REGISTER
Keranjang Anda Kosong
Total:
0

Paul Ince, Si Pemain Hebat yang Nasibnya Terlupakan


M Bimo pada 2021-04-26 jam 12:00 PM


Gantigol/Ilham Dito


Ketika menyebut nama-nama pemain legendaris Manchester United, Paul Ince mungkin tidak menjadi satu dari sekian banyak pemain yang ada di daftar tersebut. Padahal, pemain kelahiran Ilford, London ini merumput di Old Trafford tak hanya semusim atau dua musim melainkan ia pernah berseragam Setan Merah selama enam musim.

Kontribusinya di MU pada medio akhir 80an hingga awal 90an pun sangat penting. Manchester United yang langsung menguasai sejak era Premier League dimulai saat itu memiliki gelandang terbaik yang pernah dimiliki, yakni Paul Ince yang berduet dengan Roy Keane di lini tengah. Bersama United, Ince pernah menyabet dua gelar Premier League, dua trofi FA Cup, satu kali juara European Cup Winners' Cup dan sekali juara European Super Cup.

Pada 1995, kabar mengejutkan datang dari Ince. Setelah menghabiskan enam musim dan 205 penampilan di Old Trafford, ia hijrah ke Italia untuk bergabung dengan Inter Milan. MU dan Sir Alex Ferguson setuju dengan tebusan 7 juta Poundsterling dari Inter untuk biaya transfer Paul Ince. Ini nominal yang cukup kecil untuk salah satu gelandang terbaik Premier League yang bahkan masih menjadi pemain kunci selama beberapa musim terakhir.

Namun, Sir Alex melepas Ince ke Inter tanpa penyesalan sama sekali. Mengutip Gentleman Ultra, Sir Alex pada 2008 lalu bahkan berkomentar bahwa melepas Ince saat itu adalah keputusan yang tepat dan kesepakatan tersebut dianggap bisnis yang bagus untuk klub.

Kepindahan itu juga tentu saja tidak disukai oleh Ince. Ia mengaku kalau itu semua bukanlah keputusannya sama sekali. Dia bahkan awalnya sudah siap untuk bernegosiasi perpanjangan kontrak selama empat tahun ke depan.

"Tapi itu tergantung pada Sir Alex Ferguson dan dewan direksi. Ternyata mereka menjual saya ke Inter Milan. Saya sangat terpukul dengan keputusan ini dan enggan untuk pergi," ujar Paul Ince pada 2016 lalu.

Satu Setengah Tahun yang Positif di Inter

Mendengar nama Inter Milan, mungkin kamu bakal memikirkan sebuah klub raksasa Serie A yang setiap musim punya peluang besar menyabet gelar juara. Tapi pada 1994, satu musim sebelum Ince pindah, Inter Milan terperosok di papan bawah klasemen dengan hanya memiliki jarak satu poin dari jurang degradasi pada akhir musim. Hingga saat ini, itu adalah finis terburuk mereka di Serie A.

Meskipun Nerazzurri berhasil membawa pulang trofi juara UEFA Cup pada 1991 dan 1994, tapi mereka loyo di liga lokal. Dominasi AC Milan dan musuh lama, Juventus, di Serie A membuat Inter belum pernah lagi juara liga sejak 1989.

Penandatanganan Paul Ince tentu saja membawa angin segar ke Giuseppe Meazza. Dia adalah akuisisi besar pertama yang dihadirkan presiden baru, Massimo Moratti, dan kemudian menyusul pemain dengan nama besar lain seperti Youri Djorkaeff, Ivan Zamorano, dan Aron Winter.

Tak butuh waktu lama bagi Ince untuk menyegel tempat utama di lini tengah Inter Milan. Ia membuat kemitraan dengan Nicola Berti yang membuat lini tengah Inter semakin solid dan kreatif daripada musim sebelumnya. Pada musim perdananya, Ince mencetak tiga gol dan membantu Nerazzurri finis di posisi tujuh serta berhak lolos ke UEFA Cup lewat jalur kualifikasi.

Pada masa pemain Inggris ini datang ke tanah Italia, kondisi masyarakat di sana dikenal cukup ekstrem terkait rasisme yang memojokkan ras minoritas. Seperti dilansir Telegraph, coretan serta vandalisme berbau rasis terlihat di dinding stadion ketika kabar negosiasi Paul Ince mulai berkembang hingga sang pemain pertama kali menginjakkan kaki di Italia.

Jangankan diejek oleh suporter lawan, suporter sendiri pun sering meneriakkan nada-nada rasis kepada sang pemain. Kejadian paling parah adalah ketika ia diteriaki ujaran rasisme oleh kelompok suporter Cremonese pada 1996. Ince membalas teriakan itu dengan selebrasi tepuk tangan kepada mereka saat mencetak gol pada pertandingan tersebut, berakhir mendapat kartu kuning dari wasit.

Pelecehan itu begitu membekas di benak pemain asal Inggris ini, sehingga ia berniat untuk meninggalkan Inter Milan dan pulang ke Inggris. Namun ia mengurungkan niatnya ketika pelatih asal London, Roy Hodgson tiba di Milan untuk bekerja sebagai pelatih.

"Kalau Hodgson tidak tiba dalam enam bulan ke depan, saya pasti sudah tidak di sini lagi," ujar Ince.

Di bawah kendali Roy Hodgson, Ince menjalani musim keduanya di Inter bahkan lebih baik daripada musim sebelumnya. Ia mencatatkan tujuh gol di semua ajang dan membantu Inter finis di urutan ketiga Serie A musim itu.

Pengaruh Ince di tim sangat diakui secara luas pada saat musim keduanya hampir mencapai titik akhir. Ia dianggap pemain penting dalam kesuksesan Inter saat itu. Sebuah koran Italia hingga menyebut "Inter sensa Anima" atau Inter tanpa jiwa jika bermain tidak dengan Ince.

Bergabungnya Ronaldo pada 1997 harusnya semakin membuat skuat Inter komplit dengan Ince menetap di posisi tengah. Namun, ia justru menolak perpanjangan kontrak yang disodorkan Moratti dan memilih pulang ke Inggris.

Meski hanya menghabiskan satu setengah musim yang singkat, tak lantas membuat Moratti dan Interisti hilang respect kepada Paul Ince. Selama bermain untuk Inter, kelompok suporter Curva Nord yang dikenal kejam bahkan kepada pemain sendiri pun sangat mendukung karier Ince di Giuseppe Meazza dan membuat chant khusus untuk dirinya.

Musim-musim selanjutnya Paul Ince habiskan untuk merumput di Liga Inggris. Usai pindah dari Inter, ia sempat berseragam Liverpool selama dua musim, keputusan yang menjadikan Ince dimusuhi oleh para suporter Manchester United.

Itu adalah salah satu faktor yang membuat Paul Ince kurang mendapat tempat di hati suporter MU. Selain itu, dipromosikannya enam bocah pemain akademi MU yang kemudian dikenal sebagai "Class of '92" cukup membuat jasa Ince terlupakan akibat torehan generasi emas Manchester merah yang gemilang.

Belum lagi masalah Ince yang sering mendapat kritikan pedas dari Sir Alex Ferguson baik saat sedang latihan maupun tentang kebiasaan lain di hidupnya. Sir Alex disebut sangat benci dengan sisi lain kehidupan Ince di luar lapangan hijau.

Meskipun dia menghabiskan waktu enam tahun di Old Trafford, waktu yang sama lamanya dengan Cristiano Ronaldo, dan menghabiskan musim yang lebih banyak dari Eric Cantona, sosok Paul Ince tidak dikenang dengan cara yang sama.


TAG: Paul Ince Inter Milan Manchester United Sir Alex Ferguson Premier League






BACA LAINNYA


LAPAK


ARTIKEL POPULER


LEGENDA BULAN INI


IKUTI KAMI