REGISTER
Keranjang Anda Kosong
Total:
0

Pemain Bintang yang Justru Membuat Kelimpungan Klub Saat Pandemi


Aditya Hasymi pada 2021-03-12 jam 12:00 PM


Gantigol/Ilham Dito


Pemain bintang selalu penuh puja dan puji di sepak bola karena melalui aksinya seorang dapat membawa tim menang dan meraih gelar juara. Namun, penampilan brilian dari pemain bintang di lapangan hijau takkan mampu menyelamatkan kesebelasan dari musim kompetisi yang terjerat pandemi.

Pandemi virus corona secara telak telah meluluhlantakkan segala sektor. Sepak bola pun tak luput terkena imbasnya secara bengis. Kompetisi mau tak mau harus beradaptasi demi protokol kesehatan agar tetap bisa berputar. Suporter, sebagai nyawa dari tiap partainya, pada akhirnya menjadi pihak yang harus dihilangkan agar pandemi tak semakin mewabah akibat kerumunan yang timbul.

Ketidakhadiran penonton di tribun menjadi pil pahit yang harus ditelan oleh setiap tim. Pasalnya, lebih dari separuh pemasukan klub banyak yang bersandar dari hadirnya sang pendukung di lapangan saat bertanding. Tiket yang menjadi pemasok utama dari segi nominal jelas paling terasa tercerabut. Belum lagi di sisi lain yang menyandarkan pada sisi hadirnya lalu lalang manusia, seperti tur stadion yang di-bundling dengan pembelian merch di gerai, lenyap tak berbekas.

Perputaran uang yang mandek karena tak boleh hadirnya suporter ini ternyata berdampak besar bagi cara pandang kesebelasan mengarungi kompetisi. Bagi setiap tim yang sebelumnya bisa memutar nominal yang dikeluarkan oleh para suporter untuk memperkuat skuad dengan pemain bintang, kini hal tersebut tak bisa dilakukan lagi.

Pandemi telah mengakibatkan tim-tim yang menyandarkan asanya pada pemain bintang menjadi kelimpungan. Suka atau tidak suka mereka akan menghadapi sebuah tekanan finansial yang makin menjulang karena pemasukan yang hadir tak sebanding dengan pengeluaran.

Tengoklah dengan apa yang terjadi di dua klub besar di La Liga, Real Madrid dan Barcelona. Keduanya, dari musim ke musim, selalu memboyong pemain dengan nama besar untuk menjadi bagian dari skuat mereka. Begitu pandemi melanda, dua kompetitor yang selalu ramai kala berjumpa di El Clasico ini, tak bisa lagi meneruskan tradisi saat melantai di bursa transfer pemain. Berhemat adalah jalan yang ditempuh.

Kredit: AFP

Real Madrid, jauh dari ciri khas mereka yang selalu memakai pemain bintang sebagai bagian dari tim, tak melakukan pembelian satu pemain pun di musim 2020/2021. Los Merengues memilih untuk memanfaatkan skuat yang ada. Selain itu, saat kondisi sedang terjepit oleh pandemi, Zidane selaku entrenador memaksimalkan pemain muda yang ditarik dari status loan nya dan mengorbitkan lulusan Castilla.

Setali tiga uang di Barcelona, nama-nama besar yang selalu hadir untuk menemani pusat permainan bernama Lionel Messi tak ada satupun yang merapat. Los Cules hanya mampu bergerak di bursa transfer dengan melakukan penukaran pemain untuk mendapatkan seorang Miralem Pjanic. Selebihnya, Koeman sebagai pemegang kendali baru di Camp Nou, memaksimalkan darah muda yang hadir dari La Masia.

Apa yang terjadi dengan Madrid dan Barca sebenarnya telah diprediksi oleh data yang yang dikeluarkan dari sebuah firma internasional bernama PricewaterhouseCoopers. Data tersebut menyatakan bahwa saat klub-klub di Liga Spanyol diprediksikan akan kehilangan hingga 1 milyar Euro akibat dari pandemi. Data tersebut diamini juga oleh Javier Tebas selaku Kepala operator liga di negeri matador. “Saya tidak melihat adanya kemungkinan dari tim yang berlaga di Liga Spanyol untuk membeli pemain baru.  Pengecualian bisa terjadi apabila mereka mampu mengakali neraca keuangan klub”, ujar Tebas dalam wawancara yang dilansir Associated Press.

Juventus pun mengalami masalah sama dari segi nominal yang berimbas pada kebijakan tim untuk mengisi skuat yang bertabur bintang. Kehadiran Ronaldo dalam barisan pemain si nyonya tua terasa berat ketika pemasukan klub begitu seret di saat pandemi seperti saat ini. Seorang CR7 seorang dibayar dengan nominal yang besar senilai 28 juta pounds. Alhasil, dilansir dari The Guardian, neraca dari Bianconeri bergerak minus dengan kehilangan pemasukan sebesar 68 juta pounds serta dalam bayang utang senilai 350 juta pounds.

Tak dapat disangkal lagi bahwa kesebelasan dengan skuat yang berisi banyak pemain bintang akan kelimpungan di musim kompetisi yang diselimuti pandemi seperti saat ini.

Ketika tim-tim di Eropa dengan sederet pemain bintangnya tertatih-tatih untuk bisa bertahan di musim kompetisi yang diselimuti pandemi, lalu apa kabar dengan kesebelasan di Liga Indonesia? apakah tim-tim yang mulai bergeliat kembali dengan hadirnya Piala Menpora mampu bertahan atau justru jatuh di lubang yang sama?

Pembayaran Gaji Pemain yang Merepotkan Klub di Liga Indonesia Saat Pandemi

Pandemi Covid-19 membuat kesebelasan di Indonesia harus mengambil nafas panjang agar dapat bertahan di musim kompetisi yang diselimuti pandemi. Hal tersebut terjadi praktis karena roda liga benar-benar berhenti berputar. Per 15 Maret 2020 melalui surat keputusan yang dikeluarkan oleh PSSI, liga tak boleh berputar karena potensi menghadirkan kerumunan.

Akibat yang ditanggung oleh klub-klub Liga Indonesia pun sama dengan apa yang dialami oleh klub-klub Eropa. Tanpa pertandingan berarti praktis tidak ada pemasukan sepeserpun, dari sektor tiket yang paling terasa, hingga kesepakatan dengan sponsor yang mendadak mandek di tengah jalan.

Pendek kata, tim-tim yang berlaga di level kompetisi profesional sepak bola di Indonesia, baik Liga 1 dan Liga 2, tidak memperoleh pemasukan selama pandemi.

PT Liga Indonesia Baru (LIB) pun tak hanya bisa memberikan subsidi dengan jumlah yang terbatas. Berdasarkan data yang dilansir oleh tirto.id, dana yang dikeluarkan oleh PT LIB selaku operator liga bagi klub yang berlaga di Liga 1 dan Liga 2, hanya bekisar di tataran 500 juta rupiah dan 100 juta rupiah. Nominal tersebut ditaksir belum mampu menutupi kebutuhan dari kesebelasan yang tertunda pembayarannya akibat pandemi.

Pembayaran gaji pemain menjadi pos utama yang membuat kesebelasan di Indonesia tertatih dalam hal pengelolaan. Beberapa klub mengaku berusaha keras menutup pos ini agar tak terkena sanksi FIFA.

Klub Liga 2 perwakilan dari Pulau Sumatera, PSMS Medan, mengaku secara gamblang bahwa kekurangan pemasukan membuat mereka putar otak untuk membayarkan gaji para pemain. “Klub saat ini berusaha keras mencari pemasukan untuk bisa membayar gaji pemain agar tidak kena sanksi FIFA”, ujar Julius Raja selaku Sekretaris Umum PSMS Medan dalam wawancara yang dilansir oleh tirto.id.

Bali United sebagai klub besar dari Liga 1 yang dikenal cukup stabil dari segi finansial, juga perlu penyesuaian dalam hal pembayaran gaji pemain di kala pandemi.  “Banyak pos pengeluaran dari klub yang tak banyak berubah terlepas dari kondisi yang terjadi seperti apa, salah satunya pembayaran gaji. Kami putuskan untuk melakukan efisiensi agar para pemain tetap terpenuhi haknya”, jelas CEO dari tim berjuluk Semeton Dewata, Yabes Tanuri, ketika tirto.id mewawancarainya.

Pembayaran gaji benar-benar telah menohok hampir setiap tim yang berlaga di Liga Indonesia. Langkah berupa pengetatan dan penyesuaian menjadi pilihan yang mau tidak mau harus ditempuh. Pada poin inilah figur pemain bintang dalam skuat dapat menjadi penghambat berputarnya roda klub di musim kompetisi yang diselimuti pandemi.

Upaya Menjaga Nafas Panjang Kesebelasan dengan Mengedepankan Kolektivitas

Peran pemain bintang di saat kompetisi yang berputar saat pandemi masih melanda menjadi terkesampingkan. Nilai kontrak mereka yang cukup tinggi menjadi alasan terjadinya penyesuaian tersebut.

Banyak tim, terutama yang berlaga di level Liga 1, berduyun-duyun melepas pemain bintangnya. Status pemain bintang sendiri meliputi pemain tim nasional dan legiun asing. Mereka inilah yang memuncaki banderol dari segi nilai kontrak yang jadi prioritas untuk dilepas. Inilah pilihan realistis klub demi memperpanjang nafas saat mengarungi kompetisi.

Persebaya Surabaya secara berani melepas seluruh pemain asingnya. Makan Konate dan kawan-kawan tak lagi berseragam Green Force di kompetisi pra-musim. Persija Jakarta tak lagi memperpanjang kontrak pemain bintang berlabel timnas dengan nominal kontrak mencapai 5,2 miliar rupiah: Evan Dimas. Semuanya bermuara pada satu tujuan agar tak neraca keuangan klub tak bergerak ke arah minus.

Alhasil, jiwa murni dari sepak bola seperti menemukan momentumnya di musim yang beradaptasi dengan pandemi ini. Kerjasama kolektif dari sebelas pemain yang merumput di lapangan kembali menjadi kepingan penting dari olahraga ini.

Kredit: Radar Semarang

Membangun tim dengan dasar kolektivitas bisa dibilang pilihan yang rasional saat pemasukan keuangan sedang terhambat karena pandemi. Kesampingkan dulu peran dari pemain bintang yang bisa saja justru memberatkan klub karena persoalan gaji.

Kondisi ini bak sebuah blessing in disguise, atau berkah yang datang saat kondisi terjepit, bagi para pemain lokal dan talenta muda. Inilah momentum yang harus diambil secara maksimal bagi mereka yang muda dan berpaspor garuda untuk menunjukkan diri. Langkah banyak klub di Liga 1 yang mengesampingkan pemain bintang dengan melakukan pengetatan gaji membuat sistem pembinaan dengan akademinya menjadi sentral penting.

Untuk saat ini, ketika kompetisi bergulir saat pandemi masih merajalela, menggunakan pemain bintang secara jor-joran untuk memperkuat skuat menjadi langkah yang irasional. Ada hal yang jauh lebih penting dan efeknya memiliki jangka Panjang yakni kestabilan klub yang perlu jadi pertimbangan utama.


TAG: Liga Indonesia Piala Menpora Barcelona Fc Juventus






BACA LAINNYA


LAPAK


ARTIKEL POPULER


LEGENDA BULAN INI


IKUTI KAMI