REGISTER
Keranjang Anda Kosong
Total:
0

Peran Pemain Akademi yang Semakin Tersingkirkan


Hamdani M pada 2020-11-16 jam 12:00 PM


Gantigol/Ilham Dito


Pada 2009, Barcelona berhasil menjadi juara Liga Champion setelah mengalahkan juara bertahan Manchester United di final dengan skor 2-0. Pada pertandingan yang diselenggarakan di Olimpico, Roma itu Barcelona tampil menawan, melengkapi penampilan luar biasa mereka di sepanjang musim.

Selain mampu merebut gelar juara, pemain mereka juga mendominasi sebelas pemain terbaik di Eropa pada musim itu. Lionel Messi, Xavi Hernandes, Victor Valdes serta Andres Iniesta masuk ke dalam 11 pemain tim impian yang disusun oleh UEFA. Yang mengagumkan, pemain-pemain Barcelona yang terpilih itu semuanya adalah pemain binaan La Masia, akademi Barcelona. 

Barcelona dan filosofi tiki-taka yang mereka mainkan sepanjang musim memang jadi perbincangan banyak orang. Permainan tiki-taka ala Pep ini kemudian bertahan selama beberapa musim selanjutnya. Bahkan, dua tahun kemudian, dengan skuat yang didominasi akademi La Masia, Barcelona tercatat kembali berhasil meraih juara Liga Champion. Valdes, Puyol dan Pique menjadi benteng pertahanan yang sulit ditembus. Sergio Bosquets yang didaulat sebagai gelandang bertahan di era Pep Guardiola mampu tampil lugas dan penyeimbang tim. Duet Xavi-Iniesta di lini tengah menyuguhkan permainan indah nan cepat ala Barcelona. Sementara kemampuan individu Messi menyempurnakan pondasi permainan yang dibangun kokoh sejak dari belakang sampai lini tengah.  

Hampir seluruh pemain Barcelona saat itu, didominasi oleh hasil akademi mereka sendiri. Mereka juga sudah terbiasa bermain di tim utama ketika mereka masih muda.

Lawan Barcelona pada dua final tersebut, Manchester United, juga tak mau kalah dalam hal promosi pemain akademi. Pemain-pemain yang menjadi andalan Setan Merah waktu itu juga tak jauh-jauh dari akademi. Bahkan tiga di antara mereka, Paul Scholes, Ryan Gigs, dan Garry Nevile adalah sisa-sisa skuat yang memenangkan gelar Liga Champion 1999. Musim 1998/1999 menjadi musim fenomenal yang pernah dijalani oleh United. Pada musim itu United berhasil meraih treble winner, Piala FA, Liga Inggris, dan Liga Champion masuk ke lemari tropi United.

Dan satu yang jadi catatan penting, dua tim ini mempunyai kesamaan, sama-sama mengandalkan pemain dari akademi mereka.

Namun, gaya tim dengan mengandalkan pemain akademi hari ini semakin sepi peminat. Klub-klub mapan lebih suka menggunakan uangnya untuk membangun tim daripada sabar menunggu perkembangan pemain akademi. Florentino Perez lah penyebabnya.

Awal kerusakan Aliran Pemain Dari Akademi

Ketika Perez tampil sebagai presiden Real Madrid, dia tampil dengan ide yang menyebalkan namun kemudian diamini oleh banyak klub di Eropa. Ide konyol untuk Los Galacticos menjadi agenda besarnya untuk membangun kebesaran Real Madrid. Zinedine Zidane yang bersinar bersama Juventus digoda hijrah ke Santiago Bernabeu. Pemain andalan rival, Luis Figo dibajak dengan uang yang melimpah. Ronaldo Nazario dan Roberto Carlos diambil dari Inter Milan. Tak lupa, David Beckham yang sedang tidak baik-baik saja di Manchester United juga tak luput dari godaan uang Perez.

Ibarat membangun sebuah perusahaan, Perez mengerti betul bahwa modal besar sangat diperlukan untuk membangun pondasi. Ia tidak cukup percaya diri dengan kemampuan akademi Real Madrid. Akibatnya, mendatangkan pemain bintang jadi kebijakan transfernya.

Karena itulah saat ia memiliki kesempatan memimpin Madrid untuk kedua kalinya pada tahun 2009, ia kembali memainkan kebijakan transfer pemain besar-besaran. Cristiano Ronaldo yang gagal di final Liga Champion bersama United tahun 2009, dengan harga 94 juta Euro, Ronaldo berhasil ia datangkan. Tidak puas hanya dengan mendatangkan Ronaldo, ia juga mendatangkan Ricardo Kaka dari AC Milan dan Gareth Bale dari Tottenham.

Kisah Madrid yang loyal dalam belanja pemain ini awalnya banyak dicibir, terutama oleh rival mereka, Barcelona. Namun kesetiaan Barcelona memainkan pemain hasil akademi sedikit demi sedikit akhirnya luntur juga. 

Kisah perselingkuhan Barcelona dengan uang dimulai ketika mereka berhasil mendapatkan uang dari penjualan Neymar. Setelah Barcelona berhasil melepas Neymar ke PSG dengan harga di luar batas kewajaran, mereka berkembang menjadi klub yang terkutuk. Mereka termakan oleh gaya jual-beli pemain yang sudah matang. 

Pada mulanya mereka mendatangkan Ousmane Dembele untuk mengisi pos yang ditinggalkan Neymar. Sadar pemain tersebut gagal memenuhi ekspektasi klub, mereka kembali mencoba mendatangkan Philippe Coutinho dari Liverpool. Di sinilah, awal mula Barcelona masuk jurang membeli pemain mahal.  Seiring dengan gaya mereka yang lebih banyak menggunakan uang untuk membangun tim, pemain-pemain dari akademi pun terpinggirkan.

Real Madrid memang penyakit. Caranya membangun klub dengan gelontoran uang juga sempat mempengaruhi beberapa klub, seperti Chelsea saat awal-awal kedatangan Roman Abramovich. Manchester City saat dibeli Sheikh Mansour dan PSG saat berpindah kepemilikan kepada Nasser al Khelaifi.

Kebijakan Klub Tentang Pemain Muda Mereka

Saat semua klub memanfaatkan uang untuk mendapatkan skuat terbaik mereka, Ajax tampil menyadarkan banyak pihak. Kisah mereka yang fenomenal pada musim 2018/2019 seperti jadi tamparan bagi klub-klub yang selama ini membangun klub dengan kekuatan uang.

Pemain muda Ajax berhasil tampil memukau sepanjang musim. Menjadi kuda hitam di Liga Champion meski akhirnya harus menerima kenyataan pahit, kalah di menit-menit akhir kala berjumpa Spurs, tapi secara umum mereka tampil luar biasa. Dua gelar dalam satu musim bukan hal mudah untuk diraih. Apalagi saat itu Ajax tampil dengan skuat muda yang baru saja dipromosikan dari akademi. Matthijs De Light dan Donny van De Beek, adalah di antara nama-nama itu. Sementara De Jong mereka datangkan saat usianya masih belia adalah kebijakan pembelian yang banyak menguntungkan.

Di Jerman, klub yang cukup loyal dalam memanfaatkan pemain muda adalah Borussia Dortmund. Meskipun akademi mereka tidak mampu banyak menghasilkan pemain kelas satu, tapi cara mereka mendatangkan pemain sering kali terjadi dengan cara yang mengagumkan. Erling Braut Haaland adalah salah satu buktinya. Selain Haaland, Jadon Sancho yang didatangkan dari akademi City juga perlu dicatat sebagai pembelian pemain muda yang berhasil. Sebelum Jude Bellingham yang mereka datangkan dari Birmingham City sebagai tanda-tanda keberhasilan transfer pemain muda mereka.

Kisah tentang Barcelona, Ajax, Dortmund dan Manchester United yang pernah berjaya dengan pemain muda mereka sebenarnya bukan suatu yang mustahil untuk ditiru kembali. Membangun klub tidak harus dengan uang melimpah dan pemain-pemain yang sudah matang. Hanya saja memang semua itu butuh kesabaran. Yang jadi soal, mau nggak, klub-klub besar itu bersabar?


TAG: Akademi Barcelona Real Madrid Manchester United






BACA LAINNYA


LAPAK


ARTIKEL POPULER


LEGENDA BULAN INI


IKUTI KAMI