REGISTER
Keranjang Anda Kosong
Total:
0

Perang Sepakbola antara El Salvador dengan Honduras


M Bimo pada 2021-08-11 jam 12:00 PM


Gantigol/Aldito Ilham


Sepakbola sudah lahir sejak berabad-abad lalu, termasuk saat zaman perang. Olahraga ini juga seringkali jadi saksi sejarah dalam peperangan tersebut. Ada beberapa pertandingan dan kompetisi yang terjadi di antara gentingnya adu dua kubu dalam tembakan senjata.

Honduras dan El Salvador merupakan penghuni benua Amerika Tengah. Kedua negara ini pernah terlibat peperangan dan pertandingan sepakbola menjadi penandanya. Tak cuma itu, pertandingan penting yang akan membawa Honduras dan El Salvador ke panggung Piala Dunia ini juga menjadi salah satu pemantik peperangan itu terjadi.

Dinamakan "Perang Sepakbola", peristiwa ini terjadi pada 1969. Timnas Honduras menjamu El Salvador pada laga kualifikasi Piala Dunia 1970 zona CONCACAF pada 7 Juni. Ini adalah serangkaian pertandingan penting bagi keduanya. Siapa yang bisa menang dalam tiga rangkaian pertandingan, maka mereka akan menjadi tim Amerika Tengah pertama yang berpartisipasi dalam Piala Dunia.

Namun, ketegangan yang terjadi di atas lapangan tak cuma gara-gara pertandingannya saja. Melainkan ada konflik politik yang juga sedang terjadi di antara kedua negara. Pemicunya adalah tentang keputusan pemerintah Honduras yang mengusir, menganiaya, dan merendahkan imigran asal Salvador untuk dipaksa pulang ke negara mereka. Alasannya? Mereka dianggap tak pantas menginjak tanah Honduras.

 

Imigran Gelap El Salvador Jadi Kambing Hitam

El Salvador merupakan negara kecil dengan jumlah terpadat di Amerika Tengah. Meski begitu, sebagian besar rakyatnya tidak memiliki tanah. Tanah-tanah yang mereka tempati dikuasai oleh borjuis-borjuis lokal yang tamak. Maka dari itu banyak penduduk El Salvador yang memutuskan untuk beremigrasi ke negara tetangga, Honduras, untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik.

Ketegangan El Salvador dan Honduras sudah bermula sejak 1968. Saat itu rakyat Honduras merasa tak puas dengan kepemimpinan pemerintahan Kolonel Osvaldo Lopez Arellano. Dia dianggap gagal memperbaiki perekonomian negara serta gagal mensejahterakan rakyat Honduras.

Pemerintahan Arellano kebingungan usai mendapat kecaman dari masyarakat. Ia kemudian membuat tuduhan tak berdasar kepada imigran gelap dari El Salvador sebagai kambing hitam dari kegagalan tersebut. Tak lama kemudian, orang-orang Salvador yang tinggal di Honduras mulai mendapat intimidasi.

Terlebih pada Januari 1969, pemerintah Honduras menolak untuk memperbarui perjanjian imigrasi yang ditandatangani dengan El Salvador sejak 1967. Pemerintah Honduras kemudian berniat untuk merebut tanah-tanah milik imigran El Salvador. Beberapa bulan kemudian, Honduras mengumumkan bakal mengusir imigran El Salvador yang memiliki tanah ataupun properti tanpa melalui persyaratan hukum.


sumber foto: AFP

Kebijakan itu kemudian berdampak dengan intimidasi yang semakin menjadi-jadi. Tindakan brutal seperti penganiayaan, pemerkosaan, bahkan pembunuhan imigran El Salvador pun terjadi di Tegucigalpa, ibukota Honduras. Meski demikian, pemerintah Honduras tampak tak mengambil tindakan dan cenderung melakukan pembiaran terhadap aksi eksodus besar-besaran ini.

Baca juga: Sepakbola Menjadi Alat Propaganda Rezim Komunis di Yugoslavia

Pada Juni ketika pertandingan pertama Honduras versus El Salvador diadakan di Tegucigalpa. Para pemain El Salvador dalam tekanan berat. Di depan hotel tempat mereka menginap ditunggui oleh suporter tuan rumah yang melakukan intimidasi yang membuat tak bisa tidur.

Pun ketika pertandingan keesokan harinya, konsentrasi mereka buyar. Pertandingan berakhir dengan skor 1-0 untuk keunggulan tuan rumah. El Salvador gagal mencuri poin di leg pertama, namun mereka berniat membalaskan dendam di leg kedua.

 

Pertandigan Sepakbola Bukan Biang Keladi

Kekalahan El Salvador di Honduras ternyata berbuntut panjang. Seorang gadis berusia 18 tahun bernama Amelia Bolanos dilaporkan bunuh diri dengan menembakkan peluru ke tubuhnya. Dikutip dari buku The Soccer War karya Ryszard Kapuscinski, Amelia sebelumnya menonton siaran langsung pertandingan itu di layar televisi.

Pemakaman gadis ini dihadiri oleh Presiden El Salvador. Momen itu ia gunakan untuk memompa semangat juang masyarakat El Salvador lewat sebuah pidato.

Sepekan kemudian, pertandingan leg kedua digelar di kandang El Salvador. Suporter dan masyarakat El Salvador yang semangatnya mendidih usai mendengar pidato presiden gantian mengintimidasi pemain Honduras. Hasilnya pertandingan itu berhasil mereka menangkan dengan skor 3-0.

Hasil ini membuat kedua negara harus menjalani pertandingan ketiga yang digelar di tempat netral yakni di Mexico City, Meksiko. Banyak kabar yang beredar dari media setempat bahwa FIFA mengalihkan pertandingan di tempat netral karena ketegangan kedua negara. Namun kabar itu adalah hoaks. Sebenarnya FIFA memang sudah mengatur pertandingan penentuan ini di Meksiko.

Ya, karena konflik yang terjadi antar dua negara, banyak kabar-kabar burung yang simpang siur tampil di media cetak negara masing-masing. Media dituntut bertanggung jawab atas banyaknya kekerasan yang terjadi akibat berita tak akurat yang mereka naikkan. Hal ini mereka lakukan karena untuk membuat situasi semakin panas.


sumber foto: twitter

Pada 26 Juni, pertandingan penentuan ini harus digelar di bawah hujan lebat. Stadion dihadiri oleh suporter kedua negara. Mereka ditempatkan di tribun terpisah dengan sekat 5.000 anggota polisi Meksiko yang berjaga-jaga.

Tensi tinggi tak hanya terjadi di dalam lapangan. Jan Stradling menuliskan dalam bukunya More Than a Game: When Sport and History Collide, di luar stadion saat pertandingan itu berlangsung banyak terjadi perkelahian, pemerkosaan, dan pembunuhan. Membuat kota itu menjadi medan pertempuran.

Hingga 90 menit, pertandingan itu bertahan dengan skor 2-2. Memaksa dilakukan sampai babak tambahan yang akhirnya dimenangkan oleh El Salvador. Mereka berhasil membuat gol pada empat menit terakhir babak kedua tambahan. El Salvador resmi mewakili Amerika Tengah pada Piala Dunia 1970 di Meksiko.

Pada hari yang sama saat El Salvador menggulingkan Honduras dari kualifikasi Piala Dunia, pemerintah El Salvador memutuskan hubungan diplomatiknya dengan Honduras. El Salvador menyalahkan pemerintah Honduras yang membiarkan aksi kekerasan dan pembunuhan terhadap imigran El Salvador.

Setelah memutuskan hubungan dengan Honduras, El Salvador memilih jalan perang. Pada Juli 1969, El Salvador melakukan serangan udara pertama ke kawasan Honduras. Bombardir serangan ini dipusatkan di ibukota Tegucigalpa. Dan, serangan ini menjadi penanda perang yang kemudian disebut Perang Sepakbola atau Perang 100 Jam.

Baca juga: Sepakbola dan Fantasi Perang Dunia II dalam Escape to Victory

Honduras yang mati-matian mempertahankan wilayahnya juga melakukan serangan balasan. Pesawat Angkatan Udara Honduras melewati langit El Salvador sambil melancarkan serangan balasan. Perang tersebut hanya berlangsung selama empat hari. Meski terlihat singkat durasinya, namun perang ini tetap memakan korban jiwa baik dari militer dan sipil, juga terganggunya perekonomian dari kedua negara. Pada akhir Agustus, El Salvador menarik pasukannya dari Honduras. Hingga akhirnya pada 30 Oktober 1980, kedua negara Amerika Tengah ini menandatangani perjanjian damai.

Pertandingan sepakbola antara Honduras dan El Salvador memang menjadi pemantik Perang Sepakbola terjadi, namun bukan karena pertandingan itu lah semua ini berawal. Pertandingan sepakbola justru membawa persahabatan bagi mereka yang memainkannya. Oleh karena dari tiga pertandingan yang dijalani Honduras dan El Salvador, seluruh pemain dan staf justru melakukan jabat tangan, beberapa ada yang berpelukan, pada akhir pertandingan.


TAG: El Salvador Honduras Laga






BACA LAINNYA


LAPAK


ARTIKEL POPULER


LEGENDA BULAN INI


IKUTI KAMI