REGISTER
Keranjang Anda Kosong
Total:
0

Perayaan Abdon Porte


Hamdani M pada 2021-12-21 jam 12:00 PM


Gantigol/Aldito Ilham


Sejak abad ke 12, di Jepang dikenal budaya harakiri, mengakhiri hidup dengan cara merobek isi perut diri sendiri. Harakiri, hanya dilakukan oleh kaum ksatria dan bangsawan untuk menghindari penangkapan musuh dan menjaga kehormatan serta harga diri mereka sebagai seorang ksatria. Karena tujuannya untuk menjaga harga diri, harakiri ditempatkan di dalam budaya yang agung.

Para ksatria yang melakukan harakiri dianggap sebagai penjaga martabat. Lebih dari 18.500 KM dari Jepang, konsep Harakiri diamalkan dengan sangat fasih oleh salah satu pemain legenda Nasional, Uruguay, Abdon Porte, ksatria lapangan hijau yang disegani pada masa kejayaannya.

Abdon Porte lahir pada tahun 1893, di Uruguay tengah, di daerah pertanian penghasil roti Durazno. Ia tumbuh di kalangan keluarga kelas bawah dan pekerja keras. Karakter kampung pertanian tempat asal Porte ini kelak akan menurunkan sifat pekerja keras yang ada dalam diri Porte saat ia bermain sepakbola.   

Tahu bahwa daerah asalnya tidak memiliki cukup tempat untuk mengembangkan bakat sepakbolanya, ia pergi ke Montevideo pada usia 15 tahun. Porte muda segera menjadi bagian dari Colon FC dan Libertad, klub di kasta kedua Liga Uruguay. Bersama Colon, Porte bermain hanya sebentar di tahun 1910. Predikat Colon yang hanya klub baru tidak menyurutkan langkah Libertad untuk membawa Porte menjadi bagian dari mereka.

Libertad terdegradasi pada saat Porte bermain di sana, namun penurunan prestasi Libertad tidak berlaku pada Porte. Bakat sepakbolanya masih memiliki nilai tawar tersendiri. Nasional (salah satu klub di Uruguay) pun meliriknya, meyakini bahwa Porte adalah pesepakbola masa depan yang bisa diharapkan. Dari sinilah kisah awal paling legendaris sepakbola Uruguay dimulai.

Nasional bukan klub sembarangan. Ia adalah klub paling bersejarah di Uruguay, termasuk juga di Amerika Selatan. Klub ini berdiri pada tahun 1899, enam tahun setelah kelahiran Porte. Nasional merupakan hasil penggabungan antara Montevideo FC dengan Uruguay Athletic Club. Dua tahun setelah berdirinya klub, mereka memutuskan Gran Parque Central sebagai markas klub. 

Pada awal kemunculannya, Nasional merupakan klub elit. Mereka memiliki kecenderungan untuk tidak menerima pemain kecuali yang berasal dari kalangan menengah ke atas. Kebijakan klub yang bertolak belakang dengan latar belakang Porte. Namun Nasional terus tumbuh. Sebagai klub baru, mereka masih terus saja mencari identitas yang cocok bagi tim.

Hingga akhirnya Jose Maria Delgado terpilih sebagai presiden klub pada tahun 1911. Pada peristiwa yang dikenal oleh pendukung nasional sebagai Skisma 1911 ini Delgado kemudian membuat perubahan. Ia mengubah arah kebijakan klub. Rekrutan bisa dilakukan dari mana saja, termasuk dari kalangan bawah. Kebijakan yang membuka pintu bagi Porte untuk masuk. 

Porte bergabung dengan Nasional pada usia 18 tahun. Masih sangat muda untuk ukuran pemain yang tumbuh bukan dari klub mapan. Ia menjalani debutnya sebagai pemain Nasional pada 12 Maret 1911 pada pertandingan melawan Dublin FC.

Bersama Nasional, bakat Porte terus berkembang pesat. Ia menjelma menjadi salah satu pemain andalan tim. Jiwa kepemimpinannya, etos kerjanya yang tak kenal lelah, membuat pemain yang dipanggil oleh para pendukung Nasional sebagai El Indio ini terpilih menjadi kapten tim pada usia yang sangat muda.

Porte bukan hanya mampu memimpin, dan bertarung, ia juga membawa Nasional menuju prestasi yang gemilang. Tercatat, empat gelar liga pernah direngkuh Porte bersama Nasional, yakni pada tahun 1912, 1915, 1916, dan 1917.

 

Malam Perayaan

Kisah kelam Porte sebenarnya dimulai pada 17 Mei 1917. Dalam lanjutan Piala Albion, Porte mengalami insiden tabrakan dengan pemain lain. Ia cedera. Pertandingan baru berjalan sepuluh menit ketika itu.

Dalam sebuah pertandingan yang masih belum mengenal istilah pergantian pemain, Porte harus memilih keluar lapangan dan mengobati cederanya, dan melihat sepuluh kawannya berjuang melawan sebelas lawan, atau tetap berada di lapangan, menjadi bagian dari sebelas pemain Nasional yang ikut berlaga, namun dengan resiko sakit yang lebih parah.

Sebagai informasi tambahan, waktu itu sepakbola belum mengenal istilah pergantian pemain. Sebagai pahlawan Nasional, bagi Porte, membiarkan kawan-kawannya bertarung sendirian adalah tindakan seorang pecundang. Ia memilih bertahan di lapangan.

Seperti umumnya pahlawan, Porte juga harus menanggung resiko besar. Cederanya semakin parah. Sempat sembuh sebentar tapi setelah itu kambuh lagi. Cedera yang membuat posisinya sebagai sebelas pemain utama klub disingkirkan. Klub segera mencari alternatif yang lebih segar. Alfredo Zibecchi menjadi pilihan pelatih di pertandingan-pertandingan berikutnya. Porte, semakin jarang terlihat menjadi bagian dari sebelas pemain yang bertanding.  

Hingga akhirnya,  3 Maret 1918 Nasional bertemu dengan Charely FC pada lanjutan Liga Uruguay. Kabar mengejutkan datang dari pelatih. Porte, yang sebelumnya jarang mendapat kesempatan bermain, hari itu ia kembali didaulat menjadi pemimpin tim di dalam lapangan. Porte dan kawan-kawan bermain gemilang. Mereka berhasil memenangkan laga dengan skor 3-1. 

Selayaknya klub yang telah memenangkan pertandingan, Nasional berpesta. Pesta dilakukan hingga tengah malam. Semua elemen dalam tim merayakan kemenangan tak ubahnya kerajaan yang yang berpesta seusai memenangkan peperangan besar. Tapi di tengah pesta yang sedang berlangsung, satu pemain paling penting dalam tim menyingkir pelan-pelan. Ia pergi meninggalkan kawan seperjuangannya dalam pesta. 

Ia pergi menghadapi kenyataan hidup yang menakutkan seorang diri. Tanpa teman yang biasa menemainya bertarung di lapangan, tanpa pelatih yang biasa menginstruksikannya bermain, tanpa sorak sorai pendukung Nasional yang biasa membakar semangatnya.

Di tengah lapangan Gran Parque Central ia berdiri khusyuk. Dalam hatinya sedang terjadi pertempuran antara rasa cinta pada klub dan rasa takut akan masa depannya sebagai pemain sepakbola.

"Dor," suara pistol itu mengenai tepat di kepalanya. Tanpa ada sorak sorai selebrasi, tanpa ada petugas medis yang menangani. Suara pistol itu membunuh rasa takut Porte, sekaligus membunuh pemain paling penting di klub tersebut.

Pagi hari setelah semalam suntuk para pemain, official serta para pendukung Nasional bersorak gembira atas pencapaian mereka, kabar mengejutkan segera tersebar. Anjing penjaga stadion Gran Parque Central yang pertama kali mewartakannya, seorang mayat masih segar ditemukan di tengah lapangan. Dialah Abdon Porte. 

Dia bunuh diri dengan meninggalkan dua surat yang turut serta ia bawa saat mengakhiri hidup. Satu surat ditujukan untuk Ibu dan kekasihnya, sementara satu lagi ditujukan kepada presiden klub Nasional, Jose Delgado. Dalam surat yang ia sampaikan pada Delgado itu Porte berpesan bahwa ia ingin dimakamkan di samping legenda klub, Carlos dan Bolivar Cespedes.

Sebagai legenda, Porte sejatinya tidak pernah mati. Hingga hari ini, nama Porte masih sering digaungkan para pendukung Nasional. Spanduk besar bertuliskan namanya masih menjadi hiasan pembakar semangat para pemain Nasional saat mereka bertanding.

Sampai hari ini, Porte masih bermain, bukan dengan kakinya, tapi dengan hatinya, dengan kecintaannya pada Nasional. Sesuai dengan apa yang telah termaktub dalam suratnya saat bunuh diri, “Aku tidak akan melupakanmu(Nasional) walau sekejap. Betapa aku mencintaimu. Selamat tinggal tinggal untuk selamanya.”


TAG: Abdon Porte Nacional Tokoh






BACA LAINNYA


LAPAK


ARTIKEL POPULER


LEGENDA BULAN INI


IKUTI KAMI