REGISTER
Keranjang Anda Kosong
Total:
0

Pandemi Corona Mengancam Keuangan Klub Sepak Bola


M Bimo pada 2020-03-25 jam 12:00 PM


Parc OL


Kedahsyatan penyebaran virus corona benar-benar nyata. Bumi yang selama ini disibukkan dengan hiruk pikuk aktivitas manusia seakan sedang 'cuti.' Ia mengisyaratkan para penghuninya untuk istirahat sejenak. Toh yang terdampak virus ini hanya manusia saja. Tumbuhan dan hewan tak tersentuh sama sekali.

Sejauh ini menurut data worldometers.info yang dihimpun pada Selasa (24/3), setidaknya ada 193 negara yang terdampak. Dengan hampir seluruh umat manusia yang fokus menangkal virus ini, polusi dapat berkurang. Tanah Bumi juga semakin jarang diinjak karena manusia banyak menghabiskan aktivitas di rumah. Pembangunan banyak yang dihentikan selagi Bumi memulihkan kondisinya sendiri.

Pandemik virus ini tentu saja berpengaruh terhadap sepak bola. Hampir semua liga di seluruh dunia dihentikan sementara. Termasuk Liga Indonesia yang biasanya operatornya sering ngeyel, kali ini mereka nggak mau ambil risiko. Deretan liga top Eropa, Liga Champions, Liga Europa dan terakhir Euro 2020 juga memilih absen. Olimpiade? Bisa jadi menyusul.

Ironisnya, pemain sepak bola juga banyak yang positif virus corona. Daniele Rugani, Blaise Matuidi dan Paulo Dybala dari Juventus didiagnosa positif. Ada juga pelatih Arsenal Mikel Arteta dan pemain muda Chelsea Callum Hudson Odoi. Mantan pemain Manchester United yang kini main untuk klub Tiongkok Shandong Luneng, Marouane Fellaini pun dinyatakan positif.

Selain dampak terhadap fisik pemainnya, pandemik ini juga membawa dampak yang mengkhawatirkan untuk ekonomi sepak bola. Klub yang sudah terikat kontrak dengan pemain, investor dan sponsor harus melakukan berbagai cara agar tetap bertahan di tengah situasi yang serba tidak pasti.

Sejumlah klub sudah mengambil tindakan untuk melihat apakah mereka bisa memotong upah secara legal. Paling tidak sedikit meringankan dampak ekonomi selagi liga berhenti.

Di Prancis, klub seperti Olympique Lyonnais dan beberapa lainnya telah menempatkan para pemain mereka sebagai pengangguran parsial atau sementara. Dengan demikian, menurut Undang-Undang, pemain ini nantinya bakal digaji oleh pemerintah dengan maksimal 6.000 Euro atau setara dengan Rp 107 juta per bulannya.

Namun menurut Ketua Dewan Pengawas klub Saint-Etienne, Bernar Caiazoo, nominal segitu dirasa masih kurang. Angka itu jauh di bawah gaji kebanyakan pemain papan atas di Ligue 1.

Sementara itu di Jerman, para pemain dan pejabat klub Borussia Monchengladbach telah setuju untuk merelakan semua atau separuh gaji mereka selama krisis ini. Di Barcelona, para pemain juga setuju untuk mengorbankan gaji mereka, seperti yang diumumkan oleh Presiden klub Jose Maria Bartomeu pada Minggu (22/3).

Dengan sisa laga yang mandek sampai waktu yang belum bisa ditentukan, kerugian jelas melanda klub. Menurut Tifo Football dalam siaran YouTube berjudul The Economic Impact of Coronavirus, La Liga ditaksir merugi hingga Rp 12 triliun. Sementara Liga Italia bisa merugi sampai Rp 17 triliun karena pandemik ini.

Disebutkan juga kalau Bundesliga bisa merugi paling tidak sampai RP 14 triliun. Sementara beberapa klub di Premier League dilaporkan rugi sampai Rp 700 miliar lebih per klub.

Pandemik ini memang hanya sementara, semua berharapnya begitu. Namun dampak dari sisi ekonominya sudah sangat bisa dirasakan oleh klub. Klub papan atas Liga Inggris punya finansial yang sehat. Mereka setiap musimnya bisa mengantongi 50 persen dari total pendapatan dari segala sektor. Sementara 50 persen sisanya dihabiskan untuk bayar gaji pemain dan biaya operasional lainnya.

Sementara untuk klub yang berlaga di English First League (EFL), divisi di bawah Premier League, beda ceritanya. Tiap musim mereka hanya menghasilkan pendapatan yang cukup untuk menutupi gaji pemain. Apa yang mereka kantongi dari pendapatan tersebut? Hampir tidak ada sepeserpun.

Bagi mereka pendapatan dari penjualan tiket adalah yang utama, pun dengan klub-klub sepak bola di manapun. Hak siar televisi menggenapi pendapatan mereka yang pas-pasan itu. Kebayang gimana nggak ngos-ngosan klub EFL harus tetap bertahan di tengah ketidak pastian seperti ini.

Ya, hampir semua klub di manapun mendapat penghasilan utama dari penjualan tiket. Untuk klub Liga Inggris, penjualan tiket musiman menjadi celah pendapatan yang selalu dimanfaatkan. Manchester United (MU) menjual 52.000 tiket musiman tiap musimnya. Sementara Arsenal menjual 45.000 tiket musiman.

Di EFL, Nottingham Forest saja bisa menjual 20.000 tiket musiman. Di mana, angka itu adalah 70 persen dari rata-rata penonton yang memenuhi kursi stadion di setiap pertandingan mereka.

Sepak bola adalah industri yang melibatkan banyak orang. Nggak melulu yang ada di stadion seperti pemain, staff dan suporter. Namun sepak bola juga memengaruhi pendapatan pedagang kaki lima, tukang parkir dan tempat makan. Mereka saling bersinergi. Stadion sepi, pedagang kaki lima biasa mangkal di stadion nggak ada pembeli. Nggak ada pertandingan, tukang parkir nyangar nggak ada gawean.

Terlebih, sepak bola dan perusahaan penyiaran seperti televisi dan streaming juga saling membutuhkan satu sama lain. Pendapatan klub dari hak siar tak bisa diremehkan. Dengan sisa laga musim 2019/2020 kebanyakan ditunda, kemungkinan stasiun siaran kehilangan jumlah penonton atau subscribers dan juga pengiklan sangatlah tinggi.

Sebuah blog bisnis sepak bola bernama Swiss Ramble merilis keuntungan klub liga top Eropa dari hak siar televisi musim lalu. Hasilnya menunjukkan Liverpool menjadi klub yang paling untung dari penayangan pertandingan televisi dibanding klub Eropa lainnya.

The Reds berhasil mendapatkan uang sebesar Rp 2,63 triliun lewat siaran televisi. Mereka hanya unggul tipis dari Manchester City dengan total pendapatan Rp 2,62 triliun lewat siaran TV. Klub Liga Inggris masih mendominasi sebagai klub paling banyak untung dari siaran televisi.

Barcelona dan Real Madrid menjadi klub luar Liga Inggris yang mampu menghasilkan uang di atas Rp 2 triliun dari hak siar. Los Cules meraih pendapatan sekitar Rp 2,26 sementara rivalnya, Real Madrid, sebanyak Rp 2,17 triliun.

Tapi lagi-lagi pandemik ini sangat menyusahkan klub-klub di divisi bawah. Mereka yang tidak dapat hak siar televisi dan sponsor besar kelas global, tentu sangat bergantung pada pendapatan tiket dan kemurahan hati pebisnis kecil. Bukan gak mungkin penundaan liga terus menerus membuat klub divisi bawah tak ada pemasukan sama sekali. Skenario paling buruknya adalah mereka berakhir bangkrut.

Jika sepak bola tidak segera kembali normal, bukan tak mungkin perusahaan penyiaran bakal meninjau kembali kerja sama seperti pembatalan kontrak atau meminta sebagian uang kembali. Kejadian ini juga bisa berefek penurunan jumlah pendapatan hak siar pada musim depan dan seterusnya.

Bayangkan jika sepak bola sisa musim ini tak kunjung bisa lanjut. Atau boleh lanjut tapi digelar tanpa penonton. Klub hanya terus-terusan mengeluarkan uang untuk biaya operasional tanpa pemasukan. Dengan tanpa penonton, apakah perusahaan siaran masih mau melanjutkan kerja sama? Belum tentu. Orang mau nonton sepak bola di televisi yang stadionnya tanpa penonton juga pasti ogah-ogahan. Atmosfer pertandingannya tidak terasa. Sepi.

Status kebanyakan liga sepak bola saat ini masih ngegantung. Membuat klub serba salah. Merugi adalah satu-satunya pilihan demi mengintip kesempatan pandemik usai dalam waktu dekat. Tapi yang namanya digantungin itu nggak enak.

Klub saat ini hanya bisa mengurangi gaji pemain sambil harap-harap cemas agar sponsor tak pergi. Mengurangi pemain, terlebih untuk yang bergaji besar, juga harus dilakukan untuk klub dengan keuangan pas-pasan.

Namun sekali lagi, demi kemanusiaan sebaiknya sepak bola jangan dilanjutkan dulu. Kalau harus mengakhiri musim ini lebih cepat, sebaiknya dilakukan. Dengan atau tanpa juara sekalipun. Toh juara bisa diraih kapan saja. 


TAG: Laga Corona Eropa Ligue 1 Bundesliga Efl Euro Ol






BACA LAINNYA


LAPAK


ARTIKEL POPULER


LEGENDA BULAN INI


IKUTI KAMI