabeni Bin H Napis, ia mengajak keluarganya untuk kaulan mendoakan arwah leluhurnya di stadion Gelora Bung Karno. Leluhur Si Doel dikisahkan merupakan korban penggusuran untuk pembangunan stadion tersebut dalam menyongsong Asian Games 1962.

Ketika akan melakukan ritual kaul, keluarga Betawi ini diusir oleh seorang pelatih sepakbola, lantaran mereka duduk di tengah lapangan yang sedang digunakan untuk berlatih. Merasa tidak terima dengan perlakukan itu, Benyamin membantah, “Latihan, latihan, latihan mulu menangnya kagak.”

Film memang mampu menjadi sarana penyampain pesan yang efektif, bahasa simbol (audio dan visual) pada film mampu bercerita banyak hal meski dalam waktu singkat.

Rano Karno sebagai sutradara bisa dibilang mampu menampilkan realitas sosial pada setiap adegan Si Doel Anak Sekolahan. Persis seperti adegan Bang Ben marah-marah di GBK tersebut, drama komedi yang di produksi tahun 90-an ini membawa isu Timnas yang miskin prestasi. Benar saja, di rentang waktu produksi dari tahun 1994-2002 nyaris tidak ada prestasi membanggakan yang diraih Timnas. 

Puluhan tahun telah berlalu, omelan Benyamin dalam drama komedi tahun 90-an itu masih sangat relevan dengan kondisi Timnas saat ini, yang selalu akrab dengan kegagalan. Sepakbola Indonesia bisa dikatakan jalan di tempat jika berkaca dari prestasi tim nasional. PSSI yang bertugas mengurus sepakbola masih kurang progresif dalam bertindak. Terutama tentang persoalan pembinan dan kompetisi.

Di Asia tenggara saja, kualitas sepakbola Indonesia semakin terpaut jauh dengan Thailand, Vietnam, bahkan Malaysia. Hal ini bisa kita lihat dari AFC Competitions Ranking yang menjadi cermin dari kualitas Liga di setiap negara. AFC Competitions Ranking mempunyai parameter penilaian dari keterlibat klub-klub Liga Indonesia di ajang sepakbola Asia. Catatan di tahun 2019 Indonesia berada di peringkat 28 dari 48 negara yang bergabung dengan AFC. Berada jauh di bawah Thailand yang berada di peringkat delapan, Filipina di posisi 13, Vietnam 16, dan Malaysia di posisi 18.

Bung dan Nona boleh saja tidak setuju dengan pengaruh AFC Competitions Ranking terhadap kualitas permainan tim nasional, atau boleh saja beranggapan me-ranking kompetisi adalah keseloan pengurus AFC saat menunggu adzan maghrib. Tetapi bung dan nona tentu setuju, jika kualitas liga akan memberi pengaruh pada kualitas permainan timnas. Tim Nasional merupakan cermin dari baik dan buruknya sebuah kompetisi lokal. Bayangkan, bagaimana kita bisa bersaing di kancah internasional jika klub-klub Indonesia tidak mampu berbuat banyak di medan itu. 

Kompetisi top level tentu akan menghasilkan pemain berkualitas yang dampaknya langsung bisa terlihat pada tim nasional. Vietnam bisa menjadi buktinya, meski belum top-top amat. Pada tahun 2019 mereka naik ke peringkat 16 dengan 10.752 poin. Angka yang cukup besar jika dibandingkan dengan India yang berada di posisi 15 dengan 3.217 poin. Sepakbola Vietnam sudah berbenah pada beberapa tahun belakangan ini. Hasilnya, cukup signifikan, di tahun 2018 mereka hanya mengumpulkan 3.267 poin. Tidak hanya sampai di situ, kualitas permainan Vietnam pun naik level. Mereka menjadi salah satu tim Asia Tenggara yang mampu menampilkan permainan yang konsisten. 

Hal ini bisa dilihat dari prestasi wakil Vietnam di Piala AFC 2019. Hanoi FC memastikan lolos mewakili ASEAN ke partai puncak antarzona Piala AFC. Catatan manis ini membuat Hanoi FC mencatatkan sejarah sebagai klub pertama Asia Tenggara yang lolos ke final antarzona Piala AFC dalam format kompetisi yang baru. Meskipun akhirnya mereka kalah dari wakil Korea 25 April Sports Club di semifinal, tetapi hasil jerih payah dari VFF (federasi sepakbola Vietnam) bisa terlihat dari tim nasional Vietnam.

Perbedaan kualitas sangat terasa ketika Vietnam bertemu dengan Indonesia. Mereka menampilkan permainan dengan intensitas tinggi dengan kecepatan dan gerakan yang terus belanjut dengan sedikit jeda. Suatu hal yang sulit ditemukan di sepakbola Indonesia, di mana permainan bola hidup sering terhambat karena salah umpan atau sering terjadi pelanggaran.

Pada level klub permainan semacam itu tentu tidak begitu menjadi persolan, karena klub-klub mempunyai level intensitas yang sama. Akan tetapi, hasil dari Liga Indonesia akan sangat terasa di kancah sepakbola Internasional.

Permainan Intensitas rendah yang ditampilkan klub-klub Liga Indonesia memberi dampak buruk pada kualitas permainan baik individu dan tim. Sehingga kita sering menemui fakta rencana pelatih yang sering gagal dijalankan pemain. Jika sudah seperti ini, pelatih kelas dunia pun akan kesulitan membawa Timnas berprestasi.

Kemampuan mempertahankan intensitas fisik dan mental yang tinggi adalah konsep kunci dalam sepakbola. Permainan sepakbola sangat fleksibel atau tidak dapat diprediksi, pemain harus melakukan gerakan kecepatan tinggi yang diulang sepanjang pertandingan dengan waktu pemulihan yang singkat. Banyak yang mengira hal ini hanyalah persolan kebugaran, daya tahan, dan stamina. Pada praktiknya menjaga intensitas tinggi dalam permainan merupakan upaya untuk merangsang otak agar berpikir cepat dalam mengambil keputusan di lapangan. 

Sepakbola bukan olahraga atletik di mana faktor fisik sangat menentukan. Permainan sepakbola lebih rumit dengan menuntut pemain untuk terus berfikir selama 90 menit. Pemain membutuhkan konsentrasi tinggi dari setiap aksi yang mereka buat agar rencana dan strategi pelatih dapat dilakukan dengan sempurna. 

Bergerak menciptakan ruang, megambil keputusan untuk melakukan dribble atau passing, dan menutup ruang adalah beberapa aksi dari sepakbola yang membutuhkan kemampuan berpikir yang cepat. Kita bisa banyangkan, jika pemain melakukan aksi sepakbola hampir setiap hari dengan intensitas yang tinggi, di latihan atau pertandingan dapat dipastikan pemain itu akan terbiasa dengan perubahan cepat dalam permainan sepakbola. Kemampuan kerja otak pun akan semakin terasah.

Persoalan intensitas ini hanya segelintir masalah dari banyaknya kendala Timnas sulit berprestasi. Meski demikian hal ini perlu ditangani secara serius. Budaya bermain dengan intensitas tinggi harus sudah dikenalkan sedini mungkin kepada pemain-pemain muda di Indonesia. Menyusun program latihan yang tepat dan meciptakan kompetis usia muda adalah hal wajib yang harus dilakukan untuk menutup kekurangan ini. Sepakbola Belanda sudah memberi contoh, federasi mereka melakukan inovasi pada aturan permainan Liga kelompok umur dengan mengubah lemparan ke dalam menjadi tendangan ke dalam. Dan juga mengganti freekick dengan permainan langsung (giringan atau umpan). Efeknya terasa, setiap pelanggaran yang terjadi permainan langsung hidup kembali tanpa menunggu pagar betis atau pemain yang pura-pura sakit.

Pada akhirnya, semua tergantung pada PSSI satu yang pasti kalimat Bang Ben sudah membekas dibenak kita. Omelan itu akan selalu kami ingat mengiringi kegagalan demi kegagalan timnas Indonesia.

 “Latihan, latihan, latihan mulu menangnya kagak.”

- Sabeni Bin H Napis -

TAG: Laga Timnas Indonesia Pssi Liga Indonesia Liga1 Match Shopee Liga1






BACA LAINNYA




LAPAK


BERITA POPULER


1

Dari DM Instagram, Terungkap Kualitas Vlado Sebagai Pelatih

2

Memahami Proses dan Menjaga Ekspektasi Bersama Seto

3

Filosofi Sepakbola Indonesia Adalah Pertala

4

Omelan Bang Ben dan Intensitas Permainan Timnas yang Buruk

5

Formasi WM dan Perkembangannya

LEGENDA HARI INI


Card image cap
05 March

Pada tanggal 5 Maret 1870, London menjadi tuan rumah pertandingan internasional pertama di dunia, dengan mempertemukan Timnas Inggris menghadapi sekelompok pemain Skotlandia yang berbasis di London. Pertadningan Itu berakhir imbang 1-1.


IKUTI KAMI